Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/16

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

56. Jika dipikir-pikirkan, perasaan budi susila, itu laksana air hidup, yang menyebar di seluruh jiwa, dapat menghidupkan segalanya, jika diumpamakan rasa manis, laksana rasa gula, lebih manis dari yang manis, mengalahkan manisnya gula Jawa.

9a.
57. Dan bila di masa kali, pikiran akan hancur lebur, ditimpa sangara, segala yang didayung patah, banyak tingkatan budi yang hilang, kurang pengertian, diperintahkan, memperhitungkan rasa cinta kasih, kebenaranlah yang diikuti oleh pikiran, ini terlepas dari bencana.

58. Bingung memikirkan makanan, di Uyang Suksma, rasa keberanian di dunia, malapetaka tidak ditolak, selalu selamat sentosa, lupa terhadap diri berasal dari darah, juga asal mulanya janin, sifatnya kaku, ingin masuk Surga loka, dari pikiran yang kacau dan tak tetap maju mundur, tanpa memakai pertimbangan pikiran.

59. Akhirnya akan tunggang langgang, karena semuanya lahir dari batu karang, berasal dari segala yang tak ada gunanya, agaknya rimbun hijau muda, namun tak ada gunanya untuk menolong hidup ini, tetap masih berkata-kata, mengawasi dan menerangi, bagi yang tak menderita cacat, walaupun bencana dekat, namun semuanya belum pasti.

60. Masih samar tak terbayang sedikitpun, yang diharapkan adalah yang tak ada cacat celanya, karena yang mengikutinya itu cekatan, tidak memperhitungkan pembagian, besar kecil dan manis pahit, mengaku diri pandai bersedia-sedia, menirukan para pendeta, delapan pendeta yang bijaksana, menghancurkan segala yang hidup, hanya dari kata-kata, selalu ingat terhadap seluruh kaum Yadu.

61. Agar kutukan itu bisa berkurang, bagi segala yang hidup, masuk ke dalam tulang sumsum, memukul perasaan, karena itu semuanya dilarang, banyak para Yadu, memberanikan diri, minum segala yang dapat memabukkan, hal ini agar jangan berlangsung.

62. Menyadarkan seluruh kehidupan, membuat hal yang lain ka-


16