na mulai menghidupkannya, hanya dialah anak saya, yang akan nyanyut nyupat, sebagai bunga bila mati, bila berpulang ke alam baka.
5. Jro Dukuh kasihan mendengar, perkataan ibu Riris, timbul rasa belas kasihan, lalu bangun pelan-pelan, memusatkan pikiran mengheningkan cipta, mantra sandi, melenyapkan dasa mala.
6. Melaksanakan Tilik sejati, penungalannya berhasil, menimbulkan asap putih, seperti embun waktu pagi, tampak makin lama makin tipis, meliputi, ni Riris di tempat tinggalnya.
7. Dengan tiba-tiba asap itu hilang, jro Dukuh membuka tapanya, dengan tiba-tiba Ketut Riris kepayahan, lemah lunglai lalu jatuh, ibunya kaget, panik, diambil dirangkum dalam pangkuannya.
8. Dukun Dukuh berdehem, sambil berkata halus manis, "Ibu sang janda, tenangkan pikiranmu dahulu, resapkanlah baik-baik, agar mengerti, menerima perkataanku dengan jelas.
9. Luh Riris tidak waras, menderita penyakit cinta, karena putus cinta, pikirannya makin lama makin bingung, menderita kesedihan cinta, memang benar, disebabkan oleh rasa cinta.
10. Sekarang apa akal, obatnya terlalu sukar, bila I Umbaran tak didapatkan, pasti anak itu akan gila, karena tak dapat diputuskan, terhadap I Umbaran.
11. Ibu agar mengerti, kesukaranku sekarang, bila mengejar I Umbaran, karena ia mempunyai istri, istrinya pasti akan galak, sekarang baiklah, mencari daya upaya.
12. Ibu Riris berkata sambil menyembah, menangis terisak-isak, "menurut pikiran saya, tak ada jalan licin yang diikuti, baiklah sekarang habis-habisan, mengguna-gunai, guna yang sangat baik."
113