Cebur nuju daging

Kaca:GEGURITAN PISACA.pdf/31

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

Bait 19

Mari kita menyatukan rasa, di tempat tidur, tanda cinta kasih, mari kita yang lain lagi, masuk berjalan menghibur diri. melihat keindahan pantai, yang lain keindahan gunung, lalu mengarang kidung, dan kaki gunung itu, tak henti-hentinya, dipukul air laut, bagaikan orang bercengkrama.

Bait 20

Keindahan di pantai, sangat indah, ya sebagai orang yang sudah bersatu, dan sudah mendapatkan kenikmatan, kemudian mari Tuanku kembali pulang ke negara, baginda raja lalu bersabda, ya tuan mas permataku, orang laksana Betara Ratih. dimana mungkin. saya tak akan tergila-gila. taajub terhadap kecantikan tuan.

Bait 21

Laksana inti dari segala yang manis. tak ada padanannya, di dunia ini, perasaanku hancur melihat wajah tuan sang Ayu, perkataan tuan manis halus, ingin aku memeluk tuan, bila tak kuat menahan perasaan. pikiranku gelisah resah, karena terpengaruh, pikiran bingung yang amat sangat. akibat desakan asmara.

Bait 22

Dari mana adinda datang. katakanlah, secara jujur sekarang ini, apakah tuan seorang pertama mulia. apakah berasal dari taman raja, atau Dewa Suranadi. katakanlah hal itu, sebab kedatangan tuan. datang tak disangka-sangka, datang dengan diam-diam. sang Dyah Ayu tersenyum. berkata sambil meneteskan air mata.

Bait 23

Air matanya mengalir keluar, bercucuran. di atas susu sang Dyah, Tuanku paduka raja, raja di bumi ini, kedatangan saya sekarang ini. menghadap Tuanku, meninggalkan istana dengan ikhlas, karena saya dipaksa. dikawinkan, oleh orang tua saya. kepada

29