92a.
56. Ingatkanlah hal itu, jangan tuanku membesarkan diri, untuk melawan kesaktiannya, tentu tuan akan kalah, bila tuan berbesar diri dan pasti akan terkena, dimakan oleh Rudradangastra.
97. Dan lagi tentang taktik sekarang, apa yang hendak dilakukan, karena tuanlah sebagai pemimpinnya, memimpin semuanya ini, di seluruh kekuasaan Astina, dan tuan para putra raja, tuanlah yang patut memberitahukannya".
58. Raja Pasindra menjawab, "Menurut pendapat bapak, marilah kita memakai taktik cakra, karena di siang hari Danghyang Drona, memakai taktik cakra, kala meninggalnya sang Bimaniu, tak dapat dilawan oleh Bimarjuna.
59. Adapun musuh sekarang ini, tidak menyertakan sang Purusada, mudah-mudahan akan kalah", sang Jayendra lalu membenarkannya, demikian raja sekalian, kemudian keluar sambil bersedia-sedia seluruh tentara Kuru.
60. Suara nyanyian riuh rendah, gong bende dan kendang, suara sungu mendengung, dan sudah tiba dalam peperangan, menyebar laksana banjir, menggulung dalam medan perang kemudian membangun taktik perang.
61. Disekelilingnya adalah para raja, serta yang menjadi pemimpin adalah para putra raja, pengaturannya amat tertib, dan konon raja Magada, Awangga dan Kalingga, persiapannya sudah selesai, demikian juga para punggawa raksasa itu.
62. Diadakannya taktik perang udang, yang paling depan adalah raja Susrawa, raja Kalingga itu, diapit kanan kiri, oleh sang Kosa Dewantara, raja Magada dan Awangga, dan yang menjadi kepala adalah raksasa Mohanala.
92b. 63. Yang menjadi badan dan giginya, raksasa Pralabakubala, dan yang menjadi kedua sungutnya, raksasa Loba dan Pragalba, amat kuat, sesudah siap semuanya, lalu menbunyikan gendrang peperangan.
122