hal itu baik-baik", patih Jayendra berdatang sembah, menyembah sambil mencium kaki, "Tuanku permata dunia ini, yang disungsung oleh para raja di dunia.
80b.
13. Seluruh negara Darata, orang yang berujud Buda sejati, orang yang berujud Paramasiwa, tak mungkin seluruh raja, berani tidak menerimanya, segala yang tuanku perintahkan, karena sukar menjawabnya, karena masih memikirkannya, dan melapetakanya tak akan menimpa tuanku.
14. Demikian pula kesalahan membentang, perkataan baginda raja, namun bila hamba tuanku, berani sedikit menentangnya, belum pernah berhadapan sama sekali, takut akan Kala Mertyu, mengacau sewenang-wenang, namun bila dibandingkan dengan rasa berbakti, yang menghamba di bawah kaki tuanku.
15. Tambahan pula, tak ada gunanya menjadi manusia, hamba mohon dengan sangat, beribu-ribu maaf, untuk diijinkan melawannya, memang dari rasa berani, terhadap raja Purusada, raja yang menimbulkan penderitaan, tak ada keinginan menakuti musuh yang jahat.
16. Dan semuanya ini, seluruh raja yang berbakti, bila hamba takut mati, agar tuan-tuan sekalian memukulnya", raja Kasi bersabda, "Maharaja Dasabau, paman patih Jayendra, patih yang terkenal di dunia, kata-katamu patut didengar oleh kesatria.
81a.
17. Jangan paman kuatir, demikian pula para raja sekalian, para brahmana, jangan turut menghadapinya, jangan dipikirkan sukar, meskipun musuh Kala Mertyu itu, dapat menelan dunia, rakyat Kasi sedia menghadapinya, sedia ingin berperang dengan Purusada.
18. Meskipun kesaktiannya tinggi melangit, dapat menjelma menjadi Rudra Murti, Rudra Murti sudah kalah, raja Salya dari Madra, dapat menjadi Rudra Murti, saat Bratayuda berkecambuk, melawan sang Darmawangsa, sang Purusada Radra Murti, raja Kasi menjelma menjadi Brahma.
19. Tak sedikitpun rasa ketakutan, terhadap raksasa yang jahat itu", berkata raja Citrangsuka, raja yang di Dwarawati, berkata
108