ba mengepul, bersatu bergulung-gulung.
Bait 42 - Sinar matahari, laksana diselimuti, dengan tiba-tiba tak seorang dapat berpikir, semuanya diam terheran-heran dan takut, seluruh mentri, laksana air laut pasang, dengan tiba-tiba sunyi sepi, diam tak berkata-kata, dan saat sudah berlalu, angin itu hilang.
Bait 43 - Seluruh penghuni istana, dahulu-mendahului mengambil, segala kepunyaannya, karena dalam pikirannya, menyangka pasti akan hancur, seluruh istana akan terbakar, demikian pikirannya, maka itu kini kacau, semuanya tak menentu, buyar terpencar kemana-mana.
Bait 44 - Yang lain ada yang ingin keluar, mereka berjalan berlari-lari, perasaannya kacau, karena mereka yang berjalan, laksana ada yang menghalanginya, oleh teman-temannya, susah kalau ingin keluar, ada yang benturan dan terjepit, ada yang lain di sana, meloncati tembok istana.
Bait 45 - Tersebutlah baginda raja Bhoja negara, beliau tak berpindah, pikirannya tetap dan berasa kasihan. melihat keadaan rakyatnya takut, disertai oleh Resi Paradwan, juga sang Tapasa bersama di sana, demikian seluruh kepercayaan keraton, seperti Rakrian Patih, baginda raja, halus bersabda.
Bait 46 - Aduh tuan yang saya sayangi, teruskanlah kasih tuan, tuan Batur Tapasa, perkataanku sekarang ini, pikiranku demikian, terhadap diri tuan, ya bila dapat dilanjutkan, belas kasihan tuan kepada saya sekarang ini, anakku Galuh akan aku berikan kepada tuan.
74