27. Yang jelek patut dibuang, yang baik perlu dipelihara, yang jelek berarti hutang, yang baik berujud Wisnu, meskipun dalam hatinya bulat, kalau salah, cepatlah ayah buang.
28. Sang raja tidak bisa berbicara, dan ibu permaisuri, bagaikan teratai tanpa air, mukanya pucat lesi, lelah bagai tak bernyawa, sangat sedih, air matanya deras bercucuran.
29. Lama tak bisa berkata, Candrawati berkata lagi, kakanda Wiranata, janganlah kakak kecewa, kalau kakak tidak kasihan, saya permisi, terbuang di tengah hutan.
30. Lebih baik di sini dibunuh, lebih suka saya mati, sudilah kakak melihatnya, mayat saya, jika dalam keluarga yang kasihan, menimbuni, membekali segumpal tanah.
31. Yang saya minta, keris yang kakak pakai, untuk membunuh saya, supaya saya cepat mati, kalau andih darah yang keluar, itu suatu bukti, tandanya mengotori dunia.
32. Kalau darah keluar berbau harum, semerbak memenuhi dunia, dan sinar matahari cerah, itu saya benar-benar mulia, biarpun dikubur tanpa air suci, sungguh suci, menuju sorga yang berupa suci dunia.
33. I Wiranata wajahnya marah, kemarahan dipakai menjawab, aku tidak perlu banyak bicara, sekarang pergilah, raden mantri kemudian pulang, tiba kelihatan, patihnya akan mengantar.
34. Seraya kemudian menyembah, yang mulia sang Maha Dewi, kakanda menyuruh hamba, janganlah tuan putri salah sangka, memarahi diri hamba, berani kepada junjungan.
35. Ya hamba memberitahukan, tuan putri disuruh sekarang, pergi ke hutan rimba, hamba mengantar tuan putri, I Candrawati berkata, bapak patih, saya tidak akan menolak.
36. I Candrawati menyembah, kepada ibu permaisuri, mungkin nasib saya buruk, pergi dari ayah dan ibu, senang saya mati, hamba mohon diri akan mati, kepada ibu dan ayah.
12