tiba mengigau.
10. Dengan panjang memanggil Nyoman Sekar, bersama anaknya Luh Sari, Ni Riris juga disebut-sebut, ketiganya itu dipanggil-panggil, berganti-ganti, Ketut berganti-ganti, Ketut Riris kemudian
bingung, apa daya sekarang, karena keadaannya sebagai sekarang ini.
11. Suara ayam bersahut-sahutan, burung crukcuk bersuara ribut, Ni Riris segera bangun, I Umbaran tak dilupakannya, diselimutinya, membuka pintu sambil bersungut-sungut, tak disangka hari sudah siang, ibunya dibangunkannya.
12. Burung tengkek mengokok, terasa menghina Ni Riris, karena begadang semalam suntuk, kasihan kepada suaminya, menderita sakit, mungkin takut menjadi janda, memang karena sedang ngidam, tak boleh kurang sekejap pun.
13. Ketut Riris resah berdiri, bertukar pikiran dengan ibunya I Wiri, ah ibu malapetaka, kakak panas membara, lalu mengigau, Ni Sekar selalu dipanggil, sering memohon, agar sudi menengoknya.
14. Kasihan saya mendengarnya, kata-kata kakak minta dikasihani, memang benar cinta kasih, terhadap kakak Nyoman Sekar, saya sekarang, akan memberitahukannya, karena rasa saya yang sejati, bersuami dengan kakakku.
15. Ni Wiri menjawab dengan marah, Ah, sebagai ular mencari kayu, ingin mencari sumpah serapah, menimbulkan perut marah, tak bermalu, menundukkan diri dengan madu, tak lain hanya akan bertengkar, membuat masyarakat tertawa.
16. Ketut Riri marah, memandang Ni Wiri dengan bertolak pinggang, dasar ibu tua dan keras kepala, hanya senang waktu baik, tanpa mempunyai rasa kasihan, tak sayang terhadap mantu, baiklah sekarang saya pergi, mencari kakak datang ke mari.
17. Kurang lebih selama setanak nasi, mereka berdua datang
127