Cebur nuju daging

Kaca:CERITA RAKYAT BALI.pdf/119

Saking Wikisource
Kaca puniki kavalidasi

menjadi marah, agar dapat membalasnya, kebaikan, sudah terlanjur, hak orang dihabiskan.

15. Tak mempunyai kebulatan pikiran, berani membela, keranian seperti barong Sinang, asal berbanyak untuk berbuat, kerongkongan tidak bersela, hanya berlaku sewenang-wenang, di sini rendah di situ juga rendah, bila diperhatikan benar-benar, diikuti, yang bernama garis itu tak diketahui.

16. Bila senang mencubit kawan, diri sendiri dicubit lebih dahulu, agar jangan terlanjur bertindak, kurang akal dan kurang guna, bila sudah terasa sakit, pasti akan mengaduh, demikian keadaan sebenarnya, tak perlu disembunyikan, bila membuat baju, ukur pada badan terlebih dahulu.

17. Mari kita selesaikan sampai di sini, nasehatku padamu, dipakai tonggak dalam kaluarga, dapat menyebabkan keributan sehari-hari berkurang, perut panas menyakitkan hati, pada saat kekurangan atau kelebihan, binalah persatuan, agar saling menggembirakan, bersenda gurau dan bermain-main, dimarahi karena sayang.

18. Karena hari hampir siang, kini bapak akan pulang, tetapkan diri untuk berbuat baik, meladeni anakmu sakit, mudah-mudahan diberkahi Tuhan, guna-guna itu cepat meresap, bermodalkan perjodohan, I Umbaran dan I Riris, saling mencintai, berbahagialah berkeluarga.

(PUPUH RENGANIS)

1. Sekarang tersebutlah I Umbaran, tingkahnya tak menentu, tak suka duduk, kelihatannya tak berbeda dengan orang bingung, ke sana ke mari menoleh-noleh termenung dan pulang pergi, tidak menghiraukan anak istri.

2. Tidak ingat akan tugas, sering mengau di tempat tidur, Ni Sekar merasa akan tanda-tanda itu, diperkirakan akan gila, dia memanggil orang tuanya, ibu bapa keduanya, ingin dimintai pertimbangan.

118