Bait 14
Yang dipuja dalam tapanya, yang dituju, ditumbuhkan dalam hatinya, kesempurnaan dalam hati, kemudian tercium bau yang harum. Menunda suatu perjalanan, perjalanan sang Bidadari. setibanya di sana lalu duduk dalam pangkuan, di paha kanan baginda raja, sangat kaget, baginda raja, sesaat melihat orang yang datang.
Bait 15
Penutup susunya yang montok terlepas, laksana kelapa gading, pinggangnya laksana curiga, bergoyang lunglai dan ramping, goyang pinggulnya amat serasi, bercahaya disinari matahari, laksana terbakar karena panas, demikian laiknya, ujung pandangannya kemerah-merahan. kesedihan, berlinang-linang air matanya, menambah kecantikannya.
Bait 16
Keningnya sangat menawan, dan sangat pandai, bertutur kata, ingin agar dikasihani, aduh paduka Tuanku, ya Tuanku baginda raja, yang disembah dunia. berbuatlah yang baik sebagai seorang raja, kasihanilah hamba ini, dipakai pelayan, kini Tuanku sangat sedih, ditinggalkan permaisuri.
Bait 17
Beliau meninggal tak semestinya, ya terlalu, hamba taajub, melihat baginda raja, hamba sangat terharu Tuanku, menderita penderitaan batin, sedih duka, lagi pula baginda, masih muda, diliputi, rasa asmara, sekarang semua itu tak ada gunanya.
Bait 18
Tak berguna jasa Tuanku, saat, tak ada permaisuri, orang yang merupakan kembang dunia ini, masih berlaku sedih, kini bangkitlah kembali, ya agar jangan perjalanan tuanku tertunda, sesuka hati Tuankulah, hamba bersedia, menerima tanpa ragu-ragu, bersedia menyerahkan diri.
28