Cebur nuju daging

Kaca:CERITA RAKYAT BALI.pdf/134

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

6. Mungkin karena sudah nasib , saat I Umbaran, dengan tiba-tiba gelisah lalu gemetar, nafasnya makin naik, lalu ke tenggorokan, badannya makin lama makin kejang, tak lama kemudian tak bernafas lagi.

7. Tangis riuh rendah, meraung-raung kesedihan, terdengar oleh anggota banjar, semua datang, melawat hingga malam hari.

8. Hingga di sini saya akhiri, cerita Wayan Umbaran, meninggalkan anak yang masih kecil, calon bayi yang masih dalam perut, dua orang istri janda muda, bunga yang sedang kembang dengan tiba-tiba layu, kehausan kekurangan air.

9. Bila ingin lagi, saya memberanikan diri menceritakan, anak I Umbaran, bernama I Wayan Darma saudara Luh Putu Sari, keduanya yatim, mengemis setiap hari.


Denpasar, Maret 1981


133