cap, akan kakak pakai ingat-ingatan, rasa manisnya selalu menimbulkan nafsu.
12. Ni Luh Sekar tersenyum, pikirannya terang, mendengarkan kata rayuan, lemah-lembut menarik hati, belut gelisah lukahnya resah, tiba-tiba bulan sudah hampir timbul.
13. Bila kakak benar-benar sayang, kapan akan dilamar, agar jangan ragu-ragu, karena kita bermain api, hingga jari tangan terbakar, siapa yang akan mengobati.
14. Mengapa adik jadi bingung, terhadap perbuatan kakak, kakak benar-benar mementingkan, menginginkan kecantikan adik, tetapi jangan marah, kakak hina dan miskin.
15. Mungkin adik sudah tahu, kesengsaraan kakak sekarang ini, ibu maupun bapak, beliau telah meninggal, ditambah dengan kemiskinan, apa yang dipergunakan untuk membelanya.
16. Ni Luh Sekar wajahnya sedih, menangis terisak-isak, menyangka Umbaran jahat, kata-kata manis membuat sengsara, mengorbankan kawan setempat, perasaannya makin marah.
17. Memang kakak ini tak mempunyai rasa malu, sangat suka mengganggu, seandainya saya mengandung, sang bayi akan menangis sendiri, dikatakan anak babinjat, kata-kata itu menyakitkan hati.
18. I Umbaran terkejut, mendengarkan kritik yang tegas, kemudian bangun menarik napas, Ni Nyoman Sekar dipegang, lalu dipangku dalam ribaannya, memeluk pinggang mencium pipi.
19. Wahai, Nyoman mas permataku, memang kakak benar-benar salah, sukalah adik memaafkannya, sampai hati kakak menodai, mari sekarang ke Gria, minta hari kepada pendeta.
20. Luh Sekar tersenyum manis, karena terlalu gembira, Umbara dengan tiba-tiba lincah, rasa panas sampai keluar.
105