Cebur nuju daging

Kaca:CERITA RAKYAT BALI.pdf/34

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

merengut, matanya dua melotot, senjatanya mengkilat, yaitu berupa taring yang menganga tajam.

64. I Ceker Cipak tidak gentar, menguatkan tenaga mengacungkan tongkat pikulan lalu menunjuk, "Hai, hai, kamu ular besar, sabarlah dalam berbuat, telitilah dulu supaya tidak salah tindak, menerka prilaku yang terhormat, timbang-timbang dalam hati.

65. Dengan sadar berbuat dosa, pasti menemui kesusahan, aku betul-betul berlaksana baik, walaupun berakibat mati, aku membela anakmu ini yang salah berbuat, aku yang menyelamatkan jiwanya.

66. Jika tidak aku yang menemui, mungkin sudah mati anakmu, sekarang jika tidak kamu tebus, aku tidak akan menyerahkan meskipun kamu marah." akibatnya si ular besar berbuat sabar, pelan dan lembut ujarnya,

67. "Oh tuanku pembawa kehidupan, wajib menolong setiap yang patut dikasihi, walaupun hamba akan menebus, hanya merelakan, ini ambil emas permata perhiasan di ekor hamba, itulah yang hamba pakai penebus-jiwa."

68. Setelah menyerahkan penebus, si ular yang sengsara sekarang diambilnya, seraya ular berkata, "Oh tuanku maafkan, hamba permisi. Cincin penebus itu bila dicuci digosokkan pada barang-barang, maka barang itu akan menjadi emas permata.

69. Nanti bila ada keperluan panggillah hamba dengan doa. Segera hamba datang ke hadapan tuanku untuk membela, meskipun menghadapi musuh. Hamba tidak akan ragu-ragu karena ingat berhutang jiwa,"

70. Setelah selesai permusyawaratan I Ceker Cipak lalu pergi, cincinnya ditaruh dalam ikat pinggang, jalannya cepat-cepat, lalu tiba di rumah sedang kosong, ibunya sedang mandi, cincinnya sekarang di buka.

71. Terkejut karena ikat pinggangnya gemerencing menjadi

33