harum semerbak ditiup angin, senjata jemparing menjadi bunga melur, menjalar berbunga putih, senjata bajra menjadi rumah mas, dikelilingi bunga yang harum, kemudian menjelma raksasa, membongkar gunung karena terlalu marah, tetapi sebelum dilemparkannya.
103b.
11. Segera hancur dan tetap berada di tempat, yang jatuh menjadi jalan yang amat rata, sangat indahnya, panah dangstra diambil lagi, dipanahkan tetapi tak berhasil, sesaat setelah dekat hancur, tak mampu menghancurkan, sang Sutasoma, kemarahamya sangat hebat dan sekarang ingin, meluluhkan dunia.
12. Karena penjelmaan Rudra benar-benar, para dewa datang, sangat meminta, Sanghyang Rudra lalu menghilang, bersama-sama Dewa semuanya, tinggallah sang Purusada, kembali sebagai sediakala, ketika ditinggalkan oleh Hyang Rudra, tersungkur teruyung-uyung hampir mati, tidak masih berbadan besar.
13. Sebagai semula berkepala satu, dan hanya bertangan dua buah, besar badannya secara wajar, sebagai dahulu kala, tak lama kemudian lalu bangun, menyembah raja Astina, ingin menyerah, serta bersedia menghamba, mohon mohon maaf beribu-ribu maaf, karena besar dosanya.
14. Raja Purusada mohon dikasihani, mohon kepada raja Sutasoma, setelah diterima permohonan maafnya, raksasa itu berkata, menyembah sambil menangis, bersedia mempersembahkan, kepada Betara Kala, sang Sutasoma menjawab, bahwa terlalu bahaya bila berdusta kepada Dewa, segera aku persembahkan.
104a.
15. Sang Purusada menangis tersedu-sedu, memeluk kaki kuat-kuat, bersedia menjadi muridnya, bila tuanku dipersembahkan, hamba tak akan jadi mendapatkan, ketenangan pikiran, sebagai anugerah tuanku, serta dengan kata terputus-putus, tidak lancar karena tersendat-sendat oleh tangis, dan berguling-guling.
16. Raja Sutasoma berkata halus, "Purusada jangan terlalu menyeO
139