Bait 10 - Tetapi ia tumbuh tanpa sebab, pikirkan Tuanku baik-baik, ingat-ingatkan kembali, tetapi beliau yang disadarkan itu, tak memperhatikannya sama sekali, makin sedih pikirannya, sangat sedih dan menderita, sama sekali tak terbayang, gelap gulita, pikirannya buntu.
Bait 11 - Pandangan baginda raja kabur, saat itu tiba-tiba datang, seorang penjaga ke istana, menghadap baginda raja, setelah sampai berdatang sembah, dan sudah menyampaikannya, ini ada seorang pendeta, bernama Resi Saraduan diam bersama-sama dengan seorang raksasa.
Bait 12 - Pendeta itu disuruh agar datang menghadap, kemudian ada pula tamu beliau, bernama Wiku Angampil seorang pertapa yang miskin, tubuhnya kurus dan pucat, suasana wajahnya sebagai orang ksatria, utusan itu kembali lagi, karena diutus memanggil pendeta itu.
Bait 13 - Kemudian keduanya sudah datang, berdua beriring-iringan, didahului oleh sang yang ada di tempat tidur, berkata beliau dengan halus, kata-katanya lancar manis, aduh Tuanku baginda raja, Tuanku tak berhasil, disalahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, beliau menyangka, membuat rasa mala tanpa alasan.
Bait 14 - Datangnya malapetaka itu, tak dapat dihindari, ditimpa suka dan duka, ya hamba ini, pendeta Tuanku, baru sekali melihatnya, tak dapat menerkanya, hamba kemudian berusaha, mencari-cari, minta tolong kepada kawan-kawan.
Bait 15 - Adapun pikiran baginda raja, benar-benar menyukarkan, kemudian seorang datang, tetapi orang ini ingin
68