17. Di dalam padma windu, sebagai isi kekosongan, sebagai lambang kebenaran yang sejati, tingkah laku dan pikiran bersatu, pertemuannya dalam keadaan terbalik, bernama isi gelap, satu ciptaan Yang Maha Kuasa.
(PUPUH DURMA)
1. Kurang lebih dua tahun, I Umbaran berada di rumah Ni Riris, tak sadar akan dirinya, merasakan ringkus jagat, ilmu guna-guna yang sakti benar-benar manjur, sangat ampuh untuk menimbulkan cinta asmara.
2. Kala pagi hari kurang lebih jam 6 pagi, Ni Riris menangis tersedu-sedu, wajahnya bengkak dan keruh, mual muntah-muntah, seisi perutnya keluar, bersitekan, memegang dahi sambil meringis.
3. Ni Wiri segera membuka tempat bumbu, mengambil kencur, tumbar dan kunir, dan rempah-rempah lainnya, I Umbaran lalu mengunyahnya, Ketut Riris disemburnya, dahi dan dadanya, kakinya diberi boreh.
4. Tak lama kemudian Ni Riris makin sehat, Ni Wiri hatinya gembira, lalu berkata pelan-pelan dengan halus, ya anakku sayang, pergilah mencuci mukamu terlebih dahulu, makanlah nasi itu, di atas meja memakai piring.
5. Ketut Riris termenung-menung lalu berkata, kakak datanglah kemari, sekarang saya ngidam, pergilah kakak mencari buah juwet, di tebing sungai Keloncing, di bawah sebelah timur, pilihlah yang manis dan hitam.
6. I Umbaran lalu mengambil sabit dan berjalan, naik turun menyelusuri tebing jurang, di sisi sungai, barat laut desa Selat, dengan tiba-tiba ia berjumpa, pohon juwet sedang berbuah, bertandan-tandan hitam manis.
7. Dengan menyimpulkan kainnya memanjatnya makin lama makin tinggi, buah juwet dipetik satu-satu, yang hitam, dibungkus dengan kain, serangga sangat banyak, semuanya berjalan, merebut menggigit dengan galak.
124