maju galak menggigit, suaranya mengering nyaring dalam tabung, demikian terasa, perasaan I Umbaran sekarang ini, terasa hasil kemenangan telah dipegang.
12. Dadanya berdetak jantungnya gelisah, lalu timbul resah gelisah, Ni Riris terbayang-bayang, memberanikan diri menuju pintu, dengan pelan-pelan membuka pintu, sebagai telah disangka, mereka yang dicari lalu menyapa.
13. Kakak akan ke mana baru datang dengan tiba-tiba, pekerjaan apa yang hendak kakak lakukan, baiklah ceritakan kepada saya, I Umbaran menjawab dengan segera, sesuai dengan nyanyian tadi, kakak mampir berkunjung, membawa rasa cinta kasih.
14. Sebagai pepatah, bambu runcing terbungkus menusuk padi, ingatkanlah janji dahulu, suka dan duka berdua, sekarang mari kita mulai mengeratkannya, terputus disambung kembali, hanya adiklah junjungan saya.
15. Ni Riris menjawab tersipu-sipu, bukan saya berpelit hati, tidak memenuhi kemauan kakak Wayan, mengajak mengulang kembali, apa jadinya saya sebagai seorang gadis, pasti menjadi buah tertawa dunia, dikatakan merampas istri orang.
16. Jangan kakak berpura-pura, membuang isi memungut tulang, kain kasar patut dibuang, biarkan kotor dan lapuk, silakan kembali pulang, carilah Ni Sekar, akan memarahi kakak tak menentu dan mengutuknya.
17. Sebagai kilat di siang bolong, guntur sambung menyambung, Umbaran dengan tiba-tiba terasa sesak, jantungnya putus tertusuk jarum, pandangannya perih kemalu-maluan, tunduk tak berani melihatnya, dengan memaksakan diri menjawab pelan.
18. Jangan Ketut membalasnya, membuat perasaan malu, silakan dinda memperhamba, selama kakak masih hidup, Ni Riris segera bangun pergi, masuk ke kamar sambil memanggil, I Umbaran dengan lincah mengejarnya.