Cebur nuju daging

Kaca:CERITA RAKYAT BALI.pdf/39

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

naik, menguakkan tutup untuk mencari-cari, dilihatnya peti gemerlapan.

110. Dengan ganasnya si tikus melobangi peti, bersuara kiet-kiet, pande emas terjaga dan menghalau.

111. Menggonggong sekarang si anjing, si kucing mengeong, tikus berhenti menggigit, si pande semakin menjadi kantuknya.

112. Menjelang pagi cincin itu sudah dibawa, lalu dia turun menggigit cincin sambil bergantungan, ketiganya sekarang kembali.

113. Berderet berjalan bertiga, si tikus di tengah diapit oleh kucing dan anjing, semua tidak ada yang lebih belakang.

(PUH PANGKUR)

114. Terlalu pelan mereka berjalan, terbit matahari masih di jalan, berdua menjaga si tikus, berderet jalannya, setelah siang tak disangka-sangka cepat datang burung elang menyambar dengan ganas, si tikus berbunyi cuit-cuit.

115. Kucing dan anjing menangkap, menggigit kepalanya dan mencekam sayapnya, setelah mati elang itu emas melingkupi badan burung, dicekam berdua elang emas emas itu sangat indah.

116. Kita tinggalkan mereka dalam perjalanan, I Ceker Cipak diceriterakan sekarang, sangat gelisah karena baru tahu piaraannya hilang ketiganya, sebal hatinya amat sangat, panas, risau dan gelisah, ya memang kehendak Tuhan.

117. Baru melongo tahu-tahu datang tikus, kucing dan anjing, tikus mencekam cincin, elang emas itu disandang berdua ketiganya telah menghadap, I Ceker Cipak terkejut melihat, "Kamu pergi tanpa permisi".

118. Diceriterakan semua yang dilakukannya, dari awal sampai sekarang, Ceker Cipak sangat senang, cincin itu betul-betul bertuah sudah dibuktikannya, dengan bertambah elang emas itu, tak ubahnya bagaikan lambang negara, lalu ditaruh di atas pintu.

38