ligi, pemukul gada dan alat lainnya, adapun genta itu, berkobar-kobar menyelimuti tuan Putri, dan sudah terkenallah, musuh baginda raja itu.
Bait 37 - Terhadap suatu yang ada di istana, yaitu genta yang menyala-nyala, sang Resi Paradwan, ingin meminta pertolongan, kepada seorang pertapa yang sakti, maka bunyi-bunyian dipukul dengan keras, suaranya bertalu-talu berganti-ganti, semuanya ribut membawa panah dan keris, demikian juga alat pelempar, dan segala macam senjata.
Bait 38 - Mereka berjalan tergesa-gesa, laksana asap bila diandaikan, rakyat datang mengalir, tak ada yang dapat menghalanginya, datang berjejal-jejal, penuh sesak di jalan-jalan raya, di tanah lapang penuh sesak, yang lain ada yang berada di sekeliling, tembok, di batas istana itu.
Bait 39 - Tiba-tiba mereka takut, ribut hingar bingar dan lari mundur, karena sepanjang jalan api berkobar-kobar terlihat, menyala berkobar mengherankan, menyala-nyala membakar, panas yang amat sangat, sinar api bergulung-gulung, hal itu, disebabkan oleh sang genta.
Bait 40 - Sang Dyah memegangnya, menambah keelokannya, wajahnya kelihatan cantik molek, beliau sang Sudesnawati, putri negara Bhoja, pikiran was-was, dari seluruh penghuni istana, semuanya terheran-heran melihatnya, diceritakan cerita para Mentri-Mentri.
Bait 41 - Orang yang diperintah, oleh baginda raja tadi pagi, merusakkan genta itu, semua merasa takut, semua mereka itu keluar dari istana, dahulu-mendahului saling langgar, karena takut melihat, asap api, tiba-ti
73