Cebur nuju daging

Geguritan Pisaca

Saking Wikisource

Geguritan Pisaca

Naskah

[uah]
38267Geguritan Pisaca1989I Gusti Ngurah Bagus

GEGURITAN PISACA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

GEGURITAN PISACA
ALIH BAHASA DAN
ALIH AKSARA
Oleh
I GUSTI NGURAH BAGUS

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
PROYEK PENERBITAN BUKU SASTRA

INDONESIA DAN DAERAH
Jakarta 1989

Diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah

Hak pengarang dilindungi undang-undang[ 1 ]KATA PENGANTAR

Lontar Geguritan Pisaca yang diterbitkan oleh Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah ini dialih aksara dan dialih bahasakan oleh Drs. I Gusti Ngurah Bagus dari Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Geguritan ini memakai bahasa Bali Kepra bercampur dengan bahasa Jawa Kuno. Geguritan Pisaca amat terkenal di masyarakat Bali, karena di dalamnya amat banyak memuat ajaran-ajaran tentang kebenaran serta sikap hidup dan tindakan yang baik yang harus dilakukan oleh seorang raja sebagai pengayom masyarakatnya yang dapat dipakai sebagai suri tauladan.

Penerbitan buku ini dimaksudkan agar cerita daerah Bali ini dapat dikenal oleh masyarakat secara luas dan sekaligus dapat dilestarikan. Mudah-mudahan terbitan buku Geguritan Pisaca ada manfaatnya bagi masyarakat pencinta sastra Nusantara khususnya sastra Bali.


Jakarta, Juli 1988
Proyek Penerbitan Buku
Sastra Indonesia dan Daerah



1 [ 2 ]PENDAHULUAN

Lontar Geguritan Pisaca, salah satu geguritan memakai bahasa Bali Kepara, bercampur dengan bahasa Jawa Kuna, bahasa Bali Tengahan dan ditulis memakai huruf Bali di atas daun lontar.

Geguritan amat terkenal di masyarakat Bali karena di dalamnya amat banyak memuat ajaran-ajaran (tutur) tentang kebenaran serta sikap dan tindakan yang baik yang harus dilakukan oleh seorang raja sebagai pengayom masyarakatnya, yang dapat dipakai sebagai suri tauladan.

Isi ceritanya sebagai berikut:

Pada suatu ketika Sri Aji Dharma dari Malawa menjalankan ajiwa sraya ke tengah hutan. Pada saat itu beliau melihat putri Nagini yaitu putri raja Antaboga sedang memadu kasih dengan seekor ular. Beliau berpikir bila hal ini dibiarkan dunia akan kotor dan rusak karena mereka itu sudah salah krama (salah tingkah). Kemudian ular itu dibunuh oleh raja. Nagini lari memberitahukan ayahnya bahwa ia diperkosa oleh Sang Aji Dharma. Sang Antaboga marah dan ingin membunuh Sang Aji Dharma.

Setelah tiba di halaman istana, Sang Antaboga sebagai seorang pendeta berpikir sejenak untuk memikirkan kembali kebenaran laporan putrinya itu. Lalu Sang Antaboga berubah menjadi seekor ular kecil menuju tempat andapaksi dan di sanalah ia bersembunyi untuk mencari kebenaran masalah tersebut. Ketika itu baginda raja sedang dihadap oleh para patih, mentri dan pejabat-pejabat lainnya. Raja menyampaikan peristiwa yang dilakukan oleh Nagini terhadap ular kebanyakan itu dan ular tersebut kemudian dibunuhnya.

Mendengar pembicaraan baginda itu Sang Antaboga lalu berubah ujud menjadi seorang pendeta serta menghampiri Sang Aji Dharma dan memberi anugrah kepada raja dengan catatan agar anugrah itu dirahasiakan dan tidak boleh orang lain yang tahu

3 [ 4 ]sekalipun itu istrinya. Akibat anugrahnya itu Sang Aji Dharma tahu bahasa binatang. Kala beliau bertemu dengan permaisurinya di tempat tidur yaitu Dyah Rupini, seekor cecak jantan meniru perbuatan baginda merayu betinanya. Mendengar hal itu Sang Aji Dharma tertawa hingga permaisurinya tersinggung atas sikap Sang Aji Dharma. Permaisurinya mendesak baginda untuk menjelaskan apa yang lucu atas dirinya sehingga beliau tertawa. Namun Sang Aji Dharma tetap merahasiakan hal yang sebenarnya. Oleh karena itu permaisuri memutuskan untuk terjun ke dalam api unggun. Sang Aji Dharma ingin turut terjun ke dalam api mengikuti langkah istri yang dicintainya itu namun karena ejekan seekor kambing jantan yang kebetulan datang menyaksikan kejadian saat itu, Sang Aji Dharma membatalkan niatnya itu.

Baginda akhirnya memutuskan untuk pergi dari negaranya untuk menyucikan dirinya, kepada seorang pendeta bernama Dang hyang Dowila. Berselang berapa saat Sang Aji Dharma melanjutkan perjalanannya dan sampai pada suatu kerajaan yang diperintah oleh tiga orang putri cantik. Ketiga putri itu tertarik kepada Sang Aji Dharma. Namun Sang Aji Dharma tahu bahwa ketiga putri itu memiliki imu hitam. Sang Aji Dharma kemudian mencari akal agar ketiga gadis itu tahu bahwa Sang Aji Dharma mengetahui sifatnya itu. Dengan cara meletakkan bagian tubuh mayat di tempat perhiasannya ketiga putri itu yakin bahwa Sang Aji Dharma telah tahu akan perbuatannya. Akibatnya ketiga putri itu marah kemudian menenung Sang Aji Dharma hingga berubah menjadi seekor bilbis lalu terbang tinggi ke angkasa. Akhirnya blibis itu sampai di negara Bhoja. Blibis itu kemudian ditangkap oleh seorang nelayan bernama I Bajrajana. Akhirnya I Bajrajana banyak mengalami perubahan hidup setelah mendapat petunjuk petunjuk dari blibis yang ditangkapnya itu.

Tersebut raja Bhoja tak dapat memutuskan permasalahan kala seorang istri tak dapat mengetahui suaminya akibat perbuatan seorang raksasa bernama I Duskara. Kesukaran raja Bhoja dapat dipecahkan. Raja Bhoja kemudian menghendaki blibis itu agar dipersembahkan kepada baginda. Di istana Sang Aji Dharma cinta

5 [ 5 ]kepada putri raja. Terjadilan hubungan hingga putri raja Bhoja hamil. Keadaan ini menimbulkan raja sangat gelisah karena tidak mengetahui siapa yang menghamili putrinya. Kedatangan Patih Madri akhirnya dapat memecahkan persoalan ini di mana Sri Aji Dharma yang berbuat semua itu. Aji Dharma kemudian kawin dengan Dyah Sudesnowati putri raja Bhoja. Aji Dharma melanjutkan perjalanannya bersama Patih Madri. Di perjalanan mereka bertemu dengan Dyah Ugrowati. Ugrowati memohon agar Aji Dharma menyembuhkan junjungannya bernama Dyah Kumudowati yang kena penyakit bisu. Setelah Aji Dharma dapat menyembuhkan penyakit Kumudowati akhirnya Aji Dharma kawin dengan Dyah Kumudowati. Dalam petjalanan kembali menuju negara Bhoja Dyah Kumudowati minta dicarikan buah jambu. Untuk mencari buah jambu ini, jiwa Aji Dharma disusupkan ke dalam tubuh seekor kera dan badan wadaknya tertinggal di bawah.

Saat itu patih Madri tergoda oleh kecantikan Dyah Kumudowati, dan segera menyusupkan sukmanya ke tubuh Aji Dharma. Keadaan ini diketahui oleh Dyah Kumudowati hingga godaan Patih Madri dapat ditolak olehnya. Patih Madri marah dan segera lari ke negara Bhoja ingin menggoda Dyah Sudesnowati. Perbuatan Patih Madri diketahui oleh Aji Dharma, segera beliau menjelma menjadi seekor kakak tua dan terbang mendahului ke negara Bhoja. Segala peristiwa ini diceritakan kepada istrinya, dan berkat kejituan akal sang putri maka Patih Madri teperdaya hingga Aji
Dharma dapat bersatu dengan Dyah Sudesnowati dalam wujud sebenarnya.


6 [ 6 ]I. PUPUH DURMA

Bait 1

Pendahuluan membuat kidung Pisaca, pada hari Jumat Umanis, yaitu Wuku Merakih, tepat bulan ke tujuh, pada saat bulan mati, tanggal dua, bulan Januari.


Bait 2

Tahunnya tersebut tahun 1976, tetapi terlebih dahulu saya mohon maaf, sudilah memaafkannya, saudara sekalian, yang mendengarkan, kidung geguritan ini.


Bait 3

Ya, saya mohon maaf sipengarang kidung ini, berrumah di bagian utara istana raja, dari seorang keturunan Arya, karena menginginkan kesejahteraan, bagi seluruh keturunan kami, sebagai gambaran, lalu mengarang geguritan Pisaca ini.


Bait 4

Sudah jelas bahasanya rusak, karena sangat bodoh, mohon maaf sebesar-besarnya, banyak yang kurang atau lebih, karena tak sesuai benar, dengan bahasanya, namun berani pula untuk mengarang.


Bait 5

Sudilah tuan mengijinkan saya, untuk melanjutkan karangan ini, sekedar untuk bersenang-senang, kalimatnya melompat-lompat, hanya sedikit sesuai, mengikuti tembang, dong dingnya yang masih tetap ada.


Bait 6

Ini adalah cerita kuna kebetulan seorang Demung, yang membuat cerita ini, cerita ini berawal konon, tersebut seorang raja yang bertempat tinggal, di suatu negara, bernama negara Malawa.


7 [ 7 ]Bait 7

Negaranya makmur dan aman sentosa, cukup makan dan sangat berbahagia, sangat dihormati, dan yang menjadi raja, keluarga Mardawa yang sangat bagus, halus tingkah lakunya, selalu melaksanakan kebaikan sejati.


Bait 8

Tatakrama seorang raja memegang negara, semua dilaksanakannya, itulah yang menyebabkan, beliau yang diangkat, menjadi raja, gelar baginda raja, Sri Aji Dharma, dipuji oleh seluruh rakyatnya.


Bait 9

Jika diandaikan laksana kayu pedupaan di dalam pedupaan sudah terbakar, sempurna tak ada cacat celanya, akhimya keluar bau semerbak, baunya harum semerbak, menarik hati, seluruh hamba sahayanya.


Bait 10

Orang-orang laksana ditimpa hujan, oleh kemurahan hati baginda raja, laksana sinar matahari, menyinarinya hingga terang benderang, pikiran para rakyatnya, ditimpa, oleh kebajikan baginda raja.


Bait 11

Seluruh laut dan gunung sudah dilintasi, namun tak mendapatkan, untuk menjumpai keindahan, diceritakan keesokan paginya, beliau berkeinginan, untuk memasuki hutan.


Bait 12

Di taman Malawa di suatu hutan yang sunyi, selalu membawa panah yang tajam, hanya untuk bersenang-senang, berkeliling di tepi taman, bau harum semerbak, karena bunga sedang berkembang, di taman yang laksana surga itu.


Bait 13

Bunga itu laksana ingin mempersembahkan baunya hormat kepada baginda raja, mempersembahkan keindahan, maka pikiran baginda, senang gembira laksana, diperciki, air yang utama. [ 8 ]Bait 14

Baginta raja menuruti pinggir pegunungan, jalannya mendaki, ingin menuju sebuah taman, telaga laksana sebuah danau yang luas, mata airnya sangat jernih, sangat sejuk, bergerak-gerak halus ditiup angin.


Bait 15

Juga berkilauan disinari matahari, tampak pada air yang jernih itu, konon tiba-tiba terlihat, putri Nagini, ekornya saling ikat terlihat, berdua, saling kejar dan saling gulat.


Bait 16

Sang Putri bersembunyi pada pohon kayu tangi memenyerah, bersembunyi berkasih-kasihan, beliau bertemu di sana, bersama seekor ular biasa, baginda raja berhenti berjalan, baru melihat, karena perbuatan yang tak benar itu.


Bait 17

Tak pantas tingkah sang Nagagini, sangat kotor bercinta dengan mencuri, laksana bukan keturunan, keluarga utama, tuan menjalankan cinta kasih, bertemu, tak sesuai dengan tatasusila yang benar.


Bait 18

Berkasih-kasihan dengan ular biasa, pikiran yang sangat kotor, tuanlah yang menyebabkan, pelaksanaan itu menimbulkan, menumbuhkan kehancuran negara, ah demikian biasa disebut, demikian yang dikatakan di dunia ini.


Bait 19

Bukan karena diri, cemburu melihat sebab berani
menghilangkan, menghancurkan musuh dan sekutu-sekutunya, karena musuh itu menyengsarakan dunia, dan juga laksana, mata kena debu yang kecil, terhadap diri Hyang Nagapati.


Bait 20

Hal itu perlu diperbaiki, karena beliau yang memerintah negara, demikian pikirannya, terbetik dalam


9 [ 9 ]hati, Sri Dharmapati, tak diceritakan lagi, segera beliau melepaskan panah.


Bait 21

Setelah putus ia melepaskan pelukannya, si ular deles itu mati, tersebutlah sang Nagagini, setelah lepas dengan segera, dikejar dan dapat dipukul, dengan panah, oleh Dharmapati.


Bait 22

Dengan cepat sudah jauh karena Nagagini terus lari, sambil menangis, pulang ke dalam tanah, kemudian ia menyampaikannya, katanya aduh ayahnda, hampir anaknda, mati karena dipukuli.


Bait 23

Saya putri ayahnda, saat sedang asik mencari makanan, di taman Malawa, datang Sri Aji Dharma, murid ayahnda, yang paling disayangi, ingin memperkosa.


Bait 24

Beliau ingin memperkosa hamba, susu hamba diambilnya, kemudian beliau marah kepada saya, karena tidak menurutinya, kemudian saya dipukuli, hancur luluh, luka terkena duri-duri.


Bait 25

Laksana saya mandi darah, karena terlalu keras tak terkira-krira, beliau memukul diri saya, dibanting-banting dengan panah, tak mempunyai rasa kasihan, membuat rasa malu, pasti menjadi buah bibir dunia.


Bait 26

Seolah-olah saya bukan keturunan, putri keluarga yang terhormat, putri sang Antabhoga, yang menjadi dasar dunia ini, sebagai penegak dunia ini, demikianlah, caranya memberitahukannya.


Bait 27

Sangat pandai ia membalikkan keadaan, sambil menangis terus menerus, tersengal-sengal, airmatanya bercucuran, sang Sri Nagapati, sangat marah, membakar hatinya.


10 [ 10 ]Bait 28 - Baiklah itu yang menyebabkannya, menggelut putrinya sambil mengasihani, serta menggosok air matanya, diamlah anakku sayang aduh permataku kau, kau adalah anakku yang sebenarnya, ini ayahmu,tak akan bodoh untuk membencanainya.

Bait 29 - Membencanai segala musuh yang datang serta seluruh pembantunya, Sri Ulapati, diikat oleh rasa sayang, rasa kasih terhadap anak, karena tak ada yang lain lagi, yang disayangi, kemudian api bisa keluar berkobar-kobar.

Bait 30 - Karena mulutnya haus menganga, menyebabkan matanya merah, bundar melotot menyala-nyala, mukanya laksana ditendang, keningnya berkerut, memberengut dengan marah, kata dalam hatinya

Bait 31 - Ah kamu serahkan dirimu sekarang, bebaskan pikiranmu,kamu raja Ari Dharma, keselahanmu terlalu, kamu durhaka, tak mengenal, terhadap putri gurumu.

Bait 32 - Putra guru kamu ingin perkosa, kamu tak tahu adat, tak tahu hukum dunia, tak cocok akan tingkah seorang raja, perbuatan yang kotor dan neraka, perbuatan jahat, demikian dalam hatinya.

Bait 33 - Kemudian beliau berangkat, akhirnya sampai di luar istana, beliau berubah rupa, laksana seorang brahmana yang sebenarnya, ingin dengan segera, memastikan, dan kini baru terpikir dalam hatinya.

Bait 34 - Pikirannya laksana dalam mimpi, hal itu dipercaya begitu saja, tanpa saksi dan tanpa dilihat, hanya diketahuinya seorang diri, kemudian beliau melangsungkan perjalanannya,dan kini terus berjalan, mencari kesempatan untuk membuktikannya.

11

[ 11 ]Bait 35 - Ingin agar betul-betul diketahui, tentang kebenaran perkataannya tadi, yang perlu dibela, perlu dikerjakan, yang perlu dijalani, tak boleh kurang waspada, dan tak diceritakan lagi hal itu kini.

Bait 36 - Kini beliau kembali berubah rupa, menjadi seekor ular kecil, diam-diam pergi ke ruangan tengah, di keputren, ke sanalah tujuannya bersembunyi, Sri Ari Dharma, baru datang dari mandi.

Bait 37 - Sedatang beliau mandi, agaknya berjalan tergesa-gesa, pikirannya agak sedih, setelah tiba di istana, langsung ke keputren, wajahnya sedih, langsung duduk di bale-bale.

Bait 38 - Setelah sampai di sana beliau tidur-tiduran, di ruangan tengah, memikirkan keadaan dunia, pasti akan menjumpai sesuatu, sebagai apa yang dilihat, sangat manis, pasti sedikit-dikitnya masih berbekas.

Bait 39 - Jelas wajahnya masih marah, sangat sedih dalam hatinya, para pelayan sudah bersiap-siap, air dan alat pembersih, disertai pembersih muka, menating sebuah dulang, alat-alat pembersih baginda raja.

Bait 40 - Kini hadir permaisurinya, datang menghadap sambil menyembah baginda raja, lalu berkata halus, ya maafkanlah saya ini, Tuanku, memberanikan diri sekarang, menanyakan, bila boleh.

Bait 41 - Apa kiranya yang menyebabkan, ada kesukaran dalam diri tuan, sikap dan wajah tuan, sangat berbeda saya lihat, jika dibandingkan dengan waktu yang lalu, kelihatan manis, dalam keadaan suka maupun duka.

12 [ 12 ]Bait 42 - Mungkin ada yang menyebabkan kedukaan, baginda raja bersabda, tersenyum pahit, mukanya ditundukkan, ya tuan pennata kakak, agar mengetahui, yang menyebabkan kakak sedih.

Bait 43 - Saat kakak pergi ke Malawa, tiba-tiba menjumpai, melihat putri guru, putri Sri Antabhoga, terlihat berkasih-kasihan, berciuman, dengan si ular tali.

Bait 44 - Ular itu dapat kakak bunuh, tetapi beliau sang Nagagini, dapat kakak pukul, lari dengan cepat, menangis meraung-raung, bila kakak pikirkan, beliau akan menyampaikan hal itu.

Bait 45 - Menceritakan kebenaran perbuatannya, dan tentu ayahnya akan mempercayainya, walaupun perbuatannya salah, itulah yang menyebabkan kakak sedih, dalam pikiranku adikku, akan pasti, kakak disalahkan.

Bait 46 - Dan dikutuk oleh sang Hyang Nagaraja, sebaiknya kakak dibunuh, agar mati sekaligus, dari pada kena kutuk, kelak bila menjelma kembali, agar bisa, bertemu menghamba kembali.

Bait 47 - Karena beliau tak dapat dipisahkan, yang disungsung dan dihormati, yang selalu kakak puja, agar kelak kemudian hari beliau, kembali dapat kakak sungsung, yang dihonnati, dipuji siang dan malam.

Bait 48 - Sebagai seorang guru yang utama, terlalu sekali, sang Nagagini terlalu berdosa,lepas dari tatakerama, salah tingkah bersuami, terhadap ular biasa, karena beliau adalah naga yang suci.

Bait 49 - Jika diandaikan sebagai Dewi Uma, menghamba kepada seorang pendeta manusia, melarang pantangan,

13

[ 13 ]laki-laki itu tidak benar, beristrikan seorang Bramana putri, tak sesuai dengan kedudukan, yang menyebabkan kekeruhan dunia.

Bait 50 - Itu yang akan mengotori negara, keselamatan negara akan hancur, nah sekarang semua itu sudah didengar oleh sang Hyang Nagapati, itu yang menyebabkan, kemarahan beliau lenyap.

Bait 51- Akibatnya putri beliau kena, kemarahannya yang amat sangat, dikatakan memfitnah, setelah itu lalu beliau pergi, keluar dari tempat persembunyiannya, berganti rupa, berupa seorang pendeta yang sempurna.

Bait 52 - Di halaman istana pertama beliau menunggu, sekarang beliau mengutus, memberitahukan kepada baginda raja, dan baginda raja, bersiap-siap akan keluar,dihalangi, oleh permaisurinya.

Bait 53 - Sebab pikirannya was-was, baginda raja akan disalahkan, itulah sebabnya beliau dihalangi, tetapi baginda raja tak mau, kini sudah sampai di luar istana, dan dilihatnya, sang pendeta mulia.

Bait 54 - Ya amat berbahagialah sang pandeta sudi hadir, hamba sudah melihat, suatu perbuatan yang mengotorkan, karena saya tahu, akan perbuatan yang benar-benar sempurna, seolah-olah sekarang, saya hidup kembali.

Bait 55 - Tentu keselamatan yang hamba akan dapatkan, atas kedatangan sang pendeta yang mulia, karena dengan hati yang murni, sebaiknya berikanlah saya, agar tidak seumur hidup, mendapatkan, sifat-sifat yang tak baik.

14 [ 14 ]Bait 56 - Ya itulah yang tak dapat saya hilangkan, dari dalapikiran saya sebenarnya, sekarang sang Nagaraja, laksana putus jantungnya, baru mendengar, puji-pujian baginda, raja Aji Dharma yang agung itu.

Bait 57 - Sang pendeta segeara menjawab. terharu pikiranku anakku, kau adalah memang anakku, anaknda memang tak tahu, saya adalah kawan anaknda, sang Nagaraja. dan anakku tak mengenalnya sekarang ini.

Bait 58 - Terhadap diri bapak bapak berupa binatang, tetapi berasal dari Dewa sebenarnya, itulah yang menyebabkan, bapak bisa berubah rupa, dapat menjadi setiap yang bapak kehendaki. jika hal itu dibicarakan, ada bukti-buktinya.

Bait 59 - Bukti bapak ini terdapat sebuah manik utama, sebesar telor angsa, sedemikian besarnya, itu yang menjadi hiasan, terletak diujung ekor dahulu, nah terimalah ini. bapak memberikanmu anakku.

Bait 60 - Itu menyebabkan berhasil segala yang dikehendaki, akan kuberikan anakku, relakanlah hatimu, menuruti kehendakku, sekarang anakku akan sempurna, kala itu, sudah beliau Sri Aji bersiap-siap.

Bait 61 - Sri Aji Dharma diam menyembah, memeluk kaki sambil menangis. ya Hyang Guru telah berkata, paduka pendeta, mohon dimaafkan, hamba ini, segala yang dijalankan si bodoh ini.

Bait 62 - Segala tingkah laku hamba yang jelek itu, hamba mohon anugrah, sang Junjungan berkata, apa yang kau kehendaki, tak boleh bapak tak memberikannya, dan pasti berhasil, dan bapak akan memenuhinya.

15 [ 15 ]Bait 63 - Sri Aji Dharma hormat menyembah, tak ada yang lain yang hamba harapkan, mohon anugrah, Aji Samadi Krama, tahu akan segala bunyi-bunyi, segala tingkah laku, segala makhluk hidup.

Bait 64 - Dan dapat memasuki, dalam badan segala mahluk, demikian di segala jasmani, Hyang Guru berkata, nah benar-benar berhasil, di ujung lidah, bapak akan tulisi.

Bait 65 - Sudah tersurat di ujung lidah anaknda, tetapi ada pula kebiasaannya, anugrahku kepada anaknda, jangan diberitahukan kepada siapapun, agar kau merahasiakannya, bila diberitahukan, pasti akan menjumpai kematian.

Bait 66 - Demikianlah sabda sang Nagaraja, bagirida Aji Dharma bersedia, di tempat sepi kemudian dibisiki, lalu hilanglah Hyang Nagaraja, kini tak diceritakan lagi, diceritakan beliau, Sri Prabu Dharmapati.

Bait 67 - Kini terasa beliau makin ditambahi, kesukaran-kesukaran di hatinya, dibebani kesusahan, pikirannya sengsara, hingga kembali sekarang ini, pikiran baginda raja, itu semua yang menyebabkannya.

Bait 68 - Baginda raja bersiap-siap akan kembali pulang, lalu masuk ke keputren, berjalan langsung masuk ke istana, ingin untuk bertemu, di tempat tidur dengan permaisurinya, dan beliau berhenti, di depan lobang semut.

Bait 69 - Karena terdengar suaranya berteriak bersorak-sorai, ibu bapak saudara-saudara sekalian, teman-teman dan kawan-kawan sekalian, jangan diam di pinggir lobang itu, bersihkan semuanya. jalan baginda raja.

16 [ 16 ]Bait 70

Karena tak ada kesalahannya, haruslah beliau dipapag, bila kakinya keliru, beliau tak sayang, saat itu direbut, rebut beramai-ramai, serempak bersama-sama.


Bait 71

Itulah sebabnya kini perlu diusahakan, semua berlari, demikian kata-kata semut itu, semuanya bersorak berganti-ganti, sating memanggil suaranya, itu didengar, sekarang oleh baginda raja.


Bait 72

Beliau tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya, setelah tiba pada sang permaisurinya, di tempat para istri, semua gembira menjemput, kami sangka tak akan datang kembali, untuk berkunjung, datang tuanku baginda raja.


Bait 73

Amat banyak bila semua itu diceritakan, puji-pujian orang-orang di istana, tersebutlah baginda Aji Dharma, sudah beliau masuk, tidur diiringkan oleh permaisurinya, dan amat gembira, bertemu asmara.


Bait 74

Dengan wajah tenang dan manis mengasikkan, tiba-tiba cecak, jantan betina bertempat, di atas tempat tidur, kemudian cecak yang jantan, melihat, kemudian berkata halus.


Bait 75

Aduh istriku lihatlah, lihatlah baginda raja, bertemu saling menyatukan rasa, merayu lemah lembut, menakutkan hati, kala malam tidur.


Bait 76

Nah sekarang keinginanku, meniru perbuatan baginda raja, kemudian terus dinaiki, segera betinanya lari, betinanya marah dan menjauh, yang jantan mendekatinya, dan selalu mengejarnya.


Bait 77

Sekarang konon sudah terkejar, ekor betina digigitnya, betinanya marah-marah karena tak suka,


17 [ 17 ]diajak bertemu asmara, Sri Aji Dharma melihat, seluruh tingkah lakunya, maka beliau tersenyum dan tertawa.


Bait 78

Sang permaisuri sangat marah, karena tersinggung dan salah terima, menganggap dirinya, kurang mesra dalam bertemu, istrinya berkata agak, marah-marah, ya baginda raja.


Bait 79

Apa sebenarnya yang menyebabkan, maka timbul rasa kelucuan, mungkin saya salah, memenuhi kehendak, untuk menyempurnakan pertemuan ini, hingga bertemu badan ini, menimbulkan kelucuan.


Bait 80

Raja berkata, aduh permataku, tak ada yang demikian adikku, sebagai apa yang dinda katakan, dan hanya dindalah, yang aku pakai pusat daya pikir, dinda sangat bijak, menerima kasih kanda.


Bait 81

Dalam tingkah laku tak ada yang kurang, dan pula tak ada yang menyamainya, tentang rasa cinta kasih, aduh permataku hanya kau, dinda sebagai dewa jantungku, janganlah, dinda ragu-ragu.


Bait 82

Salah sangka yang amat sangat, karena kanda tersenyum dan tertawa, ya adapun sesungguhnya, ada sesuatu yang sangat rahasia, perkataan Tuhan kepada kanda, tak boleh ada orang tahu, bila ada yang menanyainya.


Bait 83

Larangan itu sudah dijatuhkan, akan kena kutukan Tuhan, tak akan menjadi manusia kembali, demikian hal anugrah itu, kepada kanda yang dahulu, laksana menjaga jiwa, kesetiaan itu yang kanda pegang.


Bait 84 Kesetiaan yang selalu kanda pegang, sebagai seorang yang menjadi raja, demikian perkataan baginda


18 [ 18 ]raja, kepada sang permaisuri, namun sang Dyah tak puas hatinya, terhadap perkataan baginda raja.


Bait 85

Sangat menghendaki kejujuran hatinya, ingin mengetahuinya, sangat sedih bila tak diketahuinya, tambahan pula bila tak diberitahukan, ingin pergi walaupun akan mati, karena disangka telah membohonginya.


Bait 86

Sebagai baginda raja dikatakan, sudah melepaskan perjanjian, tak benar kasih sayang, orang yang disangka itu, bohong tetapi sebenarnya hal itu benar, setia kepada kata-kata, dan menjalankan kesetiaan.


Bait 87

Jika akan melaksanakan apa yang sebenarnya, bila beliau menceritakan, pasti beliau akan wafat, rohnya tak ada yang membersihkan, menjumpai papa neraka, sengsara, kedua mereka itu sama-sama kuat pendirian.


Bait 88

Sama-sama kuat pendirian dan sama-sama mementingkan dan berani, akan mempertahankan kesetiaan mereka masing-masing, mempertaruhkan jiwa, kemudian beliau berdua keluar dari dalam kamar, berpegangan tangan laki perempuan, kemudian sampai di halaman luar.


Bait 89

Menyuruh memanggil Rakriyan Madri, sebagai mentri tertinggi, benar-benar pandai dan susila, penuh akal muslihat, patut dipakai saudara, oleh baginda raja, perawakannya tinggi dan wajahnya manis.


Bait 90

Muda bagus perwira dan pemberani, sesuai dengan keadaan baginda raja, Rakriyan Patih Madri, segera datang dan menyembah, ke hadapan baginda raja, Aji Dharma, berkata dan disertai pula.


19 [ 19 ]Bait 91 - Oleh Dyah Rupini yang selalu berduaan, nah kau adikku duduk disini, orang yang disapa lalu menyembah, tunduk tak berani melihat. baginda raja berkata. karena sangat penting. aku memanggil sekarang ini.

Bait 92 - Paman agar dapat menyelesaikan. mengerjakan pekerjaan sekarang, undang rakyat semuanya. para Menteri dan Pendeta. jangan menolak sedikitpun. terhadap raja paman. terhadap istriku sang permaisuri.

Bait 93 - Beliau ingin membakar diri. terjun ke dalam api melaksanakan setia terhadap ucapan. aku ingin turut serta. ingin setia kepada istri. hal itu disediakan. membuat tungku api.

Bait 94 - Agar sudah berisi api yang berkobar-kobar. dan juga buat pula sebuah panggung. buat suatu tangga, tangga tempatku. semua dipanggil segera. semuanya dipanggil. rakyat kita dengan segera.

Bait 95 - Patih Madri pikirannya sangat kaget. kemudian menyembah lalu mohon diri, keluar dan mempersiapkan pekerjaan, dengan segera sekarang, Menteri dan Pendeta datang, hilir mudik, tak habis-habisnya hingga pagi.

Bait 96 - Tak ada pekerjaan yang disukarkan, karena hamba sahayanya banyak, seluruh bangunan, semuanya indah dan serasi terlihat. tangga tinggi. serta terbentang. kain alas dari permadani.

Bait 97 - Memakai kain leluhur warna hitam berbenang emas, pinggirannya lebar dan sangat indah. bangunan bertingkat tujuh, kasur terbungkus kain sutra. tirai ha

20 [ 20 ]rum semerbak, yang terbuat dari. kain sutra ungu terukir gambaran daun-daunan.

Bait 98 - Barurai air emas cina dan sangat serasi, memakai kain keliling sutra berkilat, yang mengelilingi seluruh bangunan, berisi mutiara dan mas permata, umbai-umbainya bergantungan, bergelayutan, daun kelapa dan daun enau bergerak ditiup angin.

Bait 99 - Umbul-umbul dengan kain kamala, berkibar-kibar ditiup angin, di atasnya kain sutra widruma, sutra putih dan direnda, bercahaya gemerlapan berkilauan, seluruh upacara, semuanya sudah disiap kan dengan rapi.

Bait 100 - Halaman sudah bersih dan rata, demikian pula kuburan sudah dibersihkan, rumput-rumput dihabiskan, batu-batu diratakan, diratakan dan diatur, lalu disiram, serta ditaburi pasir.

Bait 101 - Setelah halaman rata dan tak berlumpur, kemudian kini ditaburi, dengan bunga-bunga, diperciki harum-haruman, pedupaan harum mengepul, bercampur, dengan asap menyan dan astanggi.

Bait 102 - Kepulan asap pohon garu dan cendara, majagau tak ketinggalan, baunya harum semerbak, demikian keadaannya, halaman kuburan sudah bersih, bermacam macam perhiasan. semuanya yang indah-indah.

Bait 103 - Kekayaan mas perak permata yang indah-indah, itu terutama, disedekahkan oleh baginda raja, beserta permaisurinya, sedekahnya amat banyak., hanya diharapkan, perjalanannya selamat di jalan.

Bait 104 - Terhadap sang pendeta Siwa Boda, demikian pula Bujangga Resi. juga diberinya sedekah, berupa mas

21

[ 21 ]permata dan pakaian, dan api sudah berkobar-kobar, dalam pedupaan, diceritakan kini baginda raja.

Bait 105 - Beserta permaisurinya Sri Dewi berdua bergandengan tangan, berjalan melalui alas kain, kemudian naik ke atas panggung, baginda raja berdua dengan istrinya,keinginan beliau, menceburkan dirinya sekarang.

Bait 106 - Tiba-tiba datang kambing, dari semak-semak ingin, menuju ke tepi kuburan, kambing itu juga berdua ingin menonton, konon namanya, yang jantan si Maliniya.

Bait 107 - Yang betina bernama Ni Manggali, kemudian yang betina berkata halus, aduh bapak carikanlah, gantungan daun enau pada tangga, di panggung itu bapak, ku saya inginkan, sangat bemafsu menarik hati.

Bait 108 - Agaknya aku tak akan senang bila belum mendapatkannya,karena warnanya kuning berkilat, itu yang aku idam-idamkan, usahakanlah dicari kesana, menjawab yang jantan, si Maliniya, ah apakah kamu tidak tahu.

Bait 109 - Kamu sama sekali tak mengenal keadaan, agaknya karena aku berupa kambing, lihatlah manusia-manusia itu banyak yang mengeliling panggung, bagaimana cara kakak, tentu akan mengalami, di sana aku akan mati.

Bait 110 - Kematian kakak karena dipukul beramai-ramai, yang betina berwajah marah, lalu ia berkata, aduh memang karena tidak sayang, terhadapku bapak,biarkan saja, sekarang akan ingin mati.


22 [ 22 ]Bait 111 - Biarkan saja aku mati sekalian, karena aku sudah tahu, pikiran bapak sudah rela, masih hidup tak berguna, malu sedih tak berharga, sebagai aku ini,karena bapak tak setia lagi.

Bait 112 - Tak setia terhadap cinta kasih berkeluarga, disuruh sedemikian saja, bapak tak sudi, nah berangkatlah ke sana, bapak dengan segera, sangat keras permintaan, ni Manggali itu.

Bait 113 - Menanduk serta mendorong-dorong, jantannya itu. kemudian ia berkata. ya matilah kau ke sana, adapun kematianmu, karena dosa, dirimu sendiri.

Bait 114 - Kakak sama sekali tak turut terhanyut, akibat kematianmu itu, kematianmu akan merusakkan jasa-jasa, menjalankan kekacauan pikiran. itu dinamai naryapatia. boleh orang yang bijaksana, orang perempuan memerintah laki-laki.

Bait 115 - Karena itu berjalanlah sekarang ke sana. tak ada yang menghalanginya. pergilah sendirian. adapun tatakramaku sebagai laki-laki. tak ada yang akan menyesalkannya,karena diijinkan. memilih untuk mendapatkan istri.

Bait 116 - Maka aku akan mencari istri lain lagi. asal ada yang mengasihi, agar aku tidak neraka. karena aku tak sudi menuruti. agar jangan aku kena, penghinaan. neraka karena dirimu.

Bait 117 - Agar jangan aku turut mendapatkan neraka. sebagai halnya baginda raja, terlalu menuruti. setia akan istri, walaupun aku berupa kambing, tidak akan meniru, mati karena kebodohan.

23

[ 23 ]Bait 118 - Demikian kata I Maliniya, menasehati betinanya, karena berbeda dengan pikirannya, baginda raja mendengarnya, laksana disiram air, pikiran beliau, sadar dan tak jadi terkena.

Bait 119 - Penderitaan dan kenerakaan akan didapatkan, bila mengikuti istri, istri ternoda merusakkan amal kebaikan, merusakkan darma yang telah lalu, tak patut dipelihara, dalam pikiran, orang yang memerintah dunia.

Bait 120 - Tak patut bila baginda berbuat demikian, laki dikalahkan istri, maka ia akan menjadi buah bibir dunia, dikatakan diri nista, karena takut dengan istri, ia itu adalah binatang, memberi suluh yang benar.

Bait 121 - Pikirannya memang benar ingin menasehatinya, aku sebagai mengayom negara, di mana mungkin akan ada, berani melarangnya, apa yang kukehendaki akan dituruti, menyebabkan penderitaan, yang menumbuhkannya adalah datang dari kata-kata.

Bait 122 - Baginda raja pikirannya marah, sekarang lalu kembali pulang, turun dari panggung, melalui alas kain, mengikuti nasehat kambing itu, diresapkannya, dalam pikiran baginda raja.

Bait 123 - Untuk kedua kalinya seluruh harta benda, sudah disedekahkannya, emas uang dan perak, diantaranya segala macam permata, pakaian selengkapnya untuk semua mereka, serta binatang piaraan, semua tak dapat dihitung.

24 [ 24 ]
II. PUPUH DANGDANG GULA

Bait 1 - Dan lagi baginda raja berkeinginan, menyucikan, kotoran dunia, karena perbuatan yang sudah terlanjur, sebagai pada diri sang permaisuri, dan telah hangus dalam api, di samping itu si kambing betina. sudah membenarkan percakapan tadi, karena sangat tercela bunuh diri itu, dan sangat sengsara, karena seorang istri menundukkan suami, kini diceritakan baginda Aji Dharma.

Bait 2 - Perasaan beliau amat sedih, tak dapat dihibur, kemudian langsung pulang ke taman, di sana terdapat tempat berangin-angin, sebuah rumah gading kecil dan mungil tempatnya agak tinggi. cocok untuk tempat beristirahat, dikelilingi sebuah telaga, dan airnya, mengalir dari sungai Swati, serta alirannya bertingkat-tingkat.

Bait 3 - Sekitarnya sangat indah, dan telaga itu, di sisi telaga amat bersih. dihiasi bermacam bunga-bungaan, bayangannya tampak, pada air bahwa semua sedang berbunga. berguguran jatuh ke air, karena dirusak oleh, kumbang yang merebutnya, mengisap sarinya, menggoyangkan dan mengisap sarinya, dan jatuh ditiup angin.

Bait 4 - Ditiup angin sepoi-sepoi, laksana satia, runtuk jatuh ke dalam air, kala itu baginda raja, melihat pandangan yang mengasikkan, kini beliau sadar, perbuatan darmanya telah dirusak, oleh istrinya yang cantik jelita, karena beliau diliputi, rasa cinta asmara, hal


25

[ 25 ]itu sangat membahayakan, dan pasti akan menjumpai kesengsaraan.

Bait 5

Benar-benar tidak terpuji, dicela, oleh seisi dunia ini. Diceritakan keesokan paginya, para pelayan yang cantik-cantik, semua cantik dan tidak ada tandingannya, membuat dan meramu bahan langir, demikian juga untuk jamu, baginda raja, setelah mandi, dan sudah diam di sebuah rumah, penuh sesak para sahaya menyertainya.

Bait 6

Kini sudah diutus, diperintahkan, agar memanggil rakriyan patih, dan Patih Madri sudah hadir, serta berkata sambil menyembah, dengan mata berkaca-kaca, sangat terharu, terhadap baginda raja, ya kau paman Patih Madri, sekarang ini, mengapa saya memanggil paman.

Bait 7

Karena kakak sakit sengsara, dalam hati. Terbukti dari dalam pedupaan itu, memberi contoh yang tak baik, kakak amat sedih, kalau-kalau negara ini akan rusak, karena perbuatanku, jahat dan ternoda menjadi seorang raja, Patih Madri menjawab, berkata sambil menyembah, ya Tuanku baginda raja, benar-benar hal ini tak dapat ditolak.

Bait 8

Segala suratan Tuhan Yang Esa, bila saya pikirkan, hal ini, dari relung jiwa yang sebenarnya, yang meliputi seluruh jiwa, berbakti dengan rasa kasih sayang, hamba dipercaya, menghamba kepada baginda raja, sebenarya hamba ini tidaklah benar, memperingatkan, kehadapan Tuanku baginda, sekarang hanya saya mohonkan.

Bait 9

Bagaimana kehendak Tuanku, ya silahkan, sampaikanlah kepada hamba, baginda raja bersabda, ren-

26 [ 26 ]cana dalam pikiran kakak, kesedihan ini hendak kutebus, karena belas kasihan terhadap rakyat, pasti akan hancur, karena keburukan perbuatan, kenistaan, orang yang menjadi pengayom negara, tentu akan turut terkena.

Bait 10

Adanya sebab akibat di dunia ini, sakit, kesengsaraan dunia, karena itu ada keinginan kakak, menyerahkan agar selesai, kepada para pemimpin dan para adipati, menyucikan negara ini, laksanakan Widi Widana, segala macam korban, dalam negara. Di gunung-gunung juga dilaksanakan, seluruh jenis Puja Walikrama.

Bait 11

Bhiksu Pendeta dan orang-orang suci, semuanya itu, mohonkan untuk menyelesaikannya, dimulai dari menyucikan negara, diantaranya Hyang Kasuhun Kidul, seluruh Parhyangan lainnya, semua warga, semua dipanggil. Disertai dengan tontonan, dan bersedekah, makanan yang enak. Makan bersama-sama rakyat.

Bait 12

Pendeta Tanda Mentri dan para Juru, para Dipati. Kepala Desa dan tentra, agar hadir semuanya, demilah kepada Patih Madri, diperintahkan, Rakryan Patih menghormat, kemudian mohon diri sambil menyembah. Kepada baginda raja, lalu memanggiL menyuruh bekerja.

Bait 13

Terhadap Mantri Jurwadi, demikian juga, sampai ke desa-desa, semuanya sudah dipanggil, terutama pemimpin mereka, semua korban sudah dilaksanakan, tak diceritakan banyaknya rakyat, benar-benar penuh sesak, kini diceritakan baginda raja, sudah memastikan, menjalankan tapa, dan selalu memuja.

27 [ 27 ]Bait 14

Yang dipuja dalam tapanya, yang dituju, ditumbuhkan dalam hatinya, kesempurnaan dalam hati, kemudian tercium bau yang harum. Menunda suatu perjalanan, perjalanan sang Bidadari. setibanya di sana lalu duduk dalam pangkuan, di paha kanan baginda raja, sangat kaget, baginda raja, sesaat melihat orang yang datang.

Bait 15

Penutup susunya yang montok terlepas, laksana kelapa gading, pinggangnya laksana curiga, bergoyang lunglai dan ramping, goyang pinggulnya amat serasi, bercahaya disinari matahari, laksana terbakar karena panas, demikian laiknya, ujung pandangannya kemerah-merahan. kesedihan, berlinang-linang air matanya, menambah kecantikannya.

Bait 16

Keningnya sangat menawan, dan sangat pandai, bertutur kata, ingin agar dikasihani, aduh paduka Tuanku, ya Tuanku baginda raja, yang disembah dunia. berbuatlah yang baik sebagai seorang raja, kasihanilah hamba ini, dipakai pelayan, kini Tuanku sangat sedih, ditinggalkan permaisuri.

Bait 17

Beliau meninggal tak semestinya, ya terlalu, hamba taajub, melihat baginda raja, hamba sangat terharu Tuanku, menderita penderitaan batin, sedih duka, lagi pula baginda, masih muda, diliputi, rasa asmara, sekarang semua itu tak ada gunanya.

Bait 18

Tak berguna jasa Tuanku, saat, tak ada permaisuri, orang yang merupakan kembang dunia ini, masih berlaku sedih, kini bangkitlah kembali, ya agar jangan perjalanan tuanku tertunda, sesuka hati Tuankulah, hamba bersedia, menerima tanpa ragu-ragu, bersedia menyerahkan diri.

28 [ 28 ]Bait 19

Mari kita menyatukan rasa, di tempat tidur, tanda cinta kasih, mari kita yang lain lagi, masuk berjalan menghibur diri. melihat keindahan pantai, yang lain keindahan gunung, lalu mengarang kidung, dan kaki gunung itu, tak henti-hentinya, dipukul air laut, bagaikan orang bercengkrama.

Bait 20

Keindahan di pantai, sangat indah, ya sebagai orang yang sudah bersatu, dan sudah mendapatkan kenikmatan, kemudian mari Tuanku kembali pulang ke negara, baginda raja lalu bersabda, ya tuan mas permataku, orang laksana Betara Ratih. dimana mungkin. saya tak akan tergila-gila. taajub terhadap kecantikan tuan.

Bait 21

Laksana inti dari segala yang manis. tak ada padanannya, di dunia ini, perasaanku hancur melihat wajah tuan sang Ayu, perkataan tuan manis halus, ingin aku memeluk tuan, bila tak kuat menahan perasaan. pikiranku gelisah resah, karena terpengaruh, pikiran bingung yang amat sangat. akibat desakan asmara.

Bait 22

Dari mana adinda datang. katakanlah, secara jujur sekarang ini, apakah tuan seorang pertama mulia. apakah berasal dari taman raja, atau Dewa Suranadi. katakanlah hal itu, sebab kedatangan tuan. datang tak disangka-sangka, datang dengan diam-diam. sang Dyah Ayu tersenyum. berkata sambil meneteskan air mata.

Bait 23

Air matanya mengalir keluar, bercucuran. di atas susu sang Dyah, Tuanku paduka raja, raja di bumi ini, kedatangan saya sekarang ini. menghadap Tuanku, meninggalkan istana dengan ikhlas, karena saya dipaksa. dikawinkan, oleh orang tua saya. kepada

29 [ 29 ]orang yang tidak saya cintai.

Bait 24

Namun saya adalah keturunan, keluarga biasa, di gunung, baginda raja saya lihat, menderita kesedihan, perasaan saya benar-benar terharu, itulah sebabnya maka saya, datang sekarang ini, memang ingin menghambakan diri. kepada baginda raja, bila Tuanku sudi, menerima keperawanan saya.

Bait 25

Untuk perbuatan memadu asmara. saya. menyerahkan diri, sesuai dengan yang Tuanku kehendaki, agar Tuankulah yang menguasainya, karena bila dicari, dibandingkan dengan permaisuri Tuanku, saya terlalu jauh kurangnya. Terutama dalam kebaikannya, tetapi, sudilah kiranya Tuanku. memaafkan atas kebodohan saya.

Bait 26

Karena benar-benar saya amat bodoh, namun, saya bersedia untuk menghamba, memijat kaki paduka pada saat. Tuanku payah. kemudian raja menjawabnya. ya. maafkanlah saya tuan. adapun kehendak tuan. kiranya tak terpenuhi, sangat bingung, pikiran saya sekarang ini, mungkin sudah karena kehendak Tuhan.

Bait 27

Sebagai tidak menumbuhkan nafsu, sangat gampang, adanya kerelaan tuan ini, laksana melukai hati, karena dari awal mulanya tuan datang, duduk di paha kanan, adapun pangkuan saya itu, tempat saya mengemban. hanya bila memangku anak, bila di kiri, seperti tuanlah yang menempatinya, sebagai seorang istri yang utama.

Bait 28

ltulah seorang wanita yang utama, tak ada yang menandinginya, untuk menjadi seorang istri, ya jangan tuan bersedih hati, karena saya tetap memegang, ta-

30 [ 30 ]ta cara seorang raja agung, bukan asal dapat, selalu mengikuti ajaran-ajaran, ajaran yang tersurat, adapun tuan ini, terlalu mengemis untuk dikasihani, untuk kawin dengan saya.

Bait 29

Karena itu saya tak dapat memenuhinya, sebab saya, teguh terhadap pantangan, yang selalu saya jaga, selalu setia, terhadap ucapan Hyang Aji, walaupun tidak akan kawin, bila tak ada persesuaian, sesuai dengan segala yang ditingkahkannya, dan pula, kedatangan tuan sekarang ini, membuat sakit hati.

Bait 30

Merta berubah menjadi racun, karena tuan. mencumbu saya, laksana sang kalantaka, menjadi wanita berwajah cantik, adapun tingkah laku tuan ini. tentang kecantikan tuan tak perlu diragukan. tersebut di dunia ini, dinamakan seorang wanita nakal, bila seorang wanita, merayu seorang pemuda. akan menyebabkan kematian orang itu.

Bait 31

Hal ini tak akan diperbuat, oleh tuan, sebagai putri seorang raja, bagaikan seorang yang kotor, ini dikatakan salah tingkah, jika di dunia ini, sama halnya dengan orang yang mengada-ada, akan rusak jalan hidupnya. Sang Dyah tersenyum, wajahnya sedih, hatinya sakit, namun tetap masih dipendam.

Bait 32

Sangat pantas caranya ia berkata halus, dan memang sudah unggul di tempat tidur, Tuanku amat sangat, membuat diri saya malu, permohonan saya memang sebenarnya, tetapi disangka menipu, ya jangan terlalu, baginda bersedih. juga dikatakan, saat ini Tuanku, sebagai pelindung negara.

Bait 33

Salah oleh Tuanku, mengatakan, tentang diri saya, memang benar Tuanku. sekarang ini tak tahu, akan


31 [ 31 ]keluarga saya, bukan lahir dari kandungan perut, Hyang Dharma yang menjadikannya, beliaulah yang menyuruhnya, saya ini, agar saya mendatangi, karena beliau amat belas kasihan.

Bait 34

Melihat Tuanku baginda raja, menderita kesusahan, menderita kesedihan, bila baginda tak sudi, menjamah diri saya, masih ada teman saya, berjumlah empat orang di dunia ini, menjelma di istana raja, mereka akan datang meminta, kepada baginda, yang bernama Pancadewi, ialah yang akan menjadi pelayan tuanku.

Bait 35

Karena kata Hyang Dharma, saya ini, yang disuruh, turun pertama kalinya, disuruhnya meladeni Tuanku, menghambakan diri kepada baginda raja, karena laksana Hyang Dharma, diri Tuanku ini, di dunia ini, menurut cerita, cerita jaman dahulu, saat dunia kacau.

Bait 36

Dunia rusak dan dharma hilang, semuanya rusak, kala itu Hyang Dharma, karena belas kasihan melihatnya, melihat keadaan negara, saat itu beliau berubah wajah. turun menjelma menjadi manusia, di negara putih (suci) untuk menyelamatkan dunia, dan menjelmalah, sebagai Tuanku ini, demikian ceritanya.

Bait 37

Demikianlah perkataan sang Dewi, lalu dijawab, oleh baginda raja, jangan mengatakan apa-apa lagi, segala hal yang sudah lampau, sangat perkasa di tempat tidur. kini saya tahu, kedatangan tuan sang Ayu ini, yang bernama sang Menaka, tak ada bedanya, kala diutus oleh Betara Indra jaman dulu, dan tidak ada kabar beritanya.

32 [ 32 ]Bait 38

Pulanglah tuan kembali, dan beritahukan, bahwa pekerjaan tuan tak berhasil, demikian kata baginda raja, sang Menaka muram, pandangannya sayu, berbuat seperti orang menyembah tangannya memegang buah dada, sambil mengikatkan selendang, hingga terlihat, keindahan susunya, sesuai dengan lemah gemulai pinggangnya.

Bait 39

Setelah selesai berbakti, lalu berjalan, terbang ke udara sambil meliriknya, sambil tersenyum, hilang lenyap dari pandangan mata, bersamaan dengan kerdipan mata, hilang dalam awan, laksana wayang, dan memakai lampu, dari sinar matahari, diceritakan sekarang orang yang ditinggalkan.

Bait 40

Tidak sekali dua kali, digoda, dan didatangai bencana, godaan dari Tuhan Yang Maha Esa. ingin merusakkan dharmanya, yaitu kehendak baginda raja, ingin membersihkan diri, datangnya tanda-tanda kekotoran, yang dapat membuat malapetaka, berkeinginan, akan meninggalkan negara, pada suatu hari.

Bait 41

Diceritakan pada waktu tengah malam. pada saat, sedang tidur, orang seluruh negara, baginda raja ke luar, beliau berjalan bersembunyi, perjalanannya ke arah timur, tak ada yang mengiringkannya berjalan, berjalan sendiri tak tentu arah tujuan, diceritakan keesokan paginya. sudah melewati negaranya, dan sudah sampai pada sebuah dusun.

Bait 42

Beliau terus berjalan. hingga, sudah jauh tiga, banyak desa yang sudah dilintasi, menuju ke kaki sebuah gunung, bernama gunung Imadri. tiba-tiba di sana terlihat, mata air yang jernih, airnya sangat jernih, dan sebuah sumur kecil, disanalah baginda,

33 [ 33 ]membersihkan diri dengan mencuci muka.

Bait 43 - Baginda menyatukan pikirannya, dan mengeluarkan, mantra api, dan memuja sang Hyang Nadi, berupa nyala api suci, setelah beliau membersihkan diri, ada seekor burung wilet terbang, dipanggil oleh baginda raja, ya kau burung wilet, mendekatlah, kau akan kuutus sekarang, pergi membawa surat.

Bait 44 - Sekarang suratku ini, sampaikan, kepada semua pemimpin, yang berada di kerajaanku, Burung wilet itu dengan cepat, datang mendekat dan menghadap, burung teman-temannya yang lain juga menyembah, dengan segera baginda raja, menulis surat, di atas daun pisang, setelah surat itu selesai, baginda raja kembali berkata.

Bait 45 - Ya ini burung wilet, agar mereka tahu, perjalananku, pergi meninggalkan negara, agar jangan mereka panik. adapun perjalananku ini, hanya untuk matirthayatra. Burung wilet itu sudah menerimanya. mohon diri lalu terbang melayang, di udara, dengan gembira terbang tinggi. Diceritakan sekarang baginda raja.

Bait 46 - Perjalanan beliau terus ke selatan, setelah sampai dikaki bukit. di kaki gunung Imadri, kemudian langsung mendaki gunung itu. berjalan melalui tepi tebing. Kebun bersih terabas, juga hutan turus dirabasnya. yang berada di samping rumah, di bagian bawah, menjadi jalan sang macan kala memburu, memburu kijang di hutan.

Bait 47 - Alang-alang dan tumbuh-tumbuhan yang lain, disampingnya, di pinggir sawah kering, yang berada sepanjang sungai, sudah lewat perjalanan baginda raja, dan memasuki hutan. di pinggang gunung, gu

34 [ 34 ]nung Imalaya yang lebat, sangat lebat dan sangat menyukarkan. Tempatnya tak teratur, sinar matahari tak terang, karena dihalangi oleh kabut.

Bait 48 - Laksana hari sudah malam. suara guntur remang-remang, terdengar di mana-mana. diiringi oleh kilat, kilat menyambar kian kemari, diiringi angin bertiup pelan. hujan turun dengan lebat, pohon kayu yang ada di sana, gemetar laksana kedinginan. kulitnya berbekas-bekas. panunya kelihatan putih-putih. laksana diselimuti embun.

Bait 49 - Adapun keadaan pohon-pohonan semuanya. laksana seorang yang teguh tak tergoda. dari tempat tumbuhnya, sedia untuk mempertahankan tempatnya itu. setia dan berani membela mati, daunnya berdesir tunduk ke bawah, berwarna merah, berdekatan dengan pohon tangi. di bawahnya, penuh dengan pohon alang-alang, rimbun dipakai tempat lalu lalang.

Bait 50 - Oleh binatang warak dan kancil. semua penting, mencari makanan. demikian pula menjangan dan kijang, sangat senang bermain-main di sana, sambil makan rumput yang tumbuh di tebing-tebing. di bagian kebun yang subur, rumputnya rimbun. Anak-anaknya berlari-lari kecil, bermain-main. tiba-tiba datang seekor macan, mulutnya menganga.

Bait 51 - Tampak taringnya runcing, giginya tajam. kancil itu liar. lari masuk kesana-kemari. macan itu ingin, menangkap kancil itu, bersedia-sedia untuk menangkap ekornya. akan ditangkapnya dari belakang. kukunya sangat runcing, dan tajam. wajahnya memberingas. matanya bercahaya merah.

Bait 52 - Matanya bulat melotot, serta bersinar-sinar. mulutnya menganga, taringnya runcing dan tajam, semua

35

[ 35 ]lari menyebar. Kesana-kemari. Semua kijang berlarian, melompat dahulu mendahului, melompati teman-temannya, larinya tak menentu, ada pula yang lain, kembali lari ke jurang, menuju goa-goa di sungai itu.

36 [ 36 ]III PUPUH PANGKUR

Bait l

Adapun keadaan harimau itu, suaranya mengaum, suaranya menggema laksana, suaranya selalu mengejar-ngejar, sehingga terngiang-ngiang, semuanya takut, tak ada yang berani melihatnya, diam tak bergerak-gerak, seluruh binatang menggigil ketakutan.

Bait 2

Seperti kehilangan tenaga, dan didatangi, berjumpa dengan baginda raja, saat itu segera harimau itu, timbul rasa belas kasihannya, menghormat, berguling-guling di tanah, di kaki baginda raja. Sri Ari Dharma dan menangis.

Bait 3

Aduh apa maksudmu, hai macan, mengapa kamu tak jadi makanku, jangan kuatir teruskanlah, kemudian baginda raja, memerciki, dengan air ludah, seketika harimau itu mati, dan bertaburan bunga-bunga yang berbau harum.

Bait 4

Hujan jatuh rintik-rintik, sedangkan, tak ada mendung sedikitpun, dan ada teja kuwung, angin berembus sepoi-sepoi, dan membawa, bau harum semerbak, seketika menjelma menjadi Dewata, yang menjadi harimau itu.

Bait 5

Wajahnya bagus tenang dan darma, lalu menyembah, berkata baginda raja, siapa sesungguhnya tuan ini, silahkan jelaskan kepadaku, dengan segera, yang ditanyai berkata, ah baginda Ari Dharma, teruskanlah kasih tuan sekarang ini.

                                                  37 [ 37 ]Bait 6

Rasa kasih kepada diri hamba, memang benar tuan tak mengenalnya, terhadap penjelmaan saya ini, saya adalah putra seorang Gandarwaraja, Citragotra, itulah nama hamba. hanya Tuankulah, yang melebur dosa hamba sekarang ini.

Bait 7

Sang Pendeta telah mengutuk, hamba ini. Entah berapa hari hamba menunggunya, hingga tiga puluh tahun, lebih tiga bulan, hamba makan, segala jenis makanan, dengan buas memenuhi nafsu, berupa seekor harimau yang menakutkan.

Bait 8

Sekarang saya sudah sempurna, sangat gembira. Pikiran saya tuanku, tak balasan yang dapat saya haturkan, terhadap kerelaan Tuanku kepada saya. Meruat hamba, menghilangkan, dosa hamba. Mengembalikannya ke asal mula, sudah berakhir kesengsaraan saya, kembali hamba sebagai sediakala.

Bait 9

Pada waktu hamba bersenang-senang. Hamba, tiba di surga dahulu, hamba melangkahi Sang Bhiksu, saat itu hamba dikutuk, menjadi harimau. Berdiam di hutan raya, ya inilah saya, yang berbentuk harimau dahulu itu.

Bait 10

Ambilah kulit ini, dan juga, kemudian cabut taringnya, sebagai penjagaan diri. Itu dipersembahkan kepada Tuanku. Silahkan dan lanjutkan, tapa Tuanku. Hamba mohon diri akan kembali, ke Amarabhawa sekarang ini.

Bait 11

Demikian perkataannya, sang Citragotra, lalu hilang setelah menyembah, meninggalkan baginda raja, lalu taring harimau itu dicabut, menuju ke selatan. Baginda berjalan, seluruh tempat air suci. Semua didatanginya.

38 [ 38 ]Bait 12

Semuanya dicarinya, kemudian mandi, dan membersihkan diri, mengikuti tebing gunung, di sana terlihat, sebuah asrama, tetapi sudah sunyi sepi, telah ditinggalkan sang pertapa, rumah-rumah semuanya rebah.

Bait 13

Diselimuti jaring labah-labah, berjamur, agaknya sangat memprihatinkan, jatuh rebah tak menentu arah, terpikir oleh baginda raja, jika dibandingkan, laksana negara yang hancur. ditinggalkan pergi oleh rajanya, dan sekarang beliau sudah tiba.

Bait 14

Sampailah beliau di Yamuna. jika diceritakan, sungai Yamuna ini merupakan kesatuan tiga sungai. sungai kedua sungai Swabadra, yang ketiga, sungai Loma namanya, dihilir bersatu, didiami dua ekor buaya.

Bait 15

Di sana menjadi muaranya, yang menyebabkan, sepi dan sunyi di sini. Para raja-raja, tak ada yang datang ke mari. Diceritakan baginda Sri Aji Dharma, segera turun ke dalam air, lalu disergap oleh buaya itu sekarang.

Bait 16

Maksudnya untuk membunuh, mereka berdua. menggigit kaki baginda raja, baginda raja amat marah. Keduanya ditangkap sekaligus, diangkat, terlihat dengan terang bidadari. Pakaiannya berkibar-kibar, ditiup angin.

Bait 17

Kemudian berkata sambil menghormat, kata-katanya halus, ya Tuanku baginda raja, pasti Tuanku sama sekali tak mengenal hamba, ini hamba bernama, Kamini dan yang lain, ini adalah Krimika, pelayan Sri Watra Dewi.

39 [ 39 ]Bait 18

Adapun hamba ini, diperintahkan, merusak dan menggoda, daerah ini, menggoda para pendeta (sang Dwija), karena sinar beliau, sampai di langit. sang pendeta amat sakti dan bertuah, lalu marah kepada hamba.

Bait 19

Dikutuk menjadi buaya, tak ada yang lain. Hanya bagindalah, yang seharusnya yang meruat hamba. atas anugrah Tuhan, karena keras, pemohonan hamba itu, mohon kepada beliau, agar Tuanku mengangkat kami.

Bait 20

Tuanku telah sudi meruat hamba. tidak perlu. hambag menunggu agar, sampai ada perintah Tuanku, menyuruh hamba sebagai pelayan, untuk membayar hutang, setahun lamanya tak akan habis terbayar, tak bedanya hamba ini, hamba berhutang jiwa.

Bait 21

Prabu Aji Dharma, menjawab. Terlalu berlebihan oleh bibi, sebagai apa yang bibi katakan itu. perbuatan dan pekerjaanku memang hanya, rasa kasih sayang, kepada segala yang hidup, adapun sebab saya datang sekarang ini, untuk mencari sang Maharesi.

Bait 22

Seorang Resi yang bijaksana yaitu Danghyang Bowila. Kepada beliau kumohonkan, menghilangkan segala kotoran diriku, membersihkan segala gangguan, lalu berkata, bidadari itu. Adapun beliau itu. beliau tak masih berada di sini.

Bait 23

Beliau telah pindah asrama, sekarang, beliau bertempat di Ucaga Tirta, dari tempat hamba dulu, tempat beliau di Barat, setelah berkata, kedua bidadari itu terbang, diceritakan baginda Aji Dharma, menyucikan muara sungai itu sekarang.

40 [ 40 ]Bait 24

Dahulu yang ditempati buaya, sekarang ini, menjadi tempat pasucian, bagi para pendeta, yang lain oleh para raja-raja, setelah suci, betul-betul suci tak kotor sedikitpun, beliau sang Ari Dharma, kembali melanjutkan perjalanannya.

Bait 25

Tak diceritakan keadaan beliau di jalan, segera sudah sampai, di Ucaga Tirta sekarang, bunga sedang mengembang, di sepanjang pematang, ada pula yang lain, pohon berbuah lebat, pisang hingga masak ranum, beserta kelapa gading.

Bait 26

Sebuah telaga mengelilingi taman, airnya, suci dan jernih. Laksana langit biru, bunga teratai putih penuh sesak. Kuning dan merah, semua itu laksana sebagai bintangnya, demikian jika diandaikan, keindahan taman yang serasi itu.

Bait 27

Bcmacam-macam binatang yang ada, di antaranya, harimau yang tidak galak lagi, di sana ia jinak, saling sayang menyayangi, tak ubahnya sebagai, jiwanya diikat, binatang semuanya tahu akan rasa kasih sayang.

Bait 28

Terpengaruh atas kesabaran, sang pandeta. Hingga burung-burung, semua mengikuti, mengerti akan darma kasih sayang, yang diketahuinya. Suaranya merdu bernyanyi, sebagai mendendangkan mantra-mantra, Ung Kara beserta gentanya.

Bait 29

Terhenyak perasaan baginda raja, Aji Dharma, terhadap kehebatan sang Resi, kemudian baginda melihat sebuah tempat yang tinggi, tempat mengaso, laut terlihat dengan baik, terlihat dari sana, dan tentang beliau sang Resi.

41 [ 41 ]Bait 30

Tak ada yang memberitahukannya, memberitakannya, kedatangan tamu agung, beliau mampu melihat dari jauh, setelah selesai memusatkan pikiran, ada seekor bunglon, terlihat merayap turun. Turun dari pohon sirih, ialah yang diutus beliau sekarang.

Bait 31

Agar ia menjemput baginda, dengan segera, bunglon itu sudah mohon diri, menghadap baginda raja, perkataannya mohon maaf, hamba ini. Karena diutus, oleh sang Pendeta, Tuanku dimohonkan datang.

Bait 32

Agar datang ke asrama, di tempat itu, sebagai tempat duduk Tuanku, baginda raja mengangguk, dan kemudian segera berjalan, menuju, baginda lalu masuk. di sana beliau melihat sang Resi. Baginda lalu menghormat dengan sopan.

Bait 33

Sang Resi berkata halus, silahkan. Di sini Tuanku duduk. Apa yang menyebabkan Tuanku. sangat penting dan datang secara diam-diam, seorang diri, pergi ke gunung, dan bertemu dengan bapak, baginda raja berkata halus.

Bait 34

Saya mohon maaf, maafkanlah saya, anakanda sang Pandeta, kemudian baginda duduk, setelah dipersilahkan duduk, segala upacara, makanan dan air pembersih, serta kapur sirih yang harum, demikian pula buah-buah segalanya.

Bait 35

Tumpi manjari madu parka, beserta buah-buahan, sudah dimakannya, disana sambil berbincang-bincang, adapun beliau sang Pendeta, sudah sempurna, sudah dapat diselesaikan di sana, dan mulailah pembicaraan, baginda raja berkata halus.

42 [ 42 ]Bait 36

Sambil merendahkan diri, ya Bapak, saya mohon maaf, kepada paduka sang Empu, sudilah memaafkan, saya ini, jika bapak sudi dan bersedia. saya mohon, pembersih rasa kesedihan.

Bait 37

Benar-benar tak terobati, tak henti-hentinya, saya mendapatkan kesedihan hati, bukan satu dua kali,hidup saya kotor. Sang Pendeta, lalu berkata manis,janganlah kuatir, terhadap diri Tuanku ini.

Bait 38

Kesukaran sepanjang hayat, tanpa ada cacat celanya.Serta kesedihan dalam hati, dilarikan ke gunung, sebab perbuatan dalam negara, tak terjamin, semua itu ada dalam diri sendiri, meneguhkan rasa kedarman, agar jangan menjalar.

Bait 39

Sckarang bersihkan kembali, pikiran, kemudian mohonkan restu, kehadapan Hyang Dewa Guru. yang berada dalam api suci. Demikian, kata sang Wiku. Baginda raja mengikutinya, dan sekarang sudah dilaksanakannya.

Bait 40

Segala tatacara upacara, sudah selesai, scmua tatalaksana. Menghilangkan kekotoran. Segera dapat terhapus. Bersih, karena kemampuan sang Wiku. bijak dan pandai, untuk menghilangkan segala macam kotoran batin.

Bait 41

Laksana lumpur di tanah, disucikan, dihanyutkan ke laut. Saat itu baginda raja menyembah, karena sudah dibersihkan. Dasa mala, sudah bersih tak ada kotoran sedikitpun. Kemudian baginda mohon diri lalu pergi,berjalan arah utara.

Bait 42

Berapa hari lamanya beliau, berada di hutan, masuk ke dalam gunung alas, kemudian sampai di pinggang

13 [ 43 ]gunung, di sebelah selatan gunung Trikuta, konon disana, negara Malaya, nama rajanya, Raja Nala Sri Aji

Bait 43 - Dahulu kala raja itu makan manusia, sudah pergi, dari negerinya, lalu mengadakan tapa, di bhumi Mandala. Meninggalkan putra, tiga orang putri, kepadanya negara diserahkan, menjadi tiga raja putri.

Bait 44 - Ketiganya masih gadis, wajahnya, cantik jelita, bijaksana akan ilmu Solah Sadu, dan sudah menyelesaikan yoga Susandya, yang tertua, bernama Dyah Widaksi sangat terkenal, yang lebih kecil bernama Widaksa, dan terkecil Widatane.


44 [ 44 ]
IV. PUPUH GINADA

Bait 1 - Adapun tentang ketiga putri itu, bernama Tri Gancapa, mereka kemudian diambil, oleh baginda Sri Dharma, dan ketiga putri itu, telah mulai, bertemu asmara di tempat tidur.

Bait 2 - Ketiganya berganti-ganti, menikmati keindahan rasa pertemuan, di tempat tidur satu persatu, sekarang diceritakan keadaannya sudah selesai. Perkawinan sudah dilakukan, sama halnya, dengan keadaan penganten baru.

Bait 3 - Tingkah laku penganten baru, rasa cinta kasih selalu melekat, kemana-mana bersama-sama suami istri, selalu beriring-iringan seia-sekata. karena baru mendapatkan apa yang diinginkannya. yang selalu menjadi harapan dan cita-citanya.

Bait 4 - Setiap hari bercengkerma. Digunung mengarang dan berpantun, keindahan gunung dan lautan. terlukis dalam pikirannya, laksana Dewa Asmara dan Ratih. Mengagumkan, keindahan gunung dan hutan.

Bait 5 - Sang Dyah tak pernah menolak, ketiganya selalu seia sekata, saling kasih mengasihi, di tempat tidur saling berpelukan, memenuhi kesukaan hati, dan sekarang, sudah tiba tengah malam.

Bait 6 - Saat itu Dyah Widaksi, membangunkan kedua adiknya, Dyah Widaksa dan Widata, pergi di tengah malam itu, tujuannya untuk ngiwa, karena diperkirakannya, baginda raja sedang nyenyak tidur.

45

[ 45 ]Bait 7 - Pergi diam-diam ke kuburan, namun baginda raja mengetahui hal ini, terhadap kehendak ketiga putri itu, dengan akal yang baik baginda raja, mengikuti bepergian mereka, langsung menuju, pada tempat pembakaran di kuburan.

Bait 8 - Di sana terlihat, ketiga istrinya. sudah berwajah yaksa, di sana sedang makan mayat. menari berkeliling, melompat-lompat, masing-masing menghadapi satu mayat.

Bait 9 - Ada yang mengambil tangan, jantung dan hati, mengikuti perbuatan ayahnya, yaitu raja Mala dahulu, yang pergi ke Mandala, bertapa. agar dapat menemukan keselamatan.

Bait 10 - Setelah selesai makan daging manusia. diceritakan Sri Dharma Aji, menjelma berubah rupa. menjadi seekor anjing putih bersih, meminta mayat kepada ketiga orang itu, kepada jadi-jadian itu. anjing itu tahu menggonggong.

Bait 11 - Suaranya meraung-raung panjang, dan menggonggong melengking-lengking, saat itu di sana bersama-sama merebut mayat, Dyah Widaksi diikutinya, sangat bernafsu dengan mulut menganga. Dilemparkan ke mulutnya, hati oleh sang Dyah.

Bait 12 - Sekarang anjing itu segera mengusahakan, kembali mengejar adiknya, setelah terkejar, anjing itu meraung, mulutnya terbuka sambil menelan-nelan, dan juga, lidahnya menjulur ke luar.

Bait 13 - Dyah Widaksa diikutinya, memasukkan jantung kemulutnya, jantung yang sudah berulat, kemudian anjing itu kembali mengikuti, adiknya Dyah Widata,

46 [ 46 ]dikelilingi, berkeliling mondar-mandir.

Bait 14 - Menggonggong terus menerus, meraung-raung memohon, lalu diberinya limpa, kemudian di bawanya pulang, baginda raja sudah selesai, wajahnya kembali sebagai semula, dibungkus dan disembunyikannya.

Bait 15 - Kemudian dibagi-bagikannya, di tempat berhias sang Dewi, setelah rata lalu ditutupnya kembali, diletakkan di tempatnya semula, di tempat tidur ketiga dewi itu. Baginda raja, Ari Dharma lalu pergi.

Bait 16 - Pergi kepermandian, disana beliau membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, beliau kembali tidur, demikian keadaan baginda raja, menguji, ke tiga istrinya.

Bait 17 - Sekarang diceritakan ke tiga Dewi itu, masih melompat-lompat di kuburan, Karena terlalu asik, pikirannya sangat terpusat, karena senangnya makan mayat, Kini, agak terkejut dan kaget.

Bait 18 - Karena hari sudah hampir siang, cepat-cepat bersemadi. Semua melepaskan jadi-jadiannya, kala itu semua sudah kembali, sebagai sediakala. Ketiga putri itu pergi ke pancuran membersihkan diri.

Bait 19 - Setelah mandi lalu memakai harum-haruman. Baunya harum semerbak, langsung pulang ke istana, menurut pikirannya, baginda raja benar-benar tak tahu, karena tidur beliau amat lelap.

Bait 20 - Sang Dyah mengambil selendang, berselimut lalu berbaring, tidur di samping baginda raja, adapun beliau baginda raja, raja Aji Dharma, langsung, memeluk istri beliau.

47

[ 47 ]Bait 21 - Sampai siang. Ketiga putri itu tidur lelap, menurut pikiran baginda raja, karena sudah lama, tak mendapat makanan, diselingi, oleh upacara perkawinan.

Bait 22 - Kini mereka sudah mendapat korban, tentu payah dan mengantuk. Karena itu mereka tidur lelap, kemudian dibangunkan, sesaat sang Dyah baru bangun, menggosok-gosok matanya, tampaknya kepayahan.

Bait 23 - Tampak matanya agak merah, sayu sendu, serta halus manis, menumbuhkan asmara menggelora, konon diceritakan, setelah beliau mandi, baginda raja, lalu bersabda.

Bait 24 - Wahai adinda permata hati kanda, ada yang ingin kakak katakan. hasil dari tidur kakak. pertama kalinya impian kakak sangat baik, Hyang Bhatari Durga datang, memberikan, sesuatu kepada adik.

Bait 25 - Konon di sana di tempat berhias, di tempat perhiasan adik. Mereka yang diajak berkata. semua sudah pulang. setelah sampai di tempatnya, terciumlah, bau mayat berkeliputan.

Bait 26 - Masing-masing mengambil tempat perhiasan, kemudian mereka membukanya. berisi hati dan limpa, yang lain berisi jantung, air mayat meleleh. sudah berulat semuanya. busuk berlobang-lobang.

Bait 27 - Para pelayan muntah-muntah, lari tunggang langgang. sang Dyah agak marah, beliau tak jijik sedikitpun. diambilnya dan dilemparkannya, lalu disapu, tempat perhiasannya dibersihkannya.

Bait 28 - Sesudah sempurna semuanya, diisi harum-haruman, bau-bauan yang semerbak, sekarang sudah se

48 [ 48 ]lesai semuanya, ketiga istri baginda berunding. membicarakan, tentang malapetaka dari baginda raja.

Bait 29 - Memang telah menjalankan upaya, terhadap perbuatanmu tadi, kala kita berada dalam pertemuan. Ya mari kita ingatkan, apa yang adik berikan itu, kepada si anjing, sebenarnya beliaulah yang berubah ujud.

Bait 30 - Kala itu Dewi Widaksa, menjawab dengan keras, memang benar tak salah terkaan itu. Tak ada yang lain dari baginda raja, yang membuat kesedihan, membuat malu, tak sedikit tentang ini.

Bait 31 - Dyah Widata dengan cepat berkata. Memang demikian, karena pandai bersikap, pandai merayu. Tambahan pula, Dyah Widata mengata-ngatainya.

Bait 32 - Karena sangat marahnya, ah kau raja jangan kau kurang waspada, penghinaanmu terlalu keras. Kau mengira aku takut, gadis tak berani melawan, untuk mengadu kesaktian.

Bait 33 - Nah sekalian kita adu, kekuatan ilmu hitam yang paling hebat, ya sebaiknya malam nanti. Di kuburan kita bunuh, untuk penyuci, darahmu itu, oleh Sang Hyang Durga.

Bait 34 - Pasti rohmu, diikat dan dipukuli, setelah selesai ia memaki-maki, kemudian Dyah Widaksa ganti berkata, wajahnya agak marah, dan membenarkan, bahwa apa beda semua itu.

Bait 35 - Mati dari pada menderita rasa malu. Sekaligus sampai mati, bertanding dengan segala kekuatan pikriran.

49

[ 49 ]mengadu kekuatan pikiran, Dyah Widaksa berkata, jangan adikku, hal itu sangat keliru.

Bait 36 - Kata-katamu terlalu congkak, terlalu sombong namanya, jangan menuruti sakit hati, ikuti ajaran-ajaran agama, konon orang yang berhutang makanan, atau padi, hal itu tak perlu dibalas.

Bait 37 - Tuk patut dibayar dengan harta benda, seperti dengan emas atau permata, jika kesalahannya yang harus didenda, dengan emas atau permata, lalu dibayar dengan jiwa, hal itu akan terbalik, pasi sengsaralah yang akan didapatkan.

Bait 38 - Jika hutang menimbulkan rasa malu, rasa malulah yang dipakai membayarnya, demikian yang harus dilakukan, ya sekarang adikku cantik, ikutilah akal kakak ini, berusahalah, sikap adik agar baik.

Bait 39 - Hal ini agar sampai ke jiwa, terlihatlah oleh baginda raja, peganglah sikap yang baik, kuatkanlah hatimu, bila adik ditanyai, oleh baginda raja, saat itu ceritakan apa adanya.

Bait 40 - Mereka berdua sudah menerimanya, setelah menyembah lalu sama-sama pergi, menuju tempat baginda raja, para Dewi itu menghormat, dan ketiganya menyembah, baginda raja, sangat gembira hati beliau melihatnya.

Bait 41 - Tangan ke tiga mereka itu dipegangnya, di tuntun untuk duduk bersama-sama, baginda raja lalu bersabda, kau adalah mas permataku, tak puas-puas rasa kegembiraanku, bagaimana adikku, kebenaran isi impian itu.


50 [ 50 ]Bait 42 - Dyah Widaksi berkata sambil menyembah, memang benar Tuanku terdapat hati, Dyah Widaksa menyembah, mengatakan ada jantung, di tempat perhiasan itu, dan sekarang, Dyah Widata menyembah.

Bait 43 - Ada limpa yang hamba lihat, sekilas tersenyum melirik, kata-katanya manis laksana madu, bibirnya merah laksana madu, menyembah sambil menunduk, kemudian tersenyum, ditutupi selendang.

Baig 44 - Sang Aji Dharma mempunyai harapan, lalu berkata pelan-pelan, ya kau adalah mas permataku, adapun petunjuk Hyang Sinuhun, agar kau mengetahuinya, mereka yang diberi, berupa hati itu.

Bait 45 - Tegasnya hanyalah, bimbingan hidupmu, dan segala perbuatan, bagi mereka yang diberi jantung, berbeda dengan adikku Widata, yang diberi, berupa limpa itu.

Bait 46 - Hal itu lepas dari perikemanusiaan, dan banyak akibatnya adikku, sangat banyak kalau hal itu dibicarakan, apa, yang dikatakan oleh baginda raja, beliau ingin memberikan nasehat, karena, beliau sudah mengetahuinya.

Bait 47 - Terhadap apa yang sudah dilakukan dahulu, baginda berkeinginan, agar jangan disangka, sengaja membuat rasa malu, pada diri ketiga Dewi itu, itulah yang menyebabkan, maka tidak terang-terangan.

Bait 48 - Sang Dyah berkata sambil tersenyum, karena beliau seorang bijaksana, benar-benar ia tahu bertingkah, menyembunyikan dalam pikirannya, lalu berkata dan menyembah sambil tersenyum, semuanya sa

51

[ 51 ]ma-sama tahu, membuat sikap.

Bait 49 - Dengan halus pelan dan sopan, wajahnya diangkat menurutinya, diceritakan matahari sudah tenggelam, sang penganten, sudah bertemu dalam tempat tidur, bau semerbak, mempersiapkan selimut berdua

Bait 50 - Tak diceritakan mereka yang tidur, pada malam itu, dua orang yang lain pergi, beserta Dyah Widaksi, sudah mulai bersiap-siap, balik kembali, karena ada yang tertinggal.

Bait 51 - Peninggalan ayahnya, pustaka beliau yang telah pergi, yang pergi dulu untuk bertapa, di negara Mandhala dahulu, yang bernama raja Mala, sangat sakti, sudah terkenal dengan ilmu hitamnya.

Bait 52 - Berbamgarkan trini kusuma, dan didahului pengasih, serta kata Dewi santaka, kepada suaminya, pikiran baginda sudah satu, hal itu disebabkan, sayang kepada putranya.

Bait 53 - Menunggu anugrah Tuhan, kembali diceritakan sang Dyah, duduk tunduk sambil menyembah, memegang kaki dengan wajah halus, ya Tuanku Ari Dharma, ijinkan kami mohon maaf.

Bait 54 - Agar hamba, tidak terkena kutukan, berani kepada junjungan, kemudian pustakanya, sudah diletakkan di tempatnya, baginda raja, kemudian dimantrainya.

Bait 55 - Dengan ilmu sandi wijaya, kemudian ketiga putri itu, bersama-sama menyembah, mohon diri dan sudah meninggalkan pergi, diceritakan sang Aji Dharma, sudah terkena, yang mengakibatkan tak kenal apa-apa.

52 [ 52 ]Bait 56 - Daya upaya sang Dyah, menyebabkan tak kenal apa apa, baginda raja tidur lelap, tetapi sebenarnya baginda, jiwanya sempurna dan bermaksud, menguji, dan kemudian hendak pergi ke hutan.

Bait 57 - Ketiga raden Dewi itu. ingin bertapa, enam tahun lamanya mereka bertapa, saat itu baru akan kembali, di barat warna langit hitam dan putih, di timur warnanya kemerahan, sebagai pertanda hari hampir siang.







53

[ 53 ]
V. PUPUH SEMARANDANA

Bait 1 - Matahari telah terbit. suara burung riuh rendah, sangat ramai, laksana memberitahukan, memberitahukan bahwa hari sudah siang, demikian pula suara ayam, silih berganti saling bersautan, diceritakan raja Ari Dharma.

Bait 2 - Bangun dan menggosok-gosok mata, kaget beliau melihat, melihat bulu tubuhnya, bulu lehernya putih bersih, menjelma menjadi burung belibis putih, tetapi hatinya tidak sedih. ah bahaya yang kulakukan dahulu.

Bait 3 - Hasil perbuatan yang dahulu. sekaranglah hasilnya diterima. dengan cepat terbang ke angkasa. dan sangat tinggi di udara. terbang pelan-pelan. bulu sayapnya bergerak dengan halus. terbang mengelilingi batas istana.

Bait 4 - Semua emban melihatnya. penjaga beliau sang Dyah. diceritakan ketiga putri itu. wajahnya muram. termangu-mangu. dan beliau sedih. karena kasihan melihat. keadaan suami beliau baginda raja.

Bait 5 - Seluruh orang di istana Malaya. semuanya menonton. ada yang terheran-heran melihatnya. bagi orang yang bodoh menyangka. ya inilah burung surga. untuk pertama kalinya turun. suaranya semakin menjauh.


54 [ 54 ]Bait 6 - Sayapnya putih berkilat, bulu lehernya gemerlapan. bersinar berkilauan, dikenai sinar matahari, terbangnya amat menakjubkan. makin tinggi laksana bintang beredar, memasuki embun yang putih.

Bait 7 - Laksana bayangan dalam air laiknya, menutup pandangan orang yang melihatnya, hilang di ujung pandangan, tampak ia menuju selatan, terlihatlah lembah dan hutan, ngarai yang dalam, sungai tebing dan mata air.

Bait 8 - Keinginannya untuk terjun, menerjuni air muara, suaranya gemuruh konon, burung belibis itu berputar turun, rendah melayang-layang di sana, segala macam burung terlihat di sana, yang biasa berkumpul di sana.

Bait 9 - Dalam rawa-rawa dijumpainya, banyak burung yang kian-kemari, burung krekwak dan burung jiwa-jiwa, burung kencing mayong dan burung walyan, burung angsa sangutngut hijo, burung sinawa dan juga burung soca turut serta, ramai mereka bermain di sana.

Bait 10 - Beterbangan di atas air, tetapi tak ada yang menyelam ke dalam air, sambil menggaruk-garuk sayapnya, diceritakan burung blibis putih, di sana ia bercampur, berkumpul dengan segala jenis burung, entah berapa lama sudah berada di sana.

Bait 11 - Dengan gembira pergi ke pantai, kemudian kini pergi menuju tempat permandian, di tukad tiga, airnya jernih, warna airnya kuning, keluar dengan tiba-tiba, di pulau tengah lautan.

Bait 12 - Tempatnya berdekatan di pinggir negara, yaitu negara Bhoja, yang disungsung di sana, bernama Sri


55

[ 55 ]Kretawangsa, raja yang kaya pangan, baru baginda

berputra seorang, hanya seorang putri.

Bait 13 -

Cantik dan bijaksana, banyak hamba sahayanya, tidak sedikit terdapat kendaraan, Mentri dan kepala desa, demikian pula para pandeta. tersohor bijaksana dan pandai. dan ada seorang hamba baginda raja.

Bait 14 -

Bertempat tinggal di tepi pantai, bemama si Bharajana, berjalan kian kemari, asik mencari ikan, membawa tempat ikan dan sebuah jala, masuk ke tepi laut yang luas itu, tetapi tak mendapatkan apa-apa.

Bait 15 -

Tiba-tiba melihat, sepotong kayu yang dihanyutkan ombak, kayu itu kemudian diambil dipakai pendayung, yang menyebabkan ia dapat, menuju ke pulau itu, berenang dengan memakai kayu itu.

Bait 16 -

Berenang sambil telungkup, berpegangan pada batang kayu itu, sambil memegang tempat ikan dan jala, berenang pelan-pelan, dipukul ombak ke sana kemari, sudah tiba di pulau kecil itu, lalu berkeliling di pinggir pulau itu.

Bait 17 -

Juga tidak mendapatkan, tak ada seekor ikanpun, lalu naik ke atas batu karang, di ujung dari pulau itu, di sana ia melihat sebuah kolam, airnya amat jernih, tetapi warna airnya kuning.

Bait 18 -

Kemudian selanjutnya, langsung menuju ke tepi telaga itu, disana ia membersihkan mulutnya dan berkumur, kemudian ia mengambil air dengan tangannya, lalu menyiramkan pada dirinya, karena merasakan amat payah, di samping tak mendapatkan ikan.

56 [ 56 ]Bait 19 -

Menyesali diri atas jerih payahnya, Tuhan tak menaruh rasa kasihan, lalu merebahkan diri di pohon pandan, di sini juga tak mendapatkan apa.-apa, untuk mencarikan diri ikan, mungkin tak pernah berbuat kebaikan di masa yang lalu, terasa hidup ini tak berguna.

Bait 20 -

Bila di sini tak berhasil, lebih baik mati dipukul ombak, setelah habis menyesali diri, sesaat ia menoleh, arah ke timur di tempat itu, terlihat seekor burung blibis, seekor blibis putih sedang menggaruk-garuk badannya.

Bait 21 -

Sedang ia menggaruk-garuk bulu sayapnya, sambil mandi timbul tenggelam, di tepi air itu, si Bharajana membuka, lalu memasang jalanya. burung blibis itu tertangkap, segera diambilnya.

Bait 22 -

Karena hatinya sangat gembira, dipikulnya lalu dibawanya, konon sudah berada di darat, segera dibuka, tiba-tiba burung blibis itu berkata, jangan paman tergesa-gesa, menyiksa saya.

Bait 23 -

Aku akan memberikan paman bukti, mencarikan ikan di laut, nah sekarang kakiku ini, kiri kanan pegang, sekarang mari kita pergi, lalu terbang menuju, tempat ikan yang banyak.

Bait 24 -

Sesuka hati paman mengambilnya, penangkap ikan itu menurut, kemudian I Bharajana, memegang kaki burung itu, di sana ia bergelayutan, jalanya dipegang terayun-ayun, lalu burung blibis putih itu terbang.

Bait 25 -

Terbang melayang di langit, dan kini lalu turun, turun di lautan seberang, disana mendapatkan ikan, tak terhitung banyaknya, dibungkus pula dalam jala,

57 [ 57 ]lalu terbang dari sana.

Bait 26 -

Segera ia pulang, dan setelah tiba di rumahnya, lalu burung blibis itu ditempatkan, tempatnya di tempat persembahyangan, dan diupacarainya, keesokan paginya ia sibuk, si Bharajana membuatkannya.

Bait 27 -

Ia membuat sebuah sangkar yang indah, serta dihiasi kain, kain sutra yang halus, dan semuanya baru, si blibis putih berkata, ya dengarkan dahulu, paman Bharajana.

Bait 28 -

Ada dua ekor burung gagak, jantan betina mengatakan, bahwa ia telah menang, terhadap ular yang jahat, dan sekarang sudah dibunuh, kini seorang pencuri datang, menyembunyikan harta benda.

Bait 29 -

Disembunyikan pada goha di sana, di sebelah timur kebun Kawya, sekarang segeralah paman pergi kesana, pergilah ke sana dan ambillah, mas permata semuanya, pencuri itu sudah pulang, tidak diceritakan semua itu sudah didapatkannya.

Bait 30 -

Burung blibis itu disayangi, oleh suami istri I Bharajana, dan dianggapnya sebagai anaknya, dinamai sang Tapatya, karena tuan dengan cepat, memberikan pertolongan, kepada bapak tak terhitung jumlahnya.

Bait 31 -

Tak terbalas pertolongan tuan, memang pantaslah tuan ini. bapak anggap sebagai anak, tuan sangat menolong, bapak yang sangat miskin ini, demikianlah Bharajana.

Bait 32 -

Demikian kata-katanya kepada burung itu, keesokan paginya sang Tapatya, berkata Jagi, ah bapak sang

58 [ 58 ]Bharajn., tadi pagi anjing bapak itu, sambil menangis ia berkata, dengan betinanya.

Bait 33 -

Bapak agar tahu hal itu, tadi pagi ia dipukul dan pula tidak salah, apa-apa, seorang pencuri yang memukulnya, pencuri itu pura-pura buang air, di sana ia hampir siang, membuat sebuah lobang di tanah.

Bait 34 -

Menggali tanah sambil membungkuk-bungkuk, tujuannya untuk menyembunyikan, menanam uang dan perak. di sebelah utara sebuah gubuk, di tempat penutup yang sudah pecah, di tempat bercebok itu, ditanam dan sudah tersembunyi.

Bait 35 -

Sekarang bapak cari itu, sang Bharajana menurutinya, kemudian mengambil barang tanaman itu, hal ini berbulan-bulan, membangun tempat tinggal tak kurang apa-apa, kaya dan bahagia, banyak bangunan yang dibangunnya.

Bait 36 -

Hasil dagangannya banyak beruntung. tak henti-hentinya yang datang, diceritakan baginda raja Bhoja, di istana timbul malapetaka, kesukaran oleh suatu perkara, para Manca telah membicarakan hal itu, sampai oleh para Menteri.

Bait 37 -

Pendeta Kerta turut serta, seperti halnya sang Siwa Bhuda, membicarakan tentang Aji Pusarana, tetapi tak mampu sama sekali, menyelesaikan masalah itu, demikian Sang Wiku, maupun baginda raja lama kebingungan.

Bait 38 -

Telah lama menunggu, penyelesaian masalah itu, sang Pendeta hingga payah, menunggu penyelesaiannya, konon pendeta yang bertempat, di Randutiga, bernama Paradwan. [ 59 ]Bait 39 -

Adapun istri pendeta itu, bernama Kili Dewanggi, tiba-tiba datang mahluk jadi-jadian, seorang raksasa berubah rupa, keluar dari goa pohon randu, bernama I Duskara, mengakui istrinya.

Bait 40 -

Adapun pendeta Istri, wajahnya cantik tak ada bandingannya, karena itulah maka raksasa itu, kemudian berubah rupa, menyamai wajah sang pendeta, inilah yang dibingungkan dalam pikiran, pikiran baginda raja.

Bait 41 -

Sang pendeta menyatakan, apa yang sudah biasa berlaku, pikirannya sudah bulat, bila tak dapat dipecahkan, ingin meninggalkan negeri ini, dan ini sudah tersebar, sampai pada orang-orang desa.

Bait 42 -

Orang di desa semuanya, semua sedih membingungkan, burung blibis berkata, kepada I Bharajana, ya paman yang menyebabkan, negara menjadi sunyi sepi, saya akan menjelaskan kepada bapak.

Bait 43 -

Karena baginda raja, ditimpa suatu masalah, membicarakan tentang masalah itu, sang pendeta disamai, disamai oleh seorang raksasa, menyerupai wajah sang pendeta, menirukan Gama Aji Purana.

Bait 44 -

Sang Tapatya berkata kembali, yaitu nama burung blibis putih itu, karena pagi tadi, selalu dipakai buah mulut, oleh seluruh jenis burung, saat bertemu dengan pendeta Istri, membicarakan tentang cacatnya.

Bait 45 -

Mencerca perbuatan pendeta Istri, demikian hasilnya, tak dapat mengetahui rupa suami, lain-lain sebagai gila, tak tahu akan perbuatan jahat, mana yang salah dan mana yang benar, yang mana tiruan


60 [ 60 ]dan yang mana pendeta.

Bait 46 -

Karena wajah kedua orang itu sama, untuk membicarakannya beginilah bapak, yang dipakai untuk memecahkan masalahnya, hal itu sangat mudah, suruh mencarikan, di tempat orang membuat kendi, disana mencari sebuah cerek.

Bait 47 -

Itu yang dipakai mengujinya, bagaimana caranya memasuki sebuah cerek, ucapan saat itu hendaknya dibalikkan, ujilah siapa yang dapat, mampu masuk ke dalam cerek itu, itulah pendeta yang sebenarnya, suami pendeta Istri.

Bait 48 -

Karena orang yang dinamai, yaitu yang tak dapat masuk, bukanlah suami Ni Kili, jika sudah demikian caranya. tentulah raksasa itu gembira, kesucian tak akan menyebabkan kotor, baginda raja.

Bait 49 -

Perasaan sedikit dibalikkan, tentu sebagai baginda raja, tak akan salah, dan pasti baginda raja menerimanya, hanya sekian silahkan berjalan, tetapi kala bapak memberitahukannya, agar tidak ada yang tahu.

Bait 50 -

Menyampaikan daya upaya, kala itu dengan segera, Bharajana berganti pakaian, mengambil selimut lalu pergi, tujuannya ke istana, menghadap sang Mantri Agung, ingin menghadap.

Bait 51 -

Setelah memperhatikan dengan seksama lalu mohon diri, Patih Agung amat gembira, keesokan harinya kembali dibicarakan, mengadakan upacara korban, untuk masalah itu, dan sebagai sang Wiku Kreta, demikian pula seluruh hakim lainnya, juga segala upacara sudah tersedia dengan teratur.

61 [ 61 ]Bait 52 - Demikian pula mantra korban, dupa telah tersedia, ceritakan orang yang membicarakan permasalahan itu, sudah sempurna semuanya, segala tatalaksana perdebatan, jaksa juga sudah datang, untuk diperiksa sebagaimana mestinya.

Bait 53 - Semuanya sudah tersedia sekarang, segala tata pemujaan, untuk tatacara berdoa, karena pendeta, konon pendeta yang bertengkar, yaitu kedua pendeta itu, sudah bersiap-siap.

Bait 54 - Kemudian beliau disuruh, agar beliau masuk, memasuki kendi itu, agar jelas terlihat, dan agar semua tahu, siapapun yang mampu masuk, masuk ke dalam cerek itu.

Bait 55 - Ialah yang benar, suami pendeta Istri, demikian caranya, membicarakan masalah perdebatan ini, membalikkan perasaan kebenaran dunia ini, beliau pendeta Paradwan, perasaannya kecut tak berjiwa.

Bait 56 - Keluar mengalir, air matanya tak putus-putusnya, pusing tidak sebagai sediakala, beliau terhenyak, sedih ngelamun tak berkata apa-apa, pendeta Istri turut juga di sana, disuruh menyaksikannya.

Bait 57 - Dengan seksama Mentri Agung, menyaksikan sang pendeta, sang raksasa itu sangat gembira, mendengar keputusan permasalahan, dengan cepat ia bersiap-siap, menjadikan dirinya kecil, lalu masuk ke dalam cerek itu.

Bait 58 - Setelah berada dalam cerek itu. ditutup dengan perekat, dan sudah tertutup semuanya, cerek itu diambil segera dipanggang, di atas pedupaan, dan disiram minyak.

62 [ 62 ]Bait 59 - Maka apipun berkobar-kobar, seketika terbakar dan matilah, konon raksasa itu. ya mari disimpulkan sudah selesai dan sempurna semuanya. permasalahan sudah selesai tentang sang raksasa itu.

Bait 60 - Kini I Bharajana. Mantri Agung dan sudah diberi hadiah. karena sudah memberi daya upaya, sangat baik rahasia dan utamma. pantaslah dipakai kawan sepanjang masa. dan diberi kebebasan di desanya.

Bait 61 - Baginda raja sebagai penegak hukum. ingin mengundang. memanggil Rakrian Apatya, demikian digelari, orang yang dapat. kebijaksanaan diri dengan halus patut disucikan.

Bait 62 - Ya yang lain lagi, orang lahir sebagai seorang anak. karena perbuatannya yang akan mempunyai kegunaan yang baik. pandai dan bijaksana dengan ilmu pengetahuan, selalu akan mendapatkan keselamatan. tak akan layu sepanjang jaman. merupakan tempat orang yang mencari ilmu.

Bait 63 - Mengajarkan guna samadi sandi, memberi peringatan. laksana seorang berkawan karib. orang tidur dibangunkan. laksana memperingatkan. bakti kepada baginda raja, agar tidak terlanjur.

Bait 64 - Akibat hasil perbuatannya. kini Rakriyan Patya menjadi kaki tangan baginda raja, menjalankan tugas baginda. dan sudah diserahkan. dan sudah dipercayakan memperkuat. dan mengatur rakyat semuanya.

Bait 65 - Pikiran yang berguna di dunia ini, bagi rakyat sekalian. para juru dan para Mentri. adalah sifat sabar dan belas kasihan, dapat mengeluarkan senyum. agar


63 [ 63 ]dapat menarik, jiwa rakyat sekalian.

Bait 66 - Mempunyai rasa membela, sangat baik untuk menyayangi rakyat, diceritakan keesokan paginya, sang burung blibis putih, ia kembali menceritakan, kepada sang Bharajana, ya ada sesuatu bapak.

Bait 67 - Burung langlangbe di laut, berkeliling terbang tak menentu, sayap jantan betina, terjepit dan mereka basah kuyup, mungkin akan mati tenggelam, pada tiang perahu itu, karena perahu itu tiba-tiba kandas.

Bait 68 - Terdampar di tepi jurang, hancur di tepi pulau, ambil barang-barangnya bapak, dengan cepat I Bharajana, pergi ke sana lalu mengambil barang-barangnya, banyaklah barang-barang yang didapatkan, yang menyebabkan ia terkenal.

Bait 69 - Kini ia sangat terkenal, seluruh negeri membicarakannya, beritanya tersebar luas, sampai di istana, baginda raja mendengarnya, bahwa si Bharajana, kebanyakan harta benda.

Bait 70 - Yang menyebabkan ia mendapatkan, hasil tak ada tandingannya, setiap hari bertambah-tambah, hasil menangkap ikan, dikatakan dari hasil berjualan, konon yang agak aneh di sana, kebaikan burung blibis putih.

Bait 71 - Diceritakan sekarang, sudah sampai pada baginda raja, segera beliau mengutus, Rakriyan Patih memanggil, I Bharajana, serta ia, membawa burung blibis putih itu.


64 [ 64 ]Bait 72 - Diceritakan sudahlah dibawa ke istana, dipersembahkan ke istana, I Bharajana konon, sudah dianugrahinya, diberi kekuasaan, menjadi Mentri di daerahnya, diceritakan sang burung blibis putih itu.


65 [ 65 ]

VI PUPUH SINOM

Bait 1 - Setelah tiba di istana, Raden Putri memberi makan, dan beliau si cantik jelita, bernama Sudesnawati, burung blibis itu amat disayanginya, menjadi kesenangan Raden Galuh, selalu diperlakukannya dengan baik, adapun tingkah laku para wanita istana, bersenang-senang saja, memperbaiki hiasan rambut berhias.

Bait 2 - Serta memakai harum-haruman, demikian pula menari dan menyanyi, kebiasaan seorang putri muda, yang dapat menimbulkan rasa kasih sayang, hal itu yang selaJu diberi petunjuk, sebagai tingkah putri istana, entah berapa hari lamanya, pertapa itu menikmati keindahan, selama di san, dapat bersatu dengan Sang Dyah.

Bait 3 - Menuruti segala yang dikatakannya, kini tibalah Sasih Kapat, bertepatan saat bulan purnama, Raden Dewi menyucikan diri, mengatur keindahan taman kemudian Raden Galuh diliputi cinta asmara, tiba-tiba burung blibis itu mati, kemudian timbul, baginda raja Ari Dharma.

Bait 4 - Pikiran Raden Galuh amat gembira, kemudian bertemu cinta kasih, dilakukan pertemuan di tempat tidur, berdua saling bercumbu, karena melaksanakan semaragama untuk pertama kalinya, diliputi rasa kenikmatan, terasa dalam dunia asmara, kenikmatannya tak ada tandingannya, tetap diam di sana, siang dan malam.


66 [ 66 ]Bait 5 - Setelah bertemu raga, bersatu di atas tempat tidur, yang harum semerbak, beliau sang Ari Dharma, kembali menjadi blibis, seluruh para emban di istana, tak seorangpun yang menyangka sesuatu di sana, terhadap beliau Raden Putri, sudahmelakukan sanggama, dan sudah enam bulan lamanya.

Bait 6 - Agaknya Raden Putri kelihatan, sekarang sudah lesu, laksana kayu tidak berbunga, tiba-tiba sekarang sudah berisi, baginda raja pikirannya remuk redam, raja negara Bhoja, mengetahui kandungan putranya, karena sama sekali tak ada tanda-tandanya, saat itu kemudian, baginda raja berkaul.

Bait 7 - Lalu memanggil seluruh dukun, agar datang ke istana, mereka itu segera datang, menghadap baginda raja, kemudian mereka ditanyai, tentang penyakit Raden Galuh, semua mereka itu tak mengetahuinya, dengan segera baginda raja, kembali menyuruh, memanggil para pendeta.

Bait 8 - Setelah sang Pendeta datang, lalu berkata kepada baginda raja, ya Tuanku baginda raja, jangan Tuanku kuatir lagi, terhadap tingkah Raden Putri, anaknda Tuanku, karena ada cerita jaman dahulu. bernama Dyah Kamarupini, yang berada di Singha Manggala.

Bait 9 - Itulah konon negaranya, rajanya Prabu Kaniya terkenal sangat baik, benar-benar beliau seorang yang utama, tanda benderanya terukir, sebatang pohon teratai berkembang, yang tumbuh di atas sebuah batu, tanpa ada airnya, demikian kalau diandaikan, sangat tidak mungkin Tuanku, itu akan dapat menumbuhkan.


67

[ 67 ]Bait 10 - Tetapi ia tumbuh tanpa sebab, pikirkan Tuanku baik-baik, ingat-ingatkan kembali, tetapi beliau yang disadarkan itu, tak memperhatikannya sama sekali, makin sedih pikirannya, sangat sedih dan menderita, sama sekali tak terbayang, gelap gulita, pikirannya buntu.

Bait 11 - Pandangan baginda raja kabur, saat itu tiba-tiba datang, seorang penjaga ke istana, menghadap baginda raja, setelah sampai berdatang sembah, dan sudah menyampaikannya, ini ada seorang pendeta, bernama Resi Saraduan diam bersama-sama dengan seorang raksasa.

Bait 12 - Pendeta itu disuruh agar datang menghadap, kemudian ada pula tamu beliau, bernama Wiku Angampil seorang pertapa yang miskin, tubuhnya kurus dan pucat, suasana wajahnya sebagai orang ksatria, utusan itu kembali lagi, karena diutus memanggil pendeta itu.

Bait 13 - Kemudian keduanya sudah datang, berdua beriring-iringan, didahului oleh sang yang ada di tempat tidur, berkata beliau dengan halus, kata-katanya lancar manis, aduh Tuanku baginda raja, Tuanku tak berhasil, disalahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, beliau menyangka, membuat rasa mala tanpa alasan.

Bait 14 - Datangnya malapetaka itu, tak dapat dihindari, ditimpa suka dan duka, ya hamba ini, pendeta Tuanku, baru sekali melihatnya, tak dapat menerkanya, hamba kemudian berusaha, mencari-cari, minta tolong kepada kawan-kawan.

Bait 15 - Adapun pikiran baginda raja, benar-benar menyukarkan, kemudian seorang datang, tetapi orang ini ingin


68 [ 68 ]mencoba menyelidikinya, mencari penyakit baginda, tetapi mohon maaf, berhasil atau tidak sama-sama dipunyai, baginda raja melihat orang yang baru datang itu.

Bait 16 - Pikiran baginda raja, saat beliau memperhatikannya, bukan orang bodoh, tetapi orang yang bijaksana, laksana burung angsa mendekat, mendekati sungai atau danau, tingkah lakunya waspada terhadap kedudukan, waspada terhadap senyum manis, dilihat dari sikapnya, tak ada yang menyamainya.

Bait 17 - Jika dibandingkan, dengan para patih, karena wibawanya seperti pertapa, wajarlah kalau diiringkan oleh Menteri, disertai dengan segala perlengkapannya, tempat sirih dari emas telah dihaturkan, tampak gagah dan kaya raya, memakai tedung kuning, serta diapit oleh para bangsawan.

Bait 18 - Dengan menunjukkan tempat duduk, demikian yang diinginkan baginda raja, maka itu beliau berkata halus, tuan di sini kita duduk bersama-sama, orang yang dipanggil datang menghormat, setelah duduk bersama-sama. baginda raja kembali berkata, tuan pendatang, siapa nama tuan ini.

Bait 19 - Di mana negara tuan, ceritakan padaku semuanya, orang yang ditanyai lalu menyembah, adapun nama hamba ini, bemama sang Tapasa, bukan sebagai raja, karena hamba pengembara, berkeliling ke desa-desa, lembah dan ngarai, itu yang hamba lalui.

Bait 20 - Demikian pula sungai dan hutan, semak-semak juga lautan, di gunung tak pernah berhenti, berjalan menyusup hutan, berjalan sekehendak hati, kemudian mampir di tempat seorang Wiku, bemama Resi Paradwan, beliau kemudian menolongnya, agar turut.


69

[ 69 ]menghadap baginda raja.

Bait 21 - Untuk menghambakan diri, bagaimana halnya, tentang kesukaran Tuanku, baginda raja berkata halus, menceritakan dari asal mulanya, memperkirakan keadaan Raden Galuh, semuanya sudah diceritakan, saat itu Patih Madri, menyatukan pikiran, mengingatkan segala tingkah lakunya.

Bait 22 - Terasa dalam pikirannya, karena ia sudah lama, tak henti-hentinya memasuki hutan, mencari baginda raja Sri Dharma, mungkin beliau inilah, yang menodai sang Ayu, dimana mungkin orang lain, sebagai beliau Sang Aji, dan juga, sebagai baginda yang berkuasa itu.

Bait 23 - Raja yang makmur dan berwibawa, rakyat bahagia negara makmur, tak mungkin berani dimasuki, orang-orang jahat. Sekarang sang Pertapa, sambil menyembah lalu berkata, ya Tuanku saya dapat, dan sanggup menggambarkan, tentang orangnya, sehubungan penyakit putra Tuanku.

Bait 24 - Barangkali dimasuki, dan dikenai oleh orang yang melaksanakan ilmu hitam, konon terdapat binatang peliharaan, dipelihara dari dahulu, itulah yang disuruh. Tuanku ambil, lalu segera diperintahkan mengembil burung blibis itu, yang dinamai, si Tapatya.

Bait 25 - Segera dihadapkan kepada Raja, tersebutlah burung blibis itu, sudah terlihat mati, oleh Patih Madri, ah inilah burung itu, kau adalah junjunganku, tetapi sekarang sudah mati, tentu beliau bersembunyi lagi. demikianlah, pikirannya dalam hatinya.


70 [ 70 ]Bait 26 - Diceritakan raja Ari Dharma, bersembunyi di bunga teratai, bunga teratai yang dipegangnya, dipegang oleh Tuan Putri, sang Tapasa kembali berkata, ya Tuanku bginda raja, mayat burung blibis ini, tak masih ditempati, sudah kosong, bagaimana kehendak Tuanku.

Bait 27 - Kini hamba telah mengetahui, orang yang menyebabkan, kesedihan pikiran Tuanku, baginda raja bersabda kembali, terserah kepada kau sekarang ini, saya menyerahkan sepenuhnya, bagaimana caramu, saya akan menurutinya, jika masih ada, sesuatu dalam pikiranmu.

Bait 28 - Hendaknya kau agar mengusahakan, mencari hingga bertemu, ya teruskanlah olehmu, disuruhnya mendekati tempat Tuan Putri, saat memegang bunga teratai itu, baginda raja diminta, menghendaki bunga yang dipegang Tuan Putri, bunga teratai yang dipegang sang Dyah.

Bait 29 - Tatkala Tuan Putri, memegang bunga teratai itu, serta memangkunya dengan baik, kini sudah dihaturkannya, bunga itu oleh tuan Putri, kepada baginda raja, bunga itu segera layu, kembali Sri Aji Dharma pergi, lagi dari sana, dengan cepat berganti tempat diam.

Bait 30 - Adapun Sri Aji Dharma, ingin mempermalukannya, bersembunyi pada bunga gadung perhiasan, yang dipakai oleh Raden Putri, sampai di ujung rambut, rambut Sang Ayu, kemudian baginda raja diharapkan, meminta bunga gadung hiasan itu, setelah dipersembahkannya, bunga itu hancur tidak ada sebabnya.


71 [ 71 ]Bait 31 - Sri Aji Dharma berada di sebelah Raden Putri, beliau duduk disana, raja bersabda, dimana lagi diam, bencana itu tak ter lihat, sang Tapasa lalu menyembah, ia lagi berganti tempat Tuanku, sekarang ini Tuanku, berada padta sumping sang Dyah.

Bait 32 - Baginda raja menghendakinya, kemudian diambilnya, setelah dipersembahkan kepada baginda raja, semua bunga sumping tadi, yang berbau harum semerbak, tetapi kini tiba berbau busuk, para inang di istana heran, konon kembali diceritakan sang Aji Dharma, berubah tempat, di ujung mahkota sang Dyah.

Bait 33 - Baginda raja meminta, mengambil ujung mahkota itu, dan sudah dipersembahkannya kepada baginda raja, emas yang tua dan terukir, permatanya hancur berhamburan, berhamburan di hadapan baginda raja, karena sudah ditinggalkan, tiada ada sinar permata lagi, sinarnya redup, emas tidak bercahaya lagi.

Bait 34 - Kini sang Aji Dharma kembali, bersembunyi di tempat sirih, segera dimohonkan, agar itu diambil, yang sudah dimakan Raden Galuh, baginda raja menyuruh, menyerahkan pinang yang sudah dikunyah sang Putri, sudah dipersembahkan, dipegang oleh baginda raja.

Bait 35 - Setelah berada di tangan baginda raja, berubah menjadi genta yang bercahaya, baginda raja sangat kaget,kunyahan itu dibuang, kemudian di halaman kembali membara, raja Kertawangsa, cepat bersabda, aduh paman Patih, cepatlah, genta itu dibunuh.

Bait 36 - Saat itu semua, para Mentri, serempak masuk ke istana, masuk ke dalam kamar, membawa senjata su


72 [ 72 ]ligi, pemukul gada dan alat lainnya, adapun genta itu, berkobar-kobar menyelimuti tuan Putri, dan sudah terkenallah, musuh baginda raja itu.

Bait 37 - Terhadap suatu yang ada di istana, yaitu genta yang menyala-nyala, sang Resi Paradwan, ingin meminta pertolongan, kepada seorang pertapa yang sakti, maka bunyi-bunyian dipukul dengan keras, suaranya bertalu-talu berganti-ganti, semuanya ribut membawa panah dan keris, demikian juga alat pelempar, dan segala macam senjata.

Bait 38 - Mereka berjalan tergesa-gesa, laksana asap bila diandaikan, rakyat datang mengalir, tak ada yang dapat menghalanginya, datang berjejal-jejal, penuh sesak di jalan-jalan raya, di tanah lapang penuh sesak, yang lain ada yang berada di sekeliling, tembok, di batas istana itu.

Bait 39 - Tiba-tiba mereka takut, ribut hingar bingar dan lari mundur, karena sepanjang jalan api berkobar-kobar terlihat, menyala berkobar mengherankan, menyala-nyala membakar, panas yang amat sangat, sinar api bergulung-gulung, hal itu, disebabkan oleh sang genta.

Bait 40 - Sang Dyah memegangnya, menambah keelokannya, wajahnya kelihatan cantik molek, beliau sang Sudesnawati, putri negara Bhoja, pikiran was-was, dari seluruh penghuni istana, semuanya terheran-heran melihatnya, diceritakan cerita para Mentri-Mentri.

Bait 41 - Orang yang diperintah, oleh baginda raja tadi pagi, merusakkan genta itu, semua merasa takut, semua mereka itu keluar dari istana, dahulu-mendahului saling langgar, karena takut melihat, asap api, tiba-ti


73

[ 73 ]ba mengepul, bersatu bergulung-gulung.

Bait 42 - Sinar matahari, laksana diselimuti, dengan tiba-tiba tak seorang dapat berpikir, semuanya diam terheran-heran dan takut, seluruh mentri, laksana air laut pasang, dengan tiba-tiba sunyi sepi, diam tak berkata-kata, dan saat sudah berlalu, angin itu hilang.

Bait 43 - Seluruh penghuni istana, dahulu-mendahului mengambil, segala kepunyaannya, karena dalam pikirannya, menyangka pasti akan hancur, seluruh istana akan terbakar, demikian pikirannya, maka itu kini kacau, semuanya tak menentu, buyar terpencar kemana-mana.

Bait 44 - Yang lain ada yang ingin keluar, mereka berjalan berlari-lari, perasaannya kacau, karena mereka yang berjalan, laksana ada yang menghalanginya, oleh teman-temannya, susah kalau ingin keluar, ada yang benturan dan terjepit, ada yang lain di sana, meloncati tembok istana.

Bait 45 - Tersebutlah baginda raja Bhoja negara, beliau tak berpindah, pikirannya tetap dan berasa kasihan. melihat keadaan rakyatnya takut, disertai oleh Resi Paradwan, juga sang Tapasa bersama di sana, demikian seluruh kepercayaan keraton, seperti Rakrian Patih, baginda raja, halus bersabda.

Bait 46 - Aduh tuan yang saya sayangi, teruskanlah kasih tuan, tuan Batur Tapasa, perkataanku sekarang ini, pikiranku demikian, terhadap diri tuan, ya bila dapat dilanjutkan, belas kasihan tuan kepada saya sekarang ini, anakku Galuh akan aku berikan kepada tuan.

74 [ 74 ]Bait 47 - Sang Tapasa berkata sambil menyembah, ya tuanku baginda raja, mari anaknda persembahkan, kepada SangHyang Geni, pendeta Tuanku, agar memuja, Hyang Purwaka, mari mulai pekerjaan itu dilaksanakan, mamuja bersama-sama.

Bait 48 - Hamba turut serta, kemudian saat itu, perkataan baginda halus, kepada sang Maha Resi, dan yang disuruh itu telah menyanggupi, kini sudah memujanya, yang dipuja Sang Hyang Agni, baginda raja lalu mengaturkan bakti, diantar oleh mantra doa selamat.

Bait 49 - Sesudah semuanya selesai, segala tatalaksana doa selamat, seketika berkurang, kesedihan pikiran baginda raja, saat itu kemudian timbul, raja Ari Dharma, bersama-sama hilangnya api itu, bau harum semerbak, meliputi tempat itu, lalu jatuh bunga-bunga dari langit.

Bait 50 - Laksana hujan bunga, sebagai sang Hyang Citragotra sebenarnya, datang membalas, kebaikan budi sang Dharmapati, kemudian sekarang, dengan segera raja Bhoja menjemputnya, aduh Tuan jiwa hamba, apakah tuan Tuhan dari Sorga turun, Sang Hyang Guru, atau Tuan ini Hyang Wisnu.

Bait 51 - Sudi tuan datang memberitahu, kepada hamba yang bodoh minta dikasihani, Sri Ari Dharma berkata, janganlah Tuanku, berkata demikian sekarang ini, bila saya tidak memohon, mungkin saya akan terkutuk. memohon kata Tuanku, saya ini, adalah wangsa Ksatria.

Bait 52 - Tetapi saya adalah ksatria yang mengembara, tak kenal akan negara yang sebenarnya, di mana saya

75

[ 75 ]suka, di sanalah saya bermalam, selalu masuk hutan, di hutan-hutan yang sepi, demikian perjalanan hamba, sifat hamba ini, dan saya ini, bernama Batur Sasana.

Bait 53 - Asal mula diri hamba, kami pergi bersama saudara saya, pergi ke hutan, berdua dengan saya, adik saya bernama, Batur Tapasa tuanku, dan yang lain tentang tempat tinggal, saudara saya ini, sebenarnya tuanku, sebagai saudara yang lebih kecil.

Bait 54 - Ken Madri berkata sambil menyembah, ya Tuanku baginda raja, raja negara Bhoja, adapun hamba ini, dianggap saudara yang lebih kecil, oleh orang yang datang diam-diam itu, datang ke istana ini, silahkan Tuanku melihatnya, dengan halus menjawab, raja Bhoja berkata.

Bait 55 - Aduh sangat bahagia bertemu pertama kalinya, berjumpa dengan tuan, tuan adalah anakku, O anakku Batur Sasana, teruskanlah kesediaan anakku, ayah sangat mengharap kan, kesediaan pikiran anaknda, kalau diandaikan laksana, kembang teratai, mendapat air.

Bait 56 - Ya diamlah anaknda disini, dan beristana di sini, upacara selamatan diadakan, diceritakan saat ini, semua tatacara, tentang perkawinan dilaksanakan, didoakan oleh Mpu Danghyang, dan ke dua penganten itu, laki perempuan, berduaan di istana.

Bait 57 - Tiba-tiba datang, tontonan bermacam-macam jenis, maka bergantilah segala kedukaan sudah, orang-orang istana gembira ria, rakyat dan Mentri ramai, yang berada di luar istana sangat ramai, semua ber-

76 [ 76 ]gembira, lalu lalang berulang-ulang, sangat gembira, bukan hanya satu dua tiga kali.

Bait 58 - Semua mengaturkan sesajen, yang lain para istri, para emban semuanya duduk, membawa bermacam-macam upacara, indah gemilang serta sangat serasi, tak terhitung banyaknya, laksana bergunung bunga, upacara sudah dilaksanakan, dan sudah selesai, upacara dijalankan.

Bait 59 - Kehendak baginda raja, kemudian agar selanjutnya, menggantikan menjadi raja, menjadi raja dengan permaisurinya, diharapkan untuk memerintah negara, setelah selesai diberi gelar, kemudian orang yang diminta menolaknya, saat itu beliau mohon diri, bila sudah, selesai batas waktunya diam di hutan.

Bait 60 - Batasnya hanya lagi tiga belas hari, sebenarnya mereka berdua dikehendaki oleh baginda raja, agar mau salah satu dari mereka, untuk memerintah negara, kedua mereka itu tak bersedia, kemudian ceritakan keesokan harinya, mohon diri kepada baginda raja, dan raja Ari, mohon diri kepada sang Dyah.

Bait 61 - Kemudian bertukar kunyahan, dan bertukar cincin, disamping itu beliau memberikan, bila kelak kemudian hari lahir, putra Raden Dewi, sudah diberi nama, adapun sang Dyah, wajahnya sangat sedih, bersungut-sungut, dan mereka berdua sudah berangkat.

77 [ 77 ]VII. PUPUH GINANTI

Bait 1 - Mereka berdua sudah pergi, perjalanannya sudah jauh dan terus berjalan, kini terlihat, sebuah jurung dan titian, terbentang di atas jurang itu, tempat orang yang melintasi jurang itu.

Bait 2 - Terlihat seorang wanita, diam di batas titian itu, tujuannya di sana menunggu, orang yang melintasi titian itu, ia adalah seorang yang cantik molek, kecantikannya tak ada bandingannya.

Bait 3 - Sehari-harian ia menunggu di sana, setiap orang liwat , ia selalu ditanyai, apa mungkin bisa mengobati, kini datang Sri Ari Dharma, datang dari arah utara.

Bait 4 - Mereka berdua langsung berjalan, dan kini telah
sampai di titian itu, kemudian berjalan pelan-pelan, tiba di sisi bagian selatan, orang yang menunggu disana lalu memberhentikannya, sambil memegang dan menggoyang-goyangkannya.

Bait 5 - Baginda raja tersentak, lalu beliau berhenti berjalan, berdiri pada titian itu, Rakrian Madri berkata pelan-pelan, bagaimana keadaan ini tuan, orang yang memberhentikannya heran melihatnya.

Bait 6 - Wajah orang yang baru datang itu, kemudian ia terhenyak dan salah sangka, disangkanya seorang Dewa, lalu berkata halus, ya Tuanku siapa Tuanku ini, baru sekarang Tuanku datang kemari.

78 [ 78 ]Bait 7 - Kalau hamba tidak keliru, Tuanku adalah seorang Resi, pendeta yang bijaksana dan berwibawa, adapun hamba menghentikan perjalanan Tuanku, hanya hamba mohon, kepada Tuanku sekarang ini.

Bait 8 - Agar Tuanku mengetahuinya, pekerjaan hamba disini, siang malam menunggu, tak sehari pun berpindah, menghadang setiap orang yang Iiwat, menanyakan tentang keahliannya.

Bait 9 - Kepada orang yang pandai tentang pengobatan, mungkin ia tahu mengobati, karena junjungan hamba, sang Dyah Kumudawati, yaitu nama beliau yang sakit, tak dapat berkata-kata.

Bait 10 - Tak dapat berkata-kata, itu yang saya kehendaki, yang hamba pentingkan, orang yang sanggup mengobati, penyakit sang Dyah, dan sudah banyak melakukan dahulu.

Bait 11 - Sudah datang dukun usada, diantaranya Siwa Bhuda, selurug para ksatria, datang mengobati, juga tak ada yang menyembuhkannya, entah sudah berapa tahun lamanya begini.

Bait 12 - Hamba di sini menunggu, melakukan ini sebagai sekarang, hamba adalah seorang pelayan, meladeni Raden Putri, nama hamba adalah Ugrawati, dan hamba adalah anak sang sumantri.

Bait 13 - Ya bagaimana tuan, tentang permohonan hamba ini, apakah tuan tak mau menjawabnya, apakah tuan bersedia, menerima permintaan hamba, Ken Madri lalu menjawab.

79

[ 79 ]Bait 14 - Ya tuan yang minta pertolongan, bagaimana wajahnya, yaitu wajah beliau sang Dyah, bila dibandingkan dengan bunga-bungaan, jika dilihat dari wangsanya, bagaimana keadaan wangsanya.

Bait 15 - Apakah menarik di laut maupun di hutan, orang yang menunggu itu menjawab, kata-katanya manis dan pelan-pelan, ya sudi tuan memaafkan, tentang isi kata-kata hamba, bila di cari pada bunga-bungaan.

Bait 16 - Segala yang membuat rasa taajub, serta yang menimbulkan rasa cinta, tak ada samanya dari pikiran, yaitu pikiran raden Putri, junjungan hamba itu, dan ini lihatlah gambaran ini.

Bait 17 - Gambar ini adalah gambar beliau Putri Ayu, tetapi bila Tuanku menyanggupinya, hamba akan menyerahkannya, ya akan hamba serahkan sekarang, mungkin akan berkenan di hati Tuanku, sekarang mari kita berangkat.

Bait 18 - Demikian kata-katanya, perkataan Dyah Ugrawati. orang diberi gambar, gambar raden Putri, laksana pikirannya tertarik, ya baiklah.

Bait 19 - Sang Tapasa kembali kerbata, ya tuan sang Dyah Ari,junjungan saya telah menyanggupinya, dan beliau dinamai, tak lain adalah Batur Sasana, dan permintaanmu dipenuhi.

Bait 20 - Ken Ugrawati berjalan, tak diceritakan di perjalanan, konon sudah tiba di negerinya, bernama negara Jambawati, rajanya bernama Sri Dwepasanta, dan beliaulah yang disungsung.

80 [ 80 ]Bait 21 - Tatkala sudah disampaikan, tentang ada orang yang menyanggupinya, untuk mengobati sang Dyah, lalu diutus untuk memanggilnya, segera sudahlah tiba, langsung, menuju ke tempat sang Dewi.

Bait 22 - Di tempat raden Galuh, yaitu di Panti Mandala tempatnya, penyakitnya tak dapat bersuara, tempat tinggalnya terkurung, seluruhnya berbatasan dengan kaca, memakai klambu kain sutra yang berkilauan.

Bait 23 - Kain sutra rangkap tujuh, bayangan-bayangan laksana sebuah tenda, yang menjadi tempat sang Dyah, dari sanalah semuanya terlihat, setiap orang yang mengadakan pembicaraan, sang Ugrawati datang menghadap.

81 [ 81 ]

VIII. PUPUH SINOM

Bait 1 - Bersama sang Tapasa, demikian juga Batur Sasana, sudah mereka masuk, diiringkan oleh pelayannya, mereka semuanya menghadap di serambi, di hadapan Raden Galuh, semuanya duduk dengan tertib sambil memegang perlengkapan, sangat serasi, sebagai tatalaku kaum wanita.

Bait 2 - Di sana berbincang-bincang, tentang keutamaan ilmu pengetahuan, sang Batur Sasana, hanya menunggu, sang Dewi berkata, sang Tapasa turut serta di sana, dengan tanda gerak mata, sang Tapasa telah mengetahuinya, karena beliau benar-benar, pandai dan sangat tanggap.

Bait 3 - Tahu akan arti pandangan mata, lalu masuk ke istana, Ugrawati diperintahkan, agar ada jalan, untuk bercerita, Ugrawati berkata sambil menyembah, Tuanku, hamba mohon Tuanku bercerita, sang Tapasa berkata halus, dahulu ada orang bersaudara.

Bait 4 - Tiga orang bersaudara, kesenangannya berbuat jahat hanya mencuri, hanya itu pekerjaannya, kerjanya setiap hari, suatu malam mereka bersepakat, setelah berhasil mencuri, mendapat harta benda, mereka berkeinginan, segera menanamnya, di tempat yang jauh dan sukar.

Bait 5 - Agar di tempat itu sunyi, kala menanam tak ada orang yang tahu, sebab akan menanam emas, agar

82 [ 82 ]tak ada orang yang melihatnya, sebaiknya di tepi hutan, di sana tempat yang sepi dan sunyi, lagi pula di dekat kuburan, tak ada seorangpun pergi ke sana karena takut, dengan mayat yang berserakan.

Bait 6 - Tentu tak akan ada orang yang pergi ke sana, tak ada yang akan mengganggu, demikian hasil persetujuannya, tiba saatnya hari senja, diceritakan pula, ada seorang pencuri yang lain, mendengarkan perundingan mereka bertiga, orang yang mengintipnya itu dengan segera, pergi menyelinap, mendahului tiba di kuburan.

Bait 7 - Setibanya di kuburan, kemudian ia berguling-guling bersembunyi di sela-sela mayat, tengah malam tiba, sampailah ketiga penjahat tadi, di sana kembali berunding, ke tiganya berbisik-bisik, kalau-kalau ada orang yang masih hidup, berbaur di tempat itu, bersembunyi di sela-sela mayat.

Bait 8 - Periksalah baik-baik, perhatikan dengan seksama, yang ada di kuburan itu, bila tak ada baru kita memulainya, menanam emas di sini, kemudian diperiksanya, seluruh kepala mayat, semua dipukul-pukul, dengan memakai, ujung kapak yang tajam.

Bait 9 - Dipukulnya satu persatu, tetapi kebetulan, kena kepala orang yang bersembunyi dalam mayat itu, sampai bermandikan darah, hingga ia tak sadarkan diri, diam menahan rasa sakit, tidak bergerak-gerak, hingga tak diketahuinya, akhirnya jadilah, ke tiga orang itu menanam benda itu.

Bait 10 - Setelah selesai menanam emas itu, ketiga orang tersebut lalu pulang, masih orang yang terkena kapak, kini mulai sadarkan diri, tersiram darah berbau bu

83

[ 83 ]suk, dengan rasa payah memaksakan diri untuk bangun, bangun sambil menggosok-gosok matanya, pelan-pelan membuka matanya, karena mengira, orang yang menunggunya masih di sana.

Bait 11 - Diam sambil mencari daya upaya, lalu berjalan pelan-pelan, karena sekarang sudah jelas, terlihat olehnya, dengan cepat dikeruk, lubang sudah dibuka, seluruh isinya, kemudian dibawanya pulang, tak diceritakan lagi, diceritakan keesokan harinya.

Bait 12 - Pencuri yang berjumlah tiga orang itu, pagi-pagi melihatnya, dilihatnya lubang telah terbongkar, kosong melompong, tetapi dilihatnya darah, kemudian yang tertua berkata, menurut pikiranku kita pergi, ke desa-desa sekarang ini, menelusuri, dan usahakan mencari akal.

Bait 13 - Karena ada tanda-tandanya, di sini terdapat tanda darah, mari bagi perjalanan ini, untuk berusaha mencari, mencari orang yang mengambilnya, hingga diketahui tempatnya, di pasar kita cari, dicari di tempat orang yang menjual obat, di tempat dukun, di tempat orang yang menjalankan pengobatan.

Bait 14 - Di rumah sang dukun, periksalah di sana baik-baik, demikian pula pada dukun yang mengobati orang luka, di semua tempat dicari, kemudian dicari semua arah, cari hingga ke rumahnya, dan berani membela dengan darah, bila ia mempertahankannya, demikian persetujuannya, dan kemudian sekarang mereka bersiap-siap.

Bait 15 - Kini mari kita ceritakan, menuju rumah orang yang luka itu, diketahui oleh istrinya, bahwa suaminya sedang tidur, orang yang mengambil barang-barang ta


84 [ 84 ]di pagi, ia. dapat dikejar, si jahat itu dijumpainya. tidur membelit membelakangi. serta berselimut, membelakangi sinar matahari.

Bait 16 - Dipanggil dan digoncang-goncangkan, mereka bertiga membangunkannya, pencuri itu pakaiannya dibuka, selimutnya dilepaskannya, hingga kerudungnya diambil, kala itu ia bangun lalu duduk. wajahnya merah padam, tersenyum masam, semua tersenyum, seluruh orang yang mendengarkannya.

Bait 17- Ada pula yang berkata. O Sang Wiku karena gagahnya, setelah bercerita. Ni Ken Ugrawati tersenyum. kemudian bertanya kembali. kepada Sang Tapasa dan berkata, karena sekarang sudah dijumpai. benda benda yang dicurinya itu. ya Tuanku. bagaimana akhirnya.

Bait 18 - Adapun masalahnya begini. apa yang akan dikembalikan lagi, Sang Tapasa berkata pelan-pelan. bila aku yang memutuskannya, keempat pencuri itu sama sama sudah dapat, Sang Batur Sasana men]awab. orang yang merencanakannya justru yang jahat. ribut dan bertengkar di tempat sepi, Raden Galuh. segera menjibir.

Bait 19 - Adapun beliau sang Dyah, Sang Ratna Kumudawati. mengerti lalu berkata, namun sedikit berbeda, laksana guntur dibarat yang pelan-pelan, Raden Galuh berkata, pada diri saya sedikit berbeda pikiran, sebenarnya pada orang yang terlukalah, diberikan semua itu, karena ia sudah mengorbankan pikirannya.

Bait 20 - Apa sebabnya tuan bersenda gurau, sang Batur Sasana tersenyum, tersenyum manis, Ugrawati diberi tan-

                                  85 [ 85 ]da, Ugrawati menyembah, sambil berkata halus, ya Tuanku Sang Tapasa, sudilah Tuanku bercerita lagi, saya mendengarkannya, gembira dan menyenangkan hati.

Bait 21 - Sang Tapasa tersenyum berkata, ya saya akan bercerita kembali, ada sepotong kayu persegi empat, tertanam di pinggir jalan, tiba-tiba ada pula. seorang lewat di sana, meliwati jalan itu, seorang ahli bangunan. ia seorang tukang pahat, berhenti di potongan kayu itu.

Bait - 22 Akhirnya pikirannya tertarik. potongan kayu itu lalu diukir. diujudkan sebagai seorang bidadari, wajahnya cantik jelita, setelah tukang ukir itu pergi, datanglah seorang pedagang, memberi kain patung kayu itu, yang lain ada pula yang memberi perhiasan. gelang kalung, cincin dan bunga.

Bait 23 - Tiba-tiba datang seorang pendeta, mempunyai mantra sangat bertuah. benar-benar sidhi wakbajra. beliau sangat belas kasihan melihatnya. melihat kayu itu. kemudian dimantrai, dikeluarkannya mantra yang sakti. kemudian ia menjadi manusia yang hidup. dan sangat sempurna. Ken Ugrawati berkata.

Bait 24 - Apa akibatnya hal itu, terhadap orang yang sudi menghidupkannya, karena hal itu dikatakan nista, dikatakan sangat berdosa. sang Pandita memberikan hidup, berkata sang Tapasa Wiku, menurut pikiran saya, tukang ukir dahulu itu, karena ialah, yang memulai penyebabnya.

Bait 25 - Ialah yang seharusnya mendapat hasil, Sang Batur Sasana menjawab, hal ini bukan demikian, menurut kakak, sepatutnyalah beliau Sang Resi, karena beliau

86 [ 86 ]lah yang dikatakan, memberikan hidup, konon Raden Putri, Sang Jelita, Putri Sri Jambawaty.

Bait 26 - Dengan wama bibir kemerahan, gigi laksana biji delima putih, sinar mata laksana sinar kilat, banyak kalau dibicarakan, yang menghalangi kata-kata sang Dewi, segala tingkah laku di istana, atas perkataan sang Dyah, Sang Batur Sasana terkena, atas sindirannya, sebagai tekanan ucapan Sang Dyah.

Bait 27 - Dengan sangat bernafsu Ken Ugrawati, menyembah sambil berkata pelan-pelan, kembali memohon cerita ditujukan kepada Batur Tapasa, agar kembali bercerita, pikirannya sangat senang mendengarkannya, Sang Tapasa tersenyum. kemudian berkata halus, apa sebabnya. kamu sendiri yang senang.

Bait 28 - Adapun junjunganmu, apakah suka mendengarkannya, sebab ia sudah. dapat berkata-kata sekarang ini, sebab itu sebaiknya tanyakan kepada beliau, Raden Putri menganggukkan kepala, serta memberi tanda dengan mata. Ugrawati mengetahuinya, dengan cepat berkata, silahkan Sang Wiku bercerita.

Bait 29 - Adapun junjungan hamba ini, juga ingin mendengarkannya, Sang Tapasa menjawab dengan segera. senangkanlah hati tuan, dengarkanlah baik-baik. sekarang saya akan bercerita, ya konon ada suatu cerita. orang bersaudara, bersaudara bertiga, yang ibu bapaknya satu.

Bait 30 - Namun semuanya berbeda, kelakuan ke tiga orang itu. di desa Yugapada, desa orang-orang itu, yang terkecil bemama, si Durlatha, perbuatannya sangat jahat, tak henti-hentinya ia mencuri, di samping itu, tersohor amat sakti.

87 [ 87 ]Bait 31 - Demikian juga ia bisa berubah rupa, menjelma menjadi bermacam-macam, burung binatang atau kumamang, dimasuki roh pencuri, walau kekayaan seseorang tersembunyi mampu ia mendapatkannya,mengambil kepunyaan orang lain, seperti emas dan uang. sangat bahagia, tak kurang harta benda.

Bait 32 - Anak istri serta keluarganya, sekeluarga semua bahagia. tak kurang makan dan pakaian. dari hasil curiannya. dan yang lain saudaranya di tengah, bemarna Wesaka. kepandaiannya mengukir. antara lain membuat patung, pekerjaannya mencangkul, di sawah dan memecah kayu.

Bait 33 - Penghasilannya cukup, hasilnya inilah yang dimakan. anak istrinya bahagia, orang-orang desanya semua karib. teman-temannya betas kasihan, kenalannya semua hormat, semuanya senang dan membantunya. diceritakan yang ke dua ini, sangat senang dengan ajaran-ajaran sastra.

Bait 34 - Namanya I Tapasa, asik bertapa, pergi menuju gunung dan hutan, tak beristri, benar-benar tak kawin, kesenangan duniawi, semua itu dihindarinya, yang selalu dipelajari tentang kesucian, makan dan tidur, yang sangat dikuranginya.

Bait 35 - Yang selalu diresapinya, memikirkan rnenjelma sebagai manusia, menyelesaikan tugas-tugas kemanusiaan. ingin sampai mati, di gunung alas ini, hanya sekian sudah selesai. cerita yang saya paparkan, tuan sang Putri jelita. yang mana itu, yang tuan kehendaki.

Bait 36 - Ken Ugrawati menjawab, saya akan memilih, adalah perbuatan pencuri yang berbuat kejahatan, karena

88 [ 88 ]amat sakti, segala kehendak tercapai. Batur Sasana menjawab, bila kakak sangat berbeda, karena akan banyak terdengar, siapa tahu. mungkin negara ini yang didapatkan.

Bait 37 - Nasib sekarang mendapatkan kesukaan. kemudian hari penderitaan yang akan didapatkan. memang benar-benar yang ke dua. penghasilannya, memang hanya, dimakan secukupnya. itulah yang merupakan makanan yang sempurna. suci dan halal, tak ada yang merintanginya, yang dipelihara. itulah yang dipakai dan itu yang dimakan.

Bait 38 - Raden Putri bersabda. Sang Ratna Kusumadawati berhias bunga yang harum. pikiran Sang Putri telah terpusat, satyabrata tak tergoyahkan maka itu beliau bersabda halus, benar sang Tapa Brata. nirwana yang dicita-citakan, yang pergi ke gunung. ia berani mempertaruhkan jiwa.

Bait 39 - Agar dapat sesuai dengan arah tujuan. sebab kita menjadi manusia, benar-benar tak dapat ditentukan. berapa lamanya hidup ini. tak beda dengan. orang menjelma tiga bersaudara. ibu bapaknya berbeda sifat, berbeda tujuan. selesailah kata-kata Sang Dyah

Bait 40 - Sang Batur Sasana, pikirannya sangat tergetar. mendengarkan kata-kata sang gadis. betul-betul bijaksana dengan ilmu, rasa Jekat di hatinya tumbuh. hatinya jatuh cinta, tambahan lagi akan wajah sang Dyah, cantik tak ada bandingannya. pandangan matanya manis, pertama kalinya bisa berkata.

Bait 41 - Laksana Sang Hyang Saraswati. sebagai kata pengarang, para pelayannya gembira. karena baru pertama kalinya mereka melihat. wajah Tuan Dewi laksana sudah, jiwanya kena tarikan. diembus oleh jiwa

89 [ 89 ]sakti, sudah disampaikan, kepada baginda raja.

Bait 42 - Dan sudah diberitahukan, tentang keadaan tuan putri, telah sembuh dan dapat berbicara, laksana guruh, di siang bolong, yang telah memutuskan cinta kasih, baginda raja sangat gembira, raja Jambhawati, kemudian beliau keluar istana, dan sudah mengutus mengundang para Mpu Danghyang.

Bait 43 - Sampai pada Manca dan Tandamantri, sampai para Adipati, karena tak ingin mengingkari, janji dahulu, orang yang dapat mengambil Raden Putri, bila dapat menyembuhkan dengan baik, hal yang ke tiga, adanya sayembara untuk Raden Putri, sudah semua berhasil, dan kini semuanya sudah terpenuhi.

Bait 44 - Segera pekerjaan baginda dilaksanakan, karena semua sudah tersedia, alat upacara penuh sesak, tak ada alat upacara yang dikurangi, kain sutra yang indah-indah, permata indah berkilauan, pakaian beraneka warna, benar-benar beraneka ragam, dan sudah naik, ke tempat pelaminan.

Bait 45 - Lengkap segala pakaian raja-raja, berkilau-kilauan dan gilang gemilang, penutup kepala berlapis-lapis, beserta berbagai tirai kain, terdiri dari sutra lapis tujuh, disinari sinar matahari, beliau berdua disucikan, dimantrai oleh Maharesi, pendeta Siwa, disertai pendeta Budha.

Bait 46 - Mantra selamat dikumandangkan, juga doa-doa, agar menjumpai keselamatan, ke dua laki istri, serta bahagia tak kurang suatu apa, beliau sudah dikawinkan, upacara keagungan dikumandangkan, suara bunyi bunyian sangat ramai, sayup-sayup, kendang dan gong semar pegulingan.

90 [ 90 ]Bait 47 - Banyak yang mengharap-harapkan, harapan untuk melihatnya, setelah selesai dimantrai, naik ke atas bale-bale yang harum, di rumah ukiran bertatahkan emas, rumah tempat perkawinan itu, diceritakan kedua penganten itu. sudah memadu kasih. cinta mencintai, bertemu kasih di tempat tidur.

Bait 48 - Laksana madu drawa, manisnya semanis gula pasir. tak henti-hentinya, merasakan rasa kasih sayang. tak henti-hentinya siang dan malam, memenuhi rasa asmara, bertemu di tempat tidur, kurang lebih lima setengah bulan, baginda raja, Ari Dharma ingin kembali pulang.

Bait 49 - Setelah dapat membuktikan, kebijaksanaan baginda. kini mohon diri ingin pulang, ke istana Bhojanegara. kepada mertua baginda. Raden Putri turut serta. Ugrawati tak dapat berpisah, diiringkan oleh patih Madri, mereka bersama-sama berempat, dan timbullah malapetaka karena nasib.

Bait 50 - Akhirnya berpisah, dengan orang diajak bersama-sama berjalan, semua karena kehendak Tuhan. menderita kesusahan, pergi sepanjang jalan. sambil bemyanyi-nyanyi, dan sudah jauh. perjalanan beliau itu. [ 91 ]IX. PUPUH DANGDANGGULA

Bait 1 - Jurang dalam diliwati, olehnya, Sang Maha Dewi berasa Ielah. pikirannya amat lesu, kemudian berteduh di bawah pohon kayu, di bawah pohon kayu ngindani, adapun beliau sang Ari Dharma, memangku Raden Galuh, patih Madri tidak berpisah, Ugrawati, di hadapan baginda raja, dan selalu memegang tempat kapur sirih.

Bait 2 - Raden Putri mual-mual, kemudian ditumpu dengan dada, di pangkuan baginda, saat itu kemudian baginda, disuruh memetik buah jambu, yang sedang lebat berbuah, tempatnya di puncak pohon, sebagai obat mual, karena baru pertama kali berjalan, lalu Sri Ari Dharma berkata. kakak tak bisa memanjat pohon.

Bait 3 - Saat itu berpikir-pikir. beliau, baginda raja, akhirnya baginda memanjatnya, karena sangat belas kasihan. terhadap Raden Dewi, setelah tiba di puncak pohon, terlihatlah mayat I Jahe, mayat itu kemudian dimasuki. olehnya. tubuh beliau tertinggal, tergeletak di tanah.

Bait 4 - Dengan cekatan meloncat, wajahnya, berupa irengan (kera hitam), saat itu ia memetik buah jambu. jambu rakta tersebut, tersebutlah Patih Madri kini, diliputi rasa cinta, rasa cinta asmara, hingga ia lupa, dirinya berkakak, terhadap baginda raja, Sang Dyah diperkosa.

92 [ 92 ]Bait 5 - Sang Dyah Kumudawati, saat itu, dipandang oleh Patih Madri, Raden Putri telah sadar, terhadap orang yang diliputi asmara, cinta asmara memuncak, saat itu tuan Putri bersedia-sedia, kemudian lari dengan cepat, Patih Madri, memasuki tubuh baginda raja, yang sudah menjadi mayat.

Bait 6 - Raden Putri terus dikejar, kemudian terlihat segala kejadian itu, dari atas pohon jambu, namun Raden Dewi, sudah dapat diselamatkan, agar kembali pulang, ke negara Jambhawati, diiringkan, oleh Ugrawati, maka Ken Madri menjadi sangat marah.

Bait 7 - Kini diceritakan Patih Madri, masuk, dalam pikiran nya, mendahului pergi ke istana, ke istana negara Bhoja, merayu Sang Dewi, karena yakin akan wajahnya, sebab wajahnya sebagai wajah baginda raja, adapun baginda sang Ari Dharma, kemudian, melaksanakan kekuatan, mempercepat jalan, mendahului orang yang mengambil badan wadaknya.

Bait 8 - Mencari daya upaya, mencari akal, menjadi seekor burung kakak tua, kemudian burung kakak tua itu, menuju negara Bhoja, tersebutlah sang Dewi, yang menjadi kembang istana, ialah Sudesnawati, saat berada di penghadapan, berada di sebuah tangga, sambil memangku putra beliau.

Bait 9 - Putranya masih kecil, yaitu Raden Putra, sangat mengharukan dan menyenangkan hati, selalu dipandangnya, seorang yang sudah lama ditinggalkan ayahnya, saat masih dalam kandungan, sudah diberi nama, Darma Mejaya, wajahnya bagus tak ada bandingannya, hanya beliaulah, yang patut menggantikan, baginda di negaranya.

93

[ 93 ]Bait 10 - Baginda raja sangat gembira. sang Kretawangsa, kala kelahiran. cucunya ini, negara Bhoja subur, wibawa negara bertambah-tambah. aman dan makmur, tibatiba datang seekor burung kakaktua. burung kakaktua itu. hinggap. di atas Raja Dewi, orang yang sedang bersama-sama putranya.

Bait 11 - Serta membawa cincin, lalu diserahkannya, pada jari tangannya. kini cincin sudah diterimanya, berasa belas kasihan dan berkata. ya adikku tuan, agar adinda mengetahuinya, sebenarnya saya adalah kakakmu. kakak raja Ari Dharma, memang sebenamya, suami dinda yang sehenarnya, dahulu berubah nama.

Bait 12 - Dinamai Batur Sasana, memakai pakaian. sebagai seorang pendeta. demikian pula ini sebuah cincin,tanda kakak dahulu, waktu kakak meninggalkanmu, Raden Dewi terhenyak, kala ia baru memperhatikan. cincin yang dipegangnya. diperhatikannya baik-baik, benar-benar beliau yang mempunyainya, menitiklah air matanya.

Bait 13 - Air matanya bercucuran keluar, sangat sedih, kangen kepada beliau. orang yang berganti ujud, akhirnya berkata halus. perkataannya keluar terputus-putus, apa yang menye babkan Tuanku, datang berkali-kali, berubah-ubah wajah, yang menyebabkan, pikiran hamba amat sedih, burung kakaktua menjawab.

Bait 14 - Aduh mas permataku kau, sangat menguatirkan. pikiranku, sekarang adik gar tabu, dengan keadaan yang lalu. hal ini dimulai oleh sang Tapasa. terlalu be rani kepada kakak, tak takut dengan raja, ia berani berbuat. tiba-tiba mengambil, badan wadag kakak. demikianlah perbuatannya.

94 [ 94 ]Bait 15 - Tentu sekarang ini, adikku, bila ia datang, si Patih Madri, yang memasuki tubuh kakak, buatlah daya upaya, karena terhadap kakak ia salah tingkah, kakak akan bersem bunyi terlebih dahulu bertengger di kayu yang besar itu, bila datang, buatlah daya upaya, hendaknya kau mencumbu sebaik-baiknya.

Bait 16 - Tiba-tiba yang membawa bencana itu datang, mendekati, tempat Sang Dyah, Sang Dyah menolak, kata-katanya halus, ya tuan jiwa atma kakak, kakak mohon kepada adik, sudilah Tuan menolongnya, mari kita bertemu, di tempat tidur. untuk mendapatkan kenikmatan pertemuan, raja putri menjawab.

Bait 17 - Aduh Tuanku baginda raja, saudara tuan, beliau sang Tapasa. tidak turut serta, Tuanku sudah tidak ingat, dahulu Tuanku mengatakan. Tuanku adalah kakak beliau, raja menjawab dengan pelan-pelan. mengapa sayangku tuan, tidak sudi, tidak belas kasihan terhadap kakak, terlalu lama kakak tidak makan.

Bait 18 - Tunggulah pertemuan kita adikku, coba serahkan, anak tuan, si kecil itu menangis, ingin akan dijauhkan dengan segera, ingin bersama-sama dengan bibinya, agar diajak pergi, dihentikan oleh baginda raja, raja siluman itu, jangan jauh-jauh. kakak akan menghibur sekarang tangis si kecil itu.

Bait 19 - Ya silahkan Tuanku, sangat menggembirakan, putra tuanku ini, kambing yang disenanginya, berdua dengan anaknya, yang bernama si Badasil, itulah yang Tuanku carikan, kemudian diperintahkan, membawanya dan sudah tiba, induk kambing itu, keduanya dengan si Badasil, itu Tuanku kerjakan.

95

[ 95 ]Bait 20 - Segera diperlakukan, agar bermain-main, si Badasil menggelutnya, dan agar ia yang menyusuinya, menyusui induknya, agar ada yang ditertawai, burung kakaktua itu tersenyum dalam hatinya, di mana ada jalan hal itu, induknya akan mau, mengisap susu, pada anak kambing itu, karena kambing itu berlain-lainan.

Bait 21 - Tidak mau menyusui, induknya, berkata Sang Dyah, hendaknya Tuanku memasuki, si Badasil itu, agar pikirannya bisa terbalik, tentu saja putra tuanku, akan senang dan tidak lagi ngambek, tidak lagi menangis berguling-guling, ya segeralah, hal itu tuanku masuki, bila putra Tuanku sudah diam.

Bait 22 - Saat itu mari kita, pergi ke tempat tidur, bersenang senang. Adapun siluman itu kini, segera memasuki, menjadi anak kambing, badan wadah baginda raja, sudah dilepaskan lagi, terlihat oleh burung kakaktua itu, dengan segera, sekarang memasukinya, kembali sebagai sedia kala.

96 [ 96 ]I. PUPUH DURMA

1. Purwakanya angurit kidung pisaca, ri kalaning sukra-manis, wuku merakihe kocap, pinuju sasih ping sapta, kresna-paksa panca-dasi, tanggal karwa, wulanyane januhari.

2. Tahunnyane yan kawuwus siyu sanga, pitung dasa nem jati. nanging riyin tiyang nunas, ledang ugi ngaksamayang. ratu ida dane sami, sang miharsa, kidung gurite puniki.

3. Inggih ndaweg titiang i kidung pandita, wesma loring rajyapuri, arya wangsa santana, dening mrih, karoredyan sapara santana mamj, krana milam bang, angurit pisaca kawi.

4. Sampun kanten paribasanyane matah, antuk loug tan sinipi. minta agung pangampura. katah langkung miwah kirang. reh tan ratep sujati, ring paribasa. langgana taler mangurit.

5.Ledangang singgih isinin ratu titiang, ngelanturang mangkin mangurit, anggen ican-icayan, lengkaranya ngatak wayah, kewanten manut akedik, nganut tembang. dong dinge mangde kari.

6. Crita kuna nuju Demung kawuwusa, nggawe carita puniki. mimit satwane kocapan, inggih wenten ta kocapan. Sang Nata sane malinggih, ring nagara, kangaran, Malawa neki.

7. Nagarane wibuh tur kreta raharja. wibuh bhoga wirya lewih. jati wibuh babaktian, sang sane nyeneng bupatiya. wangsa Mardawa apekik, lewihing solah, ngagem solah dharma jati.

8. Sasanening Sang Ratu ngawengku jagat. sami manggeh kamarginin, punika sane makrana, Ida sane kamanggehang. bhisekan

97 [ 97 ]Sri Narapati, Sri Aji Dhanna, pinuji ing wong sabumi.

9. Yen sawangang luya sahang pangasepan, ring pasepan sampun basmi, paripurna tan pacacad, dadi mijil wawangian, ambunyane sumar mrik, nudut manah, para panjake sinami.

10. Parajanane luya kadi kasabehan, antuk pasuecan Nrepati, luya tejan Sang Hyang Surya, Nyundarin makrana galang, idep ing sabala - argi, kalancahan, antuk kadharman Nrepati.

11. Sakancaning pasih gunung kasusupan tatan mari sida mukti, amukti punang. kalanguan, benjang semeng kacarita, makahyunan, newasraya ring udyani.

12. Maring taman malawa Parwata suniya, tan sah nggawa panah mingid, wantah nglanglang ulangunan, nuhut tepin ing udyana, sambeh nglubkub mambu mrik, panedeng sekar, ring taman lwir mendakin.

13. Luya ipun gumanti ngaturang gandanya, bakti nyembah ring Nrepati, mangaturang kulangunan, pakahyun Sang Naranata. puma lila luya kadi,siniratan, amretane mautami.

14. Sang Prabu nuwut munduk pagunungan, ngamunggahang ne mamargi, praya nyujur tatamanan, telaga luir danu linggah, klebutanya muncrat becik dayun pisan, mahegolan tempuh angin.

15. Tur makenyah kasunaran de Hyang Surya, sinah ring toyane ening, tan kocapan. jag kacingak, Sang Putri Nagini kaniya, ikuh sililglut kaksi, makaronan, saling jujuh saling kilit.

16. Maring taru tangi nyilib Ida nyerah, nyingidang mapulang asih, salulut Ida iriku, lawan ule-deles ika, mandeg Sang Prabhu ring margi, wawu nyingak, antuk tan patut pamargi.

98 [ 98 ]17. Bhoya patut sasanan Sang Nagaginiya, leteh anyolong karasmin, luya kadi tan totosan, turunan wangsa utama, I dewa nyalanang asih, pilulutan, tan manut ing krama jati.

18. Silihasih lawan ula-deles ika. letuh idep tan patanding, i dewa ane ngawanang, jaksanane ngawetwang, ngentikang sangharan gumi, ah uduh arah. keto kaucap di mumi.

19. Boyan sangkan ing i dewek miri ngatonang, krana bani manemahin ngenyagang musuh kancanya, satrune manesin jagat, malihnya waluya kadi, kasepenan, matra ring Hyang Nagapati.

20. Masih patut punika paripumayang, reh Ida angraksa bumi, sapunika pakahyunan, pangrasa jron ing cita, makadi Sri Dharmapati, tan critanan, gelis niwakang jemparing.

21. Telas pegat ida wusan pagelutnya i ule-deles iya mati. sang Nagagini icarita, sam pun kles, risaksana, kahetut tur kni kalantig, antuk panah, olih Sri Dharmapati.

22. Gelis adoh dening gupuh palaibnya, sang Nagagini sahatangis. budale maring patale, raris Ida nguningayang, ature "duh bapa aji, tambis ratu titiang, padem saking kalempangin."

23. Niki titiang putrin lungguh baparaja, ri sedek amupu sari, rika ring taman Malawa, prapta Sri Aji Dharma, Sang Sisian palungguh Aji, ne pinih sayang, makahyun apulang asih.

24. Ida wantah jagi marikosa titiang, nyonyon titiange kahambis, raris dukane ring titiang antuk tatan mangiringang, puniki titiang katitig, dewek benyah, setset keni kekket dwi.

25. Winaluya manjus titiang antuk erah, reh bas banget tan nyangkanin, Ida nigtig dewek titiange, kapungsang-pangsing ban panah, tan wenten piwolas ati, mangardi jengah, tan sah dados ucap gumi.

99 [ 99 ]26. Winaluya titiang tan wenten sentanan. wangsa tusning putri lewih. putrin Sang Hyang Antabhoga, san pinaka dasar jagat, makapakukuh ing bhumi" asapunika. antuk Ida matur uning.

27. Wikan ida malikang rasa agama. sinambi tan mari nangis. ingel-ingel aslegukan. toyan aksi tan sah mecat. Ida Sang Sri Nagapati. piduka ngarah. dumilah murub ring ati.

28. nggih punika sane sida mangawinang." ngelut putra tur masihin. kalih nyapsap toyan cingak. "meneng dewa duh mas mirah. cening. dewan bapa jati. puniki bapa. masatam bot mangencanin.

29. mangencanin satekan satru kancanya, duka Sri Ulapati. kabanda antuk pitresna. raket asihe ring putra. wireh nora wenten malih. ne kaheman. murub upas gni mijil.

30. Saking ahus cangkem ping kalih grana. ngawinang bakag kang aksi. bunter melodlod dumilah. prerahi kadi katepak. acreng kapecuk ring alis. mrenget galak. bawose jroning ati.

31. "ih cai nah ne jani lasyayang pisan. laluang jani idep cai. cai Prabhu Ari Dharma. punggung caine kaliwat. drohaka to cai.twara ja nawang. to cai ring guru putri .

32. Putran guru cai nagih marikosha. tong nawang sasana cai. twara nawang pajagatan, tan manut sasanan Nata, tingkah leteh papa weci. durlaksana". keto bawose ring ati.

33. Tumuli Ida ne mangkin mamarga rawuh ring bancingah nuli. Ida masalin rupa. jati lwir Brahmana, misadya mangdan diglis. nyujatiyang, mangkin wawu ngraseng ati.

34. Ring pakahyun luya kadi ring pangipian, punika keni gugonin. tan pasakni tan kacingak, wantah kahuningin. ngaraga. nuli Ida mangararis. mangkin mamarga. ngalih singse mamintonin.

100 [ 100 ]35. Nyadya marigda jati-jati sahuninga, ring jatin bawose nguni, sane sandang sutindihang, nyalunglungin swakarya. ne nyandang patut marginin. tan dadi ampah. tan critanan sane mangkin.

36. Malih Ida ne mangkin masalin wama. marupa lalipi alit. nyilib maring bale tengah, maring karang-gegaluhan. rika kajujur manyingid, Sri Ari Dharma,wus rawuh saking masuci.

37. Sabudale Ida saking masiram, sakadi gisu mamargi. sawang duka pakahyunan. sampun rawuh maring purian, nyujur kakarang kaputrin. smita sungkawa, nyujur ring bale malingih.

38. Rawuh rika Ida merem-reman, ring bak tengah ne mangkin. makahyunin rugan jagat, tan wangde pacang pangguhang anu smitan ing aksi. manis malenyad. nging tan lad sinah kari.

39. Sinah pisan smitane kari duka, sedih sajron ing ati. tyaga wang jro ngaturang. toya miwah pasucian, sahadulur usap rai. manampa dulang. kempu pasucian Sang Aji.

40. Mangkin rawuh sapara-rabhiniya, medek nembah ring Sang Aji. sahamijil atur ngasab, "lnggih ndawegang Ratu titiang. purun presangga ne mangkin, ngalungsurang. yan ke kapinih dadi.

41. Punapi sih sane manawi ngawinang. wenten pakopot ring galih, sasolah Ian swabhawa, bhinayan kantenang titiang. yan sahihang ngini-nguni, manise masawang. ngamirah lwir kadi brangti.

42. Nawi wenten sane mangawinang duka." ngandika Sri Narapati. kanyem smitane jengah, prarahine kauntulang." Dewa mas beline adi, pang sahuninga, ring jalaran beli runtik.

43. Duk beline ndewaseaya ka Malawa, mawastu beli mregokin. nyingak Ida guru putriya. putrin Sri Antabhoga. kanten anyolong karasmin, atemu raras, kalawan iyai ula tali.

101 [ 101 ]44. Lipi deles sida ban beli mademang, nging Ida Sang Nagagini, dadi Ida kena lempag, malayu tur tan marenan, tawan-tawan tangis, yan beli ngenehang, Ida mahatur piuning.

45. Nguningayang saking patut solah Ida, I Aji sinah nglinggihin, pitui solahe corah, ento ngawanan duhkita, di manah beline adi, tan pariwangdya kadi beli keni sisip.

46. Tur kapastu antuk Sang Hyang Nagaraja, becik yan, kabhaksa beli, apang mati jag pisanan, padayang ring keni temah, pungkur yan malih numadi, mangden kasidan, katemu mamarek malih.

47. Dening Ida sane tware sida pasah, panyungsungan ne bhaktinin, ne linggihang beli stata, mangda Ida ri wekasan, buin bakat sungsung beli, ne astawa, kapuji rahina-wengi.

48. Manggeh makaguru lewih ing utama, basbas saking sujati, Sang Nagini lewih dosa, iwang lempas ring sasana, salah sila aswami, ring ula tampar, reh Ida Naga-suwreti.

49. Yan binayang luir kadi Dewi Uma, nyawita ring wiku janmi, timpang murug larangan. tan patut laki punika, marabi ring Brahmani, tan manut tegak, pituwi anrangin gumi.

50. Ento ane mangaletehin nagara, rug kahayuwan nagari. "inggih mangkin sampun sida, kapiarsayang antuk Ida, olih Sang Hyang Nagapati, nika ngawinang, dukane kadi sapuhin.

51. Kenging putrin ida ne mangkin katiban, pidukane tatan kadi, kabawos ngadu pisuna. amunika raris lunga, kesah saking genahe ngingid, nyalin warna, mawesa Pandhita lewih.

52. Ring bancingah kaping pisan dnanyantosang, ngokasang Ida ne mangkin, ngaturin Ida Sang Nata, makadi Sri Naranata, madabdab bipraya mijil, kahandegang, antuk Ida pramiswari.

102 [ 102 ]53. Reh sangsaya sajron ing pakahyunan, katangeh Sang Prabhu sisip, nika krana kahandegang, nging Sang Nata ndatan arsa, sampun ring bancingah prapti, tur kacingak, Ida Sang Pandita lewih.

54. "Nggih sobhagya Sang Pandita ledang prapta, titiang saksat sampun manggih, kaletuhin ing solah, den ing titiang mahuninga, ne ring krama sila yukti, ne mangkin satsat, niki titiang malih murip.

55. Janten ayu dening titiang mamangguhang, pangrawuh sang Wiku suci, den ing adnyanane sukla, becik ida lugrahin titiang, mangde tan salantang urip, mamangguhang, parisolah, ne tan becik.

56. Nggih punika tan sida wyakti purna, ring manah titiang wyakti." ne mangkin sang Nagaraja, kadi ketus kahyun Ida, ri wawune mamiharshi, pamuji Ida, Prabhu Aji Dharma lewih.

57. Glis nimbal Ida Sang mraga Pandita, "kangen manah bapa cening, cening twi putran bapa, saja dewa twara nawang sawitran cening punika, Sang Nagaraja, twi cening tandruh jani.

58. Teken bapa reh bapa marupa satwa, nging wit dewata jati, ento twah ne ngawanang, bapa bisa nyalin rupa, sida asingasing kapti, yan basowang, ada makacihna jati,

59. Cihnan bapane ada manik utama, ambul taluh angsa patis nah ambulto gedenya, to dadi uparangganya, mungguh tungtung ikuh nguni, nah ne tarima bahang bapa ring cening.

60. Makajalaran kasidan sakabwatan, pikolihin bapa cening, purnayang kahyun i nanak, paringring pakahyun bapa, cening maripurna jani," kala punika, yatna sira Sri Aji.

103

[ 103 ]61. Sri Aji Dharma ngeb mangaturang sembah, ngelut pada sahatangis, nggih Hyang Guru mawecana, singgih Ratu, Sang pandita, daging ndaweg ampuranin, Ratu titiang, memargi i tambet mangkin.

62. Sapari-laksanan ika jugulan, nunas waralugran jati," Sang sinuhun mawecana, "Punapi pisadyang nanak, tan dadi bapa tan asih, sinah sida, bapa pacang managingin."

63. Sari Ari Dharma mangadpada nyumbah, tan lian sane kahapti, manunas waralugraha, kang Aji Samadi Krama, uning ring sarwan ing munyi, sarwa mambekan, kancan ing sarwa parani.

64. Tur nyidayang sida pacang masusupan, ring kancan sarwa gimitip, malih ring kancan pawakan," Sang Hyang Guru mangandika, "Nah sujati sida sidhi, ring tungtung lidah, ditu surat bapa cening.

65. Suba mungguh di tungtung lidah nanak nging ada kaketah buin, panugran bapa ring nanak, ede wera ring sang lian, apang cening ne mamingit, yan wera, tan wangde ngawanang pati."

66. Sapunika wacanan Sang Nagaraja, Prabhu Aji Dharma ngiring, ri sepi wus kawisikan, mlecat Hyang Nagaraja, mangkin tan bawosang. malih, crita Ida, Sri Prabhu Dharmapati.

67. Sane mangkin luya kawewehan, amretha wisya ring ati, karahatan ing duhkita, kasangsara kulangunan, jantos mapalih ne mangkin, kahyun Sang Nata, punika sane ngawanin.

68. Madabdaban Sang Nata pacangan budal, ka karang kaputren manjing, mamargi nyujur ngapuriang, mapakayun nemwang rasa, ring pamreman lawan rabi, tur kanggek Ida, ring ajeng song semut mangkin.

69. Reh kapireng swaranya nyerit masuryak, meme bapa braya wargi, pisaga lawan pawitra, mapiakan jak makejang, eda disisin songe nengil, luya nyalang, pamargan Sang Narapati. [ 104 ]70. Den ing twara ada kahi wangan, patute Ida pendakino yan pade cokore lompang, tan saking Ida pasueca, jalan ditu jaragin. rebut garang, briyukin sareng sami.

71. Ento kranane jani nyandang saratang, sareng sami jalan mlahib sapunika i semut samian, ngandup pada silih timbal. sawaranyane saling wihin, kapiharsha, antuk Sang Prabhu ne mangkin.

72. Kenyem Ida tumuli raris mamarga, sarawuhe ring Pramiswari. maring karang gegaluhan, ledang pada sami mendak. tangeh titiang tan mawali, pacang prapta. lungan Ratu Sri Narpathio"

73. Katah yan ing punika sami bawosang. pamujin sawong ingpuri, crita Prabhu Aji Dharma. sampun Ida kasarenano mremkiring Prameswari, kalintang ledang, nunggalang lulut karasmin.

74. Alep nyunyur ngamong raras kalangenan. kageti cecek mwani iya magnah. ring luluhur pamremano raris cecek mwani, mangantenang. tumuli mapajar aris.

75. "Aduh nyai somah beli dong talih ja. tingalin Sang Narapati. manunggalang karasmian, silih-asih nunggal arsa. nguyonan rempuh manis, ngresin manah, kala rahina agulingo

76. Nah jani idep beli wantah nyadya, nulad pamarg:an Sang Aji."nuli raris katunggangan, luh nyane mlaib enggal. gedeg luh nyane ngejohin. nemwani nyagjag. ndatan mari ngetut-buri.

77. Mangkin crita sampun reke katutugan. kagutgut ikuhne istrine luh ngumikmik tan arsa kahajakin nem uang smarao Ida Sri Ari Dharma manggih, ring sapolahnya. dadi ica Ida kenyir.

78. Sri Pramiswari dukane tan pira, sahantukan salit-tampio manyengguhang maring raga. tuna rasan ing patemuan. Sri Dewi

105 [ 105 ]mahatur kadi, sawang duka. "Duh Ratu Sang Nata Aji.

79. Punapi sih jati jati makawinan. dados mawetu ngguyonin. nawi lempas antuk titiang. mangiringan pakahyunan. nyelabang indik krasmin rasan sanggama, makawinan kaguyonin.

80. Mawecana Sang Nata, "Duh adi mirah. boya wenten kento adi. kadi wecanan Imirah. wirehning i dewa wantah, anggon beli dewan akal adi pascad, nyanggra kalulutan beli.

81. Yan ing solah twara ada katunayan, malih twara ada tanding, buat raras ing karasmian, duh mas beli tuah i dewa, adi make dewan ati. nggih sampunang, kadi adi walang ati.

82. Salah tarke ne tan sapira-pira, antuk beli kedek kenying, inggih munggwing kajatyannya. ada pingit kakemitang. warah ing Hyang teken beli. twara dadi wera, yadyan ada manakonin.

83. Pitengete suba sida kawastenang, kena upadraweng Widhi. tan pawali janma muah. keto mungguing palugrahan. ane malu teken beli, sat kemit jiwa, kasatyane gambel beli.

84. Satya ruhu amongang beli stata, linggan sang nyeneg Narapati. keto wacanan sang Nata, nering Pramiswari ida. Sang Dyah tan tujuing ati. ring wecanan. Narapati.

85. Mrih pisan buat kasadun ing cita. nyadya mangda kahuningin, wirang yan tan pawuningan, malih yan tan kawarahan. nglalu diasty ngemasin lasya seda, reh katengeh ngalinyokin.

86. Tur kabawos makadi ida Sang Nata, sampun anglesanin kapti, twara jati kalulutan, sang sane kasinengguhang, nglinyok nanging sujati, satyeng ujar, sang pitresnane jalanin.


106 [ 106 ]87. Yan ing saking pituine margiang, yan Ida nuturang jati. tan wande ngemasin pejah, pitarane tan kasupat. nemu papa dahat weci, kasangsaran. pada teguh kahyun kalih.

88. Pada teguh pada kedeh purun pacang, nindihin satya sang kalih, angetohang pramajiwa, mijil Ida saking puryan. matuntun tangan sang kalih, lanang-istriya. rawuh ring bencingah nuli.

89. Maputusan ndawuhin Rakriyan Madriya. sang makmukyan ing mantri, sujati prajnya susila, kebekin naya wiweka. patut sarnetonan ugi, de Sang Nata, adeg lanjar smita manis.

90. Bagus anom prewira tur purusa. nut selwan Sang Narapati. Si Rakriyan Patih Madriya, glis rawuh sahasembah. ring bukpadan Sang Nrepati, Aji Dharma mawecana kasarengin.

91. Antuk Dyah Rupini tan sah akarwan. "Nah adi clini malinggih. sang Kasapa raris nembah. nguntul tan wani lumyat. mawecana Sang Nata Aji. "Krana mabuat. nira ngesengin ne jani.

92. Apang parnan mresidayang maragatang. nangunang gawene jani, dawuhin ketog makejang. para Mantri Bawudanda. nahan tungkas bedik, ring gustin paman. ring i yadi Pramiswari.

93. Ida pacang makahyun mapramasatya. nglalu malabuh aghni. nyalanang stya wecana, nira twah mamisadya: nyarengin rabi, nto cadangang, ngawe pawon tangos api.

94. Apang suba maisi api ngarabrab, panggungan gawenang malih. wawangunan trajangan; palayah tangos inanira. dawuhin apang diglis, a tag makejang, panjake apang digati

95. Kainemegan kahyun dane Patih Madriya, tumuli nyembah tur pamit, medal raris nabdab karya, saksana ne mangkin katah.

107 [ 107 ]Mantri Bawudanda prapti, asliweran, tan kedikan nyabran enjing.

96. Bhoya wenten karya sane makobetang, antuk wibuh wadwa aji, panggung-panggungane pada, sinamyan asri kacingak, trajangan tegeh ngangkelik, tur makebat, lantarane pramadani.

97. Malaluwur permas wilise punika, ringringnyane Iombeng lewih, wangunan mapanta sapta, sutra manjeti tilamnya, Iangse ne mrik sumirit, ne malakar, sutra mukir patra tangi.

98. Masambir mas cina-witur asin pisan, ider-ider sutra lengis, ngiterin balene samiyan, mutiara mas masoca, gegrantimane pasrining, magrentengan, busung ambune umirir.

99. Muncul-muncul antuk wastra komala, manguredep tempuh angin, aluwur sutra widruma, sutra putih tur rinenda, dumilah suteja ngendih sopacara, sami pada ked as resik.

100. Sampun nyalig tur angsah kang natar, sentra sinami pada kakikis, padang pada katiasang, batu-batu karatayang karatayang kapalidpid, raris kasiram, sambehin byase nuili.

101. Sam pun rata natar dangsah keted pisan, sane mangkin kasambehin, antuk asan ing sekar, kecabcabin wawangian, Ielepukan dupa wangi, mahadukan, asep-menyan lan astanggi.

102. Danar-asep taru garu Ian candana, majagawune tan kari, mrik ngalubkub ebonya, sapunika pretingkahnya, natar setrene malengis, sarajabrana, talas ane lewih-lewih.

103. Rajapeni mas salaka ratna mulya, punika sane makadi, apuniyang antuk Sang Nata, sareng lawan Prameswarya, ngebek dana-punya sami, wantah mangdan, kasidan becik ring margi.

108 [ 108 ]104. Ring Sang Wiku sida sidhi Siwa Boda, kalawan Bujangga Resi, taler katuran papuniyan, mas masoca lawan wastra, sampun dumilah kang gni, ring pasepan, crita Sri Narapati.

105. Sareng Ida Sri Dewi Prameswarya. antutunan tangan kalih, mangamarginin lantaran, maring panggung raris munggah. Sang Prabu kalih Ian istri, bilih ayat Ida. nyeburang ragane mangkin.

106. Kaget rawuh wenten kambing ipun medal saking ebete gumante nyujur katepin ing setra, ipun taler makarnan, mamanah pacang mabalih, kocap madan, Sri Maliniya sane laki.

107. Ni Manggali adan ipun sane lwa. sane luh mapajar aris. "Duh pan cening dong alihang. gagrentengan ambun tragtag, ne di panggunge pan cening, to dotang icang, nyud nglud nudut hati.

108. Buka twara icang liang yang tong maban, rehning lemlemkecud gading, nto ne idamang icang, saratang alihang kema. Pasawur sane mwani, Si Maliniya. "lh to nyai twara uning.

109. Twara pisan nyai nawang unadika. lagut beli rupa kambing, dong tingalin to manusa, liyu mangiter panggungan. buka kenken tingkah beli, meh tan wangdya. beli ditu mangemasin.

110. Matin beli saking kagarang kalempag, sane luh masebeng sengit, tur ipun raris mapajar, "uduh saking twara tresna, teken icang ne pan cening. depin pisan. icang jani nglalu mati.

111. Depang icang jani mati pisanan, wireh icang suba uning, keneh pan ceninge las. enu urip tan paguna. kimud wirang tan pahaji, buka icang, reh pan cening mangeladin

109 [ 109 ]112. Mangeladin tresna asih masomahan, tunden ambulto jani, pan cening tuara ja enyak, nah dong kema te majalan, duh pan cening gati-gati," kedeh pisan, kadi ipun Ni Manggali.

113. Nyadug-nyadug tur sada nulud nuludang, punika sane muani, ne mangkin raris mapajar, "Nah kema nyai bangka, buat matinnyai saking, kaletehan, dewek nyai ne padidi.

114. Beli twara pisan milu kahanyudang, bane saking matin nyai, matin nyai ngrusak yasa, nyalanang sangaran manah, naryapatya kadanin. ban sang wikan, anak eluh ngedong mwani.

115. To krana kema ne jani majalan, twara ada nyelengkatin, kema suba padidian, sasanan icange lanang, tong ada nyedihang, ati, reh kawenang, milihin mangalih istri.

116. Dadi buin icang lakar ngalih somah, asing ada tresna asih, apang icang eda kanaraka, krana alas buka icang, apang eda kenraka icang keni, kenistayan, kanrakaian olih nyai.

117. Pang sampunang beli milu kanarakan, buka Ida Sri Narpati, bas katuwon pisan-pisan satia teken ing pawestriya, diastun icang rupa kambing, twara nulad, mati saking tambet weci."

118. Sapunika pajarnyane I Maliniya, nuturin luhnyane mangkin den ing timpang ring mahanya. Sang Prabhu Ida Miharsa, saksat kasiramin warih, ring pakahyunan, eling tan wangdyan kni.

119. Papa karma kaporodin kaliahan, yan milu manutug rabi, rabi letuh ngrusak yasa, ngusakang darmane suba, tan patut amongang maring ring angan Ida, sang sane ngawengku gumi.

120. Tatan yogya yan sang Nata mapamarga, lanang ajrih ring istri. dadi kaopet ban jagat, kaucap i dewek nista, reh ajrih

110 [ 110 ]teken istri, ento sato, aweh pretiunmba jati.

121. Kenehnyane sakingtuah matingetang. i dewek nedungin gumi, dija jiwa sangkanya ada, bani lakar manembahang, sakarepe kapisinggih, ngawinang papa, ngarianang tuah tumbuh saking munyi.

122. Bendu kahyun Ida Sri Naranata. ngraris budal ne mangkin, tedun saking panggungan, mangamarginin lantaran, mituhu turtur i kambing katelebang, ring pakahyun Sang Nrepati,

123. Ping kalihnya sakatah ing rajamulya, sampun kapuniyang sami, emas pipis Ian slaka, makadinya sarwa ratna, astra laluwes sinami, lan wawalungan, sami pada tan kitungin.

111 [ 111 ]II. PUPUH DANGDANG GULA

1. Malih pakayun Sang Narapati, mrayascita. durbhiksan ing jagat, reh kajorogan pamargi, kadi Sri Nrepawadu, sampun, basmi maring gani, kalih ipun kambing wadwa, padamnyatiyin, bawos ipun, leteh reh mangulah patia, lintang nraka, reh istri manitah laki, crita Prabhu Aji Dharma.

2. Pakahyun Idane tan kadi, byapara, tan sida kapurna, budale ka taman raris, wenten bale ngungang ditu, bale danta cenik asri, nginggil munggung pagnahnya, anut genah makulangun, kakiterin antuk tiaga, toyanyane, tiyisan swatinadi, mbahnya mahundag-undag.

3. Makabyor-byor mangilehin, i telaga, tepinyane kedas, Karengganin sarwa sari, lawatnyane kanten ditu, ring toyane nedeng sami, ahas ipun maring toya , santukan kahuyak antuk, tambulilingane ngarang, ngisep sekar. maguyang mangipuk sari, ahas kampuhang maruta.

4. Kampuhang ban angin aris. kadi satya. ahas nyebur ing toya, irika Sri Narapati. mangaksi mangguh kulangun, eling ring ragane mangkin, kadarmane karusakang, antuk rabine ne ayu, tuah iya ika lulutan, ban smara, nika lintang ngrahatin, tan wurung mamangguh nraka.

5. Waluya tan pakraman gati, kapreceda, antuk wong sajagat, kacritayang enjang-enjing wongjrone pada ayu, sami jegeg tan patanding, mangratus lakar wodak, makamiwah tamba jamu. Ida Sri Naranata. wus masucian, ring bale sampun alinggih, sek pare kan ngiringang.

112 [ 112 ]6. Sampun kahutus ne mangkin, kandikayang. ipun mandawuhang, mangaturin rakriyan patih. Patih Madri sampun rawuh tur mepes mahatur bhakti, sahasmu-waspa, kapihangene kalangkung. ring Ida Sang Naradipa. "Nah ne paman Patih Madriya. ane jani. krana beli ngesengin paman.

7. Reh beli sangsara sakit. maring manah. cihna ring pasepan. mangajarang twara becik, krana beli sedih langkung. bilih rusak jagat sami, saking Jaksanan ingwang. corah letuh dadi ratu." Patih Madri manyawisang. matur nyembah. "lnggih Ratu Sri Narapati. wyakti tan kni lempasang.

8. Patitah idane Hyang Widhi. yan kamanah. niki antuk tittiang. naging untang manahe jati. sajroning manah nguwub. pangubakti saking asih. manggeh titiang. mangawula. ring lungguh, Ratu Sang Prabhu. tan patut makadi titiang. makelingang. ring sang maraga Narapati. sane mangkin kimon nunas.

9. Punapi iyun Sang Sri Nrepati, nggih durusang. labuhin wacana "Sang Nata alon wacanane:'pidabdab beli ring kahyun. sedihe jani tawurin, saking welas teken jagat. tan wurung mandadi uwug, saking kainstaning tingkah, kaletehan. sang ane nedungun gumi, masa ke tong milu kna.

10. Kakenan sakriyan ing gumi, kegringan. kalaran sajagat. krana ada idep beli jani masrah pamuput. ring maka jurwa dipati. mrayascita punang jagat, widiwidanane wangun. salwirning pacacaruan, ring nagara, ring gunung-gunung jalanin. kancan Pujawali-krama.

11. Para Bhiksu Pandhita Sulinggih. sinamian. aturin muputang. mangawit misuda gumi, kadi Hyang kasuhun-kidul. dang Paryangane sami, sakaryan ing kabuyutan. dawuhin makejang ditu. dulurin uni-uniyan. Jan madana. bhogane punika adi. rawuhang teken i panjak.

113 [ 113 ]12. Bawudanda Tanda Mantri, lan jurwa, dipati makejang, prebekel lawan prejurit. apang sampta puniku, "sapunika Patih Madri. kalabuhin pawecana. Rakriyan Patih awot santun, sampun mapamit wus nembah, ring Sang Nata, adan apangarah nuli, madawuhang swakarya.

13. Ring Tanda Jurwadi Mantri. makamiwah, rawuh ring padusunan. sampun pacta kadawuhin. makadi ring mekel ipun, cacaron sami mamargi. padanane tan kaucap, sujati ngebek supenuh. crita ne mangkin Sang Nata, amastika. nglanggengang asamadhi. stata muja arcana.

14. Ne kasthithi ring smadi, kabatang. wredyang ring ajnyana. ayun ing ajnyana sandi. kesehan ambunya arum. masukin buat pamargi. pamargin Sang Widadharya, srawuhe mabin ditu. ring pupun Sang Prabhu kanan, kanggek cita. Ida Sri Narapati. wawu nyingakin Sang prapta.

15. Kles anteng susune nyangkih, ngemyuh danta. wangkonge nyariga. magoleren lemuh ramping, egolan madyane pangus. kedapan kenter ban rawi, kadi ductus kapanesan, punika sasamenipun. tanggun cingak sawang barak, kasungkawan. saw:mg sayang toyan aksi. ngawuwuhin kabangkitan.

16. Siratmaya ngulangunin. tur prainyan. nfawi babawosan. inab ngasor miwolasin. "Duh jiwan titiang i ratu. inggih duh Ratu Sang Aji. rnakapanyungsungan jagat. sulaksaneng kaprabhun. swecanin puniki titiang, nggen pangayah, Ratu sane mangkin sedih. katinggal pramiwarya.

17. Sedam? tan rnanut indik. nggih kalintang, angob kadi titiang, mamangguh Sang Narapati. kangen manah titiang Ratu. nandangin sungkaweng ati. sedih kembahan duhkita. malihnya anggan Sang Prabhu. kantun anom mumpung pisan, kalingganan. antuk smara lulut asih. mangkin kadi tan paguna.


114 [ 114 ]18. Nirdon swadharman Sang Nrepati. ritatkala. tan aprameswarya. sang makasarin ing bhumi. kantunan tingkah kulangun. ne mangkin wangunan malih. inggih samangdan sampunang. rusak pamargine lantur. saledang kahyun Sang Nata titiang nyadia. nyungsung saking tan paprih. pojol jag mangaturang sikyan.

19. Ngiring nyepukang raras maring. pamreman. mbhukti karamian. inggih ngiring lyan malih. nyusup nglila-lila kahyun nonton karasmian ing pasir. kalih langen ing parwata. saha raris ngawi kidung. bongkol gununge punika. tan pegatan. kalames ban toyan pasih. kadi anak nemuang raras.

20. Kalungunane maring pasir. bangkit pisan. ya makapasangan sampun wus nemuang karasmin. raris ratu ngiring mantuk. malih budal let nagari, Sang Prabu raris ngandika. Duh Ratu mas mirah ingsun. sang lwir ratin nyakala dija sangkan titiang twara buduh paling. klangen ring warnanin i dewa.

21. Lwir Hyang-hyangning madu gendis. tan tandingan, iriki ring jagat. enyag manah titiang manggih, warnin I Ratu sang aya, weneanane nyujur manis, wenten manah titiang ngaras. yan tan kukuh ngandeg tanu. mana ibuk paling ringsah, reh kabanda. kabaretan manah paling. saking panundun smara

22. Saking dija adi prapti nggih nikayan. mangkin papolosan. napi Hyang tapa wana adi. napi srin ing taman Ratu. twi dewan ing Suranadi. punika ledang ndikayang. sahantukan ratu rawuh. rawuh saking tan pasangkan. nyingid prapta. sang Dyah Ayu sawang kenyir. mahatur madulur waspa.

23. Toyan cingak membah mijil. patrambyas. ring susun Sang Dyah, pukulun Ratu Sang Aji. Nata ing jagat I Ratu. rawuh titiang kadi mangkin. mangadpada ring Sang Nata. ninggal puri mangalalu. reh titiang kapikedehang. jatukrama. antuk dane yayah-bibi. ring sang tan cumpu ring manah.

115

[ 115 ]24. Nging tos titiang puniki, wangsa kula. maring pagunungan, pangguh titiang Sri Aji, manandangin sedih ngun-ngun, kangen manah titiang jati. punika dwan ing titiang, kadi mangkin sida rawuh. wantah pacang ngawangjro. ring Sang Nata, yang ledang Sri Narapatl. ngemitin bajang titiang.

25. Indik solahe ring krasmin. kadi titiang, ngaturang sapisan, sara ledang iyun Narapati, mangda I Ratu ngawengku. sahantukan yan rerehin, sehihang Iing Prameswarya, titiang kirang adoh langkung, buat indik ring kagunan, sakewala, Jedang lungguh Sri Aji. ngampurayang tam bet titiang.

26. Reh kanistan titiang jati. sakewala, ngiring pacang ngayah, mecik cokor rikalan ing, palungguh I Ratu Jesu, "Sang Nata ngandika nyawis. Inggih Dewa aksamayang, kayan I Ratu Ayu, kadi tatan Iinawanan. kamemegan, manah titiang kadi mangkiu, inab pangendan ing titah

27. Kade tan ngwangun saragi. eman pisan, kledangan I Dewa. sakadi natonin hati. reh ngawit I Dewa rawuh, ring pupu kanan malinggih, pabinan titiang punika, pagnahan titiang ngempu. wantah ngabin i pyanak. yan ring kiwa. kadi adi menuronin. kotaman ing istri nucap.

28. Punika istri ayu lewih. tan tandingan. makaprameswarya. nggih sampunang Dewa sedih, den ing titiang manggeh kantun, ring sasanan Ratu lewih, twara ja manh'Ulah-ulah. tan sah nganut ucap tutur, tutur kakecap aksara, reh i dewa, banget ngolas-olas asih, mangda marabi ring titiang.

29. Kenginan tan sideng kapti, den ning titiang, Janggeng ring babratan. ne kemit titiang tan mari, satya susatya pituhu, ring ucap ing sang Hyang Aji, yadyan nenten masomahan, yan ing nora saking manut, mangahutin sapretingkah. samalihnya, pangrawuh I Dewa mangkin, ngawinang sakit pangrasa.


116 [ 116 ]30. Amreta temah wisya dadi, reh I Dewa, ngalum-alum titiang. kadi kalantaka patis jati rupa istri ayu, yan solah tekan i manik. rupa tong ada sangsaya, yan kucap ring jagat agung. istri jalir kabawosang. yan wang istriya. ngalemesin anak mwani. makrana mati wangya.

31. Tan kasolahang puniki, antuk Ida, Sang Raja Putriya. waluya kadi wang weci, salah kramane winuwus, yang iriki maring gumi. pateh ring sang adu-ada. leteh ya amurang laku. "Kenyung Ida Sang Adyah. semu erang, sungkawa jron ing ati. nanging ke kantun kakubda.

32. Pangid antuka matur aris. rehning mula, sampun jayeng tilam. "Bas langkung de Sri Aji, ngardi jengah titiang Ratu. pinumas titiange jati, nguluk-uluk katarkayang. nggih dong sampun bas kadurus, Sri Naranata kawirangan. tur kaucap. kadi Sang Prabhu ne mangkin. manggeh makatedung jagat.

33. Lempas antuk Sang Sri Aji. mamawosang. indik dewek titiang, nawi jati Sang Nrepati, sane mangkin tatan wruh. ne ring kula wangsa mami. bhoya mijil garbha-wasa Hyang Dharma wantah ngwangun. Ida sane mikedehang, kadi titiang mangda titiang manuronin, Ida saking kangen pisan.

34. Manggih I Ratu Sang Aji, nandang lara. sedih kasungsutan. yan tan ledang iyun Nrepati, njamah niki dewek ingsun. wenten kantun titiang kari. patpat katahnya ring jagat. ring loka datu manurun. nika pacang rawuh ngajap. ring Sang Nata. kang mangaran Pancadewi, nika jaga ngawangiero.

35. Saking wecanan Hyang Dharma jati. kadi titiang. wantah kandikayang, manuronin pinih riyin, kandikayang ngayah Ratu, ngabukpada ring Sang Aji, reh sumasat Sang Hyang Dharma. alungguh ratu Sang Prabhu, banggiang iriki ring jagat, yan ring crita, katuturan sane nguni. saduk jagat karusakan.

II7 [ 117 ]36. Rug jagat darmane tan kari, telas rusak, rika Sang Hyang Dharma. saking welas kahyune ngaksi, mangaksi punang nagantun, rika Ida malih warni, twnurun dadi manusa, maring sweta nagantun nyadya ngrahayuang jagat, tur manjadma, minda Sri Narapati, sapunika katatuannyi.

37. Sapunika ature Sang Dewi, kasawuran, antuk Sang Narendra. "sampunang malih mangawi, sotan ing sang sane sampun. njayeng tilam tan patanding, uning mangkin kadi titiang, pangrawuh ratu Sang Ayu, ne maparab Sang Menaka, tatan bina, duk inutus lndra nguni, sakarsan tatan tinanggal.

38. Mantuk I Dewa mawali, tur uningang, tatan sida karya, "sapunika ling Sang Aji, sang Menaka ngawi semu, nalepdep semun ing aksi. ngawi tingkah meh anembah, tangane manyangkol susu. sambil nyalongsang sulendang, kanten sinah. kamrosan susu rupit, sctel ring lemuh ing madya.

39. Puput ngaturang ngabakti, tur mamarga, nglayang ka ambara. sambil nyaledet manolih, maklecet masawang kenyung, muksah ical saking aksi, manyarengin pakijapan, awon maring awun-awun. luya kadi kakeliran, tur madamar, antuk tejan Sang Hyang Rawi, critayang sang katinggalan.

40. Ndatan sapisan ping kalih. kagodayan, krawuhan bancana, bancanan Ida Hyang Widhi, ngrusak darmane puniku. pakahyun sang Narapati. gumanti mamrayascita, pangrawuh cihnane letuh. ne ngardi pacang sengkala, makahyunan, pacang manilar nagari, yang dina napi punika.

41. Bawosang ring tengah wengi, ritatkala, mumpung pada nidra,leplep wong ing sanagari, medal Ida Sang Prabhu, manyingid Ida mamargi. pamargan Ida nganginang, tan pairingan lumaku, ngraga mamurang-murang, crita semeng, lintang saking panagari. rawuh maring padusunan.


118 [ 118 ]42. Ndatan sah raris mamargi, jantos sampun, reke dawuh tiga, dusun-dusun kalitangin, bongkol gununge kajujur, ngaran gunung Imadri, kancit iriku kacingak, toya anakan ne lebut. mbahannya ening pisan, lan bulakan, irika Sang Sri Aji, mara wup raris masucyan.

43. Nunggalang kahyun Sang Aji, tur nlarang, pujagnihetra, ngastawa Sang Hyangning Nadi, endihe suda puniku, ri wus Idane masuci, wenten sasapi nglayang, kahulapin de Sang Prabhu, "Duh kedis sasapi iba, mahi pehekang, iba tunden gelah jani, kema iba ngaba surat.

44. Surat glahe ne jani, to tekedang. ring juru makejang, sawatek wawengkwan kai, "I sasapi pada iju, ngatampekin pada tangkil, sanyamanya pada nyembah, diglis Ida Sang Prabhu, irika nuli anyurat daun pisang, sapuput punang rerepi. Sang Prabhu malih ngandika.

45. "Enah ne cai sasapi, apang nawang, pamargan manira, nyilib ninggalin nagari, apang eda iya pada giyur, pamargin iraga jani, gumanti matirtha-yatra" I sasapi ngiring sampun, mapamit raris ngalayang, ring ambhara, egar pakebure nginggil, kacrita Ida Sang Nata.

46. Ngetan tumuli lumaris. sarwuhe ring bongkol parwata, bongkol gunung Imadri, ngararis munggah ring gunung, tepin jurange marginin. tegal bresih wus karabas, tiyos alas-alas ipun, ring samping ing samping ing pakubonan, ring betenan, margan i macam morosin. mamorosin kidang alas.

47. Ambengan lan belu malih, ring sampingan, pinggir ing pagagan, ngebek satepin ing nadi, sampun lintang Sang Prabhu, ngranjing ring alase nuli, ring bangkiang gunung punika, gunung Imalaya atub, ebet makewehin pisan, maslingketan, remrem tejan Sang Hyang Rawi. kaput awun-awun rika.

119

[ 119 ]48. Luya kadi sampun wengi, guruh alon, piarsa midehan, kasarengin lan kilape, paklep tatit pasliyur, kadulurin angin aris, bales patiban ing ujan, kayunyane pada ditu, ngedged kadi

kadinginan, klaskasan, bulenanya putih-putih , kadi masaput ban embunan.

49. Yan sawang i taru sami, winaluya, sang langgeng tan obah, saking genahnyane mentik, nyadya nindih genah ipun, satya purun metoh pati, ngupipir ipun nyungsang, semu baag pelasan ipun, nyanding taru tangi ika. ring bungkilnya, glagah ditu ngebekin, atub kanggen palincakan.

50. Antuk buron warak kancil, pada sarat, ngulati mabuktian. manjangan kidang makadi. liang macundayang ditu. sambil neda padang abing, ring lebak-lebak tegal, padangnyane pada atub, pianaknya pada ajingkrak, makidangan. kancit wenten macan prapti. bungutnyane kasebakang.

51. Kanten calingnyane lanyir. gigi rangap, i kancil iya rengas. patiluplup iya malaib. i macan misadya ipun, pacang manyarap i kancil, yatna ngintip ikuh ika, pacang nyagrem saking
pungkur. kukunyane lanying pisan, turin akas. semunyane mamuringis, klepan matanya barak.

52. Bunter matanyane nelik. tur dumilah, bungutnyane nyebak . calingnya tajep mahingid, pasulambeh magurudug, kidangnya pada malaib. saling langkunging malumpat, mangecogin timpal ipun, macladukan palaibnya, wenten lian, mawali kajurang malih, ngungsi gwa-gwa tukad.

120 [ 120 ]III. PUPUH PANGKUR

1. Yan mungguing ipun i macan. ngelur ngrak. ngreng swaranyane kadi. ngetut wuri swaran ipun. rehning angawang-awang. sami res, tan purun lumiat ipun. nengil twara maklisikan, kancan buron sami ngilgil.

2. Kadi kahelongan jiwa, tur kapapag, mapangguh ring Sang Narpati, saksana i macan ditu, mawetu kapiwolasan, pranamya, mulisah ring tanah lawut. ring bhukpadan Sang Naren­dra. Sri Ari Dharma angling.

3. "Duh akenken idep iba, cai macan. dadi buwung mbaksa kai, eda sangsaya nah lawut. Tumuli Ida Sang Nata, angetisin nggih punika antuk widu, saksanan i macan pejah. sambeh sekar maworiris.

4. Ujan nguribis mantara, sahantukan, tatan pagulem wyakti, saha teja kuwung-kuwung. angin rawuh ngusisirang, wantah muat, wawangiyane mrik arum. saksana tamah Dewata, kadaden i macan nguni.

5. Purna bagus alep darma. saha nyembah, ngandika Sang Sri Bhupati, "napi tos i dewa tuhu, mara tuturang ring nira, "glis nimbal, sang kandikahin umatur. "Duh Prabhu Ari Dharma, durusang swecane ne mangkin.

6. Swecane ring dewek titiang, saking jati cokor i dewa tan uning, ring panjadman titiang Ratu, titiang putran Gandarwaraja, Citragotra, nika wastan titiang Ratu, wantah je cokor i dewa, makadi nyupat ne mangkin.

121 [ 121 ]7. Temah Ida Sang Pandhita, Ratu titiang, kudang dina titiang nganti, jantos tigang dasa tahun, malih lintang tigang wulan, titiang neda, sarwa mangsane puniku, krura ngulurin tamah, marupa macan nyejehin.

8. Mangkin sampun titiang purna, lega pisan, manah titiang de Sang Aji, tan wenten panebas katur, swecan ratune ring titiang, nyupat papa, mangawaliang kadi dangu, wusan titiang kasangsara, mimitan titiange nguni.

9. Kalan ing ngelang-lang kalanguan. Ratu titiang, rawuh ka swargane riyin, polih nglangkahin sang Bhiksu, rika titiang tur katemah, dados macan, magenah ring alas agung, inggih niki dewek titiang, ne marupa macan riyin.

10. Belulangnya ambil punika, samaliha, abut caling ipun raris, makadi kemitan iku, katur ing Sang Naradipa, nggih lanturang, yasan palungguh Sang Prabhu, titiang ndaweg pamit budal, ka marabhawa mangkin.

11. Sapunika atur Ida. Citragotra, muksah ri wusning ngabakti, katinggal Ida Sang Prabhu, kakupak caling i macan, mangelodang, pamargan Ida Sang Prabhu, sakancan tirtha utama, sami pada karawuhin.

12. Kasusupin sinamian. tur masiram, masuci laksana raris, manuwut rejeng ing gunung, irika nuli kacingak, pasraman. nanging sampun sepi samun, katinggal antuk Sang tapa, balenyane pungkat sami.

13. Kakaput kabang kakawa, kalumutan, sakadi ngapiwolasin, pungkat tan maunduk ditu, kapakahyun de Sang Nata, kakawiyang, luya nagarane uwug, katilaran ban Sang Nata, saksana rawuh ne mangkin.

122 [ 122 ]14. Rawuh Ida ring Yamuna, yan bawosang. tukad Yamuna puniki, katunggalan sareng telu, ne ping kalih Swabadra. kaping tiga, tukad Loma aran ipun, ne ring teben matunggalan, kagenahin buaya kalih.

15. Rika maka muwaranya, makawinan, sepi namun wantah riki. sawatek ing pararatu, tan wenten rawuh meriki. caritayang, Sri Aji Dharma Prabhu, jag tumendun maring toya, kasarap buaya ne mangkin.

16. Idepnyane parikosa, makalihan, nyawup cokore Sang Aji. Kroda Ida Sang Prabhu, kalih kasawup apisan, kaunggahang wawu ring daratan sampun, warapsari nyundar galang, panganggene mangupirpir.

17. Tur raris matur ngasab, alus banban. "Duh inggih Ratu Sang Aji, lintang tan uning I Ratu. ring puniki sikian titiang, ne mawastha. Kamini ping kalih ipun.Krimika ne punika, wangjeron Sri Watra Dewi.

18. Ne sampun makadi titiang, kandikayang ngrusak mangoda maring, Lokapalane puniku. mangoda Ida Sang Dwija dening tejan, ldane ring langit rawuh. sanga Dwijaa sidhi wakya dukane ring titiang raris.

19. Katemah dados buaya. ndatan Iyan. makadi Sang Narapati, ne patut ngalukat Ratu, pasweca Ida Batara, reh pikedeh, pinunas titiang punika. nering Ida mapinunas, sumangden Sang Prabhu ngangkid.

20. Sweca Ratu nglukat titiang, bhoya nyandang. titiang nyantos sumangdan ing, wenten pituduh Sang Prabhu, yanu pangayah anggen titiang, nawur utang, satahun datan katawur, sasamenya ratu titiang, wantah titiang nutang urip.

123 [ 123 ]21. Ida Prabhu Aji Dharma, ngawalesang, "Bas kaliwat ban bibi, buka bawos bibi iku. yasan tiang twah mula, piwolasan, ring sarwa prani puniku, jani krana tiang teka, ngulati Sang Maha Resi.

22. Resi Sidhi nira Danghyang, Bowila, Ida pacang kalungsurin. pangkulatan mala iku, malukat mala wigna," laris matur. Sang Warapsari puniku, "munsguing Ida susuhunan, tan kantun Ida iriki.

23. Magingsir Ida masraman, sane mangkin, ring Ucaga Tirta linggih, reh ring titiang dangu, kawuh mangkin linggih Ida, "wus matur, widadari kalih mabur, crita Prabhu Ari Dharma, nyuciyang muwarane mangkin.

24. Ne pecak konggwanan buaya. kengin mangkin, dados makapatirthan malih, antuk Ida watek Wiku, ping kalih watek Sang Nata, sampun suci, purna jati tan paletuh, Ida Sri Ari Dharma, malih ngararis mamargi.

25. Tan Warnanen Ida ring marga, glis prapta, ring Ucaga Tirtha mangkin. sasri panedeng ing santun, sapanjang tepi ing mundukan, wenten lyan, sane semped uwoh ipun, pisang-pisang jantos gumas, madulurin i nyuh gading.

26. Telagane ngiterin taman. toyanyane, tan paletuh ening, jati waluya langite pelung, ngebek sekar tunjung petak, kuning barak, winaluya bintang ipun, sapunika yang sawangang, sasrin taman ne bangkit.

27. Kancan buron magenepan. makadinya, macan wusan galak mangkin. ne iriki ipun manuh, siliasih pada tresna, luya kadi katalianan budi ipun, tingkah kancan-kancan burwan mangidep darman ing asih.

124 [ 124 ]28. Kasrambahan kopasaman, Sang Pandita, sarawuh ing paksi-paksi, sami tut sadulur, midep darma piwolasan, sahuninga, ring sloka swarane mredu, kadi manguncarang puja. Ung Kara len genta malih.

29. Mangeg kahyune Sang Nata. Aji Dharma, ring kalewihin Sang Resi, mangkin raris Ida mangguh, bale nganggolik tegeh pisan, pangungangan, becik sagarane pangguh, saking drika katingalan, yang mungguing Ida Sang Resi.

30. Tan wenten sane nguningang bwat gatra, karawuhin tamiu lewih betel tinghal Ida nrus, sasampun puput ngincepang, wenten balwan, kacingak nyalundup tedun, tedun saking witning sedah, kahutus ipun ne mangkin.

31. Mangdan mendakin Sang Nata, gaglisan. i baluan sampun mapamit, tangkil ring Ida Sang Prabhu, atur ipun mandawegang, "Inggih titiang, puniki saking kahutus, antuk Ida Sang Pandita, cokor I dewa katurin.

32. Mangda ngrangjing kapasraman, ring pakubonan, makadi lungguh Sang Aji, "Manggut Ida Sang Prabhu, tumuli glis mamarga, manyujurang, ngeranjing Ida Sang Prabhu, sang Resi ditu kacingak, sang Prabhu ngekes ngubakti.

33. Sang Resi aris ngandika. "Nggih durusang, iriki dewa malinggih, napi mawinan Sang Prabhu, sarat tur nyilib mamarga, tur ngaraga, mawanewasa ka gunung, mapangguh ring bapa."Sang Nata mahatur aris.

34. Ndaweg titiang nunas lugra, ampurayang, kang anak Sang Mahamuni," raris sang Prabhu malungguh, sampune katuran kebat, sopakara, tadah toya wasuh sampun, lawan sedah sirih wangia, mula palane tan mari.

35. Tumpi manjari madu parka, sarwa wija,wus ngrayunang ne mangkin, sambil mabawosan ditu, kadi lda Sang Pandita.

125 [ 125 ]paripurna, puput sampun pada ditu, ngamimitin mawawosan, sang Prabhu mahatur aris.

36. Ngehes manyekolang raga. "Inggih Ratu, daging nunas lugra ugi, titiang ring lungguh Sang Empu, mugi ledang ngaksamayang, nering titiang, yen kapini singgih Ratu, kadi titiang mapinunas, panglukatan lara kingking.

37. Wiyaki tan kaparisuda. tan pegatan, titiang manggih manah sakit, tan pisan ping kalih Ratu, kaletuhan urip titiang. "Sang Pandita, raris mawencana arum, " daging sampun sumandeya, kadi I Dewa Sang Aji.

38. Eweh pang sapanjang ing yusa, tan pacacad, lawan kaletuh ing ati, katuran ka alas gunung, wireh tingkah ring nagara. tan kandelan, punika jron ing tanu, kukuhang ing santa darma, pan sampunang kakuwubin.

39. Mangkin malih parisuda, pakayunan, tunasang nugraha raris. Ring Ida Hyang Dewa guru. Sang munggwing jro pahoman, sapunika, wencanan Ida Sang Wiku, kahiring antuk Sang Nata, sampun kamargyang ne mangkin.

40. Sopakara sopacara, sampun puput, saparikrama sami, pangleburan papa letuh, risaksana sida telas, paripurna, den ing kasidan Sang Wiku. lewih sidin ing ajnyana, ruwatmala sakalwir.

41. Luya endut maring tanah, kabresihin, kahanyudang maring pasih, irika nembah Sang Prabhu, santukan sampun kalukat, dasa mala, sida bresih tan paletuh. Sang Prabhu pamit tur lungha, ngalereng Ida mamargi.

42. Kudang dina suwan Ida, jron ing alas, nyusup maring alas giri, rawuh ing bangkyang ing gunung, dlod gunung Trikuta, kocap ditu, Puri Malaya nagantun. Sang Nata reke maparab.


126 [ 126 ]raja Nala Sri Aji.

43. Sane nguni ngajeng janma, wus matinggal, punika saking nagari, kawangunang tapa lawut, ya maring bumi Mandala, matinggalan, putra ne tatiga wadu, kasuksara ring nagara, madeg Raja Putri trini.

44. Sami tiga anom-anom, rupa warna, ngayon ngayang-ngayang bangkit. prajnyeng Aji solah sadu, putus yoga susandya, pinihwayah, Dyah Widaksi kasumbung, ne alitan Widaksa. widatane pinih alit.

127 [ 127 ]IV. PUPUH GINADA

1. Yan munggwing ida Sang Tiga, Tri Gancapa kaparabin, punika raris kajamah, antuk Sri Dharma Prabhu, Sang Putri maka tiga, ngamimitin, nemuang raras ring pamreman.

2. Maganti-ganti sang tiga, kni surasan karasmin, siliasih ring pamreman Critayang ne mangkin sampun, puput reke pakraban. yan sotaning, anak wawu maparabian.

3. Tingkah maparabian anyar, karaketan lulut sih, sapamargi makurenan, rerad-rerod tut sadulur, wireh wawu mamangguhang, ne ulati, kadi ne acep ring cita.

4. Sabran dina macangkrama, ring gunung ngawi pangawi, sasri yan gunung sagara, karangang ring pakayun, smara ratih
kapindayang, nglang-nlangin, kabangkitan gunung alas.

5. Sang Dyah tan wenten piwal, sang tiga adung sinami, pada tresna kapitresnan, ring pamreman saling gelut, ngulurin manah kasukan, ne ne mangkin, rawuh masa tengeh wengya.

6. Dyah Widaksi irika, nanginin rahine kalih, Dyah Widaksa Widata, lunga kala tengah dalu, wisayane wantah ngiwa, reh kadalih. Sang Prabhu leplep anidra.

7. Dwaning nyilib ka setra, nanging ke Sang Prabhu uning, ring paksane putri tiga, lewih naya Sang Prabhu, gelis nutug Ida lungha, nyujur maring, ring pamuwune ring setra.

8. Irika sampun kacingak, rabine makatrini, tur sampun marupa yaksa, sedek ngajeng bangke ditu, ngigel mahideran reke, mada ingkling nyeje mangarepin sawa.

128 [ 128 ]9. Wenten sane ngempos lima, pupusuhan tios ati, nganutin margan sang yayah, prabhu raja Mala dangu, ne matilar ke Mandala, nangun kerthi, mangda kasidan raharja.

10. Wusan ngajengang manusa, crita Sri Dharma Aji, ngalekas asalin warna, dados asu putih mulus, ngedih sawa ring sang tiga, ring butadi, i asu uning manyakal.

11. Ngulun-ulun swaranya, tur ngongkong cengkang-cengking, drika sareng ngrebut sawa, Dyah Widaksi katutug, misreng bungutnya enggang, kahuntalin ati antuk da Sang Dyah.

12. I asu mangkin nyaratang, manguber rahine malih, sampun Ida katutugan, ngreng i cicing mangulun, enggang gelek-gelek nyebak, turin malih, layah nyelep maledledan.

13. Dyah Widaksa katututan, nguntalin pupusuh raris, pupusuh mauled reko, i cicing malih matutug, ring rahine Dyah Widata, kalinderin, bulak-balik mahidehan.

14. Mawali-wali kacakal, ngulun-ulun mangolasin, kicen kahuntalin limpa, tur katating raris mantuk, sang Prabhu sampun uwusan, rupa yuti, kabongkos tur kahilidang.

15. Nuli raris kacacarang, ring pasuryanya Sang Dewi sampun rata katekepan, kagenahang malih sampun, ring pamreman dewi tiga, sang Nrepati, Ari Dharma raris lungha.

16. Lunghane kapasiraman, rawuh irika masuci, wuse masuci sang Nata, ne mangkin malih aturu, sapunika ida sang Nata, mamintonan, maring rabine katiga.

17. Critayang Sang Dewi tiga, ring setra kantun padingkrik, baskulangune kalintang, kahyune kaduk kapulut, ring senenge ngajeng sawa, ne ne mangkin, kadi tengkejut makesyab.

129 [ 129 ]18. Reh sampun ngedas-rahina, gagison raris mamusthi, padangelus lalekasan, irika padangalesu, sampun malih kadi suba, sang trini, ka pancoran masucian.

19. Wus masuci magagandan, ambunyane mrik minging, manyujur mantuk kapurian yan panarkane ring kahyun, sang Prabhu jati tan wikan, ri antuk ing, lintang becik sirep Ida.

20. Sang Dyah ngambil sulendang, makampuh raris aguling, sirep ring sanding sang Nata, kadi Ida Sang Prabhu, Ida Prabhu Aji Dharma, manguraris, rabin Ida kahuluran.

21. Jantos sampun dawuh sapta leplep sirep sang Trini, kapahyun de Sang Nata, reh saking maswe sampun, tan polih mabhukti mangsa, kaslagin antuk karya pakeraban.

22. Mangkin sampun polih laba, sinah lesu turin arip. krana sirep leplep pisan, raris katanginin sampun, sang Dyah wawu mungwa, ngusap aksi, sawang kadi kalesuan.

23. Smitan cingake ngamirah, nalepdep, tur nyunyur manis. numbuhang smara tunida, glis ing carita Sampun, rawuhe saking masiram, Sang Nrepati, raris Ida mangandika.

24. "Duh mas beline i mirah, ada jani rawos beli, pikolih beline nidra, ipian beli tumben luhung, rawuh Hyang Bhatari Durgha, nganugrahin, nering adi kapaica.

25. Ditu reke di pasuryan, ring kempu pasuryan adi. "Sang keni dawuh wecana, sami reke pada mantuk, sarauhe ring puryan, kahambunin eban watang ngasirsirang.

26. Pada mangambil pasuryan, nuli kahungkabang sami, madaging ati lan limpa, lyan madaging pupusuh, nanah banyehnya maliyah, mauled sami, brek ditu pacarongkak.

130 [ 130 ]27. Wangjerone ngutah-utah, pasulambeh padajerih, sakadi bendu sang Dyah, tan geting Ida ring kahyun, kahambil tur kahentungang, kasapuhin, pasuryane binresihan.

28. Sampun malih paripurna, kadagingin sarwa mrik, wangi-wangiyane ane mangambar, ne mangkin sampurna sampun, marembug sang istri tiga, mamawosin, saking bencanan Sang Nata.

29. Tuah ngadokang upaya, ring tingkah i dewa tuni, saduke maring patumon, nah pada elingang malu, pa bahang adi punika, ring i cicing, tuah ida nyalin warna.

30. lrika Dewi Widaksa, kadi kras manyawurin, wyakti tan iwang panarka, tan !ian ida sang Prabhu, ne katiwakan duhkita, ngajengahin, puniki twara gigisan.

31. Dyah Widata srangen ngucap, "Sapunika saayukti, antuk lewihing smita, prajnyan ngrumrum ngalalunyuh, nglantur malih Dyah Widata matbatang.

32. Antuk brangtine ngalintang, lh Prabhu eda ampah jani, pracampahe bas kaliwat, sengguh cai kahi takut. bajang tong dadi andelang magutin, nyepukang guna kasaktian.

33. Nah jani pisan centokang, gunan pangiwane lewih, nah luwung petenge nyanan, baksa di semane puput, makadi kanggen pasucyan, getih cai, antuk Ida Sang Hyang Durgha.

34. Atman cai tan wurungan, ketegul turin katigtig, sapuput pamatbat Ida, Dyah Widaksa nimbal lawut, amitane kadi wirang, tur Misinggih, napi punika bhinanya.

35. Padem nng manandang jengah, pisanan manglalu mati, matanding nunggalang manah, nyentokang sanding ing kahyun. "Dyah Widaksa ngandika, "sampun adi, sapunika kalempas

131 [ 131 ]pisan.

36. Rawose bas lebih degag, langgah langgana adanin. eda nuwutin sebet manah, ucap ing agama tinut reke sang sahutang boga, miwah padi, twara patut to waselang.

37. Tan patut tawur ban artha, makadi antuk mas manik, yan sisip tur patut danda, antuk mas manik puniku, lawut tawurin ban pejah, to mabalik, sinah kanerakane temuang.

38. Yan ing utang tresna wirang, tresna wiranggen nawurin, keto patut laksanayang, nah ne jani adi ayu, nayan mboke tuwutang, mangekanin, smitan adi becikang.

39. Apang ngateg kah eredaya, kacingak antuk Nrepati, bakti ngasorang agemang, pagehang ugi dikahyun, yan ing adi katakenan, ring Nrepati, ditu polos nguningayang.

40. Sang kalih sampun ngiringang, wus nyembah sareng mamargi, nyujur ring linggih sang Nata, tuwan Dewi awatsantun, ing tiga sampun anembah, sang Nrepati, ledang kahyune manyingak.

41. Kahambil tangan sang tiga, katuntun sareng alinggih, Sang Prabhu raris ngandika, mas mirah beli i ratu, tan waneh beli kasukan, kenken adi, sujatin daging ing ipyan,"

42. Dyah Widaksi matur sembah, "Jati ratu wenten ati," Dyah Widaksa anembah, nguningan wenten pupusuh, irika maring pasuryan, nene mangkin, Dyah Widata anyumbah.

43. "Wenten limpa mangguh titiang, makedep smuning liring, nyunyur manis madu drawa, lathi ngamirah mangemu madu, nembah sambil nguntulang, tur makenyir, matebing antuk sulendang.


132 [ 132 ]44. Kahyune Sang Aji Dhanna, ngesngesan ngandika aris. "Duh mas beline i dewa, ciptan Ida Hyang Sinuhun. mangda adi sahuninga, ne kicenin. marupa ati punika.

45. Piteges punika wantah, pretitin adi suniti. tur saluir ing pretingkah, sang kahicenin pupusuh, pasah to adi Widata. sang kicenin, marupa limpa punika.

46. Nika limpas ing kajanman, keti siptanyane adi." katah yan sami ucapang. antuk Ida Sang Prabhu. manah bahang pawecana. riantuk ing. sampun Ida sauninga.

47. Ring sapretingkahe suba. wenten kahyun Sri Nrepati. samangdanya tan katarka. nelap ngardi iengah kahyun. ring kahyun Sang Dewi tiga. to ngawanin. mawinanya kasaruang.

48. Kenyem mahatur Sang Dyah. den ing anak prajnyan. jati. uning Ida mangubdayang. nyaru-nyaruang ring pakahyun. kenyung manis matur sembah. pada uning. Ida mangadu smita.

49. Alus alon tur grengghara. warni bangkit maming singgih. crita surup Sang Hyang Surya. sang panganten sampun mangguh ri kama ring pamreman. sane mrik. nabdab kampuh makaronan.

50. Tan caritanan sang nidra, punika kalaning wengi, sang kalih lungha, Sang Dyah Widaksi tumut, prayatna sampun madabdab, malih wali, dening wenten tatinggalan.

51. Katinggalane sang yayah, pustakan sang nilar gumi. ne sampun nangunang tapa. ring Mandala bhumi dangu. sang bhiseka Raja Mala, mantra sandi. kabyakta sampun marajah.

52. Marajah trini kusuma. tur tinungtungan pengasih, Jan sembah Dewi Santaka. ring rabin Ida punika. suleng kahyune Sang Nata, rehning saking kapitresnane ring putra.

133 [ 133 ]53. Nyantosang tuduh ing Hyang, Sang Dyah caritayang; malih. ngasor ngasab matur nyembah. nglut pada semu eluh. Inggih Prabhu Ari Dharma. ndaweg ugi, niki titiang nunas lugra.

54. Sumangdenya kadi titiang. tan kni katulah carik. talpaka ring susuhunan. pustakane raris sampun. kagenahang ring klingan. Sang Nrepati. tur raris kajaya-jaya.

55. Kanabhi sandi wijaya. Sang Dyah makatrini. sinarengan raris nyembah. mapamit matinggal sampun. crita Sang aji Dharma. sampun kni. winastu ran mangalingwang.

56. Naya upayan Sang Dyah. mawastu tan kalingenin. leplep sirepe sang Nata. nanging sujati sang Prabu, sidyajnyana tur suksma. mamintonin. raris pacang wanawasa.

57. Rahaden Dewi katiga. pacang nangun yasa raris. nem tawun ida matapa. irika wawu wawantun. gringsing langite ring kuon. bahag kangin. cihna mangedan-rahina.



134 [ 134 ]

V. PUPUH SEMARANDANA

I. Mijil Ida Sang Hyang Rawi, swaran paksi matrayuhan. rame luya mamajarang. majarang sampun rahina. miwah. kakruyukan ayam, saling timbal nyambung-nyambung. crita Prabhu Ari Dharma.

2. Matangi ngusap pangaksi. kagiat Ida manyingak. nyingak bulun ragan Ida. awar-awar putih sentak. mangdados walibis petak. nanging tan duhkiteng kahyun. ing baya gawe ne suba.

3. Palakarmane ne nguni. ne jani bakat pupuwang. diglis ka ambarane. tur tegeh mangawang-awang. pekebure alon-alonan. ngepirpir kampide alus, senker puri ngider kiwa.

4. Wangjrone pada manggih. pawinten Ida Sang Dyah. Sang Dewi tiga kocapan. smitane kulangunan, bengong tur kalengan Ida, den ing kapiwelas mangguh, rakan idane sang Nata.

5. Wang puri Malaya sami, pada mabalih irika. wenten gawok mangantenang, panarkan sang katambetan. nah ene kedis swargan, jani tumben saja turun. sayan ngedohang swaranya.

6. Kampide maklem putih, awar-aware dumilah. makdep maklem nyalang, kasenter tejan ing surya, ngulangunin pakebemya. sayan tegeh luir handaru, ambun putih kasusupan.

7. Kadi lawat toya wiakti, nandan paliat sang nyingak, ical ring tungtung ing tingal, kelap-kelap mangalodang. makaten jurang ing alas, garem bengan pangkung-pangkung, tukad a bing yeh klebutan.

135

[ 135 ]8. Sudianya menyeburin. nyeburin toyan muwara, ngrudug swaranyane reko. balibis ngungser nedunang, andap mangindang irika. sarwa paksi ditu pangguh. ne mulan saba irika.

9.Maring geduhe kapanggih. katah paksi malincakan. krekwak lan jiwa-jiwa. kencing mayong lawan walyan, angsa sangut-ngut ijowan. sinawa socane milu, rame ditu iya macanda.

10. Masliweran duwur warih. nanging tan nyilem ring toya. sinambi nyiksik kamridnya. crita sang blibis perak. awor ditu mah hadukan. ring kancan paksine kumpul. yan akudang dina suba.

11. Seneng ngamaranin pasih. mangkin nyujur pasiraman. tukad tigane punika. toyannyane mautama, kuning warnan toyan ika. tan pasangkan medal ipun, ring pulo tengah sagara.

12. Nampek pinggir nagari. nagara Bhoja punika, sane kasungsung irika. bhiseka Sri Kretawangsa, ratu wibuh sarwa boga, wan mapatri Sang Prabhu. pawetri wantah sinunggal.

13. Listuhayu suguna lewih. kabyuhan bala kosa. wahanane ndatun kurang. Tanda Mantri lan juru. makadi para pandita. ne Iewih pramyan kawuwus. wenten parekan sang Nata.

14. Mondok ring pinggir ing pasit. ne mawasta Si Bharadwijana majatan kalunta-lunta. klangen ngulati ulam, makta dungki Ian pencar nyusup tepin sagara gung. mawastutan mikolihang.
15. Kadadosan ipun manggih. bantang turu gulung iyak. punika raris kajemak. kaanggen kantih irika. makajalaran nyidayang, mangungsi ka pulo iku. nglangi manganggen bantang.

16. Sumbilang medem ngalangi, ring batange magisian, nadtad dungi niwah pencar. nglangi malon-alonan. kahumbang-ambing ban iyak, ring giline sampun rawuh. mider ring pinggir

136

[ 136 ]ing nusa.

17. Taler tan wenten manggihin, nenten pisan wenten ulam, raris munggah ring parangan, ri njung nusane punika, rika mangguhin talaga, toyanya nimala tuhu, nanging kuning warnan toya.

18. Tumuli ipun ngararis, nyujur katepin talaga, masigsig makemuh rika, raris ipun nyangkop toya, nuli manjusang deweknya, den ing krasayang lesu, dulurin tan polih ulam.

19. Manyelselang pala kreti, liwat tan asih ing Hyang, masadah ring punyan pandan, dini masih twara maan, mangalihang dewek ulam, tan payasa ane malu, krana idup tan paguna.

20. Yan dini twara mikolih, pisan nglalu pantig iyak, wawu puput paselselnya, wawu ipun matolihan, patut kangin saking rika, wenten blibis kadulu, blibis putih masiksikan.

21. sedek nyiksik bulun kambid, cliyak-cliyuk masileman, rika ring tepin toya si Bharajana ngagahang raris mamasangang pencar, kni i blibis bungkus, irika glis kajemak.

22. Den ing sukane tan sipi, katikul raris kabakta, sasampun ring darat reko, nuli kembusin saksana, i blibis aget ngucap, "dong sampunang maman gisu. manyahasane ring nira.

23. Nira mahang paman bukti, ngalapang ulam sagara, nah nejani batig nira, kiwa-tengene gisiang jalan jani lawut uas, maka ber majalan nyujur, kagenah ebene samah.

24. "Sakeneh pamane ngambil, "I bandega mangiringang, tumuli I Bharajana, batis paksine kagisiang. nglanting ditu nglandokang, pencare teng teng nglayung, makeber i blibis petak.

25. Mangalayang maring langit, mangkin sampun ngatedunang, turun ring sagara sabrang, rika mikolihang ulam, katah tan

137

[ 137 ]kneng winilang, ring pencar sampun kakaput, makebur saking irika.

26. Tumuli mangungsi mulih, sarawuhe maring umah, i blibis tur kagenahang, magenah rika ring sanggah, tur sahakaupakara, benjanganyane ipun gupuh, Bharajana mangaryanang.

27. Ngwan gunang guwukan becik. tur kapayasin ban wastra, sarwa sutra laluwese, malih sane kancan sukla, bawos i blibis petak, "nah dong dingehang ne malu, aduh paman Bharajana.

28. I kedis guwak kakalih, luh muani mabawosan, den ing iya ngamenangan, i lalipi ne angkara suba jani kamatiang, jani ada maling rawuh, ngengkebung rajabrana.

29. Ditu di gowok kahilid, i dangin tegal Kawya, jani paman
kema enggal, kema majalan tur nyemak, mas manike makejang. i maling iya suba mantuk, "Tan crita sampun kasidan.

30. Kasayangang i blibis. luh muani I Bharajana, tur kauangkenin pianak. kuwastanin Sang Tapatya, "Sahantukan risak-sana, dewa ngalosang pitulung, ring bapa tan patandingan.

31. Swecan i dewa tan kadi, patut makadi i dewa, anggen bapa dewa pianak. tutugang tresna ring bapa, dewa saking piwolasan, ring bapu kalin tang lacur," puput Bharajana sapunika.

32. Sasambate ring i paksi, benjang semeng sang Tapatya, malih raris mabawosan, "Duh bapa sang Bharajana, cicing bapane tunian, sambil ngeling iya manutur, punika ngajak somahnya.

33. Nika bapa apang uning, i tuni bakat kalempag. malih tan wenten iwangnya, olih i mling ngalempag, i maling mapi Kateba, kalemahan iya ditu. mangawe bangbang di tanah.

138

[ 138 ]34. Ngeruk tanah tunggang-tungging, gatinya kanggen mangebang, nanem pipis miwah, perak, irika dajan pakubuan, ring perungpung kekeb punika, genah pakoncengan ditu, katanem suba kilidang.

35. Nika bapa jani ngalih, " Sang Bharajana tan tulak, raris ngambil tataneman, ndatan nyantosang sasihan, wredi pomahan tan kurang, sugih pendah tur rahayu, bale wawangunan katah.

36. Padagangan katah bati, tan pegat-pegatan teka, sang prabhu, Bhoja carita, karusakan ring kadatwan, pakewuh antuk wiara, pramanca mawosin ditu, rawuh Tanda Mantri pada.

37. Pranda Kretane nyarengin. makadi Sang Siwa-Bhuda, mawo sin Aji Purana, nanging jati tan kasidan, puput putusning wiara, wiadin ida sang Wiku, sang Nata swe kebukan.

38. Swe pisan manyan tosin, pamuput kanda punika, ida Pranda kadi alal, manyantosang pamutusnya, reke pranda ne magriya, ring Randu tiga puniku, sang maparab Paradwan.

39. Yan mungguıng padanda Istri, Kili Dewanggi parab ida, kancit wenten sasilumen, i raksasa masiluman, saking guwa kepuh medal, I Duskara wastan ipun, ngangkening rabine wantah.

40. Santukan padanda Istri, warni ayu tan pasama, krana ipuni raksasa, nuli ipun masiluman, matehin wamin sang Dwija, nekakeputang ring kayun, ring Ida Sang Nata.

41. Rehbawos Ida Sang Muni, sane sampun kalumbrahang, ngalalu kahyune pacang, yan ing tan sida katarka makahyun nilar nagara, malihnya kabyakta sampun, rawuh ring wong padusunan

42. Wong padusunane sami, pada sedih kulangunan, i paksi blibis mangucap, ring ipun I Bharajana, "Inggih paman ne ngawanan,

139

[ 139 ]nagarane suwung samun, tiang nerangang ring bapa.

43. Reh Ida Sang Mawa, Bhumi, kasiokan antuk kanda, mawosang indik prakara, sang Wikune kasiluman, kasiluman ban raksasa, matuhin warnan sang Wiku, niru Gama Aji Purana."

44. Sang Tapatya muwus malih, ne mawasta blibis pethak, "Dening i tuni semengan, tan sah anggena gaguyuan, ring kancan kedis makejang. duk pranda Istri matemu, mangucapang mreceda.

45. Nyadcad tingkah pranda Istri. keto tuah jati palanya, tan bisa ngingetin lanang. ngelen ulat kadi edan, twara nawang teken corah, ncen boya ncen tuhu, cen siluman cen padanda.

46. Reh paluh warnin sang kalih. kene bupa yang rawosang. anggen mutus prakarane. nika dahat gampang pisan, konkon iye mangalihang. ring anake nggawa ejun. ditumangalih caratan.

47. Ento iya anggon mintonin. kenken nyelepin caratan, rawose ditu balikang. min tonin yan nyen nyidang. lakar nyelepin carutan. ento padanda ne tuhu. rabine pranda Istrinya.

48. Reh to manusa karanin. sane tan wenten nyidayang, boya rabin Ni Kiiya. yan ing subu keto baan. sinalh girang i raksaa. stuci lan ngawinang letuh. makadi lda Sang Nata.

49. Rasa gamane kabalik. sinah makadi sang Nata. tan kahanan pap junten Sang Prabhu ledang, ambuito kema mjalan. nging dewek bapa mamugu. apang eda katangehan.

50. Ngaturang upayu sandi. rika raris gagancangan. Bharajuna masalinan. nyemak saput tur majalan, pangungsine ka nagara, tangkil ring Sang Mantri Agung, manung uang atur anembah.

51. Wus matur predata pamit. rakriyan Patih langkung ledang, benjangnya malih kabawos. mapahoman ring pakencan, ma-

140

[ 140 ]kadi sang Wiku Kreta, sarwa upapati sampun, sahababanten madabdab.

52. Puja lan cacaron malih. asep dupane cumadang. sang mewiarane bawosang, sampun sampuma sinamyan, satingkah ing pakakencan, jaksa sampun pada rawuh. siniksa sapari krama.

53. Sampun kadabdabang mangkin, satingkah agni puja, buat pujakramane, riantuk Ida Pranda, kocap lda Sang makanda, Sang Wiku kalih puniku, rika pada prenamya.

54. Kahaturin lda raris, samandan ing masurupan. nyelepin caratan ika. mangda sida kasinahan, mangda pada mahuninga asing mresidayang mawug, macelep katengah caratan.

55. Punika sane sujati. rabine pranda Istriya. asapunika antuka. mawosang kanda pakancan. malik rasa kreteng jagat. lda Paradwan Wiku, acum rasa tan pajiwa.

56. Nurebes malyah mijil. toyan aksine tan pegat. kalenger tun kadi dangua, engsek Ida mapangsegan, bengong sedih tan pangucap, Pranda Istri lda ditu. kahaturin masaksiang

57. Antuk Mantri Agung wyakti. nyaksinin lda Pranda. lang kung egar i raksasa. ngrungu panutus wiyara. gelis ipun madabdabang. ngardi cenik dewek ipun, raris ngranjing kacaratan.

58. Sampun sajeron ing kendi, kapoles antuk gagala. sampun katekep sinamian, caratane tur kajemak. di gelis nuli kadadang, maring pangasepan sampun, tur kasiam antuk minyak.

59. Dadi murub Hyang Agni, saksana puwun tur pejah, padem reke i raksasa, inggih ngiring lengkarayang. paripurna sampun pegat, prekarane sida rampung, indik ipun i raksasa.

141

[ 141 ]60. I Bharajana ne mangkin, Mantri Agung lintang ngeman, tur sampun kicen babaktian, dening ngaturang upaya, lewih pingit tur matoma, nyandang anggen kanti lawut, ring dusun kicenin bebas.

61. Makapangrajeg Sang Narpati, kengin kalugra mangundang, ngaturin Rakriyan Apatya, sapunika katuduhang, sang sane sida mangguhang. kadyatmikan ing tanu, patut ipun kawisuda.

62. Inggih yan punapi malih, sang sane wredi putra, lewih solah le wil guna, prajnyeng aji wicaksana. luya rahayu stata, tan leseh sapanjang tuwuh. dadi genah sang mapaguruan.

63. Maurukin guna samadi sandi, mapaica paingetan, sang maka prekanti saksat, sang sane merem katangyang, rumasat mapakelingang, subakti nering sang Prabhu, samangdan dan kadurusan.

64. Nyilem kapetengan budi, ne mangkin Rakriyan Patya. satangan cokor Sang Nata, nampayun Sri Naranata, wantah mula kapisara, kaliandel makapakukuh, nabdab parawadwa samian.

65. Wiweka gunan ing bumi. parawadwane sinamian, para juru Tanda Raknyan, budi santa piwoiasan, uning ngadokang smita mangda kasidan kadudut. manah parawadwa samian.

66. Sulting pada sutindih. becik pangalem i jagat, crita benjangnya samengan. ipun i blibis petak, malih ipun mangortayang ring Bharajana puniku. "Inggih wenten puniki bapa.

67. Paksi langlang be ring pasih, mider ngincang pakebernya, luh muani to kapidnya, kajepit tur iya belusan, bilih mati iya bekbekan, ditu tiyang prahu, nadak prawune kandasan.

68. Makaplug disisin abing, benyah di pasisin nusa, kema jarahin to bapa. "Gagison I Bharajana, merika raris majajarah, katah


142 [ 142 ]polih nyarah ipun, ngawinang ipun kalumbrah.

69. Kasub ipun sane mangkin, sajagat pada mawosang, gatrane kalunta-lunta, rawuh mangkin ring nagara, sang Prabhu mamarsa, Si Bharajana puniku, kakatahan raja-brama.

70. Kerana ipun mamanggih, pikolih tatan tandingan. sabran dina ngawuwuhang. pikolih guna bandega, kabawos saking madagang, kaucap ne tawah ditu, lewih i blibis petak.

71. Kabawosang sane mangkin, rawuh ring ajeng Sang Nata, gelis Ida maputusan, Rakriyan Patih mandawuhang. I Bharajana punika, sahamangda kadi ipun, mamakta i blibis petak.

72. Crita sampun raris manjing. katur maring jro pura, i Bharajana kocapan. sampun ipun kanugrahan, kicen ipun kawenangan. nyeneng Mantri ne ring dusun, critay ang blibise petak.


143 [ 143 ]VI. PUPUH SINOM

1. Sampune ring jero pura, Raden Putrine ngingonin, Ida Sang Laksmin ing raras, parabe Sudesnuwati, kasayangang i blibis, kesengan de Raden Galuh, tan mari kagurawan, tingkah para istri puri, ingkah-ingkuh, mecikang gelung lan pahiyas.

2. Sahama miyik-miyikan, mangidung nandak makadi, sotan ing sang Putri anom, ne mangun salulut asih, punika ring kaurukin, sararas jro kedaton, yan kudang dina swenya, sang Tapatya among rasmi, sampun ditu, polih misiki Sang Dyah.

3. Tinut Ida kawarahan, rawuh sasih kapat mangkin, manuju pumama reko, Rahaden Dewi asuci, maring taman mareresik, makadi Rahaden Galuh kaliput kaswaranan, i blibis saget mati, dadi metu, Ida Prabhu Ari Dharma.

4. Ledang iyun Rahaden Putriya. nyepukang smara karasmin, matemu jron ing tilam. makaronan silih-asih, smaragamane nembenin. cumbanarasa kapulut, rasa maring smara-loka. klangene tatan patanding, naker ditu, sawengi lan sarahina.

5. Wus neypuk smaragama, sararas ring tilam mrik, kadi Sri Ari Dharma, mawali dadi blibis, sakatah wong jro puri, matra tan matahan ditu, ring Ida Rahaden Putriya, sampun sahawor sarasmi, bilih sampun, wenten nem sasih swenya.

6. Kengin kanten Raden Putriya, sampun kesian sane mangkin. luya kayu tan pasekar. kancit mangkin jag mapucil, enyag kahyun Sri Nrepati, prabu ring Bhoja nagantun, narka pangarbhinin putra, reh tan plawatan jati, rika lawut, Sang Nata cawuh wecana.


144 [ 144 ]7. Ngutus sakancan ing balyan, samangdan rawuh ka puri, gelis pada sami prapta, medek ring jeng Narapati, raris pada kata kenin, buat sungkan Raden Galuh, sinamyan tan sawuninga, glis Sri Narapati, malih ngutus, ngaturin para Pandhita.

8. Sarawuhe Sang Pandhita, mahatur ring Narapati, "Duh inggih Ratu sang Nata, sampunang sangsayeng malih, ring pamargin Radyan Putri, anak palungguh Sang Prabhu, den ing wenten satwa kuna, sang Dyah Kamarupini, ne malungguh, maring singha Manggala.

9. Nika reke jagat Ida, Prabhu Kaniya kasub lewih, jati maraga utama, surat tunggule cinawi, tunjung kembang sane mentik. mentik ipun duwur batu, tan pisan wenten toyanya, sapunika yan upami, mangdoh Ratu, ipun pacang ngawijilang.

10. Nanging mijil tan pakrana, kayunin Ratu pang becik. ping kalih eling-elingang, nging Ida sang kapunguwin, tan wenten pisan nyumponin, sayan sungkawa ring kahyun." sangsara duhkitabhara, tan pasingkaban wiyakti. peteng libut, kahelengan pakahyunan.

11. Ngaliep akain Sang Nata, duk punika kancit prapti, Mantri Pangelet ngapuriang, tangkil ring sang Sri Narapati. sarawuhe matur bakti, tur matur piuning sampun "Niki wenten Ida Pranda, parab Saraduan Resi, sane sampun, mawyara ring i raksasa.

12. Saking Ida kahaturan, samangdanya rawuh tangkil. malih wenten tamiyun Ida, mawesa Wiku Angampil. pinda tara brata miskin, ragan Ida brag acum. klus warnine wong menak, "Sang Lokasin tulak malih, reh kahutus, ngaturin Ida Pranda.

13. Tumuli sampaun prapta, marerod sinareng kalih, Sang Paradwan rihinan, mijil atur Ida haris, banban wencanane manis. "Duh inggih Ratu Sang Prabhu, tan sadya cokor I dewa, ka-


145 [ 145 ]danda antuk Hyang Widhi, Ida nuduh, ngicen wirang tan
pasama.

14. Pangrawuh ing pamancana, kengin tan sida lempasin, patiban i suka duhka, duh inggih titiang puniki, Brahmanan lungguh,Sang Aji. wawu pisan mangarungu, tan pisan sida katarka, titiang raris mangulati, wantah ngruruh, nunas tulung mapakantyan.

15. Muatang kahyun Sang Nata, sane jati makewuhin, wenten anak wawu prapta, ngeing babaturan puniki, ngindayang pacang nyelehin, ngururuh pinungkan Sang Prabhu, nanghing ndaweg ampurayang, sida tan sida drebenin, "Sang Prabhu. ngaksi nyawang sang datengan.

16. Pakahyun Ida Sang Nata, ri kala Ida mangaksi, bhoya anak padusunan, jati wong prajnyan ing budi, kadi angsa ngamaranin, ngamaranin tukad danu, solah sengeh ring kagungan, dyatmika smita manis, yan ing agem, yang tanding tan ada pada.

17. Yan ing teka sumahihang, ring kadi patyan satanding, reh kelus tapa brata, pantes Tanda Mantri ngiring, mahasopacara malih. pacanangany mas katur. ebuh bangkit kawuwuhan, mabawahan tedung kuning, sahadulur, kahapitang para Arya.

18. Ne memakte patarana, keto kayun Sang Nrepati, narka sang anyar prapta, don ing wecanane aris. "Dewa riki sareng linggih. "Sang kadawuh awot santun, ri sampun pada lungguha. Sang Prabhu ngandika malih. "Dewa tamyu, sapa sira munggwing parab.

19. Dija nagaran i dewa, nikayang ring titiang sami. "Sang kandikanin manyembah, "was an titiange puniki, Sang Tapasa kawastanin, kaditan jumeneng Ratu, antuk titiang ngelalana, maideh saparadesi, jurang pangkung, nika pasenetan titiang.


146 [ 146 ]20. Malih ring tukad ring wana, ring ebet kalih ring pasih, maring gunung tan rarianan, mawanawasa mamargi, sakaptin manahe ngungsi, simpang ring Ida Sang Wiku, ring Sang Resi Paradwan, Ida ngarse tulung raris, mangde tumut, sareng tangkil ring Sang Nata.

21. Dwaning mangebukpada, asapunapi sahindik, pakewuh cokor i dewa," Sang Prabhu wecana aris, ngandikayang wantah saking, nengerin Rahaden Galuh" sahindik sampun kadarta, rika kadi Rakriyan Madri, ngincep kahyun. ngelingang sapari tingkah.

22. Pangrasane maring cita, reh Ida sampun lami, tan raryanan masusupan, ngulati Sri Dharma Pati, bilih ke Ida puniki, calatkara ring Sang Ayu, dija wenten anak lian, makadi Ida Sang Aji, malih ipun, makadi sang nyeneng Nata.

23. Prabhu wibuh tur wibawa. jagat wirya landuh etis, dija sangkan karawuhan, rupa corah pacang bani. "Sang Tapa sane mangkin, sahasembah raris matur. "lnggih polih Ratu titiang presida ngamanahin, indik ipun, pinungkan Ida iyanak

24. Manawita karanjingan, kasilurup ing panesti, wenten reko papeteton kahingonin saking rihin, nggih punika uwus ngambil antuk palungguh Sang Prabhu." raris glis kandikayang, ngambil i paksi wlibis, ne kawuwus, mangaran Si Taparya.

25. Glis rawuh ring Nararya, kacarita i blibis, padem sampun ne kacingak, antuk dane Patih Madri, "Ah ah ene iya i kedis. Sang Natan titiang I Ratu, ne mangkin mandewata janten Ida malih ngingid," keto tuhu, bawose jro manah.

26. Crita Prabhu Ari Dharma, ring sekar tunjung manyingid, sekar tunjung ke kabakta, kagambel de Raja Putri, Sang Tapasa matur malih, "Inggih Ratu Sang Prabhu, sawan i blibis pakaya, jati tan kongguanan kari, sampun suwung, sapunapi iyun Sang


147

[ 147 ]Nata.

27. Mangkin keni antuk titiang, nging sang sane makawanin, sungkan iyun Sang Naranata," Sang Prabhu ngandika malih, "Pisara I Dewa mangkin, tiang piserah pamuput, akenken
antuk I Dewa. tiang teka jag nututin, bilih enu, wenten ring kahyun I Dewa.

28. I Dewa mangda nyaratang, mangaruruh jantos kni. inggih dong malihin dewa," kahaturin nganampekin, ring linggih Sang Raja Putri kala gagem sekar tunjung, Sang Prabhu kahaturan, ngarsang sekar ring Sang Putri. sekar tunjung, sane kahagem Sang Dyah.

29. Raja Putri ritatkala. ngagem sekar tunjung mangkin, sahamanatakin wangia, sampun kahatur ne mangkin. i sekar antuk Sang Putri, majeng ring Ida Sang Prabhu. saksana layu i sekar. Sri Aji Dharma malih. mesat ditu, gelis masasalinan unggwan.

30. Makadi Sri Aji Dharma. wantah nyadya ngajengahin. nyingid ring gadung kasturya, ring gelung Rahaden Putri. ne nganteg maring panepi, panepin Ida Sang Ayu. malih Sang Prabhu katuran. ngarsang i gadung kasturi. sampun katur. skar dekdek tan pawanan.

31. Ida Sri Aji Dharma. ring samping Rahaden Putri. irika Ida malingga. wecanan Sang Narapati. "ring dija magenah malih bencanane tan kapangguh," Sang Tapasa raris nyembah. "Malih Ratu salin linggih. mangkin Ratu, ring trangganane
Sang Dyah."

32. Sang Prabhu mangarsayang. tumuli raris kahambil, sampun
katur ring Sang Nata, sekar trengganane sami. ambunyane mrik nanging, mangkin saget pengit bengu. angob wong jro purian. crita Aji Dharma malih. salin lungguh. ring tutup gelung Sang Dyah.

148 [ 148 ]33. Sang Prabhu ngandikayang, ngambil tutup gelung raris, sampun katur ring Sang Nata, emas wayah tur masanggeling, dekdek socanya mlaketik, sambeh ring ajeng Sang Prabhu santukan sampun katilar, krana tan pateja mangkin, lepis lumlum, emase tatan pateja.

34. Mangkin malih Sri Ari Dharma, ring pacanangane nyingid, glis raris kahaturan, mangda punika kahambil. sase sampun karahyunin, antuk Ida Raden Galuh. Sang Prabhu ngandikayang, ngarsang gantene Sang Putri, sampun katur, kagembel antuk Sang Nata.

35. Sampun ring tangan Sang Nata. mapinda bajra ngendih. Sang Prabhu Ida kagyat, kentungan sepahe mangkin, ring natar umurub malih, Sri Kretawangsa Prabhu, gelis Ida mangandika."Uduh paman Kryan Patih. kama gisu, ento bajrane matiang.

36. Irika pada sinanian, para Tanda Mantri Aji, magrudugan mangapuryang, manjing ring jron ing Puri, muat gagawan
suligi. danda gada muang harug. munggwing bajrane punika. murub ngaput Raja Putri. sampun kasub. satrun Ida Sang Nata.

37. Ne wenten ring jro pura, marupa bajrane ngendih, Ida Resi Paradwan, ngarsang pitulungan mangkin, ring Ida Sang Tapa sidi, tegteg gungu katabuh, bulus swara silih timbal, ndehnmuat kangka lan keris, lan pangentuh. salwir kancan sanjata.

38. Pajalannya gagancangan, kadi andus yan upami. rawuh wadwa mabledan, tan wenten sida amberin, magulung-gulungan prapti, majejel ring marga agung, sahalun-alun seksekan, tiyos wenten makideh ring, tembok iku, ring sengker puri punika.

39. Lian jerih nangkajutang, mabyayuhan tur makirig. den ing sakalintang marga ebu mangantenang geni, murub dumilah ngangobin, ngabar-abar mangarudug, mangabusin panasbara, tejan genine nikelin, kadi iku, panadenya i bajra.



149 [ 149 ]40. Kagambel antuk sang Dyah, jati ngawuwuhin bangkit, warnine angayang-ngayang, Ida Sang Sudesnawati, Sang Putri Bhoja nagari, mangun ngresres pakahyun, sadaging sang ing jro pura, malengok pada mabalih, crita ditu, watek para Tanda Rakriya.

41. Sang sanekandikayangituni antuk Nrepati, ngrusakang bajra punika, sinamyan pada jerih,, sami medal saking puri, mangrudugan saling kaplug, den ing jerih mangantenang, ring andus ipun i geni, jag malepuk, nempulek mukel-ukelan.

42. Tejan Ida Sang Hyang Surya, waluya kadi saputin, kaplektatan pamanah, engsek bengong sami jerih, sawatek ing bala mantri, waluya sagara mancuh, risaksana sepi suniya, maplekes tong pesu munyi, kala sampun, angine punika ical.

43. Sakaden ing wong jero pura, saling pamalunin ngambil, ngambil padrebenya pada, reh ring manahnyane sami, narka tatan wurung basmi, sapuri telasan puwun, sapunika panakanya, den ing paglatur mangkin, pada ramug, pasulambah masasaran.

44. Lian misaratang medal, majalan ipun malaib, catur dwarane keselan, den ing sang sane mamargi, waluya kadi amberin nika antuk ruwang ipun, kaselan yan pacang medal, wenten makaplug kajepit, lian ditu, ngecogin panyengker pura.

45. Crita Sri Bhoja Nagara, wyakti Ida tatan gingsir, pageh kahyune tan marsa, ngaksi tingkah wadwa jerih, Resi Paradwan nyarengin, Sang Tapasa ngiring ditu, lan sang andeling pura, makadi Rakriyan Apatih, Sang Prabhu, alus Ida mangandika

46. "Duh dewa sang atmajiwa, durusang ledange mangkin, dewa Sang Batur Tapasa, bawos tiange ne mangkin, manah tyang sapuniki, majeng ring i dewa tuhu, inggih yan ing katrusan, sweca ring tyang ne mangkin, nanak Galuh wantah katur ring I Dewa."


150 [ 150 ]47. Sang Tapasa matur nembah, "lnggih Ratu Sri Narpati, iyanak ngiring aturang, aturang ring Sang Hyang Geni, Bhagawanta Narapati, mangda ngastungkara Ratu, ing Ida Hyang Purwaka atur supeksayang mangkin, ngiring Ratu, sareng sami ngastawayang.

48. Titiang sareng mangmngang, kala irika tumuli, alon ature Sang Nata. Ring Ida Sang Maha Resi, sang katurin telas ngiring. mangkin ngastungkara sampun, Sang Hyang Agni pinuja. Sang Nata raris ngabakti, kater antuk, puja sidi pangastawa.

49. Sampun puput paripurna, sakraman ing puja stuti. risaksana mararadan, duhkitan kahyun Nrepati. duk punika nuli mijil Sri Ari Dharma Prabhu, nyrengin ical pawaka. sambeh ngalup wangi-wangi, ngebek ditu, sekar saking langit tiba.

50. Winaluya sabeh sekar. Sang Hyang Citraghotra jati, rawuh saking ngawalesang, swecan sang Dharmapati. irika raris ne mangkin, Prabhu Bhoja mendak gupuh. "Dub dewa masjiwan titiang, napi Hyang Swara nuronin, Sang Hyang Guru. napi Hyang Wisnu I Dewa.

51. Ledang turun mawacana, ring i tambet kasih-kasih."' Matur Sri Ari Dharma. "Sampunang Sang Sri Nrepati, asapunika ne mangkin, kadi titiang tan ngalungsur. manawi titiang talpaka, nunas wecanan Sang Aji, titiang Ratu, puniki wangsa Kastriya.

52. Nghing Ksatria nglalana, tan wuning ring jagat wiakti. ring rene ring manah titiang. irika nginep ngararis, ngawanawasa gumanti, ring wanane sepi Ratu. sapunika margan titiang, swadarman titiang puniki, titiang Ratu. mawasta Batur Sasana.

53. Ngamimitin Ratu titiang, panyaman titiang mamargi. mamargi ngawanawasa, niki titiang sareng kalih. adin titiang kawas-

151 [ 151 ]tanin, Batur Tapasa pukulun, lian munggwing padukuhan, nyaman titiange puniki, wantah Ratu, nggen titiang nyama alitan."

54. Ken Madri mahatur sembah, "Nggih Ratu Sang Narapati, panyeneng Bhoja nagara, makadi titiang puniki, kanggen semetonan alit. antuk sang mianyingid rawuh, rawuh manjing mangapuriang, ledang Sang Prabhu ngarsi," nyawis alus, Prabhu Bhoja mangandika.

55. Uduh sadya nembe pisan, kadi I Dewa kapanggih, putran bapane i dewa. duh Batur Sasana cening, durusang swecane cening, bapa pisarat nglungsur, pasuecan kahyun i dewa, yan bhinayang luya kadi, i tunjung, kasiraman dening ujan.

56. Inggih iriki i dewa, prasida nyeneng mapuri," Pujawali pangaskaran, cutet critanane mangkin. sapula-paline sami, indik pawarangan sampun, kapuja antuk Mpu Daghyang, Ida Sang pangantyan kalih, istri-kakung. akaron ring singasana.

57. Riksaksana kancit prapta, wawalen Ian sarwa wali, magentos kalute suba, liang rene wong ing puri. rames baladika Mantri, ne maring bancingah umung, pada maliang-liangan, masliyuran wali-wali. egar langkung. tan pisan ping ro ping tiga.

58. Pada ngaturang ayaban, kaping kalih pararabi, wong jerone pada nembah, makta, sarwa aci-aci, bungah murub turin asri, katahnya tan kneng itung, sat agunung kusuma, babanten sampun mamargi, sampun puput, sopacara kamargyang.

59. Pakahyun Ida Sang Nata, gumanti samangdan raris, ngabiseka sang pangantian. madeg ardana mareswari, katuran mawosin gumi. puput kabiseka sampun, sang kapikedehin nulak, irika Ida mapamit, yan ing sampun. puput waneng wanawasa.

152 [ 152 ]60. Sengker malih telulas temuang, wiaktinya ida sang kalih, kaharsen antuk Sang Nata, mangde ledang silih tunggil, pacang mamawosin gumi, sang kalih tan ngiring lawut, crita yang benjang semengan, mapamit ring sang Nrepati, Ari Prabhu, pamit Ida ring Sang Dyah.

61. Tumali asilur sepah, tur masingkuh ali-ali, kalih Ida maicayang, yen kalan ing pungkur mijil, putran Iida Raden Dewi, kahicenin parab sampun, makadi Ida Sang Dyah, smitane sawang sedih, semu mangu, sang kalih sampun mamarga.

153 [ 153 ]
VII. PUPUH GINANTI

1. Sampun akalih lumaku, adoh tan raryan ring margi, mangkin wenten kapangguhang, pangkung tur madaging titi, ngandang ring luhur ing jurang, pamargin sang negat abing.

2. Wenten anak istri ditu, nongos ring tanggun titi, gumanti ditu manyandang, sang sane ngalintang titi, istri jati ayu ngayang jegege tatan patanding.

3. Sarahina rika nunggu, asing sang nglintang mamargai, nika wantah katakenin, guna buat ngusadanin, rawuh Sri Ari Dharma. saking kaler ngarawuhin.

4. Sang kalih mamargi nyujur, rawuh ring titine mangkin, mamargi malon-alonan, ring tepi klod prapti, sang nunggu raris ngandegang, sahangubet gobyong nuli.

5. Mangeg Ida Sang Prabhu, mamaryan Ida mamargi, ngadeg ring titi punika alon ngucap Rakriyan Madri "Punapi puniki dewa," sang ngandeg angob mamanggih.

6. Wadanan sang wawu rawuh, tur malengek salah dalih, narka prabhawan ing Hyang, pamuput mahatur aris, "Inggih Ratu sapasira, nembenin Ratu mariki.

7. Yan tan iwang titiang Ratu, Ratu kadi Wisa Resi, wiku sidi prabhawa, den ing titiang ngandeg margi, wantah titiang ngalungsurang, ring I Ratu sane mangkin.

8. Samangdan uning I Ratu, pakaryan titiang iriki, rahina wengi matunggua, sarahina tan nyaledin, ngadang. sang mamargi


154 [ 154 ]lintang, nunasang swaguna jati.

9. Sang Widagda guna dukun, sane saged ngusadanin, den ing susuhunan titiang, Sang Dyah Kumudawati, parab idane sang sungkan, mati swarane puniki.

10. Tan dados ngandika Ratu, nika wantah ne gumanti. sane pisaratang, titiang, sang sanggup pacang nambanin, pinungkan ida sang Dyah, sampun katah sane riyin.

11. Balyan usadane rawuh, Siwa Bhuda minakadi, sakanea ing sang Ksatriya. pada rawuh manambanin, pada tatan mangenakang, kudang taun sampun riki.

12. Titiang iriki manunggu, ngamarginin kadi mangkin puniki titiang wong jero, pangayah Rahaden Putri, Ugrawati wasthan titiang, titiang sentanan Sumantri.

13. Inggih sapunapi Ratu, pinunas titiang puniki, nenten ke ledang nyawuran, punapi ledang nyanggemin. manampenin atur titiang." ken Madri raris manyawis.

14. "Nggih Dewa sang nunas tulung, kadi punapi kang warni, warnine ida sang Dyah, nandingang ring sarwa sari, yan tangguliyan wangsa, napi wangsana mingging.

15. Kabangkittan pasir gunung," Sang atunggu manyawurin, nyunyur manis matur dabdab, "Inggih ledang ngampuranin, madaging ing atur titiang, yan rereh ring sarwa sari.

16. Kancan ngawinang wulangun, kalih ngalulutin ati. tan sumahih ring kahayuan, ring kahayon Rahaden Putri, gustin tityange punika puniki gambare aksi.

17. Gambar ida Putri ayu, nangging yan ratu nyanggemin. titiang jaga mangaturang, nggih pisan kahatur mangkin. sing

155

[ 155 ]nya munggah pakahyunan, ne mangkin ngiring mamargi."

18. Sapunika munggwing atur; atur Dyah Ugrawati, sang sane katuran gambar, gambar ida Raden Putri, kadi dudut kahyunin,"Nah sanggup."

19. Sang Tapasa malih muwus, "Duh Dewa sang Dyah Ari, naben titiang manyanggupang, ida sane kaparain, tan len sang Batur Sasana, atur I Dewa kisinin."

20. Ken Ugrawati lumaku, tan critanang maring margi, sampun rawuh ring nagara, ngaran jagat Jambawati, prabune Sri Dwepasanta, wantah Idane kasiwi.

21. Rikala sampun kahatur, indik wenten sang nyanggemin, pacang nambanin sang Dyah, raris kahutus ngesengin, diglis sampun prapta, nyognyog ring linggih sang Dewi.

22 . Ring linggih Rahaden Galuh, ring Panti Mandala linggih, sungkane mati swara, sarene maserung sami, matabing kaca sinamiyan, maklambu sutra ne ngendih.

23. Wastra sutra palet pitu, wawayangan kadi klir, linggih idane sang Dyah, saking rika sami kaksi, sakatah sang mabawosan, Ugrawati rawuh tangkil.


156 [ 156 ]
VIII. PUPUH SINOM

1. Sareng ida sang Tapasa, sang Batur Sasana malih. sampun pada umanjinga, miwah wong jero mangiring. ring amben pada manangkil, ring ida Rahaden Galuh, pada nampa sopacara matedoh matimpuh cepil, jati pangus. sotaning wonging pangestriyan.

2. Irika mababawosan. indik kautaman aji. Ida Sang Batur Sasana. wantah nyaratang gumanti. pamedal bawos Sang Dewi, Sang Tapasa ngiring ditu. kawangsitin antuk cingak. Sang Tapasa sampun uning. dening tuhu. widagda tur cetaskara.

3. Uning ring siptan cacingak, raris ngaranjing ka puri. Ugrawati kandikayang, jalaranya samangdan ing. wenten bawos satwa mangkin, Ugrawati nyembah matur "Titiang Ratu nunas satwa,"Sang Tapasa ngucap aris. "Ane malu. ada anak panyamayan.

4. Ajaka telu panyaman, carah doyanya ngamaling. twah keto pisaratnya, gawenyane sai-sai, iguur iya rikala wengi. di suba maan mamandung, mikolihang rajabrana. pacang mangidep ne mangkin, nanem lawut. ring genahe adoh sawat.

5. Mangde ring genahe suniya, dinaneme apang nyingid. sami rah mananem emas, apang tong ada mangguhin. disisin alase becik, ditu tangos sepi samun, twah disampingan sema. tong ada janma malali, dening takut. teken bangke pasulengkat.

6. Sinah tong ada ngalincak, tong ada mangusak-asik. keto reke paigumnya, sandekala manyendekin. ada critayang bin. masih maling nging aukud, ngintip maigum sang tiga. ane mahan ngintip gelis, luas nyunut, ngemalunin maring setra.


157

[ 157 ]7. Sampun rawuh maring setra, tumuli medem nguliling, di bangkene mahilidan, mangkin sampun tengah wengi, i corah telu prapti, teked ditu malih gum, makisi-kisi sang tiga, singnya ada anak urip, maduk ditu, di bangkene masangidan.

8. Jalan turiksa melahang, ratayang bahan nyabsabin, ane ditu maring sema, yan tong ada mare ngawit, mananem emase dini, nuli katuriksa lawut, sami setenggeking sawe reke pada kalempagin, nika antuk, cantik kapake ne mangan.

9. Sakaukud kagutukang, dadyanyane beneng raris, tendas sang manyingid ring sawa, bilih manjus siam getih, kanti ipun nyele ati, nengil matahenan ditu, twara pisan maklisikan, kenginan tan kahuningin, dadi payu, sang tiga nanem brana.

10. Pupute mananem mas, sang tiga ngararis mulih, kantun sane keni kapak, ne mangkin wawu ngalilir, siam getih mebo andih, nguwon nglawanin bangun, ngalejat mangusap mata, naredes ngedatang aksi, reh nyinangguh, kari sang nunggu irika.

11. Nengil kari ngunandika, nuli magahang nyalibsib, dening mangkin sampun pedas, antuk ipun maninggalin, glis kakeruk tumuli, bangbange kagagah sampun, dagingnyane sinamyan, tumuli kapundut mulih, tan kawuwus, bawosang benjang semengan.

12. I maling sane tatiga, semeng raris manelokin, mangguhin bangbang magagah, matalang esong ngacingil, sakewala ada getih. ne pinih kelih mawuwus, "Dayan beline majalan, ka desa-desa ne jani, manyalupsup, tur saratang mangupaya.

13. Sawireh ada cihnanya, ne dini malahad getih, edum pajalane pada, majalan sarat ngulati, ngulati sane mangambil, nganti tawang tangos ipun, di peken ditu serepang, sig dagang ubade alih, ring dadukun, dagang ubad jajampian.

158 [ 158 ]14. Sig umahnya i balyan, ditu pada tureksanin, balyan nyampi tatu pada, makejang pada alihin, catur tupeksa Jaris. nganteg ka umahnya etut, tur bani etohin angkian, yan pada iya ngukuhin, keto sanggup dadianya jani madabdab.

15. Mangkin ngiring caritayang, nyujur ka umah sang kanin. katungguhan antuk sumahnya. sedek pules ne muani. ne nyuwang brana ne tuni. punika kni katutug, sane corah kakeniyang. pules nyingkrung mangungkurin. tur masaput. ngungkurin tejan ing surya.

16. Kakawukin kakocokang, sang tiga ngubeg nundunin. i maling ne mpung kagagah, saputanyane kahembusin. teked kudugnya kaambil, ditu iya negak bangun, muanyane biing bahag, semunyane mamuringis. pada guyu, sakatah sang madingehang.

17. Wenten sane mangucapang, to sang Wiku saking bangkit. sapupute manyarita, kenyem Ni Ken Ugrawati. ngararis nunasang malih, ring Sang Tapasa mahatur, "reh sampun mangkin kakeniyang, druwenya sane kamaling. inggih Ratu. sapunapi pamuputuya.

18. Mungguing kandane punika, napi ulihang malih. Sang Tapasa sawur alon, "Yan kadi tiang nepasin. maling patpat pada polih." Sang Batur Sasana nyawur, "Ne mucukin tuhu corah." uyut makanda di sepi, Raden Galuh, maklecet Ida saksana.

19. Makadi ida sang Dyah, Sang Ratna Kumudawati. uning raris mangandika, nanging kadi beda kari. luir guruh kawuh aris. wecanane Raden Galuh, "yan ring titiang lian manah. patutnyane ring sang kanin, palan ipun, reh ipun ngolasang manah.

20. Napi krana kaguyonan," Sang Batur Sasana kenying, semu guyu ngawi raras. Ugrawati kawarigsitin. atur sembah Ugrawati, tumuli mahatur alus, "lnggih Ratu sang Tapasa. leda

159 [ 159 ]ngang masatwa malih. titiang ngrungu, lega mengelangenin manah.

21. Sang Tapasa kenyem ngucap, "Inggih titiang masatwa malih, wenten tunggak kayu mrepat, najerin ring panyah margi, kancit wenten malih, jadma irika ngalangkung, ngalintang margi punika, maguna astakosali, sangging iku, mandeg mamaryan ring tunggak.

22. Kenging kadudut manahnya, tunggake raris kahukir, kapindayang warapsarya, rupanyane ayu bangkit, sampun i sangging magedi, dagang wijil mangkin rawuh, ngambenin i togog tunggak, lyan wenten musanain, glang kalung, pinggel bungkung mwah skar.

23. Kancit wenten Sang Pandita, suda citanyana sandi, pitwi sidhi wakbajra. piwolas Ida mamanggih, ngaksi i tunggak puniki, karegepang puja sampun, weda sidi kaglarang, kenging dados jadma urip, puma tuhu." Ken Ugrawati angucap.

24 . Napi punika palanya, ring sang sane ledang ngurip, sahantukan kahucap nista. kabawosang papa jati, Sang Dwija mangicen urip," Sawur Sang Tapasa Wiku, "Yan mungguwing ring manah tyang, undagine sane nguni, dening ipun, ngamimitin mamangguhang.

25. Ipun patut mikolihang," Sang Batur Sasana nyawis, "niki boya sapunika, nanging yani cara beli, patute Ida Sang Resi, reh ida sane kawuwus, nganugrahin kahuripan," kocap Rahaden Putri, Sang Ayahu. Putri Sri Jambuwatya.

26. Kedepan lathi ngamirah. waja lwir dlima putih, cacingake tatit ngedap, katah antuk kawiakti, mamigna wakia dewi, satingkah ring puri agung, wencanan Ida Sang Dyah, Sang Batur Sasana, kni , sipta iku , tatuwek bawos Sang Dyah.

160 [ 160 ]27. Ken Ugrawati saraga, nembah dulur matur aris. malih ngalungsurang satwa, Batur Tapasa kajudi, samangdan masatwa malih, lega manahe ngarungu. kenyung Ida Sang Tapasa. tumuli ngandika aris; "Kenken unduk , ngulah demene padidyan.

28. Punika gustin I Dewa, napi ledang maniarsi, santukane sampun Ida, nyidang mangandika mangkin, krana beeikan lungsurin." Raden Putri Ida manggut, nuli ngawangsit ban cingak, Ugrawati sampn uning, glis matur, "Durusang Sang Wiku nyarita,

29. Kadi Ida gustin titiang, taler ledang mamiarsi, Sang Tapasa sawur banban, Kenakang mangkin, mahirengang apang becik, niki titiang pacang nutur, inggih wenten katutuan, jadma matugelan mangkin sareng telu, meme bapanyane tunggal.

30. Nanging pada malianan, kaptinyane sang trini, maring desa yugapada, desn ipune wasatan sane pinih cenik, Si Durlatha wastan ipun, kadahat maguna corah. tan maran ipun mamaling, malihh ipun, sidi mantra wus kalumbrah.

31. Tur uning masalin goba, nyuti rupa dados wil, paksi sato lan kumamang, karangsuk kala ngamuling duwen anak yadnyan ilid, sidakni antuk ipun, ngambil gelah anak lyan, makadinya emas pipis, lintang landuh, tan kurang rajabrana.

32. Pianak somah lan sakadang, sapekuren lega sami, tan kurangan amah anggo, sakaya saking ngamaling. sang sane panengah malih, Wekasa wastannya ipun, guna mahukir-ukiran. makamiwah manyanggingin, guna macul. kasawah Ian makandikan.

33 . Pikolihnya asedengan, .sakayanyane kabukti, panak somah pada lega, wong desane ahub sami, prekantinya pada asih, kadang braya pada asung, pada lega tur pitresna, bawosang ne pinih kalih, gunan ipun, teleb suleng maring sastra.

161 [ 161 ]34. Wastan ipun I Tapasa, langgeng tapa bratha kerthi, nilar ngungsi gunung alas, manyukla-brahmacari, wyakti tatanparabi, kasukan ing jagat agung tan kahiden ika samian, kanisayan kagulikpangan turu, nika kakirangan pisan.

35. Wantah sane kaincepang, ngacep pamuput numadi, puput sang dados manusa, nyadya pademe puniki, puput mating alas giri, amunika inggih puput, satwane aturang titiang, I Dewa Sang Istri lewih, ncen iku, sane kahyunang I Dewa."

36. Ken Ugrawati manimbal, "Manah titiang mamilih, sang guna maling manyorah, wireh ipun guna lewih, bilih sida asing kapti," Batur Sasana sumawur, "Yan ing beli iati lian, reh lakar liyu piragi, opet ipun, opet gumine tampedang.

37. Kuduh sih ne jani suka, wekas papane kapanggih, jati tuhune manengah, sakayanya wantah saking, alaksalengernya kabukti, nika upa boga ayu, suci tur galang apadang, twara ada mangentukin, ne kapupu, ne kaanggon ne kadahar."

38. Raden Putri mangandika, Sang Ratna Kusumadawati, majalaran sekar wangia, telek ring kahyun Sang Putri. satya brata suleng tiling, dening wecanane alus, "Patut Sang Tapa Brata, nirwanane, ne ka gunung, purun mangetohang angkihan.

39. Mangda sida manut marga, kamimitane manjadmi, jati tan keni pastika, suen tuwuhe puponine, winaluyanya sakadi, sang manyama sareng telu, meme bapanyane bheda budi. len pasuduk." puput wencana Sang Dyah.

40. Ida Sang Batur, ngres kahyune tan sipi, mireng bawos ing sang anom, sujati prajnyan ring aji, karaketan dadi mentik, kalulutan ring kahyun, wawehin wamin Sang Dyah, ayune tatan patanding, cingak nyunyur, nembenin dados ngandika.

162 [ 162 ]41. Sang Hyang Saraswati saksat, yan rereh ring parakawi. wang jerone pada lega, kadi nembe ipun manggih, warnin Sri Nata Dewi, tatan pendah luya sampun, kni angsengan ajnyana, kapehan ajnyana sandhi, sampun katur. ring Ida Sang Naranata.

42. Tur sampun kahuningayang, mungguing Ida Sang Suputri. kenak dados ngandika, luir guruh kapat patis. amegat salulut sih, ledang Ida Sang Prabhu. Sang Prabhu Jambhawatya. medal kabancingah raris. sampun ngutus. ngaturin para Mpu Danghyang.

43. Sarawuh ing Panca Tanda, kalawan Jurwa Dipati. wireh tatan ngalempasang, kadi bisamane riin. sang ngawasa Raden Putri. yan ing gados waras luwur. bawos sane kaping tiga. pasewambharan Sang Putri. sampun puput. ne mangkin sampun kasidan.

44. Glis karya Naradipa, reh sampun cumandang riin. kebekan sapakara. sopacara tan ngirangin, wastra sutra lewih-lewih. mule-mule soca murub, pasilihe mabusana. wyakti mawarna-warni, sampun mungguh. maring bale pawarangan.

45. Genep sahasingasana, pakenyor tur murub ngcndih. kakudung yan kudang trap, sahalangse-langse malih. sutra palet pitu mirir, katejanan Sang Hyang Bhanu, prabhu kalih binresihan. pinuja de maharsi, Siwa Wiku, kasarengin Wiku Bhudha.

46. Puja santi kahuncarang, panjaya-jaya tan mari. kasidan mangguh raharja, makadi sang lanang-istri, sahardanareswari, Ida krabkambe sampun, teteg agung kaswarayang. rames tatabuhan munyi ngalup-alup. rebab semar-pagulingan.

47. Katah keselan pangajap, pangajap pada mamanggih. wus puput majaya-jaya, munggah maring jineng mrik. ring bale emas mahukir, bale pawarangan iku. crita sang kawarangang. sampun katemu karasmin, pada lulut, nyepukang smara ring

163 [ 163 ]tilam.

48. Lwir gentuh madu-drawa. amanis agula pasir, tatan pegat manumbuhang, ngentikang kayun, karasmin. tan pegat rahina wengi. ngulurin Jwor salulut, makaronan ring paturwan, bilih lima tengah sasih. Sang Prabhu, Ari Dharma ayat budal.

49. Ritatkala sampun muktiang, kawibhawan Sri Aji, mangkin pamit ayat budal. ka puri Bhojanagari, ri ramatwa Sang Aji, Raden Putri sareng milu. Ugrawati ndatan pasah. Kiryan madri sareng ngiring, sareng catur. wastu bancanan ing Hyang.

50. Kenginanya mcpasahan, ring sang nyareing mamargi. den ing pangendan ing Hyang, manemu duka sapalih, ngalila-lila ring margi. sinambi angawi kidung, asing-asing ke kacingak, punika wantah kalawi, adoh sampun, yan mungguing pamargan Ida.

164 [ 164 ]IX. PUPUH DANGDANG GULA

1. Jurang sengkan kalintangin, antuk Ida, kipud maha Dewya, kaleson lempa kahyune, anayuh soring taru, maring sor taru ngindani, Ida Sri Ari Dharma, angemban Rahaden Galuh, Kriyan Madri tatan imba, Ugrawatya, ring ajeng Sang Narapati, tan sah nampa pacanangan.

2. Mawidu nelu Raden Putri, tur kasundang, ring pangkon Sang Nata, rika nuli sang Bupati, katuran ngalap poh nyambu, sane nedeng manyempedin, pagenahnyane maring pucak, makatamban ing anelu, antuk nembene mamarga, mangandika, Sri Ari Dharma Pati, "Beli menek twara bisa."

3. Irika kapindehin, antuk Ida, Sang Raja Putria, dados munggah Sang Nrepati, antuk asihe kalangkung, ring Ida Rahaden Dewi. sarawuhe maring pucak, bangken i Jahe kapangguh. nika nuli kasurupan, antuk Ida, kurungane katinggalin, ngaluntuk rika ring tanah.

4. Makecos gampil sampun becik, warnin Ida, maraga irengan, irika ngalap nyambu, nyambu raktane puniku, Ken Madri carita malih, kabancaneng kalulutan, raga smara ngaliput, jantos lali kadi Ida, ring maraka, majeng ring Sang Narapati, Sang Dyah kaparikosa.

5. Sang Dyah Kumudawati, duk punika, katiwakin cingak. antuk Rakryan Patih Madri, Raden Putri sampun wruh, ring sang kungguanan smari, smara lulute manincap, Raja Putri yatna ditu, tumuli malahib bahang, Rakriyan Madriya, nyurupin anggan Sang Aji, ne sampun mangdados layon.


165 [ 165 ]6. Raden Putri kahetutburi, tur kacingak, indike punika, saking luhur, wit nyambune, nanging, Ida Raden Dewi, sampun sida kawastonan, samangdan mawali mantuk, ka Jambhawati nagara, kahiringang, antuk dane Ugrawati, Ken Madri ditu kerengan.

7. Critayang Kriyan Madri mangkin, masusupan, pidabdab ring manah, ngarihinin ka puri, ka puri Bhoja nagaratun, ngaremih Sang Raja Dewi, wantah cager nyentok rupa, reh warni kadi Sang Prabhu, mungguing Prabhu Ari Dharma, lumarisa, nglarang pangret margi, sang kahambilin kurungan.

8. Ngardi pangupaya sandi, ngalih cidra, dados rupa atat, paksi atate ngararis, nyujur ka Bhoja nagaratun, carita Sang Raja Dewi, sang laksmin ing pura, Sudesnawati puniku, rikalan ing tinangkila, ring babatarane sambil, rika ngemban putran Ida.

9. Putran Ida kantun alit, Raden Putra, kanggen ngaliliyang, stata wantah kalingling, sang katinggal yayah dangu, saduke ring weteng kari, sampun kaicenin parab, Darma Mejayane atut, warni bagus tan tandingan, wantah Ida, ne patut manyeladitinin, nagaran Ida Sang Nata.

10. Lintang ledang Sri Ida Sri Narpati, Kretawangsa, ri sapamedal Ida, putun Idane puniki, Bhoja nagarane landuh, wuwuh bhawan ing nagari, wikuh tur kreta raharja, paksi atat kancit rawuh, i atat sari punika, tur matinggah, ring wunwunan Raja Dewi, sang sane engon ban putra.

11. Saha makta ali-ali, katrimayang, ring jrijin ing tangan, sampun tinarima mangkin, ngolas asih tur amuwus, "Duh mas beline ja adi, mangdan adi sawuninga, niki beli jatin ipun, beli Prabhu Ari Dharma, titiang wantah, jati-jati rabin adi, masalin parab ne suba.


166 [ 166 ]12. Batur Sasana karanin, nganggo wesa, kadi Sang Dwija, malih niki ali-ali, cihnan beli sane sampun, unduk beline ninggalin." Raden Dewi mapangsegan, ri wawu Ida ngrungu, ali-ali kagambelan, kawaspada, jati Ida mandrewenin, mijil waspan Ida mecat.

13. Toyan aksi nembah mijil, karahatan, wulangun ring lda, ring sang asalin anggane, pamuput aris mahatur, sandeg atur Ida mijil, "Napi mawinan Sang Nata, wali-wali malih rawuh. njuti rupa nyalin warna, mangawinang. sedih manah titiang gusti," i paksi atat nyawurang.

14. "Duh mas mirah beline adi, kasangsayan, maring pakahyunan. mangkin sumangdaning adi, uning ring indike malu. Sang Tapasa ne ngawanin, teken beli presangga, twara takut ring Prabhu, ipun bani melaksana, jajag nyuwang, kurungane ragan beli, keto jati prantingkahnya.

15. Kasinah ane jani, adi mirah, pade suba teka. kadi ipun Patih Madri, ne nyurupin anggan ingsun, gawenang upaya sandi. reh ring beli salah krama, beli pacang nyingid malu, di kayu gede matinggah, yan ing teka, naya cidrane gawenin, adi ngarumrum pang melah."

16. Kancit i bancana prapti, manangsekang, ring linggih Sang Dyah, Sang Dyah Ida matangkis, wecanane amlad iyun. "Ratu mas jiwatma gusti, beli nglungsur ring i mirah, ledangang Ratu pitulung, ngiring Ratu makaronan, ring pamreman. ambukti raras karasmin," Sang Raja Putri nyawurang.

17. "Duh Ratu Sang Nata Aji, sametonan, Ratu Sang Tapasa. kenging tan wenten nyarengin, sampun ratu tan ngalingu, i ratu mawosang nguni, Ratu reke rakan Ida," Sang Prabhu alon samawur, "To nguda Ratu mas mirah, twara ledang. tan welas tekening beli, bas sue beli makenta.


191 [ 167 ]18. Enengan sanggama adi, dong timbalang, to putran I Dewa, anake alit manangis, nunas kakadohang lawut, makahyunan ngiring bibi, niangdanya kahemban lunga, kahandeg antuk sang Prabhu, prabhu siluman punika, "Eda ngejoh, beli ngalalipur jani, caran i cening punika.

19. lnggih durusang Sang Narapati, paripurna, puniki iyanak, kambing sane kesenengin, akaron piyanak ipun, sane mawasta Badisil, punika Ratu rerehang," Raris kadikayang lawut, mangosong tur sampun prapta, kam bing ina, akaronan Badisil, "Punika Ratu rarisang."

20. Glis adokang puniki, pang mancanda, badisil ngupkupang, mangde ipun manyonyoin, manyonyoin inan ipun, mangde wenten ne guyonin," Kenyung iyun i kedis atat, dija sangkanya punika, enyak inanya punika, nyepsep nyonyo, sig pyanaknya i kambing, wireh kambinge lyanan.

21. Twara nyak manyonyoin, ring inanya, umatur Sang Dyah, "Ratu patut manyurupin i Badasile puniku, mangda manahnya mabading, janten puniki iyanak , seneng tur uwusan ngambul, twara ja nangis maguyang, nggih gelisang, punika Ratu surupin, yan sampun meneng iyanak.

22. Drika ngiring Ratu raris,kapamreman,makenak-kenakan," Prabhu silumane mangkin, gisu masurupan lawut,manados pyanak kambing, kurungan anggan Sang Nata, malih katilaring sampun,kapangguh antuk i atat,risaksana,sane mangkin Kahawugin,malih kadi sane suba.

168

Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena dipublikasikan dan/atau didistribusikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, berdasarkan Pasal 43 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta meliputi:

  1. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
  2. Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, pernyataan pada Ciptaan tersebut, atau ketika terhadap Ciptaan tersebut dilakukan Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan;
  3. ...
  4. Penggandaan, Pengumuman, dan/atau Pendistribusian Potret Presiden, Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pimpinan lembaga negara, pimpinan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian, dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.