beras cekuh dan daun ligundi.
10. Karena terlalu sayang, beristri dengan saudara dekat, Luh Sekar tak sanggup bangun, pinggang sakit terasa putus untuk pertama kalinya, mengeluarkan tenaga, itulah yang menyebabkannya, tak sanggup memaksakannya.
11. Ya, sekarang sudah selesai, kakak pergi mencari rumput untuk sapi, diamlah adik di rumah menjaga I Luh, tak sampai sore hari, kakak akan pulang, memberi babi makanan, mudah-mudahan membawa, selaguwi bahan jamu.
12. Ni Luh Sekar menganggukkan kepala, silakan kakak segera berjalan, tujulah terlebih dahulu di tempat yang rendah, mudah-mudahan kakak mendapat lanjang, talas putih, obat yang baik untuk dipakai sayur, mengeluarkan air bangyang, zatnya amat sejuk.
13. Tersebutlah kini I Umbaran, telah mendapat lanjang dan selaguwi, keranjangnya sudah penuh, segera bersiap-siap, bermaksud pulang, dengan tiba-tiba angin bereinbus, hujan lebat, petir bersambung-sambungan.
14. Dengan tiba-tiba di dekatnya terdapat sebuah dangau, tergesa-gesa menuju dangau tersebut, tidak menyangka akan bertemu dengan kekasihnya dahulu, Ketut Riris, seorang gadis yang lemah-lembut, laksana ada orang yang menyuruh, mengadakan pertemuan tanpa janji.
15. Ni Riris kaget melihatnya, I Umbaran duduk di sampingnya dengan tiba-tiba, nafasnya mendengus dadanya sesak, tenaganya terasa hilang, menusuk hati, teringat akan kelakuan masa lalu, konon pernah berpacaran, si laki meninggalkannya.
16. Pikirannya hancur, sedih karena menderita rasa cinta, pikirannya gelap-gulita jiwanya ingin memaksa, karena memang benar, cintanya masih melekat, tak tersangka sangka dikalahkan, Ni Luh Sekar merampasnya.
17. I Umbaran tahu akan perasaannya, minta maaf dengan kata-kata sedih, sangatlah hatimu benci, sudilah Ketut
110