Seroja mau lari, ada yang menggelut dan dipegang oleh banyak orang.
165. Lalu datang dukun, beliau mengatakan bahwa Ni Seroja kena ilmu hitam, menyuruh mencari obat untuk dipakai mengolesi, yaitu buah aba, merica gundil dan miana, cemeng dan jebug arum untuk obat tetes mata, tapi obat itu tidak mempan, sangat ribut bunyi tangis tak putus-putusnya.
166. Ki dukun sekarang menyucikan dengan sesajen, bersuara keras memberi mentera seolah-olah betul-betul melihat penyebabnya, suara dukun menyuruh pulang, "Apa yang kamu kerjakan di sini. Apa yang kamu ingini, katakanlah", lalu membuat nasi tongtongan untuk dipakai upah, namun semakin gaduh, dukun itu dimaki dan dicerca.
167. Tikus, kucing dan anjing melongok menunggui, Ceker Cipak baru merasa ingat kepada si ular, waktu itu juga dipanggil secara gaib, segera sudah datang, seperti dia bisa melihat dari tempat jauh, bisa berada di sembarang tempat, akhirnya Cipak selesai mengutarakan kepada si ular tentang hal ikhwalnya.
168. Si ular sangat pintar mengobati si sakit, memang betul berilmu tinggi, Ni Seroja tidur mimpi didatangi orang tua, yaitu pada saat si ular menyedot keluar penyakitnya, seketika itu juga pembuat itu serta merta sakit.
169. Sadar Ni Seroja, tenaganya pulih sedikit, dan memaparkan impiannya, "Kak, saya baru mimpi didatangi seorang tua. Beliau memberikan "Dasa Bayu". Beliau memanterai serta menghalau yang membencanai. Lalu beliau segera pulang. Rasa-rasanya dari asrama pendeta."
170. "Diamlah dik, jangan dikatakan sembarangan. Ini adalah restu Tuhan yang sangat rahasia." demikianlah Cipak menutupnutupi, supaya tidak kentara perbuatan si ular itu, si ular sekarang secara diam-diam mencari tempat supaya terlindung, banyak orang yang lalu lalang, tua, jejaka, kecil dan dewasa, setelah gelap lalu bersembunyi dalam goa.
46