disantap oleh pendeta, haturan untuk tukang dan sangging sekalian dihaturkan, menjunjung dan menjinjing kisa yang berisi babakaran daging babi, bersama tujuh orang lalu mohon restu.
208. Segala ketentuan sudah berjalan, tetangga dan bangsawan sama-sama dipersilakan, bangsawan 3 golongan mengambil tempat dengan mengingatkan tingkatannya masing-masing, Kesatrya dan Brahmana tidak memilih tempat, yang berusia lanjut di depan, sesuai dengan yang tertera dalam ilmu-ilmu, hendaknya saling asah, asih dan asuh.
209. Tamu dari luar kota setelah semuanya makan lalu diganti oleh anggota banjar, semua diberi tempat, para pembantu yang melayani dan mengantarkan tukang masak, ada yang bertugas masuk ke dalam untuk memeriksa apakah persediaan nasi masih, pada akhirnya bersisa sebanyak 15 bale.
210. Haturan kepada yang menghadap ke istana dan buat tiap-tiap keluarga, untuk tanda pembalasan akan seringnya mereka membantu, para janda dikirimi makanan, juga janda yang cerai, sampai pada makanan buat seniman, anggota topeng dan arja, sudah semua siap untuk dibagikan
masing-masing.
211. Antara pukul 15.00 dan 16.30 sudah berjalan, otonya yang memuat berturut-turut penari topeng dan arja, setelah sampai semuanya, sekarang mencari pendeta, diceriterakan segera beliau sampai, lalu Ceker Cipak menghadap, Silakan tuanku duduk" , beliau di balai piasan didudukkan.
212. Para peladen menghaturkan sirih dan buah-buahan, Pendeta lalu berkata halus, "Siapkanlah supaya lengkap alat-alat upacara semua." I Dayu lalu berkata, "Silakan tuanku naik sekarang untuk memuja. Sudah selesai persiapan sesajen perkawinan".
213. Kepala babi menengadah, juga nasi ujung kukusan yang dipancangi klatkat sudamala dan linting dua batang, semua sudah menyala, janganan dua nyiu baik yang masak maupun
53