emas semuanya, I Ceker Cipak merasa kikuk, tekun dia menyimpan emas dan cincin, di taruh di dinding atas pada dapur dan karnar tidur, ibunya tahu-tahu datang.
72. "Bu, ini tolong ditaruh. Jagung dan kain berisi uang hadiah sang raja. Beliau sangat baik pada saya menganugrahkan makanan sisa setelah beliau menyantap, rasanya sangat enak.
73. Saya sekarang akan memandikan binatang piaraan kucing, tikus dan anjing, semua saya dapat beli seharga 175 kepeng beserta ular, tetapi ular sudah ditebus. Semua ini akan saya pelihara untuk pelipur hati."
74. Tidak akan belas kasihan itu lenyap, meskipun kepada segala mahluk yang rendah, Tuhan tidak berkehendak pilih kasih. Beliau memegang teguh keadilan, merestui orang yang berbuat baik yang akan menemui kebaikan juga, bila keburukan yang diperbuat, keburukan yang akan ditemui.
75. Ibunya merapikan barang-barang jagung, kain dan uang hadiah sang raja, lalu dibawa ke dalam di atas dapur, baru menoleh lalu sadar bahwa di dindingnya ada emas, menempel satu batang.
76. Menjadi heran dia melihat, "Kenapa ada emas tumben sekarang? Tidakkah dikatakan menipu, tiada milik mau dimiliki? Mendapat secara tidak halal akan membuahkan kesengsaraan. Jika sudah hasil keringat akan lama dimiliki."
77. Demikian kata hati ibunya, pikirannya kacau karena dia tidak ingin memiliki barang orang lain dengan cara licik, tak disangka-sangka I Cipak datang membimbing kucing dan anjing, tikus dijinjing, lalu dia berkata lembut, "Ke sana ibu mencari pelepah kelapa supaya berubah jadi emas."
(PUH WIJIL)
78. Terus ibunya berjalan cepat mencari pelepah kelapa, diberikan pada Ceker Cipak, lalu dia mengambil cincin pada dinding, pelepah itu menjadi emas banyak.
34