laman, mencari tempat beristirahat, di bawah pohon jeruk manis, di sanalah lalu duduk, keduanya diam tepekur, laksana burung mendekati pikat, pikirannya kacau, bila dipaksa untuk mendekati, akan kena getah, Luh Sekar makin malu, karena memang benar dicintai.
3. Ia benar-benar sukar memikirkan, resah gelisah, pusing berdenyut-denyut, kacau pikirannya, panas dingin menyusup, napasnya sesak, tenaganya makin lemah, lemah lunglai lupa diri, jatuh tersungkur, matanya berkunang-kunang, Umbaran kaget melihat, segera merangkum ke tempat tidur.
4. Nyoman Sekar segera bangun, tolah-toleh, bagai bangun tiba-tiba, di tempat tidur melihat-lihat, terlihat kamar kosong, berjalan turun pelan-pelan, ingin membuka pintu, I Umbaran lalu segera datang, perasaan malu makin bertambah-tambah, beradu pandang, dengan berpura-pura mengambil kipas, melengos sebagai kepanasan.
5. Tadi mungkin adik dicmbus angin, sampai jatuh, kakak kaget, menggendong Nyoman ke tempat tidur, Tuhan telah merahmatinya, kini makin bertambah baik, jangan segera pergi, istirahatlah lebih dahulu, tak perlu malu, dengan saudara, sebagai seorang bisan, marilah kasih disatukan.
6. Nyoman Sekar lalu menurutinya, kemudian duduk, bersama berdua-dua, bersebelahan di tempat tidur, sebagai kerbau dicocok hidung, ke mana ditarik mengikuti, perasaan malu sudah hilang, perasaan yang membenarkan, akibat Dewa Asmara, membuat rasa, I Umbaran gelisah, napasnya terengah-engah.
7. Hidup kakak laksana pohon meranggas, kepanasan, menantikan hujan, tak terbayang di langit, kulitnya makin kering, robek-robek ditempati anai-anai, mungkin sudah nasib, perintah Tuhan Yang Maha Esa, tak dapat dihindari, maafkanlah, lebih baik kakak mati, dari pada menderita malu.
102