Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/137

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

29. Raja Ratnakunda, segera lari menghilang, mengelilingi sang Dasabau, di depan dan di samping, sebentar-sebentar dari belakang kemudian, terbang ke udara, menyerang kereta dari langit.

30. Kereta sang Datraputra, terbakar habis menjadi api, raja Dasabau turun, melawan raksasa, perkelahian di darat saling tempur, memakai gada yang hebat, saling peluk dan saling tusuk.

31. Masing-masing gadanya terlempar, hancur lebur ditukar dengan pedang, masing-masing pedangnya terpotong, saling pukul dengan tangan masing-masing, perkelahian sangat ramai, tak merasakan kepayahan, sama-sama kuat laksana baja, masing-masing saling serang.

101a.
32. Kemudian pada tangannya, kepala raksasa itu amat lemah, pusing terhuyung=huyung, gemetar terasa mati, lalu rambutnya dipegang kemudian dipukul, demikian juga wajahnya, "O kamu raksasa pujaan, lihatlah hasilnya sekarang."

33. Kesalahanmu mengacau dunia, tanpa dosa dan tidak berbuat yang baik, dengan tiba-tiba raja dipakai caru, dicari ke mana-mana, raksasa jahat sama sekali tak membuat ketenangan, malas dan iri saling intip, patut menjadi api neraka.

34. Raja Kasi bersedia-sedia untuk memenggalnya, kepala raksasa itu ingin dipersembahkannya, ke haribaan sang raja, Betara Sutasoma, dengan cepat raja Purusada berguling, lalu membesarkan dirinya memenuhi dunia ini, berbadan Sanghyang Rudra.

35. Tingginya mendekati langit, berkepala seribu dan tangannya dua ribu, kakinya dua sebagai gunung, taringnya laksana kilat, matanya banyak kira-kira dua ribu jumlahnya terlalu mengerikan, dan bergerak keluar api.

36. Tangannya memegang senjata, bermacam-macam senjata dengan lengkap, dunia goncang disap, bargoyang ke sana ke mari, laut laksana direbus laksana akan hancur, karena api jatuh sebagai curahan hujan, membakar dunia.

135