19. Hujan angin ribut, guntur di langit sahut menyahut, gempa bumi menggoyangkan alas tempat tidur, atap retak-retaknya akhirnya bocor. I Umbaran lemah lunglai, nafasnya turun naik keringat bercucuran, karena semangatnya bekerja.
20. Maka jatuh cintalah I Umbaran, akibat akal bulus, Ni Wiri pikirannya amat senang, akan mempunyai menantu bagus, sifatnya tetap pendirian dan pendiam, rajin bekerja ke sawah, terpikirlah kebahagiaan terus mendatang.
(PUPUH ADRI)
1. Ni Sekar gelisah lesu di tempat tidur, sepi di rumahnya, berkeluh kesah menangis terus-menerus, memikirkan nasib dirinya, terasa sebagai orang janda, suaminya lama meninggalkan pergi, diam di rumah Ni Riris, matanya rusak digigit semut hitam, tidak ingat anak istri.
2. Anaknya menyusu kedinginan, Luh Sekar ngajak bermain-main, lalu mencium berkali-kali, pipinya dielus-elus, Luh Sari tersenyum-senyum, tak terasa kain alasnya basah, karena baru buang air seni, diambilkannya kain cita merah, dipergunakan untuk menggantinya.
3. Ibu Sekar dengan cepat datang, jalannya tergopoh-gopoh, cucunya diambil, dan diberinya bubur, bercampur pisang hijau, Ni Sekar segera pergi, ke belakang memberi babinya makanan dan tak lupa menghidupkan lampu, karena hari sudah hampir senja.
4. Tiba-tiba ayam-ayam sudah ribut bersuara, hari sudah tengah malam, katak-katak sudah saling bersuara, dengan samar-samar jauh terdengar, suara burung hantu kedengaran jelas, terasa menakutkan hati, bulu tengkuk berdiri, Nyoman Sekar termangu-mangu gelisah, menyesalkan diri tidak berbahagia.
5. Si kecil tidurnya gelisah, karena kedinginan, tiba-tiba ia bangun menangis, menjerit di tengah malam, menjerit-je-
121