56. Pada ekornya ada cincin, itu hendaknya ambil dengan paksa, bila tidak diberikan cincin itu janganlah mau memberikan diri hamba sebagai penebusnya, cincin itu bertuah sekali.
57. Bisa mengeluarkan apa yang diinginkan, juga sebagai alat untuk mendapatkan makanan, demikianlah hatur hamba, janganlah melalaikan, bila selamat hamba kembali, lain kali hamba akan menghadap lagi."
(PUH PANGKUR)
58. Menjelang hari tibanya janji, Ceker Cipak bersiap-siap cepat permisi, tinggal menunggu sang raja yang masih di peraduan, ditunggu sampai beliau memberikan petuah, agar bisa menghaturkan sembah sebab berkehendak akan mohon diri.
59. Kira-kira antara pukul 15.00 dan 16.30 sang raja baru bangun, lalu beliau mengutus hambanya supaya memastikan orang yang bermalam itu, Ceker Cipak masih menunggu, utusan itu berkata, "Saudara diperintahkan menghadap".
60. Ceker Cipak menghadap ke istana, diberi uang dan kain yang bagus, juga 10 ikat diberi jagung, diterimanya seraya menghaturkan sembah, "Hamba permisi, anugrah tuanku telah melebihi, esok lusa hamba akan mnghadap untuk memohon makanan lagi."
61. "Baik-baik kamu berjalan, supaya jangan cepat siang", Sabda raja, Ceker Cipak mohon diri sambil menunduk terus mengambil pikulan dan berjalan, berat dia memikul jagung, setelah lewat dari kota kerajaan hatinya senang tak terkira.
62. Kecet-kecet, bunyinya memikul, tidak merasa leher sakit karena sangat girangnya, rasanya tidak habis untuk dimakan, dengan bergegas tak tersangka-sangka datang si ular besar, bersembunyi sambil mendekat, lagaknya seperti ingin merebut.
63. Menerobos mau membelit, I Ceker Cipak cepat menghindar, si ular tegak melengkung, berdesis suaranya, mukanya
32