bisa menghilang.
22. Karena para Yadu berasa sedih, dan tak dapat mengertikan pikirannya, makin hari makin banyak malapetaka, tikus berkeliaran, mengikuti jalan besar tidak mempunyai rasa takut, bila malam hari terhadap manusia, menggigit kuku dan rambbut, terdengar juga, suara burung belibis berubah-ubah menirukan suara burung hantu yang tua.
23. Suara kambing meraung seperti suara anjing, banyak binatang piaraan manusia, makanan amat sedikit, banyak yang berbahaya, tetap sebagai tanda jaman, makin hari makin kacau, para warga Yadu, dimasuki pengaruh kalisangkara, lupa terhadap seorang pendeta sakti, yang selalu melaksanakan puja.
5a.
24. Makin banyak yang berbuat sesuka hati, makin berkurang rasa bakti kepada guru, banyak yang menentang gurunya, hanya saja baginda raja, Sang Kresna dan sang Baladewa berdua, tidak turut mengalami kesusahan, melihat kelainan kenyataan ini, api dalam pedupaan, tak berkobar bila diisi harum-haruman, dan matahari dapat perhatian pula.
25. Saat matahari hampir terbenam kelihatan kekuning-kuningan, serta sinarnya kelihatan terhalang, banyak yang aneh-aneh, nasi yang masih dalam jerangan, berbau busuk dan asam, dan juga terbakar keanehan yang timbul, sungu si Pancajenia, suaranya meraung tanpa ditiup, yang menjadi petunjuk waktu.
26. Telah diceritakan baginda raja berdua, bila negara akan rusak, seluruh warga Yadu, terlihat pula candragraha di malam hari, pada tanggal tiga belas, terkenang masa lampau, saat kehancuran Korawa, juga tampak candragraha di malam hari, saat baru tanggal tiga belas.
5b.
27. Saat baru tahun tiga puluh enam, batas kekacauan itu, yang dahulu dan sekarang, hal ini dianggap sudah cukup, sebagai ciri kehancuran dunia, juga di malam hari, para istri sang Yadu, semua mimpi melihat, Sang Kala Sangara bergigi putih, berbadan hitam.
11