Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PISACA.pdf/5

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

PENDAHULUAN

Lontar Geguritan Pisaca, salah satu geguritan memakai bahasa Bali Kepara, bercampur dengan bahasa Jawa Kuna, bahasa Bali Tengahan dan ditulis memakai huruf Bali di atas daun lontar.

Geguritan amat terkenal di masyarakat Bali karena di dalamnya amat banyak memuat ajaran-ajaran (tutur) tentang kebenaran serta sikap dan tindakan yang baik yang harus dilakukan oleh seorang raja sebagai pengayom masyarakatnya, yang dapat dipakai sebagai suri tauladan.

Isi ceritanya sebagai berikut:

Pada suatu ketika Sri Aji Dharma dari Malawa menjalankan ajiwa sraya ke tengah hutan. Pada saat itu beliau melihat putri Nagini yaitu putri raja Antaboga sedang memadu kasih dengan seekor ular. Beliau berpikir bila hal ini dibiarkan dunia akan kotor dan rusak karena mereka itu sudah salah krama (salah tingkah). Kemudian ular itu dibunuh oleh raja. Nagini lari memberitahukan ayahnya bahwa ia diperkosa oleh Sang Aji Dharma. Sang Antaboga marah dan ingin membunuh Sang Aji Dharma.

Setelah tiba di halaman istana, Sang Antaboga sebagai seorang pendeta berpikir sejenak untuk memikirkan kembali kebenaran laporan putrinya itu. Lalu Sang Antaboga berubah menjadi seekor ular kecil menuju tempat andapaksi dan di sanalah ia bersembunyi untuk mencari kebenaran masalah tersebut. Ketika itu baginda raja sedang dihadap oleh para patih, mentri dan pejabat-pejabat lainnya. Raja menyampaikan peristiwa yang dilakukan oleh Nagini terhadap ular kebanyakan itu dan ular tersebut kemudian dibunuhnya.

Mendengar pembicaraan baginda itu Sang Antaboga lalu berubah ujud menjadi seorang pendeta serta menghampiri Sang Aji Dharma dan memberi anugrah kepada raja dengan catatan agar anugrah itu dirahasiakan dan tidak boleh orang lain yang tahu

3