Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/119

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

15. Tampaklah raksasa di langit, dihujani panah, banyaklah yang jatuh berguguran, dan raksasa yang berjalan di darat, berjuta-juta, poleng hitam putih berbintik-bintik dadu, dihancurkan oleh sang Sala.

16. Sang Paksidrawaktra amat marah, segera turun ke tanah, sedia untuk mematuk, mata sang putra raja, dengan segera sang Ardana, lalu turun, dari keretanya dan segera memanah.

17. Sang Paksidrawaktra kena, terpanah kepalanya lalu putus, suaranya bergrudug saat ia rebah, laksana gunung batu longsor, semua senang bersorak sorai, orang=orang Astina dan para raja putra, memuji sang Arya Ardana.

88a.
18. Sang Sumala amat marah, mengambil senjata betala, ia adalah raksasa Punggawa Dalam, bala tentaranya amat banyak, lengkap dengan segala macam kendaraannya, senjatanya cakra tomara dan marubul, semua itu sudah dilepaskannya.

19. Bala tentara Astina, banyak yang hancur dan lari, putra raja Walaba, sang Gupta dan sang Lupta, keduanya meninggal, para raja putra kembali ngamuk, dari Madra Mayura dan Pancala.

20. Tentara raksasa banyak yang mati, dipanah atau dipenggal, sang Sumala amat mengertikan, direbut oleh para putra raja, sang Gopala Antasara, Kasmila dan Mesila merebutnya, beserta Jembana dan Kamboja.

21. Laksana sang Rawana jaman dahulu, direbut musuhnya, ada yang ditangkap dan dicekik, demikian pula sebagai sang Kumbakarna, direbut oleh para kera, raksasa Sumala tidak merasa kesukaran, lalu membalas dengan cakra dan bajra.

22. Dengan cepat memecah gunung, besarnya dua lumbung padi yang kembar, dipakai untuk melempar para raja, lalu semuanya mengelak dengan cepat, kemudian Arya Ardana, dengan cepat melepaskan panah, maka kepala raksasa itu putus.

88b.
23. Darahnya keluar memancur, kemudian kepalanya itu kembali tersambung, kemudian ngamuk kembali amat menakutkan,

117