183. Lagi balai tempat upacara "Potong Gigi" dihiasi dengan "ider-ider" berperada, "ulon" dan tirai di sebelahnya ada bantal yang bertumpuk, hiasan gantung keemasan indah gemerlapan, didasari dengan kain sutra, warnanya sudah serasi, di tengahnya ada kaca yang bergambar, gemerlapan berwarna kuning seluruhnya, bagaikan tempat tidur malaikat Sorga.
184. Tidak memperhitungkan jumlah biaya, orang-orang yang membantu semua sudah bisa mengatur pekerjaan, tidak menunggu perintah, dalam suasana yang ramai cepat selesai, tukang membuat kopi dan membuat sajen upacara "canang", semuanya sudah sama-sama tahu dan bisa mengelompokkan diri, wanita dan laki-laki semua sudah bergilir supaya jangan semeraut.
185. Besoknya upacara sudah siap, perhiasan untuk dipakai dalam upacara Potong Gigi semua sudah siap untuk dipakai, tiap-tiap orang satu stel, tukang rias pilihan sudah memanaskan malem, semua sudah sedia seperti pisau dan gunting untuk membuat hiasan muka "Sri Nata".
(PUH SINOM)
186. Sesajen sudah tersedia sesuai dengan tempatnya semua, satai tinggi dan "Sarad", "jarimpen" juga berderet, "pajegan" sudah selesai demikian juga "pule gembal" dan "tegteg agung", "sanggah tutuan"nya berderet kembar, tempat upacara "Caru" sebuah, selain caru ada 9 butir "tumpeng" merah.
187. Sampiannya dibuat dari andong merah, dagingnya ayam merah, didasari dengan "senden" bertulis (berlambangkan) api, pada sajen "tutuan" ada banten suci, pada laepan punjung agung, dagingnya ikan karangan, tuak dan arak bertempat pada greci, juga sagau semua sudah kelihatan siap.
188. Pada tutuan agung 2 macam munggah suci, sesantunnya serab empat, juga sajen Dewa-Dewi berisi ajuman putih kuning, dihiasai dengan pohon pisang lalung, memakai pedapa serba
49