orang yang berada di atas gajah itu, punggawa raksasa hitam, seratus orang mantrinya serempak menyerang dengan senjata bajra dan konta.
48. Putra Lengka itu tak berasa kuatir, turun dari atas gajah putihnya, geraknya laksana sang Meganada, kuat berani dan sakti, para punggawa raksasa hitam, mantrinya dipukul hingga hancur, banyak yang rebah rimpah, banyak yang mundur menderita luka, Manca agung raksasa hitam adalah sang Pracanda.
49. Bersama-sama raksasa Ketupraba, putra Lengka itu dikeroyok, dan terasa payah, gada patah dua, lalu menghunus pedangnya, dengan segera meloncat, ke atas gajah putih, sang Ketupraba segera lari mengejar, menyerang dengan konta dan tomara.
85b.
50. Demikian pula raksasa Prasanda, putra raja Lengka mundur, dengan cepat menarik busurnya, dengan segera panah dilepas, raksasa Pracanda lalu kena, segera terjerambab, raksasa Kutu praba, turun memegang pemukul, dengan marah mendesak sambil memukul dengan alat yang besar.
51. Sang Sarasi putra Lengka, sekaligus kena lalu mati, sang Gada sedia membalas, mengangkat pedangnya sambil memaki lalu memarang kian ke mari, saling parang dan saling tusuk, sang raksasa Ketupraba, berantakan diparang, seluruh raksasa hijau lari cerai berai.
52. Dikalahkan oleh bala tentara Lengka, dikejar dihancur leburkan, setiap yang kena dipenggal, banyak mayat bergelimpangan, mayat raksasa hijau rata bertumpuk-tumpuk, kemudian raksasa biru raksasa putih dan raksasa samar, banyak yang hancur, oleh para Manca negara Astina.
86.
53. Makin lama makin banyak datang, raksasa yang datang untuk membalas, raksasa biru dan yang saliwah dadu dan merah, hitam kuning poleng hitam putih berbintik-bintik, turun berhamburan, bersenjata dan sangat galak, memakai sambeng dan kapak, bala tentara Lengka dikelilingi oleh raksasa.
54. Banyak raja putra yang datang, menolong dengan melepaskan panah, putra Gopaladewara, dan Pancalawidarba, Mayura
GEGURITAN PURWA SANGARA - 8
113