22. Sesuai dengan berita, dukun Dukuh amat terkenal kepandaiannya, sudah terkenal di dunia, diam di samping gunung, mengapa sekarang mendiamkan diri, diam bersembunyi, laksana jengkrik dikejutkan.
23. Perkataan I Balu Kawan, menyakitkan telinga menyakitkan hati, menyebabkan pikirannya panas membara, dukuh Wija memukul paha, pikirannya jujur dan benar, dengan memaksa diri, sang Dukuh berkata pelan.
24. Perkataanmu amat tajam, menuruti perasaan marah, gembira bapak mendengarkannya, laksana berirama, sebagai buluh perindu mengalun , merayu-rayu , masuk ke dalam hati.
25. Agar jangan menyebabkan kesedihan, sekarang kamu pikirkan, baik-buruknya yang disebutkan, bukan karena sombong, memecahkan isi ilmu hitam , neluh nesti, ngaliyak dan nerangjana.
26. Hasil ciptaan seorang manusia, mempelajari lontar yang sukar, kesimpulan dari inti ilmu pengetahuan, memakai alat penyatuan pikiran, Ongkara Ngadeg dan Mungsang, semuanya dapat bersatu, bertempat di ubun-ubun.
27. Selalu melaksanakan ilmu hitam, dengan diam-diam menjual ilmu yang jahat, hanya ingin mendapat kekayaan, laksana seekor ular berbisa, di mana-mana mencari korban, mencari kesalahan, ingin dan bersedia menggigit, membuat kesengsaraan.
28. Hal itu tak perlu ditiru , agar jangan dicemoohkan dunia, dianggap isi hutan, disebabkan karena galak tak henti-hentinya, tanpa memperhatikan pala karma, demikian anakku, itulah yang dinamai manusia hina.
(PUPUH SINOM)
I. Lebih lanjut bapak menceritakan, tempat Ida Sang Hyang Aji, seisi dunia ini, Turus-Bolong Klabang Sabit, dan Bungkahing Sunari, sebagai asal mula tutur Jong Biru, Batur
115