Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PURWA SANGARA.pdf/103

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

65. Mengacau raja yang tenang, tak ada sebab musababnya, yakin akan kesaktiannya, itulah sebabnya maka bersedia-sedia, dengan segala macam senjata, siapa tahu datang menyerangnya, ingin untuk menghadapinya.

66. Tak ingin dijadikan korban, sedia melaksanakan darma peperangan, mati melawan kejahatannya, dengan cepat raja Purasada, tak menunggu lama lagi, raja Widarba ditangkap, diikat lalu dilarikannya.

67. Wajah raksasa itu berubah, menjelma menjadi raja Ratnakanda, hilanglah wajah seorang pendeta, segera lari terbang ke udara, disongsong dengan kendaraannya, para detya dan yaksa datang, bersiap-siap untuk pulang.

68. Sesudah meliwati negara, daerah kekuasaan Widarba, mereka yang kehilangan rajanya, amat bersedih hati, banyak Menteri Punggawa, konon semuanya bersedih, diceritakanlah raja Purusada.

75b.
69. Ingin menghadap, kepada Betara Kala, ingin membayar kaulnya, karena dahulu sedia mempersembahkannya, dan kini sudah dapat dipenuhi, mendapat seratus orang raja, dan sudah di dalam kurungan.

70. Ikatannya dilepaskannya, dikurung menjadi satu, laksana mengurung bebek, yang hendak dijual ke pasar, amat menderita, seluruh raja-raja itu, menderita kesengsaraan yang amat sangat.

71. Konon segera telah tiba, di tempat Betara Kala, yang bertempat tinggal di hutan lebat, sang Purusada duduk bersila, dengan segala sopan santun, kemudian lanjut berkata, mempersembahkan raja-raja itu.

72. Sang Hyang Kala lalu keluar, amat besar, laksana seorang raksasa berperut besar, warna merah hitam bercampur, amat menakutkan, kepalanya gundul licin, lalu berkata bahwa tidak menyetujuinya.

73. Menerima raja-raja itu, karena semua mereka itu nista, tak ada keagungan, "Siapa yang hendak berkaul, cepat tukarkan, seorang sudah cukup, bila ia adalah sang Sutasoma".

101