atas gajahnya, raksasa hitam lari kalah, dan punggawanya banyak yang mati.
6. Rebah tak dapat bangun lagi, raksasa dari lima negara, dan Mantri Dalam segera membalas, sang Durmedagraduloma, dan Paksindrawaktra, semuanya galak dan ngamuk, melepaskan senjata Cakra dan Kontra.
87s.
8. Raja Dwarawati, raja Citrangsuka datang menghadapi, dengan panah bayu bajra, api itu ditolak tertiup anginm lalu membakar para bala raksasa itu, banyak raksasa yang terbakar, dan raksasa Doluma datang mendekat.
9. Dadanya kena dan robek, oleh panah Sri Citrangsuka, raksasa Doloma amat marah, ingin naik memeluknya, ke atas gajah Citrangsuka, kemudian sang Arya Sala menolongnya, segera melepaskan cakra.
10. Sang Doloma lalu mati, kepalanya putus terlempar, sang Dumeda memukul sembunyi, sang Sala dari samping, dengan cepat sang Arya Ardana memanah dengan panahnya, maka sang Durmeda mati seketika.
11. Perutnya pecah lalu mati, demikian pula para raksasa, di langit segera dihadang, dengan panah sang Ardana, putra raja Astina itu, kemudian sang Paaksidrawaktra datang, geraknya amat hebat.
12. Mematuk mata para bala tentara, karena raksasa itu, mukanya laksana garuda, sangat galak, dengan cepat memenggal kepala, amukannya amat hebat, menelan para bala Astina.
87b.
13. Kemudian kembali terbang ke langit, laksana garuda laiknya, lalu menimbulkan kegelapan, seolah-olah hari malam, para bala tentara kaget, meraba-raba dan bingung, kemudian segera dipanahnya.
14. Laksana hujan mengenainya, maka bala tentara Astina hancur, raja putra Ardana, dengan marah lalu melepaskan panahnya, sebagai pengaruh matahari, kekuatan gelap telah musnah, kemudian kembali terang sebagai bermula.
116