yang mengah, semua sudah terbagi-bagi, serta dilengkapi dengan sajen pengesahan perkawinan.
214. Pendeta naik memuja, api pemujaan sudah menyala, asapnya mengepul dan menyebarkan bau harum, iringannya yang meladeni, memotong elis dan membelah ketupat, I Dayu lalu pergi memerciki, setelah selesai, lalu disucikan sampai ke tempat tidur.
215. Sekarang diminta kedua mempelai bersujud, mempermaklumkan kehadapan Tuhan, kawangen emas bercahaya, juga berbakti kepada Betara Guru, Puseh, Dalem dan Bale Agung, dipuja dari pura keluarga, I Cipak lalu dipanggil, "Mari dulu! Bapak mau memberikan upacara Rambayan."
216. Ceker Cikap menjawab dan menanti perintah itu, "Dekatkan dirimu. Dayu, ambil guntingnya ", ditempeli dengan uang (gunting itu), blayag emas, suga sudah di sana, begitu pula kalpika dan karawista, semua sudah dimentrai, setelah selesai, kedua mempelai sekarang akan melakukan upacara natab.
217. Ni Seroja sudah disucikan, bersama Cipak sekarang ke belakang menghaturkan sesajen semua, sajen pamreman, juga tatebasan itu, ibunya yang mengaturkan, semua sudah dihaturkan, setelah selesai lalu Pendeta ingin pulang.
218. I Cipak menghaturkan uang sejumlah 100 ringgit, heran Pendeta menyaksikan karena banyaknya uang itu, "Bapak tidak minta uang; 50 rupiah saja sudah banyak. Akan Bapak berikan si pelayan. Antarkan Bapak sekarang." I Dayu mengambil uang 25 ringgit.
219. Pendeta berjalan, menyamping orang yang menonton, pertunjukkan Topeng sangat baik, melakonkan Dalem pada masa yang lalu yaitu Dalem Tarukan, tentu saja beliau akan dikuburkan atau dibakar, putranya Dewa Darma dan terutama Getas Landung, yang menjadi pokok, biaya penghabisan
harta benda.
220. Meriah sekali jalannya acara, tidak kekurangan nasi sampai becek lalu dihanyutkan di kali, uangnya tak terhitung sehing
54