Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/135

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

13. Sang Daksa tetap melawannya, dan sang Daka mati terpenggal, patih Wimona ngamuk, yang dituju adalah Sri Patraputra, sang Sala lalu melepaskan cakranya dan kemudian memukulnya, di bahagian lehernya, namun Wimona tak terluka.
99a.
14. Para balatentara saling tempur, sang Wimona dan sang Sala sama-sama makti, sama-sama bertempur, berkendaraan gajah, bermacam-macam senjata, yang dilepaskan laksana hujan jatuh memberondong, saat berkelahi dengan gada, kilat api menyembur.

15. Karena saling pukul dengan gada, setiap tentara yang dekat lari, dengan marah mereka berdua bergumul, saling mengadu gajah, kemudian saling peluk saling piting, laksana belitan naga tak berbeda dengan keadaan kedua gajah tunggangannya.

16. Perkelahian saling melemparkan, saling pukul dengan senjata gada, kedua gajah itu saling tindih, kemudian kena terpukul, gada, di bawah perkelahian saling gempur, kemudian kena kepala Wimona, pusing lalu jatuh ke bumi.

17. Dengan cepat ia bangun, wajahnya mengerikan dan bertangan empat buah, besar dan panjang laksana meru, menyerupai dewa Maut seluruh tentara Kuru lari ketakutan, sang Sala amat berani, lalu rebah sambi memukul.

18. Sang Sala tertangkap, segera raja Kasipun menolongnya, melepaskan senjata sakti, kepala raksasa itu putus, sang Wimona mati dan sang Sala ngamuk, banyak raksasa yang dihancur leburkan, hingga gajah dan keretanya.
99b.
19. Raksasa Indrabajra marah, lalu menyambar sang Sala dan didapatkannya, lalu diterbangkannya ke langit, banyak raksasa yang merebut, kemudian Arya Sala mengeluarkan kesaktiannya, dan sudah memusatkan pikirannya, maka ia merubah berat tak alang kepalang.

20. Semua raksasa turut jatuh, setelah di tanah lalu dipukulnya, banyak raksasa yang hancur lebur, demikian pula sanng Indrabajra, sudah mati terpukul lalu tersungkur, kemudian datang para raksasa berhamburan, beribu-ribu raksasa.

133