Geguritan Gajah Mada
Geguritan Gajah Mada
Naskah
[uah]GEGURITAN GAJAH KUMUDA
Alih Aksara dan Alih Bahasa IDA BAGUS GDE BUDHARTA, B.A.
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROYEK PENERBITAN BUKU BACAAN DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH Jakarta 1979Milik Fakultas Sastra Universitas Udayana No. Lontar 390, tebal Lontar 56
Hak pengarang dilindungi undang-undang
Selesai, selesai dibukukan (ditulis dalam lontar) oleh Ida Bagus Oka, Geria Lod (selatan) Pasar Intaran, pada hari Minggu Pon, Julungwangi, bulan mati ke 12, Sasih (bulan Bali) ke 11, rah 3 tenggek 8, Tahun Isaka 1889.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena jeleknya huruf ke- pada mereka pada sidang pembaca yang terhormat, kurang baik
karena terlalu banyaknya kesalahan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi kita sekalian.[ iii ]Kata Pengantar
Bahagialah kita, bangsa Indonesia, bahwa hampir di setiap daerah di seluruh tanah-air hingga kini masih tersimpan karya-karya sastra lama, yang pada hakekatnya adalah cagar budaya nasional kita. Kesemuanya itu merupakan tuangan pengalaman jiwa bangsa yang dapat dijadikan sumber penelitian bagi pembinaan dan pengembangan kebudayaan dan ilmu di segala bidang.
Karya sastra lama akan dapat memberikan khazanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Dan penggalian karya sastra lama, yang tersebar di daerah-daerah ini, akan menghasilkan ciri-ciri khas kebudayaan daerah, yang meliputi pula pandangan hidup serta landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya. Modal semacam itu, yang tersimpan dalam karya-karya sastra daerah, akhirnya akan dapat juga menunjang kekayaan sastra Indonesia pada umumnya.
Pemeliharaan, pembinaan dan penggalian sastra daerah jelas akan besar sekali bantuannya dalam usaha kita untuk membina kebudayaan nasional pada umumnya, dan pengarahan pendidikan pada khususnya.
Saling pengertian antar daerah, yang sangat besar artinya bagi pemeliharaan kerukunan hidup antar suku dan agama, akan dapat tercipta pula, bila sastra-sastra daerah, yang termuat dalam karya-karya sastra lama itu, diterjemahkan atau diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam taraf pembangunan bangsa dewasa ini manusia-manusia Indonesia sungguh memerlukan sekali warisan rohaniah yang terkandung dalam sastra-sastra daerah tersebut. Kita yakin bahwa segala sesuatunya yang dapat tergali dari dalamnya tidak hanya akan berguna bagi daerah yang bersangkutan saja, melainkan juga akan dapat bermanfaat bagi seluruh bangsa Indonesia, bahkan lebih dari itu, ia akan dapat menjelma menjadi sumbangan yang khas sifatnya bagi pengembangan sastra dunia.
Sejalan dan seirama dengan pertimbangan tersebut di atas kami sajikan pada kesempatan ini suatu karya sastra Daerah Bali
5 [ iv ]yang berasal dari Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Bali, dengan harapan semoga dapat menjadi pengisi dan pelengkap dalam usaha menciptakan minat baca dan aspresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra, yang masih dirasa sangat terbatas.
Jakarta, 1979
Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah
6 [ 5 ]DAFTAR ISI
1. Ringkasan..........................9
2. Durma..............................11
3. Sinom..............................18
4. Dangdanggendis.....................20
5. Semarandana........................25
6. Sinom..............................29
7. Megatruh...........................31
8. Solopog............................33
9. Durma..............................34
10. Dangdanggendis....................39
11. Sinom.............................43
12. Durma.............................45
13. Sinom.............................53
14. Mesa Katerangan...................57
15. Semarandana.......................61
16. Gambuh............................63
17. Dangdanggula......................64
18. Brahmara..........................68
19. Kawingking........................71
20. Dangdanggula......................76
21. Durma.............................83
22. Sinom.............................92
23. Semarandana.......................93 [ 7 ]24. Dangdanggula............................95
1. Durma....................................99
2. Sinom...................................102
3. Dangdanggendis..........................103
4. Semarandana.............................106
5. Sinom...................................109
6. Megatruh................................110
7. Solopog.................................112
8. Durma...................................113
9. Dangdanggendis..........................116
10. Sinom..................................118
11. Durma..................................120
12. Sinom..................................124
13. Mesa Katerangan........................126
14. Semarandana............................129
15. Gambuh.................................130
16. Dangdanggula...........................131
17. Brahmara...............................134
18. Kawingking.............................136
19. Dangdanggula...........................139
20. Durma..................................142
21. Sinom..................................149
22. Semarandana............................150
23. Dangdanggendis.........................151
8 [ 8 ]RINGKASAN
Nama lontar : Gaguritan Gajah Kumuda.
Nomor Lontar : 390.
Tebal lontar : 56 lembar.
Milik/Koleksi : Fakultas Sastra Univ. Udayana Den-
pasar.
Alih Aksara dan Alih Bahasa : Ida Bagus Gde Budharta B.A.
Isi:
Diceritakan seorang raja Jawa (Jambi Dwipa) yang tak berputra. Oleh karena itu lalu ia bersama permaisurinya pergi bertapa ke tengah hutan mohon kepada Tuhan agar dikaruniai putra, Dalam tapanya itu lalu ia digoda/diganggu oleh seorang raksasa yang bernama Sang Andaru. Sang Andaru mempunyai istri yang bernama Ken Darwa. Kemudian Sang Andaru bermaksud untuk membunuh Sri Baginda sehingga terjadilah perang di mana Sang Andaru mati terbunuh. Istrinya Kemudian menyerah dan mohon menjadi murid beliau.
Tercerita yang bertapa. Setelah lama beliau bertapa lalu dikaruniai seorang Putri yang cantik jelita yang diberi nama Sang Dyah Ratna Giri. Tetapi ketika ia baru agak besar lalu ditinggal ayah bundanya, sehingga ia diberikan Ken Darwa untuk mengasuhnya. Ketika sang Dyah dewasa maka pada suatu ketika ada seorang raja yakni raja Surya Wangsa yang datang ketika beliau berburu. Lalu Sri Baginda jatuh hati dan minta kepada Ken Darwa untuk diberikan putrinya itu. Ken Darwa memberikan dengan suatu perjanjian apabila kelak mempunyai keturunan maka anaknya itulah yang akan menggantikannya jadi raja. Raja menyanggupi. Tetapi setelah berputra yang diberi nama Gajah Kumuda putranya ini tidak diakui karena raja telah berputra di istana yakni Raden Ajeng.
Akhirnya setelah dewasa Gajah Kumuda nekad dengan
9 [ 9 ]melarikan calon istri Raden Ajeng maka terpaksa ayahnya mau mengakui dan kemudian diangkat jadi raja.
Kemudian diceritakan keturunan Gajah Kumuda dan keturunan Raden Ajeng yang akhirnya kawin yakni Raden Surya Kencana dengan Raden Dewi Ratna Praba. Juga di samping Surya Kencana maka Gajah Kumuda masih mempunyai anak dari Wadu Negara yakni Raden Surya Praba yang kawin dengan calon isteri Surya Kencana sebelum Ratna Praba yakni Dyah Ratna Komala.
Demikianlah isi singkat dari Gaguritan Gajah Kumuda.
10 [ 10 ]Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkahi kita semua
Pupuh Durma
1. Ada sebuah cerita yang menceritakan seorang raja bungsu, lagunya bernada keras, yakni lagu (tembang) Durma, dengan diiringi oleh fikiran yang kacau, dengan memakai bahasa Jawa-Bali, walaupun tidak ada yang menghiraukan, keritik di dunia ini.
2. Tercerita raja di Jawa (seorang raja di Jawa), terlalu senang hidupnya, rakyat baginda banyak, tetapi tidak mempunyai putra sehingga raja sangat bersedih, apa artinya kesenangan dunia, sebab tidak ada yang akan menggantikan beliau kelak.
3. Itulah sebabnya beliau meninggalkan singgasana, bersama permaisuri (istri) beliau, membangun tapa semedi, serta kemudian bertapa dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan berkah Tuhan, meminta seorang putra, agar terkabul permohonan beliau.
4. Tempat beliau membangun tapa semedi di gunung Kelasa, dengan tidak henti-hentinya beliau memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang disertai pula oleh pemusatan fikiran dan segala kepandaian yang beliau miliki berdua.
5. Tidak terceritakan lamanya beliau bertapa, sampai banyak orang mengetahui apa maksud serta tujuan beliau bertapa, ada lagi terceritakan, seorang raksasa bernama Sang Andaru, beliau adalah seorang raja yang tamak dan angkara murka, serta rendah budi.
6. Isteri beliau raja Andaru, bernama Ken Darwa, menurut cerita, raja Andaru, telah mendengar khabar, ketaatan tapanya baginda (raja bungsu), yang berasal dari Jawa dwipa (Jambi negara) tersebut, lalu raja Andaru bermaksud untuk menggoda tapa beliau.
7. Karena darmanya raksasa memang membunuh, dengan
11 [ 12 ]tidak membedakan manusia, lalu beliau berjalan, dengan membawa senjata, dan setelah tiba di asrama, lalu dia berteriak dengan keras sehingga seolah-olah menggetarkan hati.
8. Tercerita pada saat itu raja Jambi Negara, sedang mengkonsentrasikan fikirannya, menghadap serta memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan seluruh perhatiannya, lalu tiba-tiba mendengar teriakan raksasa, di luar pesraman.
9. Lalu beliau bangun serta mengambil senjata, serta dengan hati-hati beliau keluar, setelah dilihat raja raksasa Andaru, segera menyerang dengan disertai teriakan yang keras, tetapi beliau terhindar disertai menangkis serangan tersebut.
10. Lama keduanya bertempur saling kejar-mengejar, sama-sama sakti, Raksasa Andaru Raja, akhirnya kalah, dipanah oleh baginda raja Jambi Negara, lehernya putus, serta menggelinding di tanah.
11. Dengan disertai oleh tanah yang goncang, sebagai ciri matinya seorang raksasa, yang dibunuh oleh baginda raja, karena dosanya yang terlalu besar, di sana ia dibunuh di tengah hutan.
12. Dahulu ketika Raja Raksasa Andaru masih hidup, hidupnya di gua-gua, sekarang sudah mati, rohnya mengusak-asik orang bertapa menjadi harimau serta mengusak-asik ketenangan binatang-binatang lainnya seperti manjangan.
13. Semua binatang-binatang pergi bersenang-senang, di seluruh hutan belantara tersebut, sementara itu Sang Perabu (baginda), beliau mengangkat seorang murid, yang datang dengan menyerahkan jiwa raganya, bernama Ken Darwa, dan ia sangat berbakti kepada baginda.
14. Sekarang khabarnya Baginda raja sedang memperbaiki pesraman dibantu oleh Ken Darwa yang tidak pernah berpisah dari sisi baginda, dan selalu bekerja memperbaiki di
13 [ 14 ]luar maupun di dalam pesraman, serta memperbaiki taman yang mengelilingi pesraman.
15. Di tempat pemujaan, dihias dengan ukir-ukiran, di tepinya ditanam beraneka ragam bunga-bungaan, seperti bunga angsana, serigading, anggerek bulan yang sedang berbunga lebat.
16. Di halaman pesraman, ditanam bunga angsoka, among, kemuning, bunga pudak yang sedang mekar, baunya sangat harum, dikelilingi oleh kumbang, yang datang untuk menghisap sarinya.
17. Semua binatang piaraan ada di tempatnya masing-masing, si burung merak berada di pancoran, si angsa berenang mengelilingi taman yang dipenuhi bunga-bungaan, sehingga menimbulkan ombak kecil sampai di tepi telaga.
18. Keindahan pesraman seperti sebuah kota kerajaan, sehingga banyak orang berdatangan, untuk bergembira, serta melihat-lihat pesraman, sementara itu Sri Baginda sibuk menyambut serta menjamu mereka, setiap hari tidak hentihentinya.
19. Tidak terceritakan lamanya berguru dengan para pendeta (mahayati) dan sang prabu, telah diizinkan oleh para pertapa-pertapa lainnya, untuk meneruskan tapa beliau.
20. Beberapa hari lamanya membangun tapa semedi, dikabulkanlah oleh Tuhan Yang Maha Esa, yang datang dari sorga loka, tapa beliau, lalu sang perameswari, berhasil hamil, sebagai hasil (buah) tapa semadi baginda raja.
21. Tidak tercerita lamanya mengandung, kira-kira sembilan bulan, yakni setelah cukup umur kandungannya, dan bayi sudah cukup umurnya, lalu kemudian lahirlah, seorang bayi putri, sangat cantik jelita.
22. Lalu beliau menyambut serta mengamong putri beliau, oleh sang permaisuri, seraya berkata, aduh putriku, semoga engkau panjang umur bersama ayahndamu, yang telah meninggalkan kerajaan (Singasana) dengan tidak sedikit pun setia kepada kerajaan.
15 [ 15 ]23. Setiap hari makin disayangi putrinya, sangat kasih sri baginda nampaknya, semakin besar semakin berwibawa rupanya, sebagai seorang bidadari, dyah sarinya gunung, seperti bulan purnama wibawanya mempesonakan.
24. Sri baginda ingat dengan janjinya, untuk pulang kesorgaloka, bersama-sama sang permaisuri, berpisah untuk selama-lamanya dengan puterinya, dengan hati sedih berkata,putriku buah hati ayah bunda tersayang.
25. Ayah bersama ibumu akan berpisah denganmu, untuk mencari tempat kedamaian, yang hanya ada di Sorgaloka, jangan engkau bersedih, tetapi Dyah Ratna Giri menangis sedih, tersedu-sedu meratap mohon dikasihani.
26. Dengan suara terputus-putus Dewi Ratna Giri berkata, mati hamba ayah, apabila ayah pergi meninggalkan hamba, apa yang harus dapat hamba perbuat, untuk menahan kesedihan hamba, aduh ibu tercinta, jangan tinggalkan hamba seorang diri dalam kesedihan.
27. Anakku pujaan hati ayah ibu, jangan engkau berkata sesedih itu, karena telah dipanggil untuk menghadap Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak mungkin akan dapat dihindarkan, karena itu bersabarlah anakku, semoga engkau menemukan kebahagiaan, demikian sabda beliau seperti tidak setia kepada anak sendiri.
28. Ken Darwa dengarlah permintaanku, putriku yang engkau asuh, kuserahkan keselamatannya kepadamu serta menjaga di pesraman, setelah aku pulang (ke Sorgaloka), untuk mendapatkan kehidupan yang damai.
29. Setelah beliau mengkonsentrasikan seluruh jiwa raganya, lalu perlahan-lahan beliau menghilang dan moksa di udara, bersama sang permaisuri, begitulah beliau telah pergi untuk selamanya.
30. Dyah Ratna Giri menjadi tidak ingat diri, tetapi setelah sadar tak putus-putusnya menangis, sementara itu Ken Darwa, mencoba membujuk dengan suara yang manis,
16 [ 17 ]“Jangan bersedih tuanku, mari kita kembali (kepesraman), sambil mencari bunga-bungaan untuk menghilangkan kesedihan tuanku.”
31. Setiap hari Dyah Ratna Giri diasuh serta dijaga di pesraman, demikian juga para pertapa di sekitarnya datang untuk menghibur Raden Dewi, sambil menghaturkan buah-buahan yang diterima dengan suka hati oleh Dyah Ratna Giri, sambil bermain-main di tepi telaga di luar pesraman.
32. Ketika Dyah Ratna Giri sedang duduk di atas sebuah batu sambil mengagumi pemandangan pegunungan, terkenang kepada ayahnya, lalu datanglah Ken Darwa sembari berkata, "Ya tuanku marilah kita kembali ke pesraman, sambil melihat-lihat keindahan hutan ini.”
Pupuh Sinom
1. Lalu Dyah Ratna Giri kembali ke pesraman, setelah sampai di rumah, bersama-sama Ken Darwa. Kita tinggalkan dulu (cerita Ratna Giri bersama Ken Darwa). Tercerita lagi sebuah kisah, seorang raja yang terkenal yakni Raja Surya Wangsa, sebagai seorang dewa, beliau banyak mempunyai isteri, yang cantik-cantik, dan beliau adalah seorang raja yang bijaksana, dan pandai dalam ilmu pemerintahan dan ilmu sastra.
2. Beliau keluar, dihiring (diikuti) oleh para pendeta kerajaan (bagawanta), dengan memakai pakaian kebesaran, memakai kembang sepatu merah pada daun telinganya, dengan ditaburi wewangian yang harum semerbak, rambutnya tersisir rapi, di punggungnya memakai keris merah hijau, dengan dangannya (pemegangan keris) ditaburi permata mirah, betul-betul sebagai layaknya seorang raja besar seperti tersurat dalam cerita-cerita,
3. Beliau menduduki singgasana kerajaan, lengkap dengan segala upacaranya, ketika beliau keluar, semua rakyat baginda tidak ada yang berani berkata-kata, maha-patih para manteri dan para raja-raja taklukan beliau, semua te
18 [ 18 ]lah diperintahkan siap sedia. Lalu Baginda bersabda, dengan penuh wibawa berkata pelan-pelan, "Maha patihku.
4. Aku ingin menghibur diri, pergi ke hutan, sembari berburu binatang besok pagi kita berangkat, engkau maha patihku, kau perintahkanlah kepada juru bedag, juru rajut, para mantri dan para juru tidak ada yang berani menolak, menurut perintah baginda, setelah itu beliau masuk ke dalam puri beliau.
5. Malam telah menjelang pagi, keesokan harinya beliau bangun, Baginda telah siap sedia, memakai kain sutra hijau, yang dihiasi oleh bintang-bintangan dari benang mas, lalu beliau keluar, rakyat beserta patih mangkubumi telah lama menantikan beliau, kemudian beliau menunggang gajah, lalu beliau berangkat, tak terceritakan dalam perjalanan beliau.
6. Diceritakan sekarang setelah, Sri Baginda sampai di tepi hutan, terlihatlah jurang-jurang yang mengagumkan, kemudian beliau turun dan para manteri semua segera menghadap beliau, sementara itu rakyat telah memulai perburuannya, ributlah suara anjing, menyelusuri semak belukar.
7. Dengan tidak terduga-duga, datanglah awan yang gelap menutupi langit dan kemudian turunlah hujan yang lebat, lalu Sri Baginda bersabda kepada para manteri dan rakyatnya semua, ke mana kita sekarang, seorang di antaranya berkata, Silahkan tuanku ke timur, di sana ada pesraman, lalu Baginda berjalan menuju ke timur.
8. Dengan cepat sampai di pesraman, diikuti oleh para mantri, setibanya di pesraman, lalu ada seorang gadis dilihat, rupanya sangat cantik, tetapi hanya sebentar dilihat, karena gadis itu sedang masuk ke dalam, tetapi Ken Darwa masih tinggal di luar, lalu ditegur oleh Sri Baginda.
9. Siapa yang mempunyai pesraman ini, Ken Darwa lalu menyahut, la tuanku, saya seorang pembantu (babu), nama
19 [ 19 ]saya Ken Darwa, dan suami saya bernama raja Andaru, sekarang sedang berburu, lalu berkata Sri Baginda, Ken Darwa, apakah engkau mempunyai anak.
10. Ada seorang anak kami, seorang diri berupa raksasi, tetapi agaknya Sri Baginda tidak percaya, lalu beliau bertanya, di mana ada raksasa mempunyai anak cantik jelita serta membuat hati terjatuh, tetapi dengan cepat beliau bersabda, Ken Darwa saya meminta putrimu.
11. Ken Darwa dengan sedikit marah berkata, untuk apa tuanku meminta anak kami, supaya jangan nanti negara tuanku menjadi hancur, karena tidak patut seorang raja sebagai tuanku, memperisteri seorang raksasi, tetapi Baginda tidak mengurungkan maksud beliau dan berkata, Ken Darwa jangan engkau banyak bicara.
12. Bebaskanlah fikiranmu, tolonglah hatiku yang telah jatuh cinta, kalau pertemuan ini tidak terlaksana, akan menyebabkan aku sakit hati, Ken Darwa lalu menyahut, Daulat tuanku, patik akan berikan, tetapi ada suatu perjanjian kepada Tuanku, apabila di kemudian hari, anak kami menurunkan seorang putra.
13. Maka putra tuanku yang berasal dari kandungan anak kamilah yang akan menggantikan Tuanku menjadi raja, bagaimana tuanku, apakah tuanku bersedia memenuhi janji tersebut, Sri Baginda dengan bergembira bersabda, bahagialah engkau Ken Darwa, di mana mungkin aku akan melanggar janji kemudian.
Pupuh Dandang Gendis
1. Ken Darwa sangat bersenang hati, mendengar sabda sri baginda, berisi seperti apa yang dicita-citakannya, lalu ia berkata kepada Dyah Ratna Giri, memberitahukan sabda sri baginda, bahwa saatnya telah tiba, seperti apa yang dikatakan oleh ayah bunda tuan putri, lalu Dyah Ratna Giri membenarkan ucapan Ken Darwa.
2. Sekarang pada malam harinya, Sri Baginda, memakai kain
20 [ 20 ]tipis, dan ditelinganya memakai bunga, bibirnya tersenyum sehingga menampakkan bibir yang merah manis, berjalan sebagai orang yang dilanda rindu dendam, setelah dilihat Dyah Ratna Giri, oleh Baginda, di tempat tidur menunggunya, dilihat oleh Baginda sebagai seorang bidadari, yang turun dari Indraloka.
3. Setelah Sri Baginda sampai di tempat tidur Dyah Ratna Giri, lalu beliau duduk di atas tilam, lalu dipeluklah Dyah Ratna Giri, sambil merayu, aduh adiku sayang, hanya engkaulah yang bisa mengobati sakit hati kakandamu, dindaku tercinta, teruskanlah obat yang kau berikan padaku.
4. Obatilah sakit hatiku kini yang telah terkena panahnya dewa asmara, dan berikanlah cintamu padaku, Dyah Ratna Giri diam termenung, Sri Baginda sangat tergila-gila sehingga secara tidak sadar telah berani meraba-raba sang dyah, sehingga kainnya sang dyah terlepas, baunya_harum semerbak, sehingga sang dyah tidak menolak karena telah terkena pula oleh panah asmara, sehingga ia menyerahkan dirinya kepada Sri Baginda.
5. Sri Baginda menyambut badan sang dyah dengan sigap sembagi berkata, adiku, engkaulah sebagai kembang, ingatlah akan dirimu sayang, sang dyah segera dirangkul, mukanya diusap mesra sembari dinaikkan ke atas pangkuannya, dan kainnya yang terlepas diperbaiki oleh Baginda sambil merayu mesra.
6. Rayuan baginda manis sebagai gula, sayangku, jikalau engkau mencintaiku dengan setulus hatimu kakandamu bermaksud untuk membawamu pulang ke Keraton, bertahta berdua di Singgasana Kerajaan, saling mencinta, dan apa pun yang engkau pinta padaku, aku berjanji tidak akan menolaknya dan kakandamu akan segera melaksanakan segala permintaanmu.
7. Sri Baginda tidak ada keinginannya untuk pulang ke kota kerajaan akibat kasih sayangnya dengan Dyah Ratna Giri, sampai beliau lupa akan tugasnya sebagai seorang raja,
21 [ 22 ]demikian juga halnya dengan Dyah Ratna Giri yang begitu sayang kepada Sri Baginda dengan memberi apa pun yang dikehendaki oleh Sri Baginda sehingga seolah-olah tidak pernah berpisah sedetik pun, sehingga akhirnya sang dyah sudah mengandung dan Sri Baginda berkata dengan kasih sayang, duhai manisku.
8. Walaupun kita berpisah tetapi aku tetap mencintaimu, aku akan pulang sekarang, adiku, yang kusayangi serta kumanjakan, engkaulah yang telah membawa hidup matiku, Sang Dyah berkata perlahan, "Janganlah kakanda lama di Keraton," Sri Baginda menyahut, "Aku akan segera kembali", lalu Baginda turun dan berjalan sambil terus meholeh Sang dyah yang mengiringi perjalanan baginda dengan tatapan matanya yang sayu.
9. Tidak terceritakan sekarang Sri Baginda, telah tiba di Keraton, terus menuju puri beliau, semuanya girang menyambut kedatangan beliau, ibu dan ayah beliau paman para penghulu, para kesatrya serta para lurah sehingga menyebabkan baginda makin lupa kepada Dyah Ratna Giri, dan tenang kembali di puri untuk duduk di Singgasana Kerajaan.
10. Setelah lama beliau tinggal di Kota Kerajaan, kira-kira selama dua bulan lalu Dyah Ratna Giri merasa sangat kangen dengan Sri Baginda dan barulah sadar kalau Sri Baginda tidak mungkin akan kembali ke pesraman, suatu ketika sang dyah akan mandi ke pemandian yang selalu diikuti oleh Ken Darwa.
11. Sang Dyah sekarang pergi dari asrama, berjalan menuju pemandian, setelah tiba di pemandian, sang dyah merasa sangat lesu, lalu ia duduk di tepi permandian di atas telaga, sambil tersenyum melihat bunga teratai yang sedang mekar seperti teratai merah dan teratai biru yang sedang dikelilingi oleh tawon.
12. Dyah Ratna Giri ingin memetik bunga-bunga tersebut, lalu turun perlahan-lahan, tetapi dengan tidak terduga kandungannya lahir dan lahirlah seorang bayi laki-laki, seperti telah dititahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan kemudian bayi itu
23 [ 23 ]naik ke atas bunga teratai itu dan tiba-tiba bunga itu kuncup, San Dyah menjadi marah dan terus pulang ke pesraman serta lupa untuk membasuh air sisa kandungannya.
13. Ken Darwa juga melihat keadaan itu, lalu datang sembari merangkul sang dyah, dan berkata, Tuanku, mengapa hilang kandungannya, apa sebabnya hilang, katakanlah kepada hamba, lalu Dyah Ratna Giri menyahut, Ken Darwa jangan engkau ribut, membangkitkan marahku saja, sehingga bertambah-tambahlah kesedihanku, kemudian Ken Darwa diam dan menunduk lalu berjalan menuju pemandian.
14. Ken Darwa sangat bermuram durja, kata-katanya terputus-putus di pemandian, di bekas Dyah Ratna Giri duduk dicari-cari tetapi tidak diketemukan, demikian juga di tepi telaga dan pemandian sampai Ken Darwa merasa sangat lelah, setelah sore ia pun pulang. Tercerita yang ada di pemandian, setelah lama tinggal di dalam bunga teratai tersebut, lalu kemudian ia keluar.
15. Ken Darwa lagi ke pemandian, sukurlah, ia melihat anak kecil, yang sangat cakap, lalu disambutnya (oleh Ken Darwa), karena dalam anggapan Ken Darwa anak kecil itu tidak lain dari putra Sang Dyah, lalu ditaruh di atas kepala dan dibawa ke pesraman sementara itu Dyah Ratna Giri menyatakan kepada Ken Darwa bahwa ia mimpi mengambil bulan.
16. Ketika ia ingat akan mimpinya lalu ia menangis, lalu sambil mengusap air matanya datanglah kemudian Ken Darwa dengan berwajah seperti orang menangis, lalu duduk di sisi sang dyah dan berkata, aduhai tuanku, besok hamba sebagai pengasuh tuanku akan merasa sangat bahagia karena berkat pertolongan Tuhan Yang Maha Pengasih, putra tuan hamba sudah hamba ketemukan.
17. Lihatlah ke mari tuanku, sang dyah masih menampakan perasaan yang ragu-ragu, dari mana kau dapatkan anak ini, Ken Darwa menyahut halus, dia adalah putra tuanku yang dahulu meninggalkan kandungan tuanku, dan ini adalah
24 [ 24 ]memang pangeran saya, tetapi agaknya sang dyah tetap ragu-ragu dalam hatinya, tiba-tiba ada suara (sabda) dari langit, aduh anakku Dyah Ratna Giri.
18. Janganlah engkau ragu-ragu anaku, mengakui, anakmu itu, raden mantri sebenarnyalah itu, ingatkah engkau anakku, ketika engkau habis mandi di pemandian, lahirlah anakmu, yang kemudian naik ke atas bunga teratai, sekarang barulah cukup umurnya untuk lahir, karena itu berilah ia nama Gajah Kumuda, Dyah Ratna Giri baru menerimanya karena sabda itu datang dari langit.
19. Di sana barulah Dyah Ratna Giri berfikir sambil mengamong putranya, maafkanlah ibumu anakku, karena ibu terlalu bodoh sehingga ragu-ragu menerimamu, lalu anaknya itu ditungguinya sambil ditimang-timang, tercerita anak tersebut lekas besar, rupanya makin lama makin cakap.
Pupuh Semarandana
1. Syahdan Raden Gajah Kumuda, sangat senang tinggal di tengah hutan, umurnya baru meningkat dewasa, ia dikasihi oleh bermacam-macam binatang seperti harimau, singa, ular, celeng, kijang dan kancil.
2. Setiap hari raden Gajah Kumuda pergi ke tengah hutan, diikuti oleh semua binatang-binatang itu. Ia menaiki gajah, sore hari barulah Raden Gajah Kumuda pulang dan tetap diikuti oleh para binatang-binatang itu.
3. Tidak terceritakan, telah lama Raden Gajah Kumuda bersenang-senang dengan binatang-binatang itu, tidak ada saat perpisahan walaupun hanya untuk sekejap saja, Ken Darwa sangat senang hatinya, demikian juga ibunya.
4. Di Pesraman, Raden Gajah Kumuda dengan rajin belajar, kepada para pendeta, sehingga dengan cepat ia dapat menguasai pelajarannya, seperti ilmu sastra, ilmu bahasa, serta cerita-cerita dan filsafat hidup.
25 [ 25 ]5. Suatu ketika Raden Gajah Kumuda ingin mengetahui dirinya sendiri lalu bertanya kepada ibunya, karena lama hamba tidak pernah melihatnya, di mana dan siapa sebenarnya ayah hamba, katakanlah yang sebenarnya kepada hamba agar hamba mengetahui beliau.
6. Ibunya menjawab, aduh raden anakku, janganlah engkau menanyakan itu, karena ayahmu..... (segera dipotong oleh putranya), Raden Gajah Kumuda menjawab, kalau begitu dari mana dan mengapa saya ada, ibunya terus menjawab.
7. Tanyakanlah kepada Ken Darwa, lalu ia bertanya kepada Ken Darwa, di mana ayahku bibi, Ken Darwa menjawab, Perabu Surya Wangsa yang terkenal itulah ayahanda raden.
8. Raden Gajah Kumuda sangat senang hatinya mendengar kata dan jawaban ibunya dan Ken Darwa, hamba ingin untuk mengenal ayah lalu ia menyembah ibunya dan ingin pula menyembah ayahnya.
9. Menyahut kemudian ibunya, janganlah anakku segera berangkat, siapa akan mengantarkan anakku, mungkin beliau tidak akan mengakui, engkau adalah anaknya, namun Raden Gajah Kumuda berkata: "janganlah ibu ragu-ragu".
10. Raden Gajah Kumuda lalu terus meninggalkan ibunya dengan diikuti oleh para pendeta, tidak terceritakan di dalam perjalanan dengan cepat telah tiba di Kota Kerajaan, Raja Surya Wangsa, sedang mengadakan rapat paripurna, yang dihadiri oleh semua para punggawa.
11. Raden Gajah Kumuda lalu masuk, duduk berhadap-hadapan, dengan Sri Baginda, dan para pendeta yang menyertai beliau, duduk di belakang raden Gajah Kumuda, tercengang dan kagum semua yang menyaksikannya karena melihat wibawa Raden Gajah Kumuda.
12. Sang Raja lalu berkata, orang dari mana sebenarnya kamu ini yang datang ke mari, yang duduk di hadapanku, siapa
26 [ 27 ]namamu, katakanlah dengan sebenarnya, Raden Gajah
Kumuda menyahut, kami ini adalah orang hina.
13. Karenanya kami datang ke mari, datang di hadapan paduka, ada satu janji paduka, kepada ibu hamba, dulu ketika paduka mengawini ibu hamba, yang antara lain paduka berkata: "Apabila ibu hamba mempunyai anak.
14. Akan menggantikan paduka, menjadi raja serta memegang kerajaan. Para pendeta berkata perlahan-lahan, ini adalah putra paduka, yang bernama Raden Gajah Kumuda, ibunya adalah Dyah Ratna Giri, dan saat ini datang menghadap paduka.
15. Raja berkata dengan marah, apa yang engkau katakan para pendeta, mana mungkin raja berbuat begitu, kembalilah engkau cepat-cepat, bukan aku yang mempunyai anak ini, raden Gajah Kumuda tidak bisa berkata apa-apa, dan terus pulang tanpa pamit.
16. Tidak terceritakan di dalam perjalanan, air matanya berlinang-linang, menyesal pada dirinya, setelah sampai di pesraman, didekati ibunya, dan semua diceritakan kepadanya.
17. Ibunya menangis sedih, dipeluknya raden Gajah Kumuda, aduhai anaku seorang, apa sebabnya ayahmu, tidak mengakuimu sebagai anaknya, membohongi Tuhan Yang Maha Esa, sebab itu sekarang sudahlah jangan lagi mengenang ayah.
18. Tidak terceritakan Raden Gajah Kumuda, yang sedang bercakap-cakap dengan ibunya, demikianlah keadaannya Rahaden Gajah Kumuda, Syahdan Raja Surya Wangsa, setelah pulang dari persidangan, Sri permaisuri dilihat dan dicari, dijumpainya sedang tidur.
19. Sang Raja kemudian duduk di sampingnya, dan berkata dengan mesra aduh adiku kita akan berbahagia, engkau sekarang sudah hamil, semoga kita mendapatkan seorang putra, yang akan menggantikanku.
20. Syahdan setelah lama, lahirlah seorang putra, lalu diupaca
28 [ 28 ]rai sebagaimana mestinya, sesuai dengan upacara anak
yang baru lahir, tetapi anak itu tidak mempunyai wibawa, tidak mempunyai ciri-ciri kebangsawanan.
21. Setelah putranya besar dan dewasa, tetapi ternyata tidak bisa berkata-kata (bisu), setelah menginjak masa remaja, semua orang mengetahui bahwa raja mempunyai seorang. putra, yang sikapnya tidak mencerminkan sikap seorang keturunan raja, badannya berbintik hitam-hitam, dan matanya tidak normal.
22. Syahdan adalah sebuah negeri, yang rajanya bernama Perabu Malaya Wati, beliau adalah adik dari Raja Surya Wangsa.
Pupuh Sinom
1. Syahdan beliau Sri Baginda, sudah mempunyai putra seorang, dari permaisuri beliau, namanya cukup manis, yakni Dyah Candra Wati, yang wajahnya cantik jelita, mirip sebagai seorang bidadari, yang baru turun dari Sorgaloka.
2. Wibawanya betul-betul mempesonakan, tangannya seperti gandewa, wajahnya bulat mempesona, dengan dagu yang agak lancip, betul-betul merupakan gadis yang sempurna, kalau merengut bertambah cantik, dan juga adalah seorang gadis yang cakap dalam segala ilmu sastra dan bahasa.
3. Seperti teratai di tengah kolam, yang sedang mekar, ramailah kumbang mengelilingi, ada merah ada putih, tetapi kalah juga baunya, karena apabila kuncup, pada hari malam, cahanya tuan putri, juga demikian pada malam harinya.
4. Sang putri pandai dalam surat-menyurat, wajahnya ayu dan berwibawa, segala tingkah laku manusia yang sempurna ada padanya demikian juga pandai dalam soal kenegaraan, pada saat-saat hidupnya tuan putri, semua menjadi subur, serta menghasilkan, dan telah terkenal di negri itu, pada suatu ketika raja Surya Wangsa mengirim utusan.
29 [ 29 ]5. Ke negeri Malaya Wati, untuk meminang Dyah Candra Wati, disuruhlah membawakan pakaian kepada Sang Dyah,
tidak terceritakan di perjalanan, besoknya telah tiba di Kota kerajaan, maha patih terus menuju (menghadap) raja yang sedang mengadakan sidang, yang dihadiri oleh para menteri dan hulu balang sekalian.
6. Mahapatih Surya Wangsa langsung mendekati Sri Baginda, lalu Sri Baginda bersabda halus, "Apa maksudmu datang Ki Patih, menghadap ke mari (ke Malaya Wati), sangat berbahagia aku dapat bertemu," Rakryan patih anom, memang telah mengetahui perilaku Sri baginda, karena sudah, duduk di hadapan beliau.
7. Rakryan patih lalu memperbaiki duduknya, lalu berkata dengan manis, "Hamba budak tuanku diutus oleh Sri Baginda raja Surya Wangsa, menghaturkan surat ke hadapan paduka", lalu dibaca oleh Sri Baginda dan ternyata adalah surat lamaran.
8. Dengan berhati-hati beliau bersabda, aduh adiku, raja yang agung teruskanlah keikhlasanmu, kepada anakmu (maksudnya kepada putra Surya Wangsa), yang kuberikan nama Raden Ajeng, besar niatnya untuk memiliki putrimu, ia sekarang sedang sakit dan hanya akan dapat diobati oleh putrimu, selanjutnya Sri Baginda Malaya Wati lalu berkata.
9. Rakryan patih, mengapa kakanda perabu berkata demikian, seharusnya Raden Ajenglah yang datang berhadapan dengan putriku, kangen hatiku, mendengar kata-kata kakanda Perabu, untuk itu engkau rakryan patih sampaikan salamku kepada beliau.
10. Setelah itu lalu rakryan patih dijamu, sementara itu sang perabu setelah rakryan patih mohon diri, tidak terceritakan di perjalanan, setelah liwat di hutan yang besar, tibalah akhirnya ia di Kota raja, kebetulan Sri Baginda sedang dihadap oleh hulubalang dan para mantri sehingga rakryan patih baru dapat menghadap setelah persidangan itu.
30 [ 30 ]11. Setelah semua disampaikan kepada Sri Baginda, oleh rakryan patih, jawaban yang diberikan oleh Baginda raja Malaya Wati, lalu beliau sangat bergembira, dan selanjutnya bersabda, Aduh adiku raja yang mulya, kasihmu sangat tulus ikhlas, kepada anaku Raden Ajeng.
Pupuh Megatruh
1. Tercerita sekarang Raden Ajeng telah pergi ke Malaya Wati, sudah berjalan meninggalkan kota raja, banyak yang mengiringkan, demikian juga beserta segala upacara kebesarannya.
2. Raden Ajeng menunggangi kuda, setelah melewati beberapa desa, sampailah di tepi kerajaan Malaya Wati, rakryan patih mempersilakan Raden Ajeng untuk turun dari kudanya.
3. Raden Ajeng berjalan dengan menunduk, di pinggangnya terselip keris yang dangannya (pegangannya) diukir serta terbuat dari mas yang ditaburi permata.
4. Setibanya Raden Ajeng di tempat persidangan, Sri Baginda Malaya Wati sedang dihadap oleh para raja-raja sahabat, mahapatih para menteri dan semua hulubalang kerajaan.
5. Ketika dilihat oleh Sri Baginda, lalu beliau menyuruh Raden Ajeng menunggu sambil duduk-duduk, di luar balai persidangan.
6. Setelah selesai persidangan, Raja Malaya Wati menyuruh patihnya untuk menanyakan siapa mereka yang baru datang itu, lalu segera rakryan patih bertanya.
7. Siapa tuan-tuan sekalian yang datang pada persidangan ini, selanjutnya patih dari Surya Wangsa menjawab, kami adalah rakyat Surya Wangsa yang datang ke mari menghiringkan pangeran kami, yang akan menghadap Sri Baginda.
8. Rakryan patih Malaya Wati lalu berkata kepada mereka yang baru datang dari Surya Wangsa, serta kepada Raden
31 [ 31 ]Ajeng dipersilakan untuk menghadap langsung kepada
Sri Baginda.
9. Setelah dipersilakan maka Raden Ajeng menghadap sambil memperbaiki letak lehernya, pandangannya sayu wajah seperti bengkak, semua orang yang melihat sangat terkejut karena kejelekan Raden Ajeng.
10. Tercerita sekarang Sri Baginda bangun serta melihatnya dan menyapa Raden Ajeng, ia anakku silakan kemari, dan duduklah bersama-sama ramanda, dan oleh Raden Ajeng segera diikutinya.
11. Setelah duduk, datanglah budak beliau dari belakang Sri Baginda agar beliau masuk ke puri bersama-sama raden Ajeng.
12. Sri permaisuri diketemukan oleh Sri Baginda sedang duduk, lalu Sri Baginda berkata, adiku, anaknda dari Surya Wangsa telah datang dan telah duduk di sini, Sri Baginda berkata dengan perlahan-lahan.
13. Dindaku sayang iklaskanlah hatimu, anak kita, kita ketemukan dengan putra kakanda Perabu dari Surya Wangsa, yang mempunyai putra seorang yang wajahnya seperti petani miskin.
14. Lalu Raden Ajeng dibawa ke tempat tidur (kebalai) selatan diikuti oleh para pengiringnya, sementara itu semua isi Puri Malaya Wati menonton termasuk sampai Ken Bayan dan Ken Sangsit.
15. Semua orang yang melihatnya lalu mengejek Raden Mantri, Ken Bayan datang dengan tergesa-gesa menghadap Sang Dyah Candra Wati sambil berkata dengan halus.
16. Kakanda raden dewi telah datang, dan wajahnya sangat ganteng, kalah wibawa semua para raja sahabat ayahnda Tuanku, gagah perkasa kalau kita melihatnya.
17. Raden Dewi diam serta menunduk, akhirnya Ken Bayan merasa kasihan melihatnya dan sambil menyembah berkata, aduhai tuanku putri yang cantik secantik sarinya bu
32 [ 32 ]nga, rupanya tuanku tidak percaya dengan atur sembah hamba.
Pupuh Solopog
1. Ketika hamba melihat kakanda tuanku, sebenarnya adalah merupakan olok-olokan saja, sebagaimana hamba mengolok-olok tuanku dan sebagaimana hamba adalah merupakan budak tuanku.
2. Untuk lebih mengetahuinya silakan saya mengantarkan tuanku melihat Raden Ajeng, memperhatikannya yang kini sedang duduk di teras balai-balai, dan setelah melihatnya serta memperhatikan dengan saksama, barulah raden dewi merasa sedih dan kaget dengan wajah Raden Ajeng yang sangat jelek.
3. Raden dewi kemudian masuk ke tempat tidur, dan termenung menyesali diri, dan selanjutnya memanggil Ken Bayan dan Ken Sangit, untuk diajak berbicara serta mengeluarkan segala isi hatinya.
4. Selama Raden Ajeng berada di Malaya Wati, Dyah Candra Wati tidak pernah mempunyai perasaan senang, tidak mau bertemu dengan Raden Mantri (Raden Ajeng); Tercerita sekarang Raden Ajeng sudah minta diri pulang ke Surya Wangsa.
5. Setelah tiba di Surya Wangsa Raden Ajeng bersama pengiringnya telah menghaturkan segala sesuatunya kepada Baginda raja, dan beliau sangat sukacita demikian pula sang permaisuri, kita tinggalkan dulu Surya Wangsa untuk melihat kembali di Malaya Wati.
6. Sri Baginda di Malaya Wati selalu merayu putrinya seraya berkata dengan penuh kesabaran, aduhai putriku tercinta, janganlah terlalu merisaukan hal itu, karena itu semuanya akan membuat dirimu bertambah duka.
7. Akhirnya, dyah Candra Wati ingin untuk menghibur duka laranya ke pegunungan, dan niat itu diturutkan oleh Sri
33 [ 33 ]Baginda serta kemudian memerintahkan kepada para mantri, punggawa dan hulubalang kerajaan beserta para pendeta kerajaan untuk bersama-sama menyertai perjalanan Baginda.
Pupuh Durma
1. Tidak terceritakan pada malam harinya Sri Baginda, pada keesokan harinya beliau bersama sang permaisuri, memakai pakaian yang sama, memakai bunga warsiki, bersisir yang rapi dan sangat berwibawa.
2. Raden Dewi berhias dengan baik, memakai kain geringsing, rambut tersisir rapi, dengan memakai bunga tiga warna, bersabuk yang menyala, dan terlihat sangat cantik rupawan.
3. Selanjutnya Dewi Candra Wati sudah bersiap, dan ketika sang dewi keluar, lalu langsung menuju rombongan, yang sudah siap sedia menantikan, bersama-sama dengan Ibu Suri, Sri Baginda menaiki Gajah Kerajaan.
4. Sri Permaisuri berjalan paling depan, bersama-sama Dewi Candrawati, Sang Raja paling belakang, dengan memakai payung putih, lalu diikuti oleh tentara dan rakyat beliau, para mantri, kepala desa dan para akuwu.
5. Syahdan perjalanan rombongan beliau, telah jauh berjalan, meliwati batas kerajaan, dan akhirnya telah tiba di pegunungan, Raden Ajeng mengikuti dari belakang, mencoba untuk mendahului, mengikuti Sri Baginda.
6. Sri Baginda lalu turun dari gajah kendaraannya, melihat keindahan pemandangan, demikian juga para menteri dan rakyat sekalian mencari tempat sendiri-sendiri, selanjutnya Dyah Candra Wati, sangat senang hatinya bersama-sama ibunya mencari bunga-bungaan di bagian timur.
7. Para budak dan hamba sahaya beliau saling mendahului, berebutan bunga yakni mencari bunga-bungaan yang indah seperti bunga nagasari, yang akan dipersembahkan
34 [ 34 ]kepada Tuan Putri, lalu oleh Tuan putri diambil dan kemudian ditaruh di rambutnya (untuk menghias rambut beliau).
8. Kagum Dewi Candra Wati melihat kemah-kemah yang baru dibuat, melengking sunari-sunari (bambu yang dilubangi beberapa buah lalu kemudian diikatkan di pohon-pohon), yang mendapat angin yang sedikit keras, sedangkan suara burung-burung saling bersahut-sahutan demikian juga suara burung merak.
9. Dyah Candra Wati merasa lesu lalu duduk di atas rumput, sambil memperbaiki letak rambut serta bunga-bunga yang disuntingkannya sehingga membuat bertambah terpesona orang yang melihat kecantikan tuan putri.
10. Ken Bayan lalu mendekati sambil memberikan kembang, lalu bersama-sama mendengarkan kemerduan suara burung serta suara sunari-sunari itu yang seolah-olah membangkitkan hati yang sedih menjadi gembira demikianlah halnya rahaden Putri.
11. Sri Baginda banyak dihadap oleh para pertapa, mempersembahkan buah-buahan, segala hasil pegunungan, sangat senanglah hati Baginda, mencicipinya bersama-sama dengan Raden Ajeng.
12. Sri permaisuri juga telah diberikan oleh Sri Baginda, di pesanggrahan, yang sudah diketahui oleh orang-orang bahwa Sri Baginda raja Malaya Wati, pergi untuk menghibur diri.
13. Berita ini telah sampai pula di telinga Raden Gajah Kumuda yang sangat gembira, dan sambil berpamitan dengan ibunya dan berkata Ibu hamba minta izin untuk menghadap beliau Sri Baginda Malaya Wati yang kabarnya pada saat ini bersama-sama Sri Permaisuri beliau datang untuk berekreasi.
14. Hamba mendengar berita, Baginda Raja Malaya Wati, mempunyai seorang putri yang sangat cantik jelita, hamba ingin untuk menemuinya, tetapi segera ibunya memperingat
35 [ 35 ]kan, aduhai putraku, janganlah niat itu diteruskan karena akan mendatangkan kesusahan.
15. Ken Darwa lalu memotong dan berkata, janganlah ragu-ragu tuanku ada warisan dari ayah hamba, wujudnya sebuah baju, tetapi hati-hatilah memakainya, dengan memakai baju itu tak seorang pun akan melihatnya.
16. Setelah raden Gajah Kumuda mengerti serta memakainya, lalu pergilah Raden Gajah Kumuda, ke pesanggrahan Sri Baginda yang pada saat itu sedang ramainya dihadap oleh para menteri-menteri beliau.
17. Dyah Candra Wati dilihat oleh Raden Gajah Kumuda sedang duduk di sebuah balai kecil (tempat duduk kecil) di atas sebuah batu, yang baru saja habis berhias, bersunting bunga nagasari yang membuat wajahnya bertambah cantik dan menarik.
18. Raden Gajah Kumuda dengan serta merta memperhatikan, kecantikan Dewi Candra Wati yang kalau diperhatikan dengan teliti seperti bidadari yang turun menjelma menjadi manusia pada sang maha resi.
19. Raden Gajah Kumuda lalu berjalan mendekati, orang yang menaruh tonggak, setelah dekat lalu dipegangnya tonggak tersebut, tetapi tidak ada orang yang tahu dan tempatnya sangat dekat dengan raden dewi.
20. Dyah Candra Wati sedang mengagumi panorama di pegunungan, disertai para hamba sahaya serta rakyatnya sekalian dan ketika tuan putri mengambil daun, tiba-tiba ada orang yang dilihatnya sebagai putranya dewa Asmara gagah dan berwibawa.
21. Kagetlah sang dewi dan berkata, siapa tuan hamba ini, jawablah secepatnya pertanyaanku, dan dari mana engkau ini, hati-hatilah engkau pasti mati apabila diketahui oleh ayahku.
22. Ke sana ke mari dilihat oleh para hamba sahayanya, namun tidak ada yang diketemukan, bertanyalah Ken Bayan, sambil berolok-olok, di mana ada orang yang tuanku lihat, kira
36 [ 37 ]kira, ada orang laki-laki yang datang ke mari.
23. Duhai tuan putri mungkin tuanku salah dengar suara burung tuanku kira suara orang, tenanglah tuanku, selanjutnya Raden Gajah Kumuda, sekarang makin mendekati, sang dewi makin susah hatinya.
24. Raden Gajah Kumuda lalu berkata dengan halus sambil merayu, duhai dewi yang seperti bulan, lihatlah hamba, orang hina yang sedang berduka, tidak takut datang walaupun maut sedang mengintai, hamba adalah orang sengsara yang dibuang oleh ayah.
25. Andaikata tuanku tulus iklas dengan hamba, tetapi maafkanlah, hamba bersedia menghambakan diri kepada tuanku, dan apa pun yang tuanku perintahkan hamba sanggup untuk memenuhi.
26. Dewi Candra Wati menunduk sambil berkata, dari mana kamu ini, pergilah cepat-cepat, apa yang engkau katakan, Ken Bayan dan Ken Sangit menjadi bingung dan sangat pusing karena orang yang diajak bicara tidak ada. (tidakterlihat oleh mereka).
27. Duhai tuan putri junjungan hamba kata Ken Bayan, siapa yang tuanku ajak bicara, katakanlah kepada hamba, mengapa hanya tuanku saja yang mengetahui, dari mana datangnya, dan bagaimana rupa orangnya.
28. Sang dewi menjawab dengan agak marah, kamu tahu siapa ini, bukan berolok-olok, berbicaralah kamu dengannya, kamu seperti tidak percaya dengan kata-kataku yang sebenarnya.
29. Ya tuan Putri junjungan hamba, karenanya hamba demikian seperti tidak percaya, karena hamba tidak melihatnya, rupa orang yang kemari mungkin seperti orang dalam angan-angan, yakni seperti seorang dewa yang turun, sang dewi lalu berkata.
38 [ 38 ]Pupuh Dangdang Gendis
1. Dyah Candra Wati lalu berkata memotong, janganlah ini terlalu dipanjangkan karena kamu toh tidak melihatnya, kemudian Raden Gajah Kumuda berkata, Duhai dewi yang cantik iklaskanlah hati paduka kepada hamba, yang siang malam selalu mengenangnya, karenanya lalu hamba berani menemui tuanku, semoga di hari kemudian kita bisa bertemu serta berbahagia hamba bersama tuanku di puri.
2. Sang Dewi menunduk tidak menjawab, wajahnya membayangkan sedikit marah, mendengarkan kata-kata raden Gajah Kumuda yang sebenarnya dan selanjutnya ia berkata, Ya tuanku, mungkin ada orang tahu dengan keadaan tuanku, sekarang hamba mohon pamit berhubung hamba akan pulang untuk memberitahukan kepada ibu hamba, karena hamba telah lama meninggalkannya, hanya permohonan hamba tunggulah hamba tiga bulan lagi hamba akan datang menjumpai tuanku.
3. Tidak terceritakan Raden Gajah Kumuda, sudah tiba waktunya untuk berpisah, sang dewi sebenarnya telah jatuh cinta, Raden Gajah Kumuda lalu pergi meninggalkannya sambil berjalan menoleh-noleh sedih untuk meninggalkannya, demikianlah Raden Gajah Kumuda, sementara itu Sang Prabu Malaya Wati telah kembali pulang.
4. Sudah pergi Baginda dari pegunungan itu, sebentar saja beliau berjalan bersama rombongan beliau, akhirnya tibalah Sri Baginda di keraton, sedangkan Raden Ajeng juga sudah pulang ke Surya Wangsa, dan setelah lama tercerita sekarang Raja Surya Wangsa kembali mengirim utusan.
5. Sang Rakryan patih diutus ke Malaya Wati untuk membawa surat yang isinya untuk mempertegas agar Dyah Candra Wati segera ditikahkan dengan Raden Ajeng, setelah sampai, kebetulan Sri Baginda sedang mengadakan persi
39 [ 39 ]dangan dengan para mantri, hulubalang, dan tiba-tiba datanglah patih Surya Wangsa yang lalu mendekati Sri Baginda dan menyerahkan surat.
6. Sri Baginda segera mengambil surat tersebut, lalu dibaca dalam hati, yang menyatakan dengan sangat hormat, yang isinya adalah sebagai berikut, adiku prabu Malaya Wati, tolonglah iklaskan hati dinda dan tolonglah anaknda Raden Ajeng agar segera upacara pernikahannya dapat kakanda buatkan yang sedianya pada bulan empat, yakni pada bulan purnama ketika dunia menuju kebahagiaan.
7. Tidak dapat lagi Sri Baginda Malaya Wati untuk menghindari, pesan Sri Baginda Surya Wangsa, karena sang dewi sudah tidak mau dengan Raden Ajeng, tetapi apabila beliau menolak, tentu besar akibatnya akhirnya beliau bersabda, hai rakryan patih, katakanlah kepada kakanda perabu bahwa aku bersedia sekali.
8. Rakryan patih lalu menyembah dan kemudian mohon diri, pulang kembali dari Malaya Wati, setelah lama berjalan, sudah sampai di kota kerajaan, lalu menghadap Sri Baginda, menyampaikan kata-kata Sri Baginda di Malaya Wati, sangat suka citalah Sri Baginda Surya Wangsa dan kemudian Baginda memerintahkan untuk menghias keraton.
9. Lalu diperintahkannya untuk membuatkan puri khusus untuk Raden Ajeng yang dikelilingi telaga yang diisi tunjung-tunjung yang sedang berbunga, selain itu puri tersebut diukir halus kemudian dihias dengan Ratna mutu manikam.
10. Semua gamelan yang disuguhkan di luar puri sangat merdu suaranya demikian juga tarian-tarian sudah siap sedia untuk menari, sementara itu ketika Raden Ajeng keluar, dipayungi dengan payung putih mulus, pakaiannya sangat indah-indah, menunggangi kuda, diikuti oleh para punggawa,para mantri, satrya, rakryan patih yang memakai pakaian serba mewah.
11. Tak diceritakan Raden Manteri dalam perjalanan, seka-
40 [ 40 ]rang diceritakan Dyah Candra Wati, yang pada saat itu sudah masuk tempat tidur yang terang benderang sebagai di sorga, yang kemudian dibakari kemenyan sehingga baunya sangat harum, namun Raden Dewi tidak pernah merasa senang, demikianlah keadaannya Raden Candrawati, sampai ketika Raden Ajeng tiba di Malaya Wati.
12. Setibanya di luar Puri, lalu dijemput oleh Sri permaisuri, dan setelah dipersilakan turun Raden Ajeng lalu diikuti oleh para menteri, sampai di belakang sekali, lalu setelah mereka duduk lalu dijamu sebagaimana mestinya, sekarang kita ceritakan Raden Gajah Kumuda.
13. Setelah dia mendengar suara gamelan di Malaya Wati, lalu keluarlah niatnya untuk datang di Malaya Wati, untuk
menemui Dewi Candra Wati, lalu ia berkata dengan manis
kepada ibunya, ibunda junjungan hamba, izinkanlah hamba untuk ke Malaya Wati, sambil melihat Raden Ajeng akan
menikah.
14. Ratna Giri lalu berkata memperingatkan, anakku, janganlah anakku pergi, nanti engkau akan menemukan kesukaran, namun Raden Gajah Kumuda menyahut, janganlah ibunda terlalu awas, dan kemudian ia pergi, dengan mengenakan bajunya Ken Darwa, tak terceritakan di perjalanan, sampailah ia di Malaya Wati dengan tidak ada yang melihatnya.
15. Raden Gajah Kumuda terus masuk ke puri dan terus menuju ke Kaputren, dan dilihatnya Dyah Candra Wati sedang tidur, lalu ia berbicara dalam hatinya, kebetulan dan memang aku akan menemukan kebahagiaan dengan engkau dindaku, sekarang engkau kujemput, sangat senang hati kakandamu, bertemu sekali dengan adinda, yang selalu terbayang di mataku.
16. Raden Dewi setelah sadar dari tidurnya, merasa kaget, dengan tingkah laku Raden Gajah Kumuda, tidak dapat berbicara apa-apa, Raden Dewi setelah sadar berkata dengan
perlahan-lahan betul-betul kakanda datang untuk memenuhi janji kakanda, sedangkan Ken Bayan, Ken Sangit, Ke
41 [ 42 ]pasira dan Ken Pengunengan melihat peristiwa itu tetapi tidak dapat berkata sepatah pun.
17. Sekarang sudah tibalah waktunya, ketika hari sedang tengah malam, waktunya orang sudah tidur pulas, Dyah Candra Wati sangat tidak tenang hatinya, lalu dirangkul. dan dipondong oleh Raden Gajah Kumuda, setelah sampai di luar pesraman Raden Gajah Kumuda, lalu langsung diajak ke tempat tidur.
18. Tercerita sekarang Raden Ajeng, di saat sedang berbicara dengan para rakyat semua, tiba-tiba datang Ken Inyu tergesa-gesa lalu berkata kepada Sri Baginda, dengan peluh yang bercucuran kata-katanya terputus-putus, Raden Dewi hilang, tidak diketahui, kagetlah Sri Baginda dan Sri permaisuri sangat sedih.
19. Sri permaisuri menangis sedih, putriku, engkaulah jiwaku,teruslah sudah engkau tidak akan ibu jumpai lagi, ke mana engkau pergi anakku, lihatlah kakakmu Raden Ajeng anakku, dengan mengeluarkan air mata, sangat rela engkau, dan ibu sangat perihatin kepadamu, dan lalu sang permaisuri pingsan, serta kemudian diusung masuk ke dalam puri.
Pupuh Sinom
1. Sibuk rakyat semua di Malaya Wati dan semuanya prihatin,semuanya waswas dengan kesaktian yang mencuri Dyah Candra Wati, tak diketahui jalannya pencuri, Sri Baginda kangen dan sedih melihat Raden Ajeng, lalu beliau meluap menjadi sangat marah.
2. Perintahkan memukul kentongan sebagai mana negara sedang gawat lalu datanglah berduyun-duyun orang (rakyat) tiba di jalan-jalan demikian juga halnya dengan para mantri, satrya dan para hulubalang kerajaan semua saling tanya, menanyakan sebab-sebab hilangnya Raden Dewi.
3. Semua orang siap dengan senjatanya, kuda, gajah sudah disiapkan rakryan patih lalu menunggu, kehadiran Sri Bagin-
43 [ 43 ]da, kemudian keluarlah Sri Baginda di persidangan, duduk di atas gajah, memanggil rakryan patih dengan berseru, lalu rakryan patih mendekat.
4. Para satrya semua, para raja-raja sahabat, para hulubalangku semua, Sri Baginda berkata perlahan-lahan, tuan-tuan sekalian saya mengharap agar kita memikirkan bersama, kita cari segala daya upaya karena pencuri memakai samaran untuk menghilang.
5. Rakryan patih lalu menyembah dan berkata, daulat tuanku, karena tidak ada orang yang diketemukan, sebaiknya kita kembali ke pegunungan, kita mencari sampai di desa-desa, untunglah bila kita menemukannya, Sri Baginda berkata perlahan-lahan, benar katamu patihku, mari kita pergi untuk mencarinya, sampai kita mendapatkan anakku.
6. Setelah Rakryan patih pergi, yang diikuti oleh para mantri, dengan tujuan yang berbeda-beda, semua semak belukar sudah ditelusuri begitu juga desa-desa, juga belum dapat diketemukan, tercerita Raden Gajah Kumuda, mengatakan akan mengambil bajunya, Ken Darwa baru dapat melihatnya.
7. Setelah masuk dan naik ke tempat tidur, demikian juga tenda/kelambu sudah diturunkan, Raden Gajah Kumuda berkata perlahan, duhai dindaku sayang, mungkin sudah ditentukan oleh Tuhan, kita akhirnya kan bertemu, jawablah manisku, walaupun hanya sepatah kata, tidak usah terlalu panjang, sekedar untuk menghilangkan kepedihan hatiku.
8. Adikku yang manis, teruskanlah cintamu padaku, berdua dengan aku yang pada saat ini telah menjadi kakandamu, jangan engkau ragu-ragu akan cintaku padamu, gelap semua jadinya, apabila dikau tidak mengobatinya serta meneranginya, hatiku yang kini sedang berduka.
9. Dyah Candra Wati sudah dipeluk di tempat tidur, dengan tidak henti-hentinya merayu, tidak terceritakan yang sedang diliputi rayuan, marilah kita ceritakan Raden Ajeng. Raden Ajeng kembali pulang tidak terceritakan di perjalan,
44 [ 44 ]akhirnya ia telah sampai ke keraton dan telah datang mendekati Sri Baginda Surya Wangsa, lalu melaporkan tentang hilangnya Dyah Candra Wati.
10. Terhenyaklah Sri Baginda, lemah lunglai dengan hati yang tidak menentu, semua ingatan hilang, sementara itu patih Malaya Wati, datang dengan wajah yang payah, hamba diutus oleh Sri Baginda di Malaya Wati, mengkhabarkan tentang hilangnya Dyah Candra Wati tidak menentu ke mana perginya.
11. Sudah ditelusuri seluruh kerajaan, bahkan juga sampai dihutan dan di pegunungan tetapi juga tidak dapat diketemukan, untuk itulah hamba datang yakni untuk minta beribu-ribu maaf atas kelalaian hamba, demikian juga halnya beliau adik Tuanku, yang mohon agar Tuanku tidak salah mengerti dan tidak marah atas kelalaian kami semua, namun Sri Baginda Surya Wangsa dengan marah berkata.
12. Hai patih jangan kau banyak bicara, pulanglah engkau lekas-lekas, katakanlah dengan rajamu, sediakanlah prajurit, maksudku patih, aku ingin bertanding kesaktian mana di antara aku dengan rajamu lebih sakti, dosanya terlalu besar tidak patuh dengan janji, demikianlah lalu patih Malaya Wati mohon pamit dan kembali pulang.
13. Beliau Sri Baginda Surya Wangsa sangat marah, lalu berkata dengan perlahan-lahan, bagaimana caranya paman patih, maksudku besok pagi, aku akan menggempur adik Prabu di Malaya Wati lalu maha patih menghatur sembah, hamba akan menjunjung segala perintah Tuanku.
Pupuh Durma
1. Geger dan ramailah rakyat Surya Wangsa, sangat banyak yang datang, mantri satya demang tumenggung terutama sekali mahapatih, sementara itu di alun-alun telah penuh oleh kuda dan gajah.
2. Balatentara semua sudah diberitahu, oleh Sri Baginda, de-
45 [ 45 ]mikian juga halnya para mantri, satrya dan para kepala kepala pasukan dan para hulubalang serta para penguasa desa di lima tempat, diberitahu bahwa besok kita akan menggempur Malaya Wati.
3. Semua bala tentara telah diberitahu, dan para hulubalang yang akan menjaga keselamatan Baginda telah masuk ke puri, sedangkan para prajurit semua telah dibubarkan, sementara itu patih Malaya Wati telah tiba di Kota raja dan langsung menghadap raja serta menghatur sembah kepada Sri Baginda.
4. Semua kata-kata beliau di Surya Wangsa dihaturkan kepada Sri Baginda di Malaya Wati, diamlah beliau kemudian, karena beliau dianggap banyak bicara tanpa bukti sehingga hanya sakit hatilah yang dibangkitkan, akhirnya dengan hati yang sedih Sri Baginda berkata.
5. Putriku tersayang tidak henti-hentinya mendapat kesengsaraan karena mungkin telah ditentukan oleh Tuhan dan tidak dapat kita hindari, tenanglah tuanku, besok kakanda Prabu akan datang untuk menghancurkan kita, hamba tidak takut mati.
6. Karena tidak benar melawan kakak Prabu, permaisuriku janganlah ragu-ragu menyerahkan kesetiaanmu kepadaku, untuk menuju dharmanya Sang raja, nah mari kita membangun berata, memakai pakaian serba putih, menurutlah sang permaisuri.
7. Sri Baginda berpakaian yang sama, memakai kain putih, yang memakai benang mas, keduanya sama memakai mirah adi, dan menyerahkan diri bersama sri permaisuri.
8. Raja Malaya Wati sudah berpakaian serba putih, bersama para mantri, para satrya yang setia kepada Sri Baginda, tak terceritakan keadaan mereka, maka raja Surya Wangsa, berjalan menuju Malaya Wati siang malam.
9. Setibanya bala tentara yang siap sedia dengan membawa senjata para satrya para hulubalang naik gajah dan kuda de-
46 [ 46 ]ngan pedang di tangannya, dan para mantri semua menaiki kuda, sehingga kelihatan sangat menakutkan.
10. Sang Prabu sudah mencari tempat, maksudnya akan mengadakan perang tanding, ikhlas melawan tidak iklas, dengan pedang terhunus dengan cepat akhirnya tiba di tepi negara Malaya Wati.
11. Setibanya Sri Baginda lalu membuat benteng, di mana sebagai perisai di depan adalah para demang, tumenggung para satrya sedangkan di belakang adalah maha patih.
12. Kita tinggalkan cerita tentang Prabu Surya Wangsa, untuk kembali melihat Gajah Kumuda, mengirim utusan yakni bernama Ki Patih Dangdang Ngelak langsung menghadap Sri Baginda di Malaya Wati, tak diceritakan dalam perjalanan, kemudian lalu langsung Ki patih menghadap Sri Baginda.
13. Langsung ia menghadap Sri Baginda dalam persidangan
bersama Sri permaisuri, juga ikut dalam persidangan para
satrya, para pengasuh putra-putri raja serta para hulubalang sekalian dan mahapatih.
14. Semua berkumpul memakai pakaian putih, lalu setelah patih Dangdang Ngelak tiba, segera menghadap Sri Baginda,
mempersembahkan surat, yang isinya pesan dan persembahan Raden Gajah Kumuda.
15. Sri Baginda menjadi kaget menanggapi isi surat tersebut, dibacanya di dalam hati, aduh ayah prabu, hamba sekarang akan menceritakan peristiwa sebenarnya tentang hilangnya Raden Dewi, Dyah Candra Wati yang dahulu namanya.
16. Hamba sebenarnya adalah putra Raja Surya Wangsa, dahulu Sri Baginda pergi untuk menghibur diri ke tengah hutan, di sanalah bertemu dengan ibu hamba yang pada saat itu bersama-sama seorang raksasi bernama Ken Darwa.
17. Adalah seorang raja dari Jambi Negara (Jawa), dikasihani oleh seorang raksasi, yang kemudian menjadi murid beliau, raksasa lakinya bernama Andaru raja, kemudian Sang Raja
47 [ 47 ]meninggal (kembali ke Sorga), dan beliau mempunyai anak yang bernama Dyah Ratna Giri.
18. Menurut cerita ibu hamba ketika masih kecil disusui oleh raksasi itu, diakui sebagai anaknya, kemudian setelah besar datanglah Prabu Surya Wangsa, yang kemudian mengawini Dyah Ratna Giri dipakai isteri serta dihaturkan oleh Ken Darwa.
19. Lama Sri Baginda meninggalkan kedatuan, bersama Dyah Ratna Giri tinggal, setelah kemudian berputra, dinamai Raden Gajah Kumuda, yang sejak dahulu ingin mengetahui ayahndanya, dan mungkin karena telah menjadi titahnya Tuhan.
20. Ayahnda Prabu yakni yang juga kakanda Prabu sangat marah, beliau sesungguhnya ingin untuk membunuh hamba, dan sekarang telah tiba di tepi negara Malaya Wati, sudah mengelilingi bukit, hamba menghilang dan mengungsi kemari.
21. Raden Gajah Kumuda berseru dan berkata kepada Sri Baginda Malaya Wati, hamba akan menggantikan bertempur dengan Sri Baginda Surya Wangsa, jiwa hamba akan menyanyi untuk memanggil bala tentara hamba agar datang segera.
22. Semua binatang yang ada di tengah hutan, semua sekarang akan datang, gajah dengan beruang, macan dengan sapi dan menjangan, singa dan kancil, landak dan kidang, semut badak semuanya datang.
23. Ular berbisa datang tiap-tiap ekor, berminyak badannya sampai mengkilat menyemburkan bisanya dari ujung mulutnya, yang menimbulkan suara yang seram, buasnya luar biasa, semua mendekati Raden Gajah Kumuda.
24. Raden Gajah Kumuda lalu memerintahkan, Hai kamu marga satwa semua pergilah kalian semua bersama Ki Patih Dangdang Ngelak, lawanlah tentara Sri Baginda Surya Wangsa yang kini ada di Malaya Wati.
25. Kemudian periglah Ki Patih Dangdang Ngelak, yang di-
48 [ 50 ]ikuti oleh para marga satwa sekalian dengan suara gemuruh tak terbilang banyaknya, setelah tiba di tepisiring Kerajaan Malaya Wati, maka bertempurlah kedua pihak, karena banyaknya musuh maka banyak tentara Surya Wangsa yang mati dan tertawan dan yang lainnya melarikan diri.
26. Patih Dangdang Ngelak lalu mengadu tentaranya dengan
maksud agar musuh cepat dapat dikalahkan, pedang sudah terhunus, seperti terbendung tentara Surya Wangsa, marga satwa ikut mengeroyok menggempur dengan suara yang gemuruh.
27. Singa, ular, beruang, macan semua menyergap musuh sambil mengeluarkan suara ribut, kemudian diinjak-injak oleh menjangan, diseruduk oleh badak, disergap macan, dibelit oleh ular, demikian juga landak kidang dan semut semua menggerogotinya.
28. Bercerai-berailah prajurit Surya Wangsa, dipukul oleh belalai gajah, diseruduk oleh badak, disergap oleh ajag dan diinjak-injak oleh celeng kancil dan disengat oleh tawon, kalajengking, tabuhan.
29. Sisa tentara mati semua mengundurkan diri, takut mereka dikejar-kejar para mantri dan para satrya banyak yang tertawan di sana karena mereka kagum menghadapi musuh yang berbisa sehingga mereka semua kaget.
30. Raden Ajeng ingin untuk berseru dengan lantang, sambil menunggang kuda putih, membawa gandewa, namun kudanya agak beringas ketika keluar sedikit galak maju mundur, lalu dipukul dengan pecut.
31. Karena kudanya dipukul maka ia menjadi beringas dan
melompat, sehingga Raden Ajeng terpelanting dan jatuh
terperosok, lalu kemudian ia bangun sambil meringis menahan sakit dan minta digendong.
32. Tiba-tiba datang si macan sambil matanya menyorot bengis dan mulutnya mengaum dahsyat, Raden Ajeng kaget lari ke semak-semak disahut oleh ular kecil, lalu ia menjerit dan gemetar takut.
51 [ 52 ]33. Rakyat beliau cepat memberi pertolongan, Raden Ajeng menggigil lalu dinaikan ke atas kuda, mundur jauh ke belakang, Sri Baginda, dengan tergesa-gesa melihatnya.
34. Sri Baginda ingin untuk menghadapi, tetapi segera diperingatkan oleh rakryan patih, daulat tuanku, harap tuanku bersabar, yang patut tuanku perhitungkan adalah musuh tuanku yang tak habis-habisnya.
35. Belum sempat beliau memikirkan lalu datanglah patih Malaya Wati mendekati beliau di hadapan Sri Baginda, menghaturkan surat, yang diterima kemudian oleh Sri Baginda.
Pupuh Sinom
1. Setelah surat dibaca, isinya cukup mengetuk hati, Tuanku Raja yang maha besar, janganlah tuanku terlalu marah kepada adinda prabu, duhai tuanku raja yang maha besar, ketahuilah oleh tuanku, ada putramu yang bernama Gajah Kumuda dari pegunungan.
2. Lahir dari Dyah Ratna Giri, dialah Raden Gajah Kumuda, yang memboyong putri adinda Prabu Malaya Wati, yang bernama Dyah Candra Wati, begitulah isi surat tersebut, Sri Baginda tidak berkata dan menunduk, ingat akan bala tentaranya, ingat akan cerita dan filsafat hidup ini, lalu menangis terisak-isak sedih.
3. Makin besar sakit hati beliau sampai tidak bisa berkata-kata, makin bingung hati beliau, tidak sadar dengan air mata beliau yang keluar dengan bercucuran, banyak yang menjadi fikiran beliau, lalu berkata perlahan, banyak balasan kepadaku patih, benarlah nasihat adinda Prabu.
4. Cukuplah engkau seorang diri saja pergi dengan cepat, kumpulkan semua bala tentaraku, rakryan patih segera menurutkan sabda Sri Baginda tetapi sebentar tuanku harus juga datang ke sana, sementara itu Sri baginda Malaya Wati
53
5. Juga para raja/bangsawan kerajaan, mahapatih Malaya Wati, tak terceritakan perjalanan beliau menuju tempat pertempuran, Sri Baginda Surya Wangsa kemudian dijumpai, di sana mereka berkumpul bersama Raden Gajah Kumuda, Dewi Candra Wati, lalu dilihat oleh Sri Baginda Surya Wangsa dan berkata.
6. sebelumnya telah duduk bersama juga para mantri satrya, raja Malaya Wati, Gajah Kumuda dan kemudian Baginda Surya Wangsa datang dan berkata, anakku Gajah Kumuda, besar benar dendammu kepada ayahmu, karena telah lama engkau menyesali hatimu.
7. Dyah Ratna Giri kemudian dipeluk oleh Sri Baginda, dengan suara perlahan bersabda, Dindaku janganlah engkau terlalu marah padaku, karena sudah titah Tuhan, yang membuat suka duka, sekarang anakmu, Raden Gajah Kumuda yang akan menggantikanku menjadi raja di negara Surya Wangsa.
8. Ayolah kita pulang ke Surya Wangsa, janganlah kalian ragu-ragu, Raden Gajah Kumuda kemudian menyembah dan berkata halus, hamba tidak akan lama marah, lalu dipotong oleh ayahndanya dan berkata, adinda Prabu Malaya Wati, janganlah engkau mendendam rasa, mari kita pulang, bangunlah kembali negerimu.
9. Sang Prabu Malaya Wati adalah betul-betul merupakan raja yang bijaksana, lalu menurutkan kata-kata Sang Prabu Surya Wangsa, berangkatlah kemudian Sri Baginda sementara itu para mantri, raja-raja muda dan para satrya sudah bubar dan Sri Baginda sudah sama-sama naik gajah bersama para permaisuri beliau.
10. Gemuruhlah di jalanan, ramailah suara orang yang mengiringkannya suara gamelan yang merdu, lalu tibalah di kota Kerajaan Malaya Wati, lalu beliau terus masuk ke Puri, dan ternyata Puri sangat penuh sesak, sementara itu Sri
54 [ 55 ]Baginda di Malaya Wati menjamunya, terceritakan kemudian pulanglah Sri Baginda Surya Wangsa.
11. Lalu semua anggauta rombongan dari Surya Wangsa, mereka semuanya telah mohon diri, Raden Ajeng, dengan para keluarga raja, Gajah Kumuda lalu bertanya, di mana paman patih, dahulu jika seorang diri bertempur maka hanya seoranglah yang akan mati, yang mati sekarang akan hamba hidupkan, lalu paman patihnya berkata sambil menyembah.
12. Tidak ada bandingannya kebahagiaan hamba sekarang pangeran, di arah ke Timur ini seperti gunung mayatnya rakyat, lalu berjalanlah Raden Gajah Kumuda, semua mayat dijumpai, lalu disirat dengan air suci, lalu hiduplah semuanya, tak ada seorang pun yang tertinggal, semua lalu pulang mengingati pembawaannya masing-masing.
13. Baginda tercengang menyaksikannya, kesaktian Raden Gajah Kumuda, tak terceritakan kelakuan mereka, sudah tibalah mereka di negara Surya Wangsa, para bala tentara dan rakyat semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing sementara itu, Sri Baginda sudah masuk ke Puri dan kemudian menunggu Raden Gajah Kumuda.
14. Panjang kalau diceritakan, bagaimana gembiranya Sri Baginda, semuanya merasa puas di keraton, Raden Gajah Kumuda lalu menantikan Baginda, lalu setelah beliau berjumpa bersabda dengan halus, Aduhai anakku tercinta, Raden Ajeng jangan dibiarkan, terlalu bodoh dan nakal, ingin sekali untuk mencari istri.
15. Kemudian Raden Gajah Kumuda lalu matur sembah, janganlah ragu-ragu ayahnda, masa tidak dapat mencari istri seorang, hamba akan menyuruh melihatnya, di negeri Pandan salas, di sana Sri Baginda mempunyai seorang putri yang bernama Dyah Maya Wati.
16. Sri Baginda lalu berkata, engkau sendirilah yang menyuruhnya mau, lalu Raden Gajah Kumuda lalu ingat, hamba akan membuat surat pinangan, sebagai alasan bagaimana
56 [ 56 ]kemudian jawabannya, Ki patih kemudian disuruh menyampaikan, ke negara Pandan Salas.
17. Sri Baginda di Pandan Salas, sedang mengadakan persidangan, lengkap dihadiri oleh para satrya dan para pendeta kerajaan, pada saat itu datanglah Ki Patih Surya Wangsa, dan menghadap Sri Baginda, menghaturkan surat Sri Baginda di Surya Wangsa.
Pupuh Masa Katerangan
1. Ki Patih datang menghadap Sri Baginda, menyampaikan surat, lalu Sri Baginda mengambil surat itu dan kemudian dibaca di dalam hati, isinya sangat mengharapkan kerelaan hati Sri Baginda.
2. Anakku Maya Wati, ini kakakmu dari Surya Wangsa Raden Ajeng sangat mengharapkan cintamu dan ia meminta kepadamu, hanya saja sudi apalah kiranya engkau menerima cinta dari seorang yang hina untuk kemudian memohon dengan sangat belas kasih dan sayangmu.
3. Sri Baginda dengan halus berkata, katakanlah kepada Sri Baginda di Surya Wangsa bahwa aku akan menerima pinangannya dan segala permintaan Sri Baginda akan aku turutkan.
4. Ki Patih lalu menyembah dan mohon diri untuk pulang kembali ke negerinya, setelah dihaturkan semua kata-kata dan pesan raja di Pandan Salas, sangat gembiralah Sri Baginda di Surya Wangsa karena semua harapannya terkabul.
5. Dewi Maya Wati termenung dan tidak mau dengan Raden Ajeng, dan berangan-angan untuk cepat mati, menyesalkan kesanggupan ayahndanya.
6. Sudah diketahui oleh umum bahwa Dyah Maya Wati tidak mau dengan Raden Ajeng, lalu Raden Gajah Kumuda membuat daya upaya, setiap hari Dyah Maya Wati ditunggui, semua permintaannya dikabulkan dia bertindak seperti budak saja.
57 [ 57 ]7. Raden Ajeng karena sudah disuruh duduk saja di rumah yang senantiasa harum semerbak baunya, makin lama bisunya makin berkurang dan sudah mulai bisa berkata-kata, sebab itu Raden Gajah Kumuda menjadi kaget dengan makin baiknya Raden Ajeng lalu kemudian membawa Dyah Maya Wati kepadanya serta kemudian dipegang oleh Raden Ajeng.
8. Tak terceritakan bagaimana hatinya (Dyah Maya Wati) Raden Gajah Kumuda lalu keluar, sementara itu setelah direnungkan akan kebaikan pangeran-pangeran itu keduanya, lalu ia menerima Raden Ajeng untuk menjadi suaminya.
9. Setelah pernikahan itu lalu ayahnda raja tua bersabda, sekarang engkaulah membina negara Surya Wangsa ini, ayah akan membangun tapa semedi, bersama ibu-ibumu keduanya, semoga di kemudian hari ayah berhasil mendapatkan Sorga di tempat Tuhan Yang Maha Esa.
10. Tak terceritakan raja tua, sudah berangkat ke pegunungan, dengan segala ketekunan beliau-beliau itu membangun tapa semedi, bersama kedua permaisuri beliau, akhirnya ketiganya telah meninggalkan dunia serta mendapatkan kebahagiaan.
11. Setelah moksa (menghilang) raja tua, Gajah Kumuda lalu menggantikan beliau, menjadi raja di Surya Wangsa, sedangkan Raden Ajeng kemudian dianggap menjadi mentri muda, dengan demikian lengkaplah negeri Surya Wangsa.
12. Tidak ada kesukaran yang datang, karena kebijaksanaan Raden Gajah Kumuda, sekarang kita ceritakan Dyah Candra Wati, yang sekarang sudah mulai mengandung, makin kasihlah Sri Baginda, semua yang diminta diberikan kepadanya.
13. Dyah Candra Wati sekarang mulai nyidam, ya mengangan-angankan agar ada hujan mas, ikan mas, kepiting mas, sehingga sangat susahlah Sri Baginda.
14. Sri Baginda sekarang sangat susah, diperintahkannyalah
58 [ 59 ]kepada para mantri, patih, para satrya untuk berusaha
mencari ikan mas, kepiting mas sesuai dengan permintaan sang permaisuri, tetapi tak seorang pun berhasil mencarinya, seorang budaknya lalu mencari sampai di luar kerajaan sampailah ia di Wadu Negara.
15. Lalu berjumpalah ia dengan seorang brahmana muda sedang memancing di telaga di tepi rumahnya, lalu ia bertanya, di manakah ada ikan mas dan kepiting mas, tolonglah tunjukkan kepada hamba.
16. Sang Brahmana dengan perlahan-lahan berkata, di sana di taman Warapsari, di sana ada telaga, berisi ikan serba bagus, di samping itu juga di sana ada kayu mas dan permata yang serba baik.
17. Ada rajanya seorang wanita, yalah yang memilikinya, sangat sakti sang ratu, tujuh negara sudah ditaklukan, nama sang ratu Jayeng Ayu, kemudian budak itu pergi menuju taman Warapsari dan hatinya sangat senang.
18. Ki Punta lalu berjalan menuju taman Warapsari, kagum ia melihat taman tersebut, bunga-bungaan serba indah dan yang ada di tengah taman serba mulya dan mempesonakan.
19. Lalu ia masuk, mencari ikan mas dan kepiting mas, lalu disembunyikan, adalah seorang penjaga taman, dilihatnya ia mencuri, sedang minum air di pemandian.
20. Cepat ia datang di taman Warapsari, direbutnyalah Ki Punta, lalu ia lari dari sana.
21. Karena cepatnya lari lalu segera penjaga itu dijumpai oleh sang ratu, sehingga gegerlah suasananya di Puri, sampai di taman Warapsari lalu Ki Punta direbut oleh pasukan wanita-wanita.
22. Karena pakaiannya dibuka, Ki Punta tanpa pamit lalu lari dengan cepat, Sang ratu di puri memerintahkan untuk mengikutinya.
23. Ki Punta tidak kembali lagi, tak terceritakan di perjalanan, sudah sampai di Puri Surya Wangsa, langsung ia masuk
60 [ 60 ]ke puri, Sri Baginda kaget melihatnya karena Ki Punta dalam keadaan setengah telanjang.
24. Lalu ia matur sembah, hamba dipaksa untuk dibuka kain hamba tuanku ketika sedang mencari ikan mas dan kepiting mas, baru saja hamba menemukan di kerajaan Wadu Negara, yang diperintah oleh seorang ratu yang cantik.
25. Bernama Dyah Jayeng Ayu, dialah yang memilikinya, yang berada di Taman Warapsari, ada telaga yang indah, di sana ada ikan mas dan kepiting mas, di sanalah hamba memancing.
26. Dapat hamba menghirup air di permandian, tetapi segera diketahui oleh penjaga taman, lalu hamba direbut dan dipaksa ditelanjangi oleh orang-orang yang kebetulan ada di puri, dan terpaksa hamba menyerah, tetapi ketika mereka sedikit lengah hamba berhasil melarikan diri.
27. Mendengar hatur dan sembah hambanya maka Sri Baginda wajahnya menjadi beringas, termenunglah Baginda di persidangan, lalu diperintahkannya untuk memukul kentongan dengan suara yang bertalu-talu, sehingga kagetlah orang-orang di seluruh negeri itu.
Pupuh Semarandana
1. Sri Baginda lalu bersabda, suruhlah mereka mengambil cangkul, sekarang aku akan datang ke Wadu Negara, ambil juga lekas-lekas linggis, jaring dan segala alat untuk menangkap ikan, akan kita pergunakan untuk menangkap ikan-ikan itu yang ada di telaga Warapsari.
2. Rakyat banyak yang mengiringkannya, memenuhi jalanan, tidak kita ceritakan dalam perjalanan, mereka sudah tiba di Wadu Negara, lalu langsung menuju taman Warapsari, merusak telaga, sehingga kagetlah orang-orang yang kebetulan ada di taman.
3. Larilah mereka semuanya ke puri, melaporkan kepada
Dyah Jayeng Ayu, hamba melaporkan tuanku, telaga telah
61 [ 61 ]dirusak, oleh raja dari Surya Wangsa, sampai penuh telaga tuanku oleh rakyat dari Surya Wangsa, Ratu Jayeng Ayu sangat marah mendengarkannya.
4. Sang ratu Jayeng Ayu melihat dari luar, dan memerintahkan untuk memukul kentongan, suaranya cukup keras tetapi agak pelan, kagetlah orang-orang Wadu Negara, mereka keluar dengan sepontan sambil berdesak-desak, mantri, para satrya dan tidak ketinggalan para hulubalang kerajaan.
5. Lalu sang Ratu berkata, para mantriku para satrya dan para hulubalangku semuanya tangkaplah perusuh-perusuh itu, para rakyat yang menjadi suruhan raja Surya Wangsa, yang kini berada di taman serta menguasai tamanku, usirlah mereka semuanya.
6. Setelah habis persidangan itu, dikurunglah taman itu, oleh orang-orang dari Wadu Negara yang kesemuanya adalah para wanita dengan dada terbuka dan dengan memperlihatkan susunya, turun serta menghalau dengan senjata, para rakyat Surya Wangsa terkejutlah mereka, karena tidak memakai senjata.
7. Sang ratu berseru memerintahkan tentaranya yang lalu merebut rakyat Surya Wangsa, dan kemudian semuanya tertawan, selanjutnya sang ratu memerintahkan untuk membawa ke balai persidangan, sang ratu tertawa melihat keadaan mereka.
8. Lalu sang ratu kemudian bersabda, bawalah mereka yakni rakyat Sri Baginda Surya Wangsa ke Balai yang panjang, telanjangi mereka semuanya, setelah itu para tentara sang ratu pulang kerumahnya masing-masing.
9. Mungkin sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, makanya lengah para penjaga Sri Baginda Surya Wangsa, sementara itu Sri Baginda masih dalam keadaan sebagai tawanan, kemudian setelah lama, Sri Baginda juga ditelanjangi dan kemudian dititipkan di rumah penjaga.
10. Akhirnya sang ratu merasa kasihan, sehingga setiap hari
62 [ 62 ]beliau dilihat dan kemudian diajak berolok-olokan, akhirnya Sri Baginda mendapat akal bersama patihnya Dangdang Ngelak, di mana kemudian patih Dangdang Ngelak diperintahkan untuk masuk ke kolong tempat tidur.
11. Kemudian datanglah sang ratu mengajak Sri Baginda main kartu, karena sudah merupakan hukum Tuhan, akhirnya sang ratu kalah, sehingga habislah keratonnya dan pakaian kebesarannya sampai kepada negerinya dijadikan taruhan sang ratu dan sang ratu kalah, di sanalah baru sang ratu merasa sedih lalu dirinya ditaruhkan dalam perjudian itu.
12. Sang ratu Jayeng Ayu kini sudah kalah, karena sudah takdir Tuhan, maka keadaan kini terbalik, sang ratu pakaiannya terpaksa dibuka untuk kemudian dipergunakan oleh Sri Baginda Surya Wangsa.
Pupuh Gambuh
1. Dengan memakai kain yang halus, yang diseling-selingi dengan kembang-kembangan yang terbuat dari tinta mas, baunya sangat harum seperti sari bunga yang tertiup angin, memakai ikat pinggang terbuat dari sutra halus.
2. Wibawa Sri Baginda seperti dewa asmara kalau dilihat, kecantol hati Baginda kepada sang ratu, lalu beliau bersabda, sang ratu yang seperti bunga.
3. Berdosalah kakanda berkata secara diam-diam dengan dikau, untuk itulah kakanda minta maaf kepadamu, Sang ratu dengan melirik sambil berkata semanis madu, terserah kepada Tuanku untuk menjadi raja di Wadu Negara.
4. Sri Baginda dengan gembira mendekatinya sambil mengambil kedua lengan, keduanya seolah-olah sudah sama-sama mencinta, mungkin karena telah ditakdirkan oleh Tuhan, tidak ada orang yang berani berbicara karena sudah saling jatuh cinta.
5. Sang ratu tersenyum manis melihat wajah Sri baginda, karena sudah lama saling jatuh cinta dan saling merayu,
63 [ 63 ]lalu kemudian beliau keluar dengan diikuti oleh para hamba sahayanya.
6. Sri Baginda lalu turun, ingin untuk menghibur diri sambil mandi-mandi, setelah habis mandi lalu pulang dengan dijemput oleh sang ratu Jayeng Ayu lalu diberikan kepada beliau kain dan ikat pinggang yang terbuat dari sutra halus.
7. Setelah lama sang ratu sekarang hamil, semakin cintalah sekarang Sri Baginda, demikianlah keadaannya dan sekarang diceritakan Dyah Candra Wati yang sudah berputra dan diberi nama Raden Surya Kencana.
8. Seperti dewi ratih wajah Sri permaisuri terlihat, dan seolah-olah seperti mendapatkan ratna mutu manikam di peraduannya, demikianlah cahaya sri permaisuri, selanjutnya Raden Surya Kencana sudah diupacarai sebagaimana layaknya seorang keturunan raja yang besar.
9. Istri adik Sri baginda Surya Wangsa yakni Dyah Maya Wati baru hamil muda, lalu terlahirlah ia (kandungannya mengalami abortus) dan tanpa diduga datanglah burung gagak, dan putranya lalu diberikan burung gagak itu.
10. Si burung gagak dengan senang menerimanya, lalu terbang dengan perlahan-lahan tinggi di atas, kemudian turunlah ia di gunung Wilis, adalah seekor burung yang besar yang bernama burung Sekuni, ialah yang disuruh gagak itu untuk memelihara anak itu.
11. Tidak terceritakan sudah berlalu lama, ada kira-kira sembilan bulan, karena sudah masanya untuk keluar (lahir) lalu lahirlah Raden Dewi.
Pupuh Dangdang Gula
1. Setelah sang putri terlahir, lalu dinamai Sang Dyah Ratna Pedapa, seperti bunga yang baru akan mulai kembang, demikianlah kecantikan sang Dyah Ratna Pedapa, sang kumbang dengan serta merta mengelilinginya, suaranya
64 [ 64 ]sangat merdu, apabila sedang terbang suaranya seperti orang sedang menyanyi, sambil membawa sarinya bunga yang kemudian dihempus oleh angin yang perlahan-lahan (sepoi-sepoi), yang membuat baunya menjadi semerbak wangi itulah yang menjadi tanda sang Dyah keluar.
2. Sang Dyah kemudian diberikan makan oleh si burung Sekuni, sangat kasihlah si burung Sekuni, Wajah sang Dyah seperti Ratna Praba seorang bidadari yang betul-betul cantik jelita dan apabila dibandingkan dengan para bidadari di Sorgaloka kiranya tak seorang pun yang bisa mengalahkan kecantikannya, cahaya wajahnya sayu dan menawan, karena dikasihi oleh para dewa, itulah sebabnya ia cepat dewasa, suatu ketika sang Dyah pergi melihatlihat di tepi pesraman.
3. Setiap hari sang Dyah selalu diikuti oleh si burung Sekuni, demikian juga mencari bunga tanpa sedikit pun merasa takut akan segala mara bahaya, kita tinggalkan dulu sang Dyah, terceritalah sekarang seorang raja raksasa, bernama Sang Maya Siluman, amat sakti dan sudah terkenal di seluruh dunia, kebesarannya, di kaki gunung Wilis di situlah tempat kerajaannya.
4. Kerajaannya bernama Maya Putri, sangat sentausa, rumahnya seperti puri sangat indah kelihatannya, seperti Sorgaloka yang turun ke dunia, dikelilingi oleh para bidadari, dan para raksasa Siluman, ketika mereka memeriksa kerajaannya lalu ditemukanlah seorang anak kecil, seorang putri cantik, wibawanya seperti seorang dewi yang suci, bernama Ratna Praba.
5. Diikuti oleh Sekuni yakni seekor burung besar, lalu si raksasa Siluman berkata dengan manis, siapa kiranya di sini yang berani mencari bunga-bunga yang harum, akan kuambil jiwanya, melihat raksasa itu lalu sang Dyah gemetar ketakutan, tak bisa berkata apa-apa, lalu diambil dan dibawa ke rumahnya.
6. Setibanya raksasa itu di rumahnya, lalu sukarlah orang
65 [ 65 ]orang untuk melihatnya karena tempatnya, sang Dyah sudah dimasukan dan disimpan di kepala I bontit, karena memang demikianlah seorang siluman, setiap hari kelihatan dan setiap hari pula ia menghilang.
7. Raden Dewi lama sudah dimasukan dalam kepala si Bontit, tak terceritakan sekarang Raden Dewi yang telah berada di Maya Pura sang Dewi sangat disayangi oleh raja raksasa itu, syahdan Raden Surya Kencana bertanya kepada ibunya, di mana ayahandaku ibu, tidak pernah terlihat, Candra Wati lalu menyahut, setelah mengusap air matanya.
8. Ayahandamu telah lama pergi, menggantikan menjadi raja di Wadu Negara, sudah mempunyai istri, bernama Dyah Jayeng Ayu, dan mempunyai anak seorang, bernama Surya Praba, rupanya ganteng, sebenarnya menjadi adikmu, Raden Surya Kencana setelah tersenyum manis lalu ibunya diminta untuk memanggil ayaḥndanya.
9. Ayahandamu berada di Wadu Negara, pergilah paman patih, suruhlah beliau pulang, setelah lama dalam perjalanan, sampailah ia di Wadu Negeri, Sri Baginda sedang dihadapi oleh semua satrya dan para punggawa, semuanya sedang duduk dengan rapi, Ki patih datang mendekati beliau sang ratu menghaturkan surat yang lalu dibaca oleh Sri Baginda.
10. Isi surat cukup manis, ayahandaku, pulanglah tuanku, sudah lama Tuanku berada di sini, lalu Sri Baginda merasa kangen, pada saat itu lalu beliau berkata dengan air mata bercucuran, aduh anakku besok ayahandamu akan pulang, lalu Sri Baginda masuk ke dalam, dan ditunggu oleh Ki patih.
11. Setelah beliau tiba di dalam puri, lalu bertemulah beliau dengan Sri Permaisuri, Sang Prabu berkata dengan halus, Dindaku tersayang sekarang terpaksa kita berpisah dulu sayangku, kanda akan pulang dahulu ke Surya Wangsa, Sang Dyah Jayeng Ayu berkata dengan penuh keikhlasan, silakan tuanku, tetapi jangan lama demikianlah lalu Sri Baginda sudah berangkat.
66 [ 66 ]12. Tidak diceritakan dalam perjalanan, setelah sampai di kota Raja langsung masuk ke puri, berjumpalah beliau dengan Dyah Candra Wati yang sedang duduk berdua dengan Raden Surya Kencana sambil bercerita, tiba-tiba datanglah Sri Baginda dan mendekatinya, Sang Dyah turun dari tempatnya duduk sambil menyembah.
13. Setelah dilihat putranya lalu beliau merangkulnya, aduh anakku maafkanlah ayahandamu ini, lama tidak pernah ayah lihat engkau sampai engkau sudah dewasa dan cakap, Raden Surya Kencana lalu berkata dengan menyembah, Sangat berbahagia rasanya hamba pada saat ini ayahnda, sekarang kita berjumpa, semoga kita bersama panjang umur, hamba akan selalu berbakti.
14. Tidak terceritakan Sri Baginda, bertemu dengan permaisuri beliau, lalu setiap hari bergembira ria, sementara itu negara makin makmur, rakyat makin banyak, Sri Baginda lalu berbicara dengan Sang Permaisuri, Surya Kencana anak kita, sudah dewasa, di mana kita mencarikan putri yang cantik, beliau berkata dengan ibundanya sambil melirik Raden Surya Kencana.
15. Raden Surya Kencana merasa sangat malu, dengan pembicaraan Sri Baginda, seperti menusuk hati pembicaraan itu, Sri Baginda lalu masuk ke puri bersama Sri Permaisuri langsung menuju Puri Kilian, tak terceritakan malamnya, Raden Surya Kencana sudah tidur dengan dijaga oleh para panakawannya.
16. Di tengah malam, ketika Raden Surya Kencana tidur dengan nyenyak lalu ia mimpi, dan mungkin ini sudah takdir Tuhan bahwa ia dapat mengambil bulan yang baru berumur 9 hari, tetapi ketika diperhatikan tiba-tiba bulan itu menjadi gadis cantik.
17. Setelah Raden Surya Kencana bangun dari tidurnya, termenunglah ia ketika mengingat kembali impiannya, sehingga hilanglah ingatannya, yang terbayang adalah Dyah Ratna Praba, sementara itu beliau Sri Baginda, sudah me-
67 [ 67 ]ngirim utusan ke seratus negeri yang mempunyai putri cantik.
18. Tercerita sekarang banyak sudah para raja datang, untuk menghaturkan putrinya, dan mereka datang dengan tidak berkeputusan karena sudah dipersembahkan kepada Raden Surya Kencana lalu ditempatkannyalah mereka di rumah sebelah timur Puri Agung di sana dikumpulkan, setiap hari berhias, para putri-putri itu didekatkan dengan Raden Surya Kencana yang mana yang akan dipilih untuk permaisurinya.
19. Raden Surya Kencana tidak mau melihat apalagi mendekatinya, yang paling cantik ada enam orang berasal dari enam negeri, berpakaian indah-indah, ada memakai mahkota, yang berisi permata yang mahal, ada yang memakai ikat pinggang mutiara, ada yang bersunting bunga dari mas berhiaskan permata sesuai dengan diri mereka.
20. Raden Surya Kencana melihat dengan seksama sampai ke fikirannya namun tak satu pun membangkitkan rasa indrya, karena itu bayangan Dyah Ratna Praba makin tebal di hatinya, tiada gadis lain, lalu Raden Surya Kencana pergi meninggalkan negerinya tanpa seorang pun yang mengetahui kepergiannya.
21. Cepat-cepat Raden Surya Kencana pergi, dan kini sudah liwat dari negerinya, lalu sekarang masuk hutan belantara, dengan tidak ada henti-hentinya sampailah ia di tepi daerah pegunungan. Di sana lalu Raden Surya Kencana istirahat dan duduk sambil mengagumi keindahan hutan dengan ditambah oleh himbauan bunga-bungaan.
Pupuh Brahmara
1. Sangat bersedihlah semua orang di negeri Surya Wangsa, dengan kepergian Raden Surya Kencana, tiada orang yang mengetahuinya, sehingga Sri Baginda sangat sedih begitu juga Sang Permaisuri sedangkan raja muda sudah berkeli
68 [ 68 ]ling untuk mencari Raden Surya Kencana namun tidak dapat diketemukan.
2. Seperginya Raden Surya Kencana, sekarang sudah tiba di daerah pegunungan, karena keangkeran hutan itu tak seorang pun yang ada di hutan itu untuk ditanyai, bayangannya pun tidak ada, lalu di sanalah Raden Surya Kencana duduk istirahat di kaki sebuah pohon yang besar, sambil mengingatkan diri.
3. Sudah tertulis di hatinya Dyah Ratna Praba, yang selalu dipakai sebagai angan-angan yang membangkitkan semangatnya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan meneruskan perjalanannya dan sampailah ia di negeri Tanah Selaka.
4. Setelah sampai di pinggir kota tetapi tidak ada orang yangdilihat, kecuali ada satu-satunya yang dilihat, lalu orang itu ditanyai oleh Raden Surya Kencana, hai tuan hamba apakah anda dari sini tetapi sebaliknya ia juga bertanya kepada Surya Kencana, dari negeri mana anda ini, akhirnya
keduanya diam.
5. Mengapa negeri ini terlalu sunyi karena sang Prabu sangat prihatin, Sri Baginda tidak pernah memperhatikannya, sejak Raden Dewi hilang karena mungkin telah takdir Tuhan, di mana ketika Raden Dewi sedang mandi disahut oleh buaya, dan sekarang sudah dibawa ke sungai.
6. Sukarlah Sri Baginda untuk mencari daya upaya, karena tidak ada satu pun daya upaya itu yang berhasil untuk mencari Raden Dewi, lalu Raden Surya Kencana berkata, katakanlah kepada Sri Baginda mudah saya mencari akal untuk membunuh buaya itu, sekarang bagaimana keinginan Sri Baginda, lalu yang diberitahu dengan cepat menghadap Sri Baginda.
7. Setelah tiba di puri, Sri Baginda ditemukan sedang duduk, lalu yang membawa pesan tadi menghaturkan sembah dan berkata, Ada seorang tamu datang, yang akan sanggup membunuh musuh paduka, bagaimana maksud tuanku se-
69 [ 69 ]karang, Sri Baginda bersabda, mana orangnya suruhlah ia datang sekarang.
8. Yang disuruh lekas pergi menuju sang tamu yang baru datang (Raden Surya Kencana) yang sedang menantikan, lalu utusan itu berkata, Tuan hamba silakan tuan hamba menghadap paduka Sri Baginda, ada yang akan beliau katakan, lalu Raden Surya Kencana berdua menghadap Sri Baginda.
9. Setelah dekat dengan Sri Baginda, lalu beliau bersabda, dari mana asalmu anak muda, katakanlah kepadaku, lalu Raden Surya Kencana berkata sambil menyembah, hamba adalah rakyat biasa tuanku, orang yang tidak diakui oleh ayah dan ibu, sehingga hamba lupa akan nama tempat hamba dilahirkan, lalu Sri Baginda bersabda.
10. Aduh anakku, teruskanlah baktimu kepadaku, membunuh musuhku, yakni sang raja buaya, dan kalau engkau berhasil membunuhnya, engkau akan kujadikan menantuku dan akan kuberikan anaku yakni Dyah Ratna Kombala, dan selanjutnya akan kuajak engkau memerintah negeriku ini.
11. Raden Surya Kencana (Ki Punta) lalu menyembah dan berkata, mudah hamba kerjakan tuanku, suruhlah rakyat paduka datang dengan membawa makanan cepat-cepat, Sri Baginda lalu segera memerintahkan rakyatnya untuk membawa makanan, kemudian berangkatlah Raden Surya Kencana.
12. Setelah sampai di tempat (di tepi sungai) bersama dengan Sri Baginda, lalu beliau berkata pelan-pelan, pukulah kentongan dengan cepat, lalu keluarlah rakyat beliau berjejal memenuhi jalanan, patih, mantri dan para bangsawan kerajaan lalu bersama-sama menuju tepi sungai.
13. Sri Baginda lalu bersabda, paman patih berangkatlah segera bersama, untuk mencari buaya itu, Ki Patih lalu mohon diri, lalu kemudian rakyat beliau mencari tempat sendiri
70 [ 70 ]sendiri, dan patih mangkubumi, tidak terceritakan di perjalanan telah sampai di tepi sungai yang dalam.
14. Bersama dengan Raden Surya Kencana, Ki patih lalu berkata kepada beliau Raden Surya Kencana, di sinilah tempatnya yang bernama Raja buaya, lalu Raden Surya Kencana berkata, kakanda patih, hamba minta agar kakandalah yang lebih dulu terjun ke sungai, menjemput musuhSri baginda.
15. Ki patih lalu berkata, sebaiknya radenlah duluan, hambalah yang di belakangnya, lalu raden Surya Kencana cepat berkata, nanti kakanda menantikan di sini, lalu sang raden menghunus keris, menghadap ke tepi sungai, setelah sang raden terjun ke sungai, barulah diikuti oleh patih Tanah Selaka.
Pupuh Kawingking
1. Sang Raden tidak ragu-ragu, untuk menyelam di dalam sungai, setelah liwat di air yang dalam lalu terlihatlah sebuah jalan dan kemudian juga terlihat sebuah desa, kemudian setelah itu datanglah gemuruh para buaya-buaya ketika melihat sang raden.
2. Raden Surya Kencana sudah siap sedia, direbut oleh para buaya-buaya itu semuanya, sementara itu Ki Patih datang untuk membantu Sang raden, sedangkan buaya-buaya itu makin galak, menyaut ke sana ke mari, serta mencoba untuk menyergap sang raden, tetapi dengan tangkas sang raden menangkisnya.
3. Raden Surya Kencana lalu memainkan pedangnya, sehingga banyaklah buaya-buaya itu mati, sedangkan yang lainnya melarikan diri, melapor kepada ratunya, hamba melaporkan yang sebenarnya, ada manusia yang mungkin ada lah utusan sang raja untuk membunuh tuanku.
4. Rakyat paduka sang ratu banyak yang mati, karena sangat saktinya utusan tersebut dan sangat pandai berperang, kemudian sang raja buaya, keluar dari guanya dan berseru
71 [ 72 ]dengan suara yang menakutkan, matanya mendelik, sangat menakutkan perilakunya, sangat pantas dengan dirinya sebagai seekor buaya.
5. Raden Surya Kencana lalu menjemputnya, semua yang melihat menjadi sangat takut, sang buaya lalu datang serta merebutnya, dibantingnya sang raden, kewalahan sang raden lalu sang raden dimakan oleh sang buaya tetapi sang raden masih hidup walaupun sudah sampai di perut sang buaya.
6. Raden mantri lalu dengan serta merta menusuk perut sang buaya lalu dengan mengeluarkan suara keras matilah buaya itu, dan kemudian sang raden keluar dengan masih menghunus kerisnya tetapi matinya sang buaya mendatangkan suatu keajaiban, karena bangkai buaya hilang dan di hadapannya berdirilah seorang bidadari.
7. Lalu sang bidadari berkata, besar hutangku kepadamu sang raden yang telah menghilangkan dosaku, aku telah mengenalmu yakni adalah putra Sri Baginda Surya Wangsa, dan sebabnya engkau pergi adalah untuk mencari Dyah Ratna Praba.
8. Dyah Ratna Praba tidak ada di negerimu, sekarang berada di gunung Wilis, karena ia diakui anak oleh seorang raksasa siluman, tetapi saya mengijinkan engkau untuk bertemu dengannya, karena itu memang tujuanmu, sekarang aku akan pulang ke Sorgaloka.
9. Dyah Ratna Kombala, putri sang prabu di Tanah Selaka, sedangkan bidadari yang dibersihkan dari segala dosanyaoleh Raden Surya Kencana telah pulang ke Sorgaloka, kemudian Raden Surya Kencana masuk ke dalam goa.
10. Setibanya Raden Surya Kencana di tengah goa maka ia dijemput oleh Raden Dewi, lalu mencium kakinya, sukur karena kasih Tuhan Yang Maha Penyayang, datanglah kakanda, dan sangat besarlah hutang budi hamba kepada kakanda, lalu Raden Surya Kencana membimbingnya dan berkata.
73 [ 73 ]11. Sudahlah, diamlah tuan putri, janganlah engkau berkata terlalu banyak, lalu sang Dyah Ratna Kombala dibawa pulang menghadap Sri Baginda dibimbing Dewi Ratna Kombala sambil berjalan, tak terceritakan perjalanan mereka telah sampailah di permukaan air sungai.
12. Budak raden Surya Kencana tidak jauh, lalu mereka istirahat di tepi sungai, raden dewi karena sudah turun dari emongan sang raden Surya Kencana, yang dilihat oleh para mantri, tumenggung dan patih serta para rakyat semua, lalu mendekati raden Surya Kencana.
13. Kagum semua orang yang melihat, karena kesaktian Raden Surya Kencana, lalu Ki patih mendahului matur sambil menyembah, marilah tuanku pulang ke kota raja, bersama adinda sang putri, setelah pulang maka sampailah keduanya di keraton sementara itu Sri Baginda masih jauh di luar puri.
14. Setibanya Raden Surya Kencana bersama dengan Raden Dewi, Sri Baginda dengan segera turun dan merangkul putrinya, demikian pula sang permaisuri yang menangis dengan sangat terharu, lalu Sri permaisuri pun memeluk putrinya.
15. Demikianlah tingkah laku mereka semua, sekarang semuanya telah masuk ke dalam Puri Sri Baginda, demikian juga halnya dengan Raden Surya Kencana sudah tiba di dalam Puri baginda, sangat gembira semua orang di negeri Tanah Selaka, karena melihat kembalinya sang Dyah Ratna Kombala sambil memuji Raden Surya Kencana, yang disebut sebagai orang yang sangat sakti.
16. Sri Baginda lalu bersabda perlahan-lahan, sangat besar hutang budiku kepadamu Raden Surya Kencana, aku tak akan memungkiri janji, ambilah anakku ini dan ajaklah dia sebagai istrimu, engkau sekarang akan kuajak untuk menjadi raja, Raden Surya Kencana lalu berkata, sekehendak hati paduka hamba akan mematuhinya.
17. Tetapi sekarang hamba mohon maaf sebesar-besarnya ke
74 [ 74 ]pada tuanku, karena terpaksa hamba harus pergi dari sini, tetapi ada pesan hamba bahwa tuanku harus menantikan hamba selama tiga bulan, kalau tidak datang, silahkan sekehendak hati paduka, lalu sang raden Surya Kencana mohon diri.
18. Segera ia berangkat, dengan diikuti oleh para panakawannya, setelah melewati negeri itu ia lalu masuk ke hutan, terheranlah sang raden karena keangkeran hutan tersebut, dengan jurang-jurangnya yang dalam.
19. Raden Surya Kencana sekarang telah menyusup ke seluruh hutan belantara, di tengah hutan itu ada sebuah kayu yang besar dan tinggi pohon Groda namanya, lalu di sanalah di bawah pohon itu sang raden duduk, dan di dekatnya ada batu ceper di sanalah sang Raden Surya Kencana tidur.
20. Bersama dengan penakawannya maka mereka tidur dengan nyenyak, dan sang raden Surya Kencana, ada lagi terceritakan, ada seekor beruang betina yang tinggal di puncak pohon itu, beruang itu melihat raden Surya Kencana yang sedang tidur, lalu cepat-cepat ia turun ke kaki pohon itu.
21. Diambilnya sang raden lalu dibawanya sekarang sang raden ke puncak pohon itu, dipeluk dengan kakinya sang raden, tiba-tiba sang raden bangun, dan lalu dilihatnya beruang itu, yang selanjutnya sang raden Surya Kencana membunuh beruang itu.
22. Setelah beruang itut mati, dan bangkainya dijatuhkan dari atas pohon dan terkena panakawan beliau, lalu panakawan itu menangis karena mereka melihat beruang mati terluka tetapi tidak melihat raden Surya Kencana karena tempatnya yang jauh di atas, sehingga menangislah panakawan beliau.
23. Raden Surya Kencana masih ada di puncak pohon, takut, dan tak bisa untuk berfikir tenang, bagaimana caranya turun, terlalu besar dan terlalu tinggi pohon geroda (kepuh)
75 [ 75 ]itu, karena tak ada jalan lain maka beliau lalu memohon belas kasih dari Tuhan Yang Maha Penyayang, tiba-tiba datanglah si Dangdang Petak yang akan menyelamatkan beliau.
Pupuh Dangdang Gula
1. Si Dangdang Petak lalu berkata dengan manis, janganlah tuanku berputus asa, hamba diutus oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, untuk membuat pohon ini agar menjadi rendah, lalu si Dangdang Petak kembali ke Sorga dan sebelumnya menyumpahi, semoga pohon Geroda ini menjadi rendah, demikianlah maka seketika kayu groda itu menjadi rendah.
2. Setelah kayu itu menjadi rendah maka Raden Surya Kencana lalu turun dari kayu itu, para panakawannya menjadi sangat senang, raden Surya Kencana menunduk, lalu mereka meneruskan perjalanannya. Setelah jauh perjalanan yang ditempuhnya dengan tidak beristirahat, baik siang maupun malam mereka terus berjalan dengan maksud agar segera sampai di puncak gunung, lalu setelah sampai di puncak gunung raden Surya Kencana melihat keadaan sekelilingnya.
3. Terlihatlah sekarang dari tempat ini desa desa yang kelihatannya samar-samar, karena dilihat dari jauh yakni dari tempat yang tinggi, lalu beliau turun ingin untuk menuju desa yang dilihatnya, tetapi tidak kelihatan karena diliput oleh awan lalu beliau berjalan ke timur menuruti jalan (lorong-lorongan) yang ada di hutan, lalu ditemuilah oleh beliau perladangan.
4. Berjalanlah kemudian raden Surya Kencana meneruskan perjalanannya dan sukurlah beliau menemukan sungai, airnya sangat bersih serta menyejukan, Sang Raden mempercepat jalannya, sangat ingin beliau untuk menghirup air sungai itu sekedar untuk menghilangkan dahaganya bersama para panakawan beliau, syahdan mungkin telah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, lalu datang
76 [ 76 ]lah seekor burung garuda yang sangat besar, disambarnya raden Surya Kencana dibawa ke sebuah taman.
5. Taman itu adalah milik sang raksasa siluman, taman itu dikelilingi oleh sungai, sangat lebar karena tepinya sangat jauh, Sang burung garuda sudah sampai di taman yang dipenuhi oleh bunga-bungaan, di sana burung itu berhenti membawa sang raden, di dekat taman itu ada batu ceper lalu sang raden dibanting di atas batu yang ceper itu.
6. Meninggallah kemudian raden Surya Kencana, tercerita sekarang para panakawan beliau semuanya menjadi gelisah di tempat ketika sang raden disambar burung garuda itu, menantikan datangnya kembali raden Surya Kencana, di mana jalan kita mencarinya, pada saat seperti itu tiba-tiba mereka melihat pakaian junjungannya beserta keris pusakanya lalu diambil sembari menangis di tepi telaga itu.
7. Ada batu ceper yang telah terletak di tepi jurang, para panakawan beliau beristirahat, siang malam mereka tinggal di atas batu itu, fikiran mereka sudah hilang karena saking payahnya begitulah keadaan mereka, lalu sementara itu, para bidadari dari Sorga datang untuk bercengkrama di taman itu.
8. Ni Gagar Mayang dan Ni Gendra Sari, Ni Lotama dan Ni Dyah Supraba, semua cantik jelita juga Ni Tunjung Biru, 7 (tujuh) orang para bidadari yang cantik jelita turun dari Kendran (Indraloka) mandi di Taman, sambil mereka mencari bunga-bungaan seperti anggrek nagasari dan banyak lagi bunga-bungaan yang indah.
9. Berkelilinglah sekarang para bidadari itu, kebetulan mereka melihat mayat yang terapung lalu diambilnya baik-baik dibawa ke tempat peristirahatan di sana lalu mayat itu di bersihkan dengan air, ditimbuni dengan bermacam-macam bunga-bungaan yang harum semerbak dikelilingi oleh para bidadari itu dengan air mata yang berlinang-linang.
10. Ni Lotama lalu berkata manis, adik-adikku, mari kita kesana ke tempat si Ratna Praba meminta pinjam kayu kas
77
11. Baru keluar dari kepalanya si Bontit (dari gua tempatnya sang Dyah) dilihatnyalah Dewi Nilotama Dyah Ratna Praba dengan perlahan-lahan berkata, kakanda semua telah datang silakan duduk di sini, Nilotama lalu menyahut, Aduh Ratna Praba adiku, teruskanlah kesucian hatimu adiku, kami semua mengharap untuk mendapatkan kayu kastuba akan kakak pergunakan untuk menghidupkan orang yang sudah mati.
12. Di taman ada seorang mayat, sangat tampan, kasihan kami melihatnya, sang Dyah Ratna Praba lalu berkata dengan amat menyesal, aduh kakak-kakak semua, hamba tidak berani, karena kayu itu adalah nyawanya si Raja Raksasa, yang bernama kayu kastuba, tetapi ada cara yang lainnya, yakni ada benda yang lain yang bisa juga dipakai menghidupkan orang mati, inilah bendanya kakakku, silakan ambil, minyak lengawangi yang terdapat di dalam cupu manik ini adalah juga berguna untuk menghidupkan orang mati.
13. Dengan gembira Nilotama menerimanya, cupu manik itu, mereka sangat gembira sehingga bermacam-macamlah tingkah laku mereka (karena sangat suka cita), lalu kemudian mereka telah kembali dan akhirnya telah tiba di taman sari lalu duduklah Nilotama di tiang balai peristirahatan itu di samping sang raden Surya Kencana, Ni Dyah Nilotama membawa Cupu manik itu serta mengobati Sang raden Surya Kencana.
14. Lalu diusap-usaplah Raden Surya Kencana dengan minyak lengawangi itu yang baunya sangat harum, sambil mengelilingi raden Surya Kencana, semuanya berkeliling dengan dibakarkan kemenyan untuk menghilangkan semua kekotoran, baunya semerbak wangi, kemudian bangunlah sang
79 [ 80 ]raden Surya Kencana dengan mengusap matanya lalu menunduk dengan wajah yang sangat sedih dan terharu sambil melihat yang mengelilinginya.
15. Raden Surya Kencana melihat semua yang mengelilinginya, tetapi walaupun semuanya sangat ayu dan cantik tidak seorang pun yang membangkitkan rasa dan nafsu birah karena semua perasaannya banyak tertuju kepada sang Ratna Praba, yang selalu terbayang siang dan malam, Sang Dyah Nilotama kemudian berkata dengan manis aduh Adikku Raden Surya Kencana, sangat bersukurlah adikku karena sekarang engkau telah hidup kembali dan semoga engkau sekarang panjang umur.
16. Karena aku telah mengetahui kebenarannya bahwa engkau adalah putra dari Sri Baginda Surya Wangsa, janganlah engkau terlalu berani, Raden Surya Kencana lalu menyahut, maafkanlah hamba karena hamba seorang manusia hina yang terlalu berani (pura-pura berani) terlalu kasihan tuan-tuan sekalian, besok hamba mendapat kehormatan untuk turun ke taman bersama-sama tuan hamba sekalian.
17. Tidak terceritakan sekarang Raden Surya Kencana, bersama dengan Dyah Nilotama tidak berpisah dan selalu berduaan, sedangkan Ni Tunjung Biru, Ni Gagar Mayang Ni Gendra Sari serta Ni Dyah Supraba, di sana berkumpul,mengecap indahnya taman, sedetik pun tidak berpisah dan selalu bersama-sama dengan Sang Raden Surya Kencana,karena telah sama-sama saling mengenal.
18. Setelah itu lalu Raden Surya Kencana pergi dari tempat itu, meninggalkan taman untuk mencari para pengiringnya, lalu didapatkanlah mereka semuanya sedang duduk di atas batu, tidak berpindah dan siang malam menantikan datangnya Raden Surya Kencana kecuali seorang hamba sahayanya yang pergi untuk mencari makanan, Sang Raden Surya Kencana sekarang telah tiba di tempat mereka dan disambutnya kemudian diajaklah mereka ma-
81 [ 81 ]suk ke dalam taman yang penuh dengan bunga-bungaan itu.
19. Entah berapa hari sang Raden Surya Kencana berada di taman itu, para bidadari itu telah semuanya senang kepada sang raden, sampai di antara mereka telah terjadi saling mencinta antara raden Surya Kencana dengan salah satu di antara bidadari-bidadari itu, akhirnya para bidadari itu berkata kepada Raden Surya Kencana, kakanda yang hamba cintai, kiranya telah lama hamba berada di samping kakanda, sekarang tibalah masanya hamba sekalian mohon diri, lalu semuanya terbang untuk menuju Sorgaloka, kita ceritakan sekarang Dyah Ratna Praba.
20. Sekarang sang Dyah Ratna Praba memohon kepada si raksasa siluman akan mandi di taman, lalu berjalanlah ia menuju taman, tidak terkatakan di perjalanan, telah tibalah sekarang di taman yang penuh dengan bunga-bungaan itu, lalu ia langsung menuju pemandian, selanjutnya sang Dyah membuka mahkotanya serta membuka rambutnya di sana terlihatlah oleh Raden Surya Kencana, yang kecantikannya tidak ada bandingannya serta telah meruntuhkan seluruh hatinya sehingga membuat raden Surya Kencana tertegun.
21. Lalu ditenangkan hatinya (Sang Raden mencoba untuk menenangkan hati), lalu kemudian diingat-ingat dan diandaikan semua tingkah lakunya, manis sebagai madu,semua tingkah laku sang dewi, lalu kemudian raden Surya Kencana ingin untuk mengambilnya, namun ia dilihat oleh raden dewi, lalu dengan tergesa-gesa ia pulang masuk ke dalam batu yang berongga tetapi diikuti terus oleh raden Surya Kencana.
22. Tinggalkan dulu raden dewi yang sudah masuk ke dalam batu tersebut (tendasing bontit) dan raden Surya Kencana ingin ikut masuk tetapi tidak berhasil dan segera sang raden lari menjauh serta setelah jauh beliau lari, datanglah sekarang si Raksasa Siluman itu, sementara itu sang Dyah Ratna Praba sudah tidak tampak lagi oleh karena sudah
82 [ 82 ]masuk ke dalam batu itu (ke dalam kepala si bontit).
Pupuh Durma
1. Si Raksasa Siluman menjadi marah lalu dengan serta merta keluar, seperti keluar api, dari matanya sambil mendelik, lalu ia berseru sambil memegang pedang terhunus, sementara itu raden Surya Kencana yang telah pergi sampai di hutan, mendengar seruan raksasa itu lalu kembali.
2. Sang raksasa siluman segera menghentikan langkahnya, lalu bersiap-siaplah raden Surya Kencana, dan ia menjadi sangat curiga lalu diseranglah raksasa itu yang segera menangkis serangan raden Surya Kencana, sangat sengit pertempuran itu, kemudian raden Surya Kencana memanahnya dengan panah api.
3. Kenalah sang raksasa, api menjadi besar lalu membakar sang raksasa hingga menjadi abu tetapi kemudian menjelma menjadi gajah serta menyeruduk ke tengah pertempuran seraya mengambil bukit lalu dilemparkan kepada raden Surya Kencana namun beliau terhindar dari serangan itu.
4. Lima kali sudah si raksasa dibakar hidup-hidup, tetapi ia masih bisa hidup, maka menjadi sukarlah raden Surya Kencana untuk membunuh raksasa itu, sementara itu sang dewi yang mengikuti jalannya peperangan menjadi terkejut dan berseru, sukar kanda untuk membunuh raksasa siluman itu.
5. Karena kesaktiannya masih ada di rumahnya berupa kayu kastuba, yang sakti, kalau kayu itu tidak hilang tidak mungkin ia akan mati, hamba sekarang minta diri untuk mencurinya (mencuri kayu kastuba itu) lalu diijinkanlah segera oleh raden Surya Kencana.
6. Setelah sang Dyah Ratna Praba pergi dan telah sampai di rumah, sang Dyah Ratna Praba telah berhasil mencuri kayu kastuba
83 [ 83 ]itu lalu telah dibakar menjadi abu lalu dengan was-was sang dyah lalu duduk.
7. Sang Raksasa Siluman sangat marah, lalu menantang perang tanding, sama-sama menginginkan kemenangan sehingga perang bertambah seru karena disertai dengan perang kesaktian, saling bergantian membanting serta menindih lawannya, akhirnya sang raksasa dapat ditusuk serta dipotong menjadi dua.
8. Tak terceritakan lagi sudah mati sang raksasa, raden Surya Kencana kembali, serta berjalan untuk mencari raden dewi yang lalu didapatkan sedang termenung dan merasa sedikit kangen dengan kematian raksasa itu. (karena ia merasa dibesarkan oleh raksasa itu).
9. Setelah Raden Surya Kencana datang serta melihat sang Dyah Ratna Praba yang sedang duduk termenung, lalu sang Dyah turun serta berdiri menyambutnya dan kemudian diajak sang raden masuk ke Purian (rumah bekas milik raksasa siluman), semua panakawannya mengikuti dari belakang, lalu mereka semuanya menginap di puri itu, tak terceritakan sekarang pada malam harinya.
10. Raden Surya Kencana lalu memangku sang Dyah Ratna Praba sambil merayunya, sayangku seorang, teruskanlah tulus hatimu kepadaku, dan bicaralah padaku, serta jangan kau biarkan sampai aku sakit hati untuk mendapatkan cintamu.
11. Dewiku yang cantik, berikanlah cintamu kepadaku, kasihanilah aku orang yang terlalu tergila-gila karena cinta,sampai meninggalkan keraton, pergi menyelusup desa-desa dengan tidak ada henti-hentinya berjalan siang dan malam untuk mencari engkau Adikku Dyah Ratna Praba yang selalu terbayang dalam hatiku.
12. Di alam mimpi pun tidak pernah lain daripada engkau yang terlihat dalam hatiku, lihatlah aku kakandamu sekarang dewiku, aduhai permata hatiku, bicaralah engkau, janganlah engkau termenung, raden Surya Kencana mendekati,
84 [ 84 ]tetapi Sang Dyah menolak serta menunduk sambil air matanya berlinang.
13. Janganlah Adikku kangen dengan kematian si raksasa, kakandamu akan mengantikan ia di sini menjadi hambamu di sini, tetapi berbicaralah sedikit saja sekedar untuk obat hatiku yang terluka, lalu sang Dyah baru mau untuk berbicara dengan segala belas kasih.
14. Lalu berbicaralah sang Dyah Ratna Praba, dengan diseling selingi oleh tangisnya, aduh kakanda Surya Kencana, benar seperti mimpi kakanda, nama hamba kakanda, janganlah itu dikatakan, raden Surya Kencana kemudian membenarkannya.
15. Entah berapa bulan sudah Raden Surya Kencana ada di Negeri Maya Siluman, ternyata mereka keduanya sudah saling mencinta dan telah tidur bersama, pada suatu ketika raden Surya Kencana keluar dari Purian (Istana) lalu duduk berteduh di bawah pohon kemuning lalu didekati oleh para pengiringnya dan mereka berkata;
16. Hamba baru datang dari pesraman, hamba mendapat berita dari beliau yang menjadi raja di Tanah Selaka, bahwa anak beliau (putrinya) yang bernama Dyah Ratna Kombala segera akan dikawinkan.
17. Dengan putra beliau sang ratu dari Wadu Negara, yang bernama Raden Surya Praba, dialah yang ingin untuk mengawini sang dewi Ratna Kombala, sementara itu Raden Surya Kencana mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
18. Menjadi kangenlah raden Surya Kencana mendengarkan cerita tentang Sri Baginda di Tanah Selaka, inginlah ia mendatanginya serta memerangi Sri Baginda tidak menepati janji, berani menantang maut.
19. Tak terceritakan pembicaraan beliau, lalu masuklah beliau ke Istana dengan wajah yang muram, kemudian Dyah Ratna Praba menyapa dengan manis, apa sebabnya kakanda bermuram durja.
20. Raden Surya Kencana lalu menyahut, karenanya kakan
85 [ 85 ]da berwajah muram karena Baginda di Tanah Selaka yang mempunyai putri seorang akan dikawinkan dengan putra mahkota dari Tanah Selaka.
21. Karena kakandalah yang mendapatkan Dyah Ratna Kombala, ada janji sang raja apabila kakanda berhasil membunuh sang raja buaya akan diberikan anaknya kepada kakanda, itulah sebabnya kakanda ingin menggempurnya karena tidak mau setia pada janjinya.
22. Sang Dyah Ratna Praba lalu berkata, hamba membenarkan tindakan kakanda, semasih cupu ini kiranya tidak sukar untuk menguasai daerah, kira-kira ada tiga negeri, Raden Surya Kencana menjadi senang hatinya.
23. Lalu Raden Dewi menyimpan semua pakaian kebesarannya ke dalam cupu maniknya, kemudian juga masuk ke dalamnya, sang Dyah Ratna Praba, dan setelah itu Raden Surya Kencana berjalan serta diiringi oleh para pengiringnya semua.
24. Karena salah satu pengiringnya membawa kayu kastuba, maka diperintahkan agar jangan berjalan sampai di tengah hutan, tercerita Raja Gajah Payasan, Sri Baginda telah berangkat.
25. Beliau telah mendengar berita, bahwa sang raksasa siluman telah mati, keinginan sang raja mengetahui siapa yang membunuhnya, Sri Baginda akan menyerahkan hidup matinya, akan menyerahkan dirinya serta akan menghaturkan putrinya.
26. Berangkatlah sang Raja Gajah Payasan dengan menunggang gajah, para mantri, lurah, para hulubalang dengan senjata lengkap mengiringkan beliau, tak terceritakan telah sampailah beliau di tengah hutan.
27. Di sanalah di tengah hutan beliau bertemu dengan Raden Surya Kencana, dengan hati-hati lalu sang raden bertanya, melalui pengiringnya yakni Ki Punta, Siapa anda sekalian, ke mana tujuannya dan mengapa seperti akan berperang.
86 [ 86 ]28. Menjawablah mereka, kami adalah rakyat dari Gajah Payasan, mengiringkan perjalanan Sri Baginda, akan pergi mencari yang membunuh sang raksasa siluman, keinginan Sri baginda, akan menyerahkan dirinya, lalu Ki Punta segera melaporkan pengakuan mereka.
29. Lalu ia menghaturkan kata-kata orang yang ditanya, setelah diketahui semuanya, mengertilah sang raden, tanpa disangka-sangka datanglah Sri Baginda, dilihatnya raden Surya Kencana, lalu didekati oleh Baginda dan sang raja lalu bersabda.
30. Siapa anda yang saya jumpai di tengah hutan, sang raden lalu menjawab, ketahuilah, ayah hamba adalah orang dari Surya Wangsa, dan hamba adalah putra dari Sri baginda Gajah Kumuda yakni nama ayah hamba.
31. Hambalah yang membunuh sang raksasa Siluman, sangat gembiralah Sri Baginda Gajah Payasan setelah mendengar kata-kata sang Raden Surya Kencana, lalu dirangkulah sang raden, aduh anakku, terimalah keinginanku untuk menyerahkan diri kepadamu.
32. Agar anda mengetahuinya, ada keinginanku, siapa pun yang berhasil membunuh Sang Raksasa Siluman, aku akan menyerahkan diri padanya karena aku merasa sangat sedih di hati diperintah oleh seorang raksasa disebabkan oleh kalah berperang.
33. Sangat senanglah hati raden Surya Kencana, setelah mendengar hatur sang raja, lalu sang raden menyahut, baiklah kalau demikian keinginan ayah prabu saya akan menerimanya, tetapi maafkanlah karena hamba adalah seorang yang sengsara.
34. Baiklah, sekarang kalau tuanku benar-benar bermaksud seperti itu bersediakah tuanku menolong hamba untuk bersakit-sakit, karena sebagaimana yang perlu tuanku ketahui bahwa hamba akan berperang dengan raja dari tanah Selaka karena beliau tidak menepati janji.
35. Lalu menjawablah Sri Baginda Gajah Payasan, nah ayah
87 [ 87 ]akan menuruti, dan apabila memang demikian sebabnya, baiklah kita akan memadukan keperwiraan tetapi kuatkanlah imanmu.
36. Begitulah pembicaraan Sri baginda dari Gajah Payasan dengan raden Surya Kencana, lalu berangkatlah Sri Baginda bersama sang Raden Surya Kencana bersama semua tentaranya sangat mengagumkan.
37. Setelah sampai di tepi siring negara Tanah Selaka, lalu beristirahatlah Sri Baginda bersama sang raden, lalu mengadakan pembicaraan bersama patih para satrya dan para mantri semuanya.
38. Keinginan hamba untuk menghancurkan Sri Baginda Tanah Selaka tetapi setelah hamba fikirkan kembali, marilah kita agak pelan-pelan, ada sebuah contoh, bagaimana dahulu sang Meganada (anaknya Raja Rahwana dari Alengka) ketika menyerang Indraloka terlalu banyak perhitungan tetapi karena sulit yang disebabkan banyak yang dilihat.
39. Lalu berkatalah Sri Baginda Gajah Payasan, benar katamu ananda ketika dewa Indra dikalahkan oleh sang Meganada, ada lagi yang patut ananda lihat contohnya dari cerita Tantri Kamandaka.
40. Seperti tingkah laku si macan yang bertandang ke rumahnya sang buaya, matilah sang macan karena kurang hati-hati, demikian pula sebaliknya kalau si buaya bertandang ke rumah si macan ia akan mati karena tidak mengetahui kekuatan si macan di daratan.
41. Fikiran ayah, perintahkanlah untuk mengetahui kekuatan lawan, darmanya peperangan pakai, kita akan dapat saling bertemu, dan kalau kita mati sorgalah yang akan menantikan kita.
42. Raden Surya Kencana lalu berkata, betul kata ayah prabu,Ki Punta kemarilah, berangkatlah kamu ke Tanah Selaka katakan kepada Sri Baginda bahwa aku akan menggempurnya ke mari besok.
43. Bagaimana keinginan Sri baginda di Tanah Selaka, Ki Pun-
88 [ 88 ]ta lalu segera berangkat, mengatakan kepada Sri Baginda tak terceritakan dalam perjalanan telah tibalah Ki Punta di Tanah Selaka, langsung menuju balai sidang, di mana beliau sedang mengadakan persidangan.
44. Dalam persidangan itu hadir para mantri, para pendeta kerajaan, tanpa diduga datanglah Ki Punta mendekat kepada Sri Baginda lalu menghaturkan sembah dan berkata,hamba adalah pengiring raden Surya Kencana.
45. Karena paduka tidak tepat dengan perkataan paduka dimana Putri tuanku akan paduka kawinkan dengan orang lain, maka hamba disuruh oleh sang raden Surya Kencana menghadap tuanku, karena sang raden besok berniatakan menggempur tuanku, hal ini disebabkan oleh karena tuanku tidak menepati janji.
46. Raden Dewi akan padukan nikahkan dengan raden Surya Praba dari Wadu Negara, bagaimana maksud tuanku, karena tuanku telah ingkar dengan janji, tidak sesuai dengan darmanya seorang raja.
47. Tertegunlah Baginda sambil menahan perasaan, lama beliau tidak dapat berkata, setelah dapat menenangkan dirinya maka beliau lalu bersabda, Ki Punta di mana sang Raden Surya Kencana, aku tidak berpura-pura lupa, diketahui semua (pembicaraanku dengannya) oleh semua rakyatku, ketika sang raden masih di sini.
48. Dalam anggapan anakku Dyah Ratna Kombala, dikiranya raden Surya Kencana telah pulang ke negerinya, seorang diri dan dikira raden Surya Kencana tidak akan kembali lagi, sehingga anakku sangat merasa kesepian seorang diri.
49. Ki Punta lalu menyahut, apalagi sampai demikian, marah tuanku, tidak dapat tidak besok pagi negeri Tanah Selaka, akan menjadi lautan darah, mayat akan menggunung oleh tangan Raden Surya Kencana.
50. Ki Punta lalu pulang kembali tanpa mohon diri lagi, tidak terkatakan di perjalanan, sementara itu Sri Baginda meme-
89 [ 89 ]rintahkan untuk memukul kentongan sebagai tanda negeri akan mendapatkan bahaya, lalu datanglah rakyat di seluruh negeri dengan membawa senjata.
51. Sampai kepenuhan orang-orang yang berjejal di tanah lapangan, pasar sampai terhenti penuh dengan bala tentara, telah siap sedia dengan membawa senjata, Ki Punta diceritakan lagi, telah dekat dengan raden Surya Kencana.
52. Semua titah Sri baginda telah disampaikan kepada Raden Surya Kencana, kemudian sang Raden Surya Kencana bersama Baginda dari Gajah Payasan, sudah siap dengan menunggang gajah dan dengan segala upacaranya serta pakaian perangnya.
53. Bala tentara Gajah Payasan seperti banjir datangnya dengan diikuti oleh para mantri dan para hulubalangnya, lalu raden Surya Kencana berkata, para bala tentaraku semuanya mari kita berangkat dan yang lebih di muka silakan duluan.
54. Setelah dicapai tepisiring negara Tanah Selaka, pertempuran segera dimulai melawan tentara dari Tanah Selaka yang kewalahan menahan serangan tentara Gajah Payasan sehingga banyak yang melarikan diri masuk ke kotanya serta melaporkan keadaan pertempuran kepada mahapatih.
55. Pada saat mahapatih sedang dalam keadaan itu lalu datang lagi tentara yang mendekatinya serta melaporkan bahwa tepisiring kerajaan sudah rusak dan hancur, demikian pula. desa-desa yang ada di pinggir kota sudah dihancurkan oleh raden mantri, dari arah timur dan lalu beliau berkata bagaimana sekarang maksud Sang raja.
56. Sri Baginda berseru dan berkata, Ah eh ko para mantri hadapkanlah sekarang semuanya, tepisiring kerajaan kita telah hancur lebur, hadapi musuh dan lekas pergi menghadapinya.
57. Para mantri sudah semua siap untuk bertempur, dengan pakaian kebesarannya sendiri-sendiri, semua dengan me-
90 [ 90 ]nunggang kuda, setelah bubar dari persidangan segera mereka berangkat, sampai di tepisiring, ternyata tepisiring sudah hancur lebur.
58. Prajurit tanah Selaka baru berhadapan, dengan menggerakkan mereka menyerang, ramailah suara bedil, disertai dengan suara gamelan semua gemuruh ramailah jadinya pertempuran itu.
59. Akhirnya dikalahkannyalah prajurit Tanah Selaka, ditambah dengan panasnya sinar matahari, lalu bercerai berailah tentara Tanah Selaka banyak yang melarikan diri, sehingga banyaklah orang mencari harta benda sebagai jarahan atas kekalahan Tanah Selaka, serta berserabutan di jalanan.
60. Sangat senanglah Raden Surya Kencana maksud hamba ayahnda Prabu Gajah Payasan jangan kita beristirahat,walau musuh sudah bubar, mari-mari kita kejar terus sampai di Kota negara.
61. Sri Baginda di Tanah Selaka menjadi sedih melihat para prajurit baginda banyak melarikan diri lalu memerintahkan kepada para mantri, satrya, demang, tumenggung dan para kepala desa untuk maju ke medan pertempuran.
62. Lalu Sri Baginda memakai pakaian kebesaran, serta sudah menunggang gajah, setelah berangkat dari kota raja, dengan diikuti oleh para mantri dan para hulubalang sekalian yang tidak berbeda dengan lumpurnya bumi yang dihamburi oleh mayat, tetapi gamelan perang tetap berbunyi.
63. Sri Baginda masih berada di bawah pohon beringin yang diikuti oleh para mantri lalu berjalanlah mereka ke medan perang, di lain pihak Ki patih, demang, dan para hulu balang sudah memulai peperangan itu, terlalu ramai perang itu sehingga banyak juga yang mati.
64. Tak terceritakan perang yang sedang ramainya itu, saling pukul-memukul saling tusuk dengan pedang, saling panah saling bunuh yang lengah tidak mungkin tidak pasti mati.
91 [ 91 ]65. Tercerita Sang Baginda di Surya Wangsa, dengan di Wadu Negari sudah mendengar berita bahwa raja di negeri Tanah Selaka telah dikalahkan oleh baginda dari Gajah Payasan dan mungkin pula sampai pula kepada negerinya.
66. Dengan segera Sri Baginda memerintahkan untuk memukul kentongan tanda bahaya, gegerlah para prajurit datang, dengan para satrya seperti patih, para hulubalang sehingga penuhlah balai persidangan.
67. Sri Baginda sudah memakai pakaian kebesaran, berkain sutra merah yang diulat (dirajut) dengan benang mas serta memakai keris pusaka yang memakai danganan dari mas dengan dihias permata.
68. Penuh bertahtakan ratna mutu manikam, anting-anting terbuat dari mas yang dihias oleh permata yang mahal, persis seperti raja yang diceritakan dalam cerita-cerita dulu, keluarlah Sri Baginda dengan segala upacaranya.
69. Setelah beliau sampai di persidangan lalu beliau duduk di atas singgasana kerajaan dan menyatakan maksud beliau untuk menolong raja Tanah Selaka.
Pupuh Sinom
1. Sri Baginda kemudian membuka persidangan untuk membi carakan situasi negeri tetangga pada waktu itu. Syahdan diceritakan sekarang di Wadu Negeri sang ratu yang ber nama Dyah Jayeng Ayu dengan putranya yang bernama Raden Surya Praba sudah berhias dengan ibunya.
2. Berpakaian sebagaimana layaknya seorang prajurit, kuda tunggangan sudah siap siaga, akan pergi ke tanah Selaka, banyak prajurit yang mengiringkannya, sampai penuhlah jalan menuju ke Tanah Selaka, seperti bunga di pegunungan yang berombak-ombak ditiup angin, dan sampailah kini di Tanah Selaka.
3. Lalu langsung beliau datang ke tempat persidangan, lalu ditemui para mantri dan turunlah beliau dari atas kudanya,
92 [ 92 ]lalu duduk di bawah pohon yang rindang lalu disuruhnyalah untuk mencari Sang Prabu, di mana beliau ingin bertemu dengan Sri Baginda, lalu setelah dicari didapatkan Baginda masih di bawah beringin.
4. Maaf hamba matur sembah tuanku, dari utusan (hamba diutus) oleh Sang Raden Surya Praba, bagaimana maksud tuanku sekarang mengenai peperangan ini, hamba menunggu titah paduka, Sri Baginda lalu menyahut, sudah semuanya lelah bertempur, kira-kira semua sudah hampir menyerah.
5. Setelah kembali utusan tersebut, lalu melaporkan kepada Raden Surya Praba. Ada pesan dari Sri Baginda bahwa beliau sekarang berada di bawah pohon beringin, peperangan sudah hampir mendekati kekalahan Sri baginda, lalu Raden Surya Praba matur sembah kepada ibunya, hamba mohon diri membantu bertempur, karena rakyat beliau di Tanah Selaka ini sudah kewalahan.
6. Berangkatlah engkau anakku, lalu Raden Surya Praba bersiap-siap untuk berangkat ke medan perang, penglihatannya ke sana ke mari, sudah bulat hatinya untuk maju ke medan perang.
Pupuh Semarandana
1. Ramailah peperangan itu saling mengadu keris, yang lengah pasti mati, saling bertumpuklah mayat-mayatnya, Sang Prabu Gajah Payasan sudah berhadapan dengan musuh sebagai yang dikehendakinya, tingkah lakunya agak sombong tetapi setiap yang dihadapi semua kewalahan.
2. Raden Surya Praba kemudian menghadangnya, menghadang Sri Baginda Gajah Payasan, kudanya juga telah berhadapan, kudanya saling sahut menyahut berbunyi, berkelilinglah keduanya.
3. Tak terceritakan yang sedang bertempur, terceritalah sekarang Raja Surya Wangsa, sekarang telah berangkat ke Ta-
93 [ 93 ]nah Selaka dengan diiringkan oleh rakyat semuanya lengkap dengan persenjataannya, gamelan dan genderang perang sudah gemuruh bunyinya, juga ikut para hulubalang sekalian.
4. Dengan disertai ringkikan kuda dan gajah, yang dibarengi oleh gemerincingnya suara senjata, tambur dan gong beri suaranya gemuruh, demikian juga dibarengi dengan suara kendang cina sudah sampailah Sri Baginda, di tepisiring Kerajaan, lalu istirahatlah beliau di sebelah timur istana.
5. Ada yang menyampaikan pesan kepada Sri Baginda, bagaimana kehendak tuanku, adinda paduka yakni Sri Baginda (Tanah Selaka), sudah kepayahan bertempur, demikian juga Raden Mantri (Surya Praba), Sri Baginda berkata dengan tegas, sekarang aku akan datang cepat-cepat. (sekarang aku segera akan datang).
6. Sekarang pergilah Sri baginda raja, dengan diikuti oleh para pembantu baginda, di bagian timur beliau menyerbu, sehingga sudah kewalahan musuh-musuhnya, Prabu Gajah Payasan lalu berkata kepada sang genteng (Raden Surya Kencana), banyak lawan kita sekarang datang.
7. Lalu beliau Sri raja Surya Wangsa kemudian berkata, mengadu bala tentara Sri baginda, ramailah suara gamelan, gong beri suaranya sangat ribut, bala tentara sudah maju, juga banyak lawan sekarang, berteriak-teriak sambil maju.
8. Setelah mulai bertempur, sangat ramailah pertempuran itu, mayat-mayat sudah seperti gunung rupanya, darahnya seperti lautan, sementara itu sang raden (Surya Prabu) bertempur dengan gesit, karena banyak di antara mereka yang menemui ajalnya baik para satrya maupun para raja-raja.
9. Ketiga raja-raja itu menjadi ragu-ragu, sekarang berhentiah balatentaranya dibunuhi oleh Raden Ini (Surya Praba)dan Prabu Gajah Payasan, Ki Punta (seorang Utusan) lalu menyembah dan berkata, perintahkanlah kepada rakyat paduka untuk membatalkan pertempuran.
94 [ 94 ]10. Ayah hamba melihat, Ki Patih itu adalah milik kita, juga para pembantunya rupanya, Raden Mantri lalu berkata, perintahkanlah mereka untuk membatalkan, sampai dengan sembilan belas bulan, lagu berikutnya adalah Dangdang Gula.
Dangdang Gula
1. Tidak terceritakan sekarang peperangan itu, sekarang sudah selesai, Ki Punta mendekat kepada Sri Baginda Surya Wangsa, Sri Baginda terkejut melihatnya, ingat kepada Ki Punta dan juga Rakryan patih, Ki Punta lalu dirangkul, Aduh anakku, sekarang berjumpa, Raden (Surya Kencana) di mana, tidak bersama dengan kamu.
2. Ki Punta berkata sambil menangis, memeluk kaki beliau Sri baginda, hamba sekarang ke mari, Raden Mantri (Surya Kencana) yang memerintahkan, dan dulu memerintahkan bertempur, sebabnya Raden Mantri membangun peperangan ini dengan Prabu Tanah Selaka, karena Sri Baginda mempunyai anak seorang, disergap oleh buaya.
3. Ada janji Sri baginda kepada sang raden, siapa pun yang berhasil membunuh buaya itu, akan dihadiahkan putrinya (Raden Galuh/Dyah Ratna Komala), karena sudah mati sang raja buaya, (dibunuh) oleh Raden Mantri, tetapi Sri Baginda lalu mencadangkan putrinya karena sudah dengan Raden Mantri dari Wadu Negara.
4. Sri Baginda di sana lalu berkata, dengan air mata berlinang, janganlah itu diperpanjang, karena mungkin sudah suratan Tuhan, lalu sekarang Sri Baginda, memerintahkan untuk mencari Raden Mantri Surya Kencana, setelah berjumpa beliau dengan raden mantri tidak terceritakan Raja Tanah Selaka dengan Raden Wadu Negri.
5. Setelah dijumpai oleh raden mantri, yang sedang ada ditengah-tengah peperangan, lalu raden ditangisi oleh para raja/hulubalangnya, raden mantri lalu berkata, janganlah tuan-tuan sekalian memperpanjang (sengketa) ini, karena
95 [ 95 ](mungkin) ini merupakan hukuman Tuhan, sebab itu tenanglah paduka semua, Kakak Punta hidupkanlah semuanya, tentara Sri baginda raja, dengan kayu kastuban itu.
6. Ki Punta lalu memberikan obat, semua bala tentara (dihidupkan kembali) Sri Baginda sangat senang, dengan kesaktiannya Raden Surya Kencana, dan mereka para raja raja, semuanya sudah pulang ke negaranya masing-masing, semuanya memuji-muji, kesaktiannya Raden Mantri yakni beliau sang Raden Surya Kencana.
7. Tercerita beliau Sri Raja Surya Wangsa bersama Rahadyan(kedua putranya), beliau sangat suka cita ada lagi yang diceritakan beliau Sri Baginda Gajah Payasan mempersembahkan putrinya, yakni putri Sri Baginda sendiri, dan adalah putri yang cantik jelita, sang Dyah bernama, Sang Putri Gusalaga, cantik bagai bidadari tampaknya.
96 GEGURITAN
GAJAH KUMUDA[ 97 ]Om awigenan astu nama sidem
Pupuh Durma
1. Ada tuturan satwa Urujwi rajya, gita patula brangti, pinupuhan Durma, ati liwat suprapanca, basania manjawa Bali, tan wering pakerang ginuyu wangning bumi.
2. Kawarna sang Prabu Jambi Negara, liwat wirya nrapati, agungpunang bala, hanging tan aputra, sang perabu langkung prihati paran kasukan, sapa sang angantyani.
3. Dadya sang nata tinggaling rajya Negara, lawan sri parameswari, ananguna berata, tapa yoga ginolar,paran asihing widi, asingan temaja, sira sri nara nata.
4. Unggwanira atapa ring Giri Kelasa, tan marya ngastiti, Betara Purusa, sinempening adnyana, lebok ring kundi manik, maka patirtaanira, sang tapa kalih.
5. Tan katamah sidia amangun tapa, sampun lumrehing bumi, susaktining tapa, hana melih kocapan, Andaru Raja nameki, liwat angkareng budi.
6. Arinira andharwa raja kang istrya, Kendari naman yeki, ndan Andaru Raja, sampun angrengha werta, sutapa nira narapati, Jambi Negara, istanira ingdoni.
7. Apan darmani raksasa matia matia, norona anjanma yukti, lajwa lumampaha, angagem sanjata, sampun perapta ing aserama, arepa mangseha, angerak anguwuh atri.
8. Kang kocapan Sang Prabu Jambi Negara, kalanira angastiti, Betara Purusa, anunggala adnyana, dadi ta sira angapi, swaraning detia ring yawaning asrama.
9. Arep amangseha anambut gandewa, Sang Nata yatna umijil, wus tiningalan, dene Andaru Raja, anandra medang angrik, ndan Sri Narendra luput ales atangkis.
10. Aswe sira aprang ngocak-ocak, atandinga kawani, detia Andaru raja, mangke wus kacidra, pinanah de Nrapati, gulunya pgat,tiba ring Hyang pretiwi.
11. Saha prabhawa ktug kagenturan, cihnaning detia pati, sam
99 [ 98 ]pun pinejahang, de nira sri Narendra, dosanya angkareng budi, wuwusninasmya, ring tengahing wanadri.
12. Nguni ana kang detia Andaru Raja, momona ring gweki, mangke sampun pejah, manuku muni asrang, mong mara berata mukti, kenaselan kidang, singhaliman minukti.
13. Salwiring satwa suka anglila lila, purna salwiring wukir, ndan sira sang nata, ana ta sisyanira, prapta atur jiwa pati, aran Ken Darwa, sira astiti bhakti.
14. Mangke Sang Prabu kocap meciki rajya, Ken Darwa angrowangi, tanpasah sadina, tiningkahing jero jaba, sampun sampurna angadin makadi tambak, kangelilingi kori.
15. Peyadnyanira yasa patia, danta inideran bot rawi, tepi tepinya tatanduran, sarwa puspa angsana, kalawan sri gading, lan angrek wulan, pada anedeng sari.
16. Cara-caning natar angsoka liman, awong lawan tangguli, kemoning mrang pacah, pudak wawu sumekar, gandanya sumar merik, minghing kumbang, tan kepuha ngerusah puspa ngukir.
17. Satwana umuni ring kubwa-kubwan, meraknya nawang aganti, umuni ring kaywan, hana angsa mangumbang, bunganya ri telaga iki, lan cakra waka, ngocakok ring pinggir.
18. Lwir ta ning rat kelangenikang pasraman, kakweh anupi mayati, prapta mekalangwan, mara haneng patapan, Sang Prabu nyambramagipih, aweh bojana, sabran dina tan mari.
19. Tan kocapan laminya aguruan-guruan, kelawan maha yati, mwah sri Narendra, sampun manugraha, denira sang tapeng ukir, sampun atapa, denira sri Bupati.
20. Pirang dina lamina amangun tapa, ana anugraha widhi, saking Dewa Laya, sira sri Parameswaria, dadya ta sira garbini, palaning yasa, syan sih sri Bupati.
21. Tan kocapan lamanya sira garbini, wyatara sangang sasih,
100 [ 99 ]mesaning umetua, rareya ring jro garba, wekasan sira umijil, kang rare istrya rupane ayu lwih.
22. Dadya sinambut atmajane ingemban, denira sri prame swari, aduh anaking wang, moga we ta agesang, tungguneng sri Narapati, atinggal rarjya, tan teresneng negari.
23. Nyaberan dina iningunira atmaja, liwat si sri Nara pati, sayan agung sira rupanya, lwir citra mojah, Dyanh apatra Ratna Giri, lwir purnama candra, cahyanira nelehin.
24. Sri Narendra henget sira panamaya, apan masaning umulih, lan sri parame swarya, pineleka atmaja, saha wacana melad asih, nini mas ingwan pakarya sireki.
25. Ingsun kesah kelawan sira ibunira, umungsi sunya astiti, ring rudra Bhuwana, sampun angsara raga, anangis Dyah Ratna Giri, angarohara, sasambate melas asih.
26. Raden Dewi wuwusa pegat-pegat, mati ingsun bapa aji, yen sira katinggalan, paran temah ingsun bapa, karya nahen prayati, duh i buswarya, pireng sira araris.
27. Nini mas nyawan ingsun, ajana angsara, apan titahing widi, tan knainulaken, karya sira niminya, moga manggiha lwih, Sri Nara Nata mula tan tresneng putri.
28. Andaru raja hana pawkasing wang, atman ingsun nini, kita adila saha, ngemita ring pesraman, gya ingsun mulih, ring rudra loka, amungsi Hyang adi lwih.
29. Sampun sira inimpen suksemaring rasa, margani mulih, wuse apralina moksah ta sira ring ambara, kelawan sri parameswari, wus tekeng paratanucapen sireki.
30. Dyah Ratna Giri kari sira kantaka, tan sah atawan tangis, sira Ken Andarwa, pamuwusamlas arsa, sampunang karuna gusti, balik lingnira, sekar sane suniring.
31. Sabran dina ingajak mare pasraman, sira sang tapeng ukir, samya anyambrama, anatur sarwa phala, sang dyah suka ananggapin, teher lumampah, ring tepining asrami.
32. Sang Dyah kapwan alinggihing karang liman, anon lange
101 [ 100 ]ning ukikangening yayah sira, Ken Darwa angucap, lah dewa daweg lumaris amupu sinwan ringkuring wanadri.
Pupuh Sinom
1. Sang Dyah kesahing pesraman, sampung melebeteng puri, kelawan sira Ken Darwa, heneng akena sira iki, hana mali winarni, Prabu Surya Wangsa kasub, wawu denda sang katong, kakwehin pararabin yayi, ayuayu, jatmika utaming sastra.
2. Mijilira sri Narendra, ingiringing para kawi, tan sah angrangasuk kaperabon, asumpang sumanaseki, jinengadan merik minging arja angklang duwung, landeyannya bang ijo, jumanten mirah adi, menggep pekung, tuhu prabu jayeng surat.
3. Alinggihi ta singgasana, sopacara ane nguni, riwijil ira sang katong, rep nora ana wania ngling, patih amngku bhumi, manteri miwah pararatu, sampun atata nggon, ndanira sri nara pati alon muwus, rakryan patih amngku rat.
4. Ingsun apti acangkerama, andon kelangening ukir, sarwi ambaburu buron, aneng enjang sira lumaris, arahana bapa patih, jurubedag juru rajut, rakryan patya wot sinom, nuhun patik sri Bupati, dadya mantuk, sang Nata melebetang Pura.
5. Wengya sira wus anedra, enjang atatangyanrapati, ayas akampuh sutrejo, aneretesing mas adi, neher sira umijil, kang bala sajuru, samya pada angantos, nrapati mungguhing asti, akyang dulur tan kewarna heng dadalan.
6. Sampun sira sri Narendra, wus prapti tepining wukir, katon lurahi kalangon, tumurun sira nrapati, miwah para dimanteri, pada aduduan kalangan, hana amburu buron, umyang swaran ikang anjing anulusur, ring jeroning kanana.
7. Mangkining utmata, kukus ingkehangarebing, atemahan udyan sumyok, sri nara nata ngeling aris, hingendi paran
102 [ 101 ]eki, hana umatur pukulun, haneng wetan sang katong, wonten asrama kepanggih ndan sri Prabu, lumaris sira lumampah.
8. Anjugjuging pesanggerahan, hingiringing para manteri, saprapti ning ira aneng Jro, dadi hana dyah kehaksi, rupane ayu luwih, sakedep ika kadulu, sang dyang manjinging gedong, Ken Darwa kari aneng yawi, sang ahulun, neher denira angucap.
9. Sapa adruwe pasraman, ken Darwa sumahur aris, kawula iki Sang Katong, Ken Darwa aran mami, hana ta laki mami, Andaru raja nameku, lunga ngulati buron, sumawur sri nara pati, Ken Darwa kita adruwe ya sanak.
10. Wonten ta atmajaning wang, sawiji hika raksasi, sang nata rumaseng panon, marupa tan mami singgih, hingendi kang raksasi, anderuwe sanak listu ayu, lwih hyang-hyangning kelangon, wekasan sira angling aris, Ken Darwa, sunjaluken anak ira.
11. Ken Darwa jenger angucap, punapi karsane nara pati, yena apti henganak ingong, mangda raganing negari, tan yogya kang raksasi, binoyang sang prabu, tan hyun ngereta sang katong, sang Prabu smusmita hangling, Ken Darwa sampun kita dadawa ujar.
12. Tumulus sira Ken Darwa, amupu wang kawlasasih, yantan awas patemon, atemahan wiring pati, Ken Darwa ana wurin, duh dewa sri maha prabu, asung patik sang katong, hanging wenten ikang janji, anak ingsun, yen sira adruwe putra.
13. Angentyani sira sri narendra, dadi ratu nyakra werti, yan ahyu mangkyana sang katong, aja nangwhi janji, sang nata gargita ngeling, bhagya kita Ken Darwa, ring kapana sang katong, arupa ngwahi janji, haneng pungkur, tinembangan dangdang gula.
Puh Dangdang Gendis
1. Ken Darwa bungahe tan sinipi, arangwa, andikan sri nara
103 [ 102 ]nata, anmunaret sarirane, Ken Darwa alon maturmaring sira Dyanh ratna Giri, panikan sira sri narendra, tinatapan sampun, tan simpang tuduh sang moksah, Ratna Giri, dadya sira mamisinggih, sahujare Ken Darwa.
2. Wengya ndan mangke Sri Bupati, akempuh reko, pangim basning sekar, asmu dadu bang ning lambe, lumakwa tana santun, wus apanggih Dyanh Ratna Giri, den ira sri Narendra, asarean junjung, sampun nginakakangyangsya sang Dyah, kaaksi warnane luwir widyadari, tumurun saking kendran.
3. Supraptana sira sri Bupati, ring wadon dyah, ndan sahananingtilam, dadya anglungani reko, sinambutan santun, wusingemban raden dewi, sarwya nglinglingen, aduh arin ingsun, kangasung geringing nala, masku yayi, andika dadya gusti, moga tulus akena.
4. Tambanana laran ingsun iki, keneng wisya, strasari campaka mulus swecanta rahaden, sang dyah meneng tumungkul, sri Narendra tan sah ngerapti, sampun kesahan sinjanggandanya merik harum, sang dyah tan polihatulak mapan sampun, kena asmara rati, Ratna Giri murcata.
5. Sang Nata anambut gipih, harin ingsun, sira sang luwir kesuma, lah angelilira rahaden, sang Dyah tan sah pinekul, hingusapan swe ring rahi, sarwi dinyusing pangkuan, tumuli anunggu, anglilira, ngayuh sinjang-sinjang ganda nira, sri Narapati sambil angaras aras.
6. Pangerumrume aweraken gendis, mirah ingsun, yan sira tumulusa, ngawulaken ingsung mangke, yen sira apti masku, ingsun ingajak muliheng negari, muktiya rumaning rajya, akaren salulut sadenta hangera hakna, tan katulak, ingsun juga angentyani, sibulan sirama.
7. Sri Narendra tan arepu mulih ring negari, kebandaneng limar lalya ring pamuktine, katungkula among lulut, sangdyah sampun kepadan kapti, muktyamungning tilam, tan pasah adulur, sampun sira ngarbinya, Ratna Giri, ndan Sang Nata hangasih-asih, sampun ingsun kepaha.
104 [ 103 ]8. Mulih waluya negara iki, saking raden, mirah jiwan ing wang atuturing sarirane, sang dyanh alon amuwus, aja lawas aneng negari, sang nata angandika, hage ingsun mangsul, angelengser sira lumampah, sri Narendra lakune ano lih-nolih, sang dyah hanuting tinggal.
9. Tan kewarna mangkin sri Bupati, sampun prapti, haneng swa negara, anjugjug maring jero majya, suka sama arsa nungkul, ibu aji lan ranten aji, miwah para satrya, lulurah hadulur, mwah sira sri narendra, sayan lali, ring sira dyah ratna giri, jenek muktya ring Pura.
10. Sampun lami sira sri Bupati, heneng negara, wonten kalih canderahenengakne reko, Ratna Giri winuwus, wus angrasa haneng Jro hati, yen sira sri narendra nora arep mangsul, lumampah sira pasraman, ring bejya, Ken Darwa tansah hangiring, sabran dina heng bejya.
11. Sang dyah kesah mangke heng asrami, lumampah sira, mara ring toya, sampun prapta ring prenaha, Ratna Giri semu epuh, halinggih ring te pining beji, hangungkuli telaga,sang dyah asemu, anonton kumuda asekar, hangareani,tunjung bang lan tunjung wilis, rinubungi brahmara.
12. Ratna Giri arsa ngahyu sarining kumuda, mentas alon alon dadi tumiba manike, panukuning hyang agung, sayak tine rahaden manteri humungguhing jeroning kumuda, kumudanya kucup rahadyan sira semu wirang, dadya mulih, sampun prapta heneng asrami, lali ta welu waspa.
13. Ken Darwa merasa ninggalin, teka ngerangkul, mirah jiwaning wangkadi moksah garbinine, paran keranane labuh,papojanen kawula gusti, Ken Darwa ajwa wera, dawa wirang hingsun, dadi kawuwuh kalara, yen tuguren, Ken Darwa meneng tumulih, lumampah maring bejya.
14. Sesambate Ken Darwa semu tangis, pegat pegat, akesahe bejya ring pernah ira rahaden, rinuruh tan ketemu, haneng tepi-tepining bejya, Ken Darwa wus kepuhan, sore sira mantuk, warna neng sang haneng bejya, sampun lami, ring jeroning kumuda-nganti, mijil sira rahadyang.
105 [ 104 ]15. Ken Darwa mara ring bejya, sukur sira, amanggih kang rarya gumiwang warnane, sinambutan asantun, panoralyan rahaden manteri, atmajane rahadian, tumuli pinundut ninaksama ring pasraman, Ratna Giri, kapanggih sira aling ngipi amond ong bulan.
16. Atangis sira Dyah Ratna Giri, getun sira, ring ipen ira dadi husaping haspana, Ken Darwa kaget rawuh, sapraptane semu tangis, sandingira rahadyan, aduh gustiningsun, benjang kawula pangeran, langkung suka, sukur baghya asihing widi, rahaden manteri hagesang.
17. Tinghalana mangke rahadian manteri, ring embaran, sang diyah asemu hewa, paran sangkane rarene, Ken Darwa sawur halus, hya huga rahaden manteri, huni kesahing garba, iku gustiningsun, sang dyah apada tan soba, amituhun,kaget anasabdeng langit, aduh nini anak ingwang.
18. Hajwa sira tan arepa nini, hangakua, anakira tuan, raden manteri sayaktine, huning sira mas ingsun, wus asiram sira hana ring beji, umetu sang atmaja, mungguhing jeroning tunjung, mangke masaning umetua, apan wus mijil anak ira iku nini, haran GAJAHKUMUDA.
19. Raden Dewi gargita ring hati, hapan wangsite saking akasa hatutur ring sarirane, raden manteri sinambut, ampura nenka wula gustiwong nista minda-inda, liwata wlasahyun, hiningunira kang putra, henggalagung, rupane anom apekik, smaranda naangupatya.
Puh Semarandahana
1. Kewarna rahaden manteri, hamuktya rumning warna, wayahe wawu sepangon, kinemiting sarwa sattua, merega taru muwah si ngamomangsa kalawan snuk, celeng kancil lan kidang.
2. Rahaden lungha andaan rasmi, anungganging asti metasa, to sedaya sadulure, selakuanira rahadyan, ring luhuring acala sandingya rahadyan-wus mantuk, sampun prapta ring umah.
106 [ 105 ]3. Tan kocapa sampun lami, rahaden manteri asukan kalawan paa gunging buron, tan pasah raina wengya, muwah sira Ken Darwa, agung reko sukan ipun, kalawan sira ibun ira.
4. Tan sah tinari anghaji, maring berekating pandita, hengal bisa rahaden hino, salwiring sastra aksara, para unggwaning basa wyanjana makadi tutur, kalansuksmaning rasa.
5. Raden manteri hangeling aris, ibu ingsun atatanya, salawa se nora katon, ring ndi raman ingsun tuan, nora hana ring kenya lah jantenen ingsun ibu, ingsun apti wruhing sira.
6. Ibun ira nawuri, aduh gusti anking wang, sampun sira ata takon, apan sirama, sumawur raden manterya, paran sang kaningsun metu, sira ibun ira hangucap.
7. Ken Darwa aden takeni, rahaden arsa tatanya, Ken Darwa sun atakon, ndi raman ingsun byang, Ken Darwa apajar, Prabu Surya wangsa kasub, iku kang rama rahadyan.
8. Rahaden manteri gargita, ngeling ibu karya ta sira, kalawan Ken Darwa, ingsun apti weruh ing bapa, anembah reke ibuaprabu Surya Wangsa iku, minakara mamanira.
9. Ibunira anawurin, sampun ta sira agya lungha, sapa ingajak mas katong, manawi tan ingakua, atmaja anakingwang,rahaden sumahur halus, ibu sampunang sumangsaya.
10. Rahaden kesah lumaris, adulur lan sang pandita, tan kewarna ring hnu enghal, prapta maring negara, Prabu ring Surya Wangsa, tinangkila ring manguntur, pepek kang para punggawa.
11. Rahadyanika lumaris, alinggih ayunayunan, kalawan sirasang katong, muah sang para pandita, ring wingking sira rahadyan gawok sakwehning anulu, ring warnanira rahadyan.
12. Sang nata ngandika haris, wong pan paran praptaing kenya, halingging ring arep ingong, kita sapa aran ira, pawaraha sajatya, rahaden manteri amuwus, kawula iki wong papa.
107 [ 106 ]13. Narman ingsun dateng neki, umedek ring jeng narendra, wonten janjine sang katong, maring ibun ingsun nyawa, uni duke saha ras, andikani sang prabu, yening ibun ing sun drwe anak.
14. Angentyani sri Bupati, dadya ratu nyakra wartya, sang pandita angeling alon, puniki anak sang nata, haran Gajah Kumuda Ratna Giri ibuniku, akon mareka sang nata.
15. Sang Prabu jenger tur mangeling, paran ujara sang pandya, rikapan sang Prabu mongkono, pamangsula deninggal, noroing sun adrwe anak, raden manteri tan pamuwus, kesah ndatan pa pamita.
16. Tan kawarna aneng margi, sadalan angmu waspa, anese ling sarirane, sampun prapta heng asraman, mareka ibunira, sedayatinatas sampun, handikanira sang nata.
17. Ibunira asemu tangis, rinangkul ira rahadyan, duh anak ingsun mas katong, paran temah ingsun bapa, tan ingaku atmaja apanukupi Hyang Agung, sampun sira ngangen ba pa.
18. Tan kocapan raden manteri, atutur ring ibunira, tan kocap raden ino, Prabu Surya Wangsa kocap, sampun mantu king rajya sri paramesuari dinunung, kepanggih sira anedra.
19. Sang nata sumanding, amekul sarwi angaras, saha wacan alon-alon, aduh gusti sukur bhagya, hingsun sira garbinya, moga madrwe anak jalu, maka pangebinegara.
20. Tan kocapan sampun lami, mijil te sira rahadyan, tutug sopa caranin katong, pawalining wawu metu, tanyan pangeran ira, raden ajeng nama neku, warnane tan suma pala.
21. Sampun agung raden manteri, hanging tan bisa angucap, wayah wawu sepangon, katuwon sira sang nata, adrwe anak-anak, kaya tan totos sang ratu, burik capuh mata sudat.
22. Kocapan carita gelis, sang prabu melaya watya, bisekan
108 [ 107 ]irasang katong, kapernah rahi denira, sang katong Surya wangsa, asmarandana kapangkur sinom gantyaning tembang.
Pupuh Sinom
1. Kocapan sira sang nata, sampun maputra sawiji, liwat si hira sang katong, kelawan sri parameswari, puspatanya angerawit, Dyah Candrawaty kasumbung, lwir hyang hyang ning kaangon, warnano luwir widyadari, wawu turun, saking swarga adi mulya.
2. Bawinya anglunging jangga, tegananya naruju pasti, astanya minaka gandewa, pamahyun bunder raspati, ser tarunyuh danti, tengahing awatra makenus, sininom masemu hijo, yen mesem teko mantesin, sumengkong rum, jatmi ka utamaning sastra.
3. Kumuda haneng telaga, suganda snedeng sari, ramya kembangnya hangayon, ana abang ana putih, kasor juga karasmin, apanawalu ya kucup, ring wingitin pangeneh, cahyane sang raja putri, teka surud, ring wengyaning rahina.
4. Kakyaning surat, rupane ayu lwih, wikaning solah punang wong antyan purna kang negari, ring hana ne sang putri, muwahtang sarwa tinuku, muang tahun tan katunan, sampun kawarsa ing bumi, ndan sang prabu Surya wangsa apu tusa.
5. Mara ring malawatya, panomahe raden dewi, rakryan patih kinonkon, hangawa busana adi, tan kawarna ring margi, enjang wus prapti nagantun, rakryan patih jomojeg, sang prabu sedek katangkil, neng manguntur, pupuk bala adi mantrya.
6. Mahapatih ing Surya Wangsa, umarekang sri Bupati, sang nata anapa alon, paran karyane kipatih, prapteng melaya pati, bagya sira kadulu, rakryang patya wot sinom, ama dapasolahnya sri, mapan sampun, malinggih sireng ayunan.
7. Rakryana pati wot sekar, saha wecana manis, kawula iki
109 [ 108 ]sang katong, hingutus den nerapati, Surya Wangsa sang haji, hangaturana pakulun, sewala patera nyawa, tinanggap dera narapati winacengahyun, unining sastra ngelamar.
8. Saha wecana melad prana, hariningsun singgih, mulus sihira, sang katongmaring anak ira yayi, raden ajeng name ki, agung reke karepipun, kasyasih lintang kawon, punika ngingarsa putri ndan sang prabu haris denira ngandika.
9. Rakryan patih kaya ngapa, angandika sri narapati, bagya rahaden ino, arepa ring sira nini, wlas ingsun tan sinipi, hangerengwandikan sang prabu, rakryanpatyawot sinom, nuhun patik narapati, sampun katur, salwiring raja panomah.
10. Tinanggapan de sang nata, rakryan patih wus tinamui, henengakena sang katong, rakryan patih wus apamit, tan kocapa ring margi, wus liwat sireng alas agung, sampun prapteng kadaton mwah sira sri bupati pikatamu, pinarek sireng wijil pisan.
11. Sampun katurang sang nata, denira rakryana patih, sahi kanira sang katong, sang prabu suka tan sipi, saha wecana manis, aduh masku yayi prabu, sihira tanpatanggon, maring sira raden manteri, sinalina, megatruh pupuhe untat.
Pupuh Megatruh
1. Kawarnaha raden manteri ajeng sampun lunga ring malaya Wati, sampun kesahing nagantun, kabehan peresama ngiring sopacara pada kawot.
2. Raden manteri anunggungin jaran dawuk, wus liwar tekeng dasa tani, perapta tepining nagantun rakryan punta hangaturi tumu run rahaden ino.
3. Rahaden Ajeng lumpah sada nguntul, maselet urangka sampir si nurat dara atarung landeyan cula ingukir aslut mirah nomnoman.
110 [ 109 ]4. Sepraptene rahaden manteri ring manguntur, sang prabu sedek tinangkili, lan pagunging pararatu, rakryan patih, mangkubumi umarekang jeng sang katong.
5. Katinggalan pernahira sanggahulun kadehanira ngejepi rahaden alungguh ring yawinikang sitihinggil rahaden ajeng kari angantos.
6. Prabu Malaya sira kagyat angulua patih lah takonan agelis sapa kang wong wahu rawuh rakryana patih melejengi anuli sira atakon.
7. Wong paran sira perapteng neng manguntur rakryan punta anawuri hingsun wong Surya Wangsa iku rahaden ajeng gusti mami ahyun marekang sang katong.
8. Rakryana patih anuli sira umatur ri sira sri bupati wong Surya Wangsakya rawuh anenggeh rahaden manteri patih ngundang rahaden Ino.
9. Rahaden Ajeng ingaturan mapan sampun lumaris rahaden mantri lumampah andengdeng bahu lyat suyap mua cemil mesem sakwehing wong tumon.
10. Ndan sira sri Narendra kagyat andulu saha amita napa haris kaki lah daweg alungguh pareng lawan hingsun iki tutut sira rahaden Ino.
11. Sampun linggihing arsan ira sang ratu kadeyan medeking uri sang nata ngeluari mantuk tan sah kinanti tuan mantri inga jak sira mareng jro.
12. Sri Parami Swarya katemu sira alungguh sang nata ngandikaha ris yayi anak ira rawuh labalinggiha he riki sang Prabu ngan dika alon.
13. Yayi swarya mulus denira anak hingsun iki katuan si kaka Prabu adrwe anak sawiji rupane kaya tani wang.
14. Rahaden ajeng ginawa ring salu kidul kadeyan ira angiring Wong jro samya nonton rawuh Ken Bayan ken sangsit pareng si ra anonton.
15. Sakatahe kang wong prasama gumuyu andalu rahaden man
111 [ 110 ]teri ken bayan melayu matur ring sira rahaden dewi sarwi anembah sarwa alon.
16. Raka hingandika raden manteri rawuh rupane kaliwat pekik asor saagunging pararatu ri warnanira tuan manteri galuh nu manus yen tinon.
17. Raden dewi meneng sarwa tumungkul ken bayan welas aninggali duh ratu sang srining rumrum marupa tan ami singgih pantes atembang solopog.
Pupuh Solopog
1. Ndan kaula hangiking anonton raka nora pacuh sun mas katong rahaden dewi ngandika noro ingsun mangkana ken bayan sumawur guyu neda kawula pangeran.
2. Andulu rahaden manteri tutut sira rahaden Ino, katemu linggih eng ambyan sampun awas rahadyan ring warnane raja sunu rahadyan dahat alalaramon tumyat rupanira.
3. Rahaden Dewi ngelungani mantuk sira neng lalahyan ane seling sarirane tumuli sira anedra kan sanggit lan kebayan tan sah sira atutunggu kalawekan pangunengan.
4. Selasane rahaden manteri wenten ing malaya watyasang dyah sira gung wirang rong tan kena ring tadah nedra raden ajeng kocapa sampun sira amit mantuk wus prapti ring Surya Wangsa.
5. Heneng akena Rahaden Manteri kalawan kadeyan ira sampun matur ring sang katong suka sira sri narendra muah sira ibu nira hana gantyaning wuwus Prabu ring Malaya watya.
6. Tan sah tinari tuan dewi denira sri nara nata saha wecana nyunyur, lah aduh nini anak ingwang sampun sira mas nyawahan wakan panangkahyun manawya dadya lara.
7. Sang dyah apti andon rasmi anon langening acala sang nata anut haraana mangkya sira apangarah lungana ring en-
112 [ 111 ]jang punggawa mantri kang agung inguntapi pinupweng durma.
Puh Durma
1. Tan kawarna wangya henjang sri Narendra, awan sira sangaji, lan sri parameswarya, akampuh papatuhan, asekar sira warsiki wus jinebedan, asabuk lubeng luwih.
2. Raden Dewi ahias sira sambarana, arja singjang garingsing, apinggal kembang sedah, asumpang tiga patra, sisinom atap angrawit, wajan bridanta, lati gesang abangkit.
3. Raden dewi sampun sira hangaturan, ndan sira umijil, wus prapti pangastryan, sampun mungguhing sekata, kalawan sri parame swari, sri wara nata, nunggangi meta asti.
4. Sri paduka Swarya lumampah ring arsa, kalawan raden dewi, sang nata tenguntat, apayung sweta warna, sumereg kang bala angiring para dimantrya, lelurah kuwu desai.
5. Kewarna lampah sira sri narendra, adoh denya lumaris, liwatig negara, sampung prapti ing acala, raden ajeng anutug uri, paksa umalua angiring sri bupati
6. Sri narendra tumurun sira ring astya, hangalihin karasmin, sang paradi manterya, pada aduduan kalanguan, sang dyah. suka mupu sari, ring geger wetan, lawan ari prameswari.
7. Kaka-kakan ira suka awuwurahan, ramya ngerumpukeng sari, sarineng bujaga puspa, hingaturing rahadyan, tinanggapan tanasari, dadya sinumpang denira raden dewi.
8. Angemyat sang dyah langening asraman, panjrit ingkang sundari, laju sinawuran, dening cacaking tawang, sata wanya nyekerin, ring kubuan-kubuan, meraknya nawang nganti.
9. Sang dyang kepwan alungguh ing sila sayana, sarwa anem
113 [ 112 ]pal semi, ning asoka, hesi gita tatapning basanya ama nasapan, sinang sipta, wong anyingal kerasmin.
10. Teher hingawak bayanmereneya, waca pralambang iki, hendi mirengana sampun maserah kartika, winaca swaranya manis, andudut cita, sang dyah suka angapi.
11. Sri narendra sampun sira keramenan, prapta sang para tapi, atur sarwa phala, sahisining acala, suka sira sri bupati, abinuktya, raden ajeng tan kari.
12. Sri prameswarya sampun sira hangaturan, denira sri bupati, mareng pesanggerahan, sampun kawartandrapati, malaya watya, lungha andon karasmin.
13. Kocap gargita Raden Gajah Kumuda, tumuli sirat amit, mareng ibun hingsun lungha, kocap prabu malaya wati,sareng istrya hingsun arep udani.
14. Hingsun angrengha orta Prabu Malaya Watya, asuta istri, kahayoniwat, baghya kapedek, ibunira anawurin, duh anak ingwang, manawi manggih wisti.
15. Ken Darwa aris denya ngucap, sampunang sangsaya gusti, wenten kaliliran, raman hingsun adrwya, punika kulambi, adyena nganggoni norona wang angewruhin.
16. Sampun tinanggapin denira rahadyan, ngeder sira luma ris, mareng pasanggerahan, sira sri naranata, katinggalan sri bupati akaramenan, kalawan para dimantri.
17. Sang dyah mangke katinggalan prenah ira, alungguh ing bale alit alit luring parang, wawu sira wus ahyas, sumpang sarpa kesari, saha padapa, tinerangganeng warsiki.
18. Raden mantri mangkin saharsha tumingghal, ring sira raden dewi lengleng kapanetan, yen sinameng ayunya, tan pendah lwir widyadari, turun manjadma, mara ring sang maha resi.
19. Raden manteri aris denira umalakua, ring wenganambatang gininjring, sampun pinarekan, ingagem pangwinanan, sawiji norona ngaksi, rahaden mantrya, mara ring raden dewi.
114 [ 113 ]20. Candrawati tan sah sira marna-marna, langening wana adri, lan para wong ira, anuli amet sedah, dadi hana wong kaaksi, prapta anuk semara, pahanom apekik.
21. Kaget sang dyah aris denira angucap, sapa kaka wang iki, lah ta tinggalana, tinanyanan denenggal, akon mura sakeng riki, tan wandya pejah yen katurang narapati.
22. Watra tininggalan denikang pawongan, amantra nakahaksi, umatura Ken Bayan, sarwi aguyuan, hing ndi kang wong kahaksi, masawanya, wong lanang naring riki.
23. Duh mas nyawa salah drya wong ira sawur paksi, lah menenga tuan, Raden Gajah Kumuda, mangkin sayan marepeki, sang Dyah marma aras, hepuh rumaseng hati.
24. Raden manteri wawu sendu duhcita, dewa sang kadi ratih, tinggalana ingwang, wong papa kasaharsa, tan ajering dateng ringpati, hingsun mas nyawa, wong kutang bapa
25. Lamon sira amupusih amupu akna, ndan kawula gusti, agung hingampura, apti angawula akna, sadera angerehaken dadi, noroanawihang, sekar sun sane iniring.
26. Raden Dewi tumungkul sarwi angucap, wong paran sira iki, lungha deninggal, paran ujaran ira, Ken Bayan lawan Ken Sangit, pasiranpangunengangan, liwat merasa hati.
27. Umatur ni Bayan duh dewa sasuhtinan, sapa ingajak iriki, awarah waraha, jatenan ingsun rahadyan, pukulun arep weruhi, saking ndidatenge, wong paran sangkaneki.
28. Sang dyah sumawur asemu wirang, kaka weruhasireki, nora papa cuhan, ujar sira ring sira, marupa tanami singgih, ta sira kaka, ring ujar hingsun wyakti.
29. Duh mas mirah marman hingsun mangkana, apinda tan amisinggih nora tininggalan, rupaning wong anuksma, manawa dewa anuruni, sang dyata sumawur dangdang gendis.
115 [ 114 ]Puh Dangdang Gendis
1. Candrawati wuwuse amanis, aja kaka, kadadwan ujar, pan tan weruhing jatine, raden manteri umatur, mulus swecanta ring ika syasih, syang latri ingajap, pengaptining purun, benjang kawula pangeran, langkung suka, karyanen sedek ring puri meganatulus akna.
2. Sang dyah tumungkul tan anawurin, asemu wirang, anampehi cita Raden Manteri sayaktine, Gajah Kumuda Umatur, pakarya mas nyawa Gusti, manawi hana wikan, age hingsun mantuk, angeling panedan kawula, kawula aja, lawas sampun sira walang hati, antosan tigang candra.
3.Tan kawarna mangkin raden manteri, sampun tutug, denira angucap, sang dyah katah harsana, raden manteri wus mantuk, pelakune anolih nolih, paneraka tininggalan, hoko dyah lyaniku, henengakna raden manterya, kang kocapan, Sang Prabu Malayu Watya, sampun adan mantuka.
4. Sampun kesah mangke sri bupati, ring acala, sagrahan sang natawus lepas ingkang lampahe, tan kawarna ring hnu, sampun prapting malaya wati, raden ajeng kocapan, mapan sampun mantuk, ring negareng Surya Wangsa, pan wus lama, kawarnaha sri bupati, Surya wangsa aputusan.
5. Lungha mara maring malaya wati, kenapatya, merat raja panomah sampun prapta ring parane, sang nata ring manguntur, pinarek ing paradi mantrerya, miwah para satrya, lulurah apupul, kaget kena patih prapta, umereka, ri jeng ira sri bupati, hangaturaken surat.
6. Sang nata ika nanggapin gipih, punang citra, winaca ring cita, huninya awelas arsa, duh masku yayi prabu, tulusakena sihiray yayi, ring anak ingandika, pengaptine purun, istin ingsun awi waha, ring hwerayua, ring purnama asuji, anuju merta masa.
116 [ 115 ]7. Mangelek manahe sri Bupati, angrengua, ndikan sri narendra, kaharna ujara, sang dyah liwat tan kahyun, maring sira rahaden manteri, yan sira anguangsula, agung dendam ipun, wekasan sira angucap, kenapatih, aturana ring sang aji, hingsun hanut apisan.
8. Rakryan patih anembah amit, mulya kesah, ring Malaya watya, wus lepas ika lampahe, sampun prapti nagantun, Wus amarekang jeng narapati, sanikan sri narendra, Malaya wus katur, sukan ira sri Narendra, Surya Wangsa, mangke sira sri Bupati, akona amangan greha.
9. Pernahanira raden manteri, tui langua, hingideran telaga, kumuda anjerahsekare, inupacareng santun, geraha inupacara ngerawit, lyan tang geraha, sepatika einenggeng mas tutur, pinatiking sarwa ratna mirah, hungua guli gamlan mirah adi, ratna pangkaja sinang.
10. Tabeh tabehan ira neng yawi, umyang swaranya, lan cumangkira ang, sampun atata barise, raden manteri wus metu, pinayungan sweta pinulis, penganggene sarwa hendah, nunggang kuda jamus hingiring dening punggawa, para mantrya, satrya rakryana patih, penganggone abra sinang.
11. Tan ucapa raden maring margi, kanuwusan, dyah malaya watya, wus mungguh ring pameremane, lwir swarga ndih murub, ingukup pejebad kasturi, hergula ramala, gandanya mirik harum, raden dewi tan emang pinasan, henenghakna tuan dewi, raden ajeng wus prapta.
12. Satakaning yawineng kori, wus pinapag, de sri parame swarya sampun ingaturan reke, raden manteri tumedun, sahi ngiring dening manteri, prapta ri wijil pisan, sampun sinung lungguh, sopacara samya tata, asri asri, hana ta malih winarni, rahaden Gajah Kumuda.
13. Karengua tabeh-tabehan asri, ring Malaya, hana nggeh sang nata, amnggih punang putrane, Candra wati kang iku, Rahaden manteri wuwuse manis, ibun hingsun kesaha, mangke karep hingsun lunga ring malaya watya, anontona, anenggih rahaden manteri, aja mangka ngambila.
117 [ 116 ]14. Ratna Giri wuwuse manis, anak ingwang, aja age lungha, manawa manggih kewuhe, rahaden manteri amuwus, sampun sira nangsayenghati, ngelengser sira rahadyan, kulambi wus rinangsuk, tan kawarna ring dadalan, sampun prapta, negareng malaya watya, nora ana wang tuminggala.
15. Rahaden manteri malebah teng puri, hanjugjug ta sira, raingsalu kilyan, sang dyah kapanggih asare, tinambutan asantun, sukur bhagya mani gusti, mangka sira kapendak, lintang sukaningsun, kapanggih ingsun sadera, lawan sira tinggalana ingsun singgih, andasinan mata.
16. Raden dewi satanginya guling, gagetun sira, ring polahira, hanging tan metu ujare, raden manteri kadulu, raden dewi rumaseng hati, bhagya sira prapta, iku janjin hingsun, nisanggit ken pangunengan, kepasiran, nibayan awas ninggali, tan dadya angucap-ucap.
17. Mangke tumiha tatitaping tri, tangah wenya, masaning. anidra, sang dyah mamuksah hatine, raden manteri ame kul, wus ingemban rahaden dewi, sampun wus prapteng jaba, pawongan adulur, lumaris sira rahadyan sampun prapta, ring pasraman rahaden manteri, wus munggaheng pamereman.
18. Kawarna mangke rahaden manteri, ajeng sira, adantuman duka, ring pranahi rahadyan, prapta ken inya gupuh, uma tur ring sri narapati, saha wijiling waspa, pegat pegat muwus, rahaden dewi wus hilang, tan karwan, kagyat sira sri bupati, sri parama swarya lara.
19. Sri parama swarya lara nangis, mirah ingwang, sira jiwa ning-ingwang, tan tulusa panggih reke, ndi paranku masku, tinggalhana kakanta nini, raden ajeng mas nyawa, liwat welas ingsun tumuli sira kantaka, hingusungan, hana tembang walanghati, si nuam pupuheng untat.
Pupuh Sinom
1. Wereg kang wong senegara, ring malaya watya prihatin, maka ngawos sang suputri, liwat den ira sakti, tan hana
118 [ 117 ]marganing pandung, sang nata kangen angeton, ring sira rahaden manteri wekasan keroda, sira seri narendra.
2. Akon anembang tengeran, tangeran manya titir, kagyat sakwehning punang wong, perapta janeng margi, muah kang bala mantri satrya muang pararatu, ramya perasan takon, ring awan awaliwali, sampun weruh, tumama maring watangan.
3. Saregep kang wong saha sanjata, kuda liman sampun cumawis, rakryana patih angantos, riwijilira nerapati, ndan sira sri bupati, mijil ira ring mangguntur, alungguhing palimanan, hinga weh rakryana patih sada seru, Ken patih umereka,
4. Satrya lan para nata, lulurah muang adintri, sang prabu angadika alon, hangana de mahapatih, miweka laku iki, hyang naya yogya linakun, liwat peteng panon ring bilang ngirang nini tan kaweruh, sangkaneng, wong perapta nuksma.
5. Rakryana patya wot sekar, hemeng patik sri bupati, pan nora and wong tumon, balik rinarahi ukir, muah ring desa desi, malar sira lamun katemu, sang nata angling alon, hya ujar sira patih, lah lunghaha, angerereha anak ingwang.
6. Sampun kesah kena patya, kalawan sagunging mantri, adaduan pararane wong, wus kadungkap kang wana adri, muah sadesa desi, materasi nora katemu, tucape rahaden ino, akon sira ngamet waris, Ken Darwa, wawu hana sukaning wang.
7. Wus munggahi pagulingan, sampun tumangkep kang samir, raden mantri angeling alon, duh mas mirah ingsun gusti, baya suku ring widi, kang andadya katemu, sawurane mas katong, sakecap sun teda mami, nora lawas, kang dadi puhing weredaya.
8. Duh mas mirah ingsun nyawa, mulusi antadyaari, agu karondodot, mula sanggup ira gusti, aja nguahing budi, peteng tinggal jiwan hingsun, yan tan sira sang anon, asingana wusada mati, keneng akung, sinaran heng sira nyawa.
119 [ 118 ]9. Sang dyah wus kawaweng tilam, hentyan tyan karasmin, tan ka Warna ring patoron, hana ta malih kawarni, raden ajeng umulih, tan kawarna ring hnu, sampun sira marika, Ting jeng ira sri bupati, panwus katur, rilingira rahadyan.
10. Kanggek sira sri narendra, tan wruh pangrasaning hati, pineh pineh tan katemon, patih malaya wus prapti, asemu semu gipih, kawula hiki ingutus, denira seri narendra, hangaturana tuan suputri, pan wus hilang, tan karwan sangkan ira.
11. Wus kaderan kang negara, tekaning wana wus enti, ring nusantara linakon, pan nora matra kapanggih, rakryan patya wot sari ksama hakna patik prabu, muah rayi sang katong, sampun sira rupa runtik, sang nata, Surya wangsa serengen angucap.
12. Ah patih aja keh ujar, muliha kita den agelis, aturana ring yayi katong, akona cadanga jurit, istan ingsun apatih, atanding perabawa ingsun, paran lwihana wong, dosane tan satyaneng budhi, kene patih, Malaya amit tur lungha.
13. Sang nata ing Surya Wangsa, kalangkung nalaning hati, wekasan anamuwu salon, hangapa de maha patih, karep ingsun ring enjing, amaraweng yayi prabu, rakryan patya wot sinom, nuhun patik. seri bupati, sangawulun, akenembang durmangala.
Pupuh Durma
1. Geger asawuran wonging Surya Wangsa, abebelek wus prapti, manteri lawan satrya, demang tumunggung perapta, makya sira rakryan patih, tekang pangastryan, sek penuh kuda asti.
2. Sakataheng kang bala wusinawaran, de sri bupati, yekong para mantrya, satrya muang lulurah, panca tanda kuwu desi, kita ri enjang, mareping malaya wati.
3. Watra dinawuhan kang bala, sawandan sira sri bupati, wus
120 [ 119 ]malebang Pura, bubar kang wong aneba, ndan patih malaya wati, wus perapteng raja, matus ring sri bupati.
4. Andikan ira sang nata Surya wangsa, tinatasan sami, meneng sri narendra, kataheng tuas tan sarja, amangun sakeling hati, wekasan mojar, sira atawan tangis.
5. Nini mas ingsun ajana lara, apan sukuring widi, tan kenati nulak, lah menenga pangeran, benjang dateng kak aji,ameres ta hakna, hingsun atadah pati.
6. Apan tan wenang alawan kaka nata, aja sira walanghati, susatya ring prya, umungsi pati brata, lah hedan hayasa yayi,anganggo petak, tutut sri prame swari.
7. Sri Narendra ayasa sesaman wastra, akampuh petak miring, ki nulateng masasejran, roro tunggala asason mirah adi, lan kusya raga, lawan sri prameswari.
8. Sang nata sampun sama anganggo petak, takaning bala mantri, satya ring sang nata, tan warna polah ira, muah Suryawangsa aji, adan mangkata, aneteg tengeratri.
9. Saprapta kang bala seregep saha sanjata, satrya para aji, pada nunggang liman, saha pedang pangawinan, lan pagu nging para mantri, wus munggahing kuda, saha awatanganjerihi.
10. Sang nata sampun aniti iwahana, jujuluke pinanding, arsa lawan dwaja, saha pedang wus linigas, kerapeking watang agatik, kaget tekeng perang, tepining malaya wati.
11. Satekaning sang nata atingkah gelar, dwi radamta sri bupati, munggahi sirah, tulale sira denang, lan tumenggung para satria aji, miwahing untit angga rakryan patih.
12. Tan kocapan prabu ring Suryawangsa, Gajah Kumuda malih, sampun aputusan, aran patih Dangdang Ngelak, tan kawarna ring margi, prapteng negara, melaya sinampuri.
13. Jumujug sira mara ring panangkilan, ndan sira sri bupati,ring paseban, lawan sri parameswarya, lan akweh para nini aji, para satrya, miwah rakryan patih.
14. Akumpul kumpul pada angangge petak, pati Dangdang
121 [ 120 ]ngelak prapti, marekang sang Nata, hangaturaken surat, anikanira tuan mantri, Gajah Kumuda, bisekan ira raha dyaneki.
15. Sang Prabu asemu kagyat ananggapi citra, winaca ring hati, adu bapa nata, hingsun mangkya, sejatya ring hilangira tuan dewi, dyah Candra watia, kang hangalawi.
16. Hinsun anakira Prabu Surya wangsa, nguni ari sri nara pati lungha acangkrama, nyajah langening wana, kapanggih ibuning rianak, arowang raksasa, Ken Andaru nameki.
17. Wenten sira sang ratu Jambi Negara, asihing raksaseki, maka sisyanira, Kang anom ken Andarwa, sang Prabu mantuki Swargi haran Dyah Ratna Giri.
18. Kocap sang Dyah inuakning raksasa, sira inangken putri, Prabu Surya Wangsa, hana harep ring kana, hingalap dyah Ratna Giri, hingangge swamya, Ken Andarwa andyani.
19. Lama sang nata mungguhing wira negara, lawan dyah Ratna Giri wusaputra lanang, haran Gajah Kumuda, ring wruhin ta bapa aji marma manira, apan suku ring widi.
20. Kaka aji kalangkung kerodanira, aptya sung merasta kakya, wus prapta ring tepya, Malaya Watya bapa, sampun kederan giri, hingsun wus hical, mongsi sireki.
21. Rahaden mantri aseru denira angicap, hingsun kang angan tyani, lumaga sang nata ring Surya wangsa, nyawa raha dyan akon agelis nembang tenggara, geger kang bala prapti.
22. Sakweh kang sato umunggah ring alas, sedaya mangke prapti, liman muang gadarba, mong mereng sampi manjangan, singharsa dulu muang kancil, landak muang kidang, semut warak tan kari.
23. Ulabisa sagiri diri ulahnya, lengis dasinya lungid, sumirat wisanya saking tutuk bisanya, meh prapta swara ngere ngatri umenggalaknya, maraekang raden manteri.
24. Raden Gajah Kumuda aris ungucap, eh sakwehta satweki, pamang kata kita, lawan patih Dangdang Ngelak, ame-
122 [ 121 ]tokana sang aji, Baskara Wangsa, haneng malaya watya.
25. Ndan mangkata sira patih Dangdang Ngelak, Sato gumuruh angiring, tan kena winilang, sampun prapti malaya,tepi siring wus kalindih, kagungan lawan, malayua tawan kunin.
26. Patih Dangdang Ngelak mangkya angadu bala, mari arsa lumindih pedang wus linigas, kanggek wong Surya Wangsa, sato sadaya ngambuli, amraweng lawan, agaduhan swaratri.
27. Sinawuting singa snuk balgadarba, mong mereng sami nguyoti, tinujah menjangan, cinokot dening macan, tinujah ring celeng kancil, kerwagangan, nandaka siniting tinggi ling.
28. Kesahan kang bala ring Surya Wangsa, hingidep dening asti, kenaawiting warak, cinokot asuasang, tinujah ring celeng kancil landak lan kijang, semut pada nyokotin.
29. Wus kasorangkondur kang spaning pejah, wedi kisira kagirigiri, mantri lan satrya, pada atawan kana, ngerana kamoneng lagilagi, satru bisa, marmane sarwa werin werin.
30. Raden Ajeng tumandang atur maring arsa, anunggang kuda putih, anggawa gandewa, kudane sada arengan, medal sada masusirig, mana mundura, pakateki marapeki.
31. Dadi ta tiba ring gigiring kuda sira, sumangkin makadi ding, laju manjitang, raden manteri kubuncang, tiba tasira kapantig, lantas atangya, mangeling nagih masunggi.
32. Kagyat teka kang wyasa acrangulat, namangranganglun, atri, raden ajeng kagyat, nyulsulira ring betan, sinawuting ula lidi, anjerit rahadyan, kumeter maraswedi.
33. Kawulane gisu pada tumulunga, kena patih nyayutin, luwut kape nekang, mungguhing luhuring kuda, mundur adoh maringwuri, Sri naranata, gipih sira ninggali.
34. Sri Narendra apti mangke tumandanga, kenapati nyayutin, duh dewa pangeran, lah menenga sang nata, kayataning lagi-lagi, satrun sang nata, punika den rasanin.
123 [ 122 ]35. Durung hasat dening tang ngawa rasa, kancit ken patih perapti melayu umereko, ring jeng sira sang nata, hanga turaken sarapi raka wot sekar, kang sinom ananggapi.
Pupuh Sinom
1. Sampun winaca kang surat, huninya ameled hati, dewa sang nata ning katong, sampun sira agung runtik, ri rayinta nara pati, duh dewa sri maha prabu, ri wuruhanta sang katong, wonten anak ira manteri, duking gunung, kangaran Gajah Kumuda.
2. Medal saking Ratna Girya, punika rahaden manteri, amboyong kawula sang katong, kangaran dyah Candera wati, mangka hunining tulis, sang Perabu meneng tumungkul, kangen ing balanya, wonghana tatua dad gigir, pati cerenguk, tangis saha melas arsa.
3. Mangka teke pita agengan, sang prabu Surya wangsa tanpa ngeling, syuhing cita amanggeh alon, lali lehang waspa mijil, akeh keraseng hati, wekasan ngandika halus, kenpatih Malaya, agung dendan hingsun patih, yakti iku, pitu ture yayi nata.
4. Didin hingsun maha patya, mangka mangkata den agelis, kumpula na balan ingong, ken maha patya wot sari, anuhun patik haji, mangka mangkata pakulun adan sira sang katong, kalawan sira rahaden manterya, ajeng sampun, sami nitihing wahana.
5. Lan sagunging pranata, lan patih malaya wati, tan warnana lampah ira, ngalor perapta ring wira negari, sang natawus kapanggih, irika sira apupul, kalawan rahaden ino, Gajah Kumuda, tuan dewi, katinggalan, sang prabu mangkya wus perapta.
6. Tumedaking palinggihan, manteri satrya para aji, kalawan rayi sang katong, Gajah Kumuda tan kari, ndan sira sri narapati, Surya wangsa teka ngungkul, mas nyawa anak ing wang, agung dendam ingsun kaki, mapan lawas, kang dadi puh ing weredaya.
124 [ 123 ]7. Kalawan Dyah Ratna Girya, pinekul den narapati, saha wecana marmalon, sampun sira agung runtik, mapan titahing widi, yang andadyaken pakewuh, mangkin sira anaking wong, Gajah Kumuda ngentyani, ngadeg ratu, ring negareng Surya wangsa.
8. Paran mantuka pangeran, aja sira wananghati, Gajah ngeling alon sampun kadaduan berangti, ndan sira sri Bupati, Surya wangsanuli muwus, Yayi aji Malaya, sampun sira arupa runtik, daranmantuk, amuktya ring negara.
9. Sang nata malaya watya, tuhu sira sadhu budhi, hanuhun. adnyana sang katong, adalam mangke sri bupati, bubar sakwehing mantri satrya muang para ratu, nden sira sri narendra, sampun sama mungguhing asti, istri kakung, sampun niti iwahana.
10. Agerebegan ring margaumyang suaraning angiring, teta buhan asri sunak, kaget prapta ing negari, ring malaya sang aji, malebetang jro sang Prabu, binojan ida sang katong, tan kirarsarwa binukti, tan kawarna, mantuk sira sri narendra.
11. Lan sakehing Surya wangsa, sampun sama mungguhing wajik, raden Ino muang para nata, Gajah Kumuda ngeling aris, hing ndi uwa patih, huni anggona cucuh, didin ingsun pua patya, sang pejah mangkya sun hurip, kena patih,sedana ayon angucap.
12. Sipi bagyan hingsun nyawa, ring arah wetan puniki, lwir parwat ta wang kening wong, ngelengser mangke raden manteri, samya mangke kapanggih, sinaratan dening banyu, dadi hinurip sedaya noro anolong sawiji, samya mantuk, pada hingetang gegaman.
13. Sang nata cengeng tuminggal, kasaktene raden manteri, tan kawarnapolanya wong, sampun prapta ring negari, Surya wangsa nerapati, bala sampun ngungsi kuwumuah sira sang katong, sampun melebeting puri, tan sah kinanti, rahaden Gajah Kumuda.
14. Lama tang kata akna, ring wiryan ira narapati, purna sal
125 [ 124 ]wirning kadaton, Gajah Kumuda nelehin, ndan sira sri bupati, dadi angandika halus, duh anak hingsun nyawa, raden ajeng dinasihi, liwat punggung, sira angamet aken dyah.
15. Sekarsanira pangeran, Gajah Kumuda ngeling aris, sampun sangsaya sang katong, masa tan katekan istri, hingsun akon atilik, maring pandan salas sampun, nenggeh sira sang katong, adrwe putra sawiji, tuhu ayu, aran dewi maya watya.
16. Sang nata aris angucap, didiningsun anak manteri, akon ana mahane wang, raden manteri hangeling aris, hanuhun patik haji, ananurat ana santun, hanolih aputusan, kipatih kineng lumaris, tan kawuwus, prapting sira pandan salas.
17. Sang nata ring pandan salas, sedek tinangkil sang aji, pekek satrya sang katong, makadi sang apalinggih, muah sira rakryan patih, surya wangsa marek sampun, ring jengira sang katong, amedapa awot sari, haneng pangkur, atembang mesa katerangan.
Pupuh mesa Katerangan
1. Ki patih pedeking ayun, ngatur aken rerepi, sang nata mangkya anangga, winaca sinuk smaning hati, unya amelas arsa, mulus sih ira yayi aji.
2. Nini maya wati iku, ndan hingsun yayi haji, raden ajeng kang ing harsa, palaran wong hina budhi, den moga tulus asiha, manira akuneng abdi.
3. Sang nata alon amuwus, lah aturana ki patih, hingsun tan maliha, ndikanira sri maha bupati, sekarsanira sang nata sang nata, ngawula hingsun apatih.
4. Ki patih anembah sampun, amit mantukeng negari, sampun katur ring sang nata, sandikanira sang haji, suka sira sri narendra, anomah sampun cumawis.
5. Dewi Maya watya ngun ngun, tan arsa ring raden manteri,
126 [ 125 ]ajeng angupa latera, ayinipuk kinarik kinarik, lanangan sekarsanira denira sri nara pati.
6. Sampun lumerahing nagantun, tan arsan ira tuan dewi, Gajah Kumuda ngupaya, sabran dina sira kemat, kateka ning raja karya, sira apindan raweni.
7. Raden ajeng apan sampun lungguh, ring jinem merik minging, sayan bisa sira angucap, kaget ta sira raden manteri, Gajah Kumuda ngembah dyah, ginambelan raden manteri.
8. Tan kawarna sang atinu, Gajah Kumuda wus mijil, raden dewi maya watya sampnya kapadan ka apti, ri sira rahadyan kalih.
9. Pekarya anak ingsun, ring surya wangsa amukti, hingsun lungha mangantapa, kalawan ibun ira eki, malar menek apanggiha, swargan ira Sanghyang Ari.
10. Tan kocapa sang awulan, sampun lungha mareng ukir, sidya sira mangun tapa, lawan arin ira kalih, wus mantukeng dewa laya, sang tiga anungkap luwih.
11. Sampun moktah sang ahulun, Gajah Kumuda ngantyani, dadi ratu Surya wangsa, raden ajeng kinanti, dadi manteri anom, sira purna salwaning negari.
12. Tan ana nebhya kewuh, pandira sira tuan manteri, Candra wati tan kocapa, sampun sira garbini, sayan asih sri naren dra, sekarsanira iniring.
13. Dyah Candra Wati kahantu, laran ira angranehi, karanane anupna, hudangmas ika bhinukti, nyalian kenaka yuyu mas, kewehan sri bupati.
14. Sang nata mangke wus epuh, akon angerarahing manteri, patih satrya sadaya, sawi nora ana olih, ki punta lepasing desa, kampih ring wadhu negari.
15. Dadi ta sira anemu, brahmana ukaka mancing, irika tepi ning Grya, Ki Punta atakon aris, ndi wonten mekara mas, warahin hingsun sejati.
16. Sang Brahmana alon amuwus, maring taman warapsari,
127 [ 126 ]wonten telaga irika, mesi iwak sarwa rukmi, papetetana ring taman, kayu mas muwah ratna adi.
17. Wonten ratun ipun wadu, punika kang adrebeni, kaliwat sakti sang nata, pitung negara wus kokih, Jayeng ayu kang inaran, Ki Punta arsa kang angapi.
18. Ki Punta lumampahan melayu, maring taman warapsari, Ki Punta gawok tuminggal, tatanduran sarwa rukmi, kanghana jroning taman, sarwa mulya lwih lwih.
19. Ki Punta amanjing sampun, antuk nyalian yuyu rakmi, tumulih anyimpenana, wonten pendik sanunggil, tuminghalana ring wong dusta, angirup waking beji.
20. Angelengser sira amelayu, mara maring taman warapsari, rebutan ika wong dusta, ni bayan melayua gelis.
21. Amengan jrog gelis malayu, hangiring rahaden dewi, geger kang wong Kanya pura, wus prapta ring warapsari, Ki Punta kagyat kapiyuhan, rinet dening para isteri.
22. Mapan linuslusan sampun, ki punta tan pangliharis, ki punta ingumbang melayu ia mangadiding, Sang dyah maring yasa danta, akon angunduh warsiki.
23. Ki Punta nora ngarantun, tan warnana sireng margi, sampun prapti ring negari, malebet sireng Jro Puri, sang nata kagyat tuminggal, saput kamben nora ana kari.
24. Ki Punta aris umatur, kawula hingsun gusti, hangulati iwak mas wawu kawula amanggih, ring wadu rajya negara, wonten Prabu wadon Iwih.
25. Awasta Dyah Jayeng Ayun, punika kang adrebeni, aran taman warapsarya, wonten talaga atwadi, mesi iwak sarwahe, irika kawula mancing.
26. Holih kawula hangirup, hingendehan tana sari, rinebut tur linuslusin denira sawong Jero Puri, kawula nehen imba, olih kawula ngediding.
27. Sang nata dadya asemu rengu, metu mara ring sti hinggil. akon nembang ta ngaran, humunya anitir, kagyat wong ing sanegara, asemaran dana ring uri.
128 [ 127 ]Pupuh Semarandana
1. Sang Perabu ngandika aris, akon sira ametambah, lah gawenin denta seru, linggis sawuh lawan sara, mangkya sun mangkata, ingirup iwaking ranu, mara ring wad negara.
2. Kawula hakeh hangiring, anggereban ring margi, tan kocapa ring henu, praptane ring wadu negara, jumujug maring taman, telaga agibar sampun, kagyat wong sana aring taman.
3. Malayu sira ring Puri, umatura ring rahadyan, kawula matur mas katong, telaga wus ginubar, perabu ring surya wangsa, sabala sajuru juru, rahadyan angruntik angrengua.
4. Rahadyan ngandika haris, para mantrya para satrya, angremeking wong angerusuha, hana henggeh Prabu Surya wangsa, mangke hana ring taman, hangrurahin taman hingsun, hapusan ika sedaya.
5. Sang dyah metoniriyawi, akon nembang tangara, agaduhan swarane alon, kagyat wong Wadu Negara, perapta abebelekan, manteri satrya tan kantun kalawan sagung ing nata.
6. Sampun kesahing sitihinggil, hingideran punang taman, sarwa asusu mekar kang wong, tumuruna ika kang aperang, sehanamudu sila, baleng Surya Wangsa ipuh, dening tan pamawa astra.
7. Tumandang rahaden dewi, anguaduaken balan ira, kang bala mangke angerebuta, sampun binasta sadaya, lawan sri nara nata, ninawa maring manguntur, rahadyan ica tuminggal.
8. Raden Dewya ngeling haris, gawanen ring bale panjang, kawula ira sang katong, sadaya akon ngucalane, sampun pada hingumbar kang bala prasama mantuk, angungsi sakuwunya sowang.
9. Mapan sukur ring Hyang Widi, dadi kalalen kang bala, sang
129 [ 128 ]nata karya ngunnguna, tan kocapan sampun lama, sang nata hingu cula, sampun ta sira tinunung, ring umah sira sang jangan.
10. Sinengan dera raden dewi, hingajak sira hanita, sabran dina agugurua, sang prabu ngawe upaya, lawan patih Dangdang ngelak, patih Dangdang Ngelak apan sampun, manjinga ring kompyang.
11. Muah ta sira acuki, alah sira raden dewya, sampun telas kang Kedaton, tekaning raja busana, henti tekeng negara, raden dewi semu ensedu, awakira inatohang.
12. Sampun alah raden dewi, hapan hukuming Hyang Suksema, sarwa wus kataman, lulut sang nata wus sinalinan, kalawan wastra, asmarandana wus kapungkur, puh gambuh tembangenguntat.
Puh Gambuh
1. Akampuh ginggang rinukmi, kinudang punang sakabon, mukar kang perada, gandanya rum rabuk, kang wawangi kasuliring, denira maruta asabuk sutra kakembang.
2. Warnan ira sri bupati, Kadi Hyang Semara yan konon, henti arsan ira sang awulan, ring rahaden dewi, wekasan sira angandika, dewa sang kadi puspita.
3. Dosan ipun atur wingit, ndah ampura mas katong, sang dyah mangengucap, kadi madu swara manis, sweca jumeneng sira tuan, ring raja Wadu Negara.
4. Sang Nata arsa mareki, bagya nambut asta kara, katuan sira si nung dadi tuduh di Hyang adi lwih, nora ana wong wanya angucap, pan sampun kapadan arsa.
5. Rahadyan ica ninggalin, ri warnan ira sang Katong, mapan sampun lama awor lulut entyan karasmin, mijil sira sri naranata, wus kering dening pawongan.
6. Sang nata tumurun aris, arsa sira alalangon, wus tutug asiram, nuli amantuk arinira nyawis, kampuh kalawan burat, jebad panesah mutu hararas.
130 [ 129 ]7. Sang dyah mangke agarbini, sayan embah sih sang katong,nheneng hakna sira kang winuwus, rahadyan Canra wati, sampun sira wus aputra, rahadyan Surya Kencana.
8. Lwir Semarandana tuan sri prami, Surya arsa tumon, kadyanmu ratna ring dalangung, sira rahadyan manteri sampun sira, apapira genep secaraning nata.
9. Harin ira raden manteri, aji maya wati reko, wawu agarbinya, dadi metu tuminyak kang manik, kagetprapta kapaksi gagak, hingawehan anak ira.
10. Tang gagak arsa nanggapi, humuber ing luhur alon, muluking ambara, dadi tumurun ring gunung wilis, wonten manuk sekuni naam, kinen ngem rahadyan.
11. Tan kawarna sampun lami, wonten sangong asih tumon, pan masaning medal mangke, sampun mijil raden dewi, mapan mangke wus sinalinan, tinembangan dandang gula.
Pupuh Dangdang Gula
1. Riwetu nira sang raja Putri, Ratna Padapa, wong nyang sekarni yaanjrah setawananyaanje gege, brahmara ngundang santun, suwaranya rumrumanis, sinarangning kwang, kadi angidung idung, namyaning ngeci garagat, hanging malon, amuat gandaning merik, cihna sang dyah wus medal.
2. Hiningu sira raden sekuni, manuk ageng, liwat wiryan ira, hendah hendah ing warnane, ratna Prabu tuhu ayu, pan kasoran dadari swarga, tan ana tumandinga, cahyane sununu, apan asihing Hyang Suksema, henggal agung, hameng hameng Rahaden Dewi, ring topining asrama.
3. Tansah hingiring dening sekuni, sabran dina, sira amet sekar, nora ana ngerasa bayane, heneng hakna puniku, kang kocapa raksasa pati, haran maya siluman, saktine kalangkung, wus kasub sanegara, kadigjayan, ring sukun ing gunung wilis, iku kadatuan ira.
4. Negarane aran Maya Putri, liwat wirya, secaraning Pura, yasa hendahing warnane, luwir swarga adi tumurun, hingi-
131 [ 130 ]deran dening dedari, muah dahitya siluman, hameng hameng sampun, dadi amanggih rare, dyah ayu lwih, warnane lwir dewi suci, haran Ratna Peraba.
5. Sadulur ira lawan sakuni, manuk ageng, raksasa siluman, awuwus manis ujare, sapa adnya anulus, asusupan amet sekar merik, separanira nyawa, jatenan katengsun, sang dyah kumuter marmaras tan pangucap, sinambut ingemban haris, binakta maring umahnya kinon.
6. Saperaptane kang daitya ring puri, cengeng sakehe kang wong amulat, sakeng tong dunyane, sang dyah sampun malebu, wus sinimpen tendasing bontit, dening dahat ya siluman, saberan dina metu, muah sira malebua, raden dewi, hana ring tendasing bontit, lama sampun kapurna.
7. Tan warnane mangke raden dewi, Ratna Peraba, mungguh ring Maya Pura, lininggan sawecane, dening raksasa Perabu, kang kocapa Rahaden Manteri, Haran Surya Kencana, atakening ibu, ndi raman hingsun nyawa, nora kaaksi, Candra wati angeling haris, wuwuse angamu waspa.
8. Raman ira kesah sampun lami, hangentya, ring Wadu Negara, sampun adrwe suami, aran dyah Jayeng Ayu, saha Putran sira sawiji, kang aran Surya Peraba, rupan ipun bagus, kapernah ari den ira, rahaden manteri, wuwusa aruma manis, ibu kinen hangundang.
9. Bapa aji ring Wadhu Negari, kena patih, kinen angundangana, wus lepas iku lampahe, perapteng Wadu Negantun, sang nata kapanggih tinangkil, pepek para punggawa, sama tateng lungguh, Ki Patih Perapta mareka, ring sang ratu, hangaturaken rerepi sang nata amaca surat.
10. Hunini ing citra harum amanis, bapa aji, lah mantuka tuan, sampun lawasa ring kene, sang nata welas angerungu, hunining sewala patera, dadya angeling saha wespa rambahan, aduh anak hingsun, benjang pangeran mantuka, hingsun bapa, sang Perabu manjing ing Puri, kinanti kang patya.
11. Saperaptaning sang Perabu maring Puri, kapanggih sira,
132 [ 131 ]Sri Prama swarya, sang Perabu alon ujare, pakaeya mas hingsun, mangke kesah hingsun dyah ari, ring Surya Wangsa nyawa, Sang dyah lingya muwus, mantuka sira pangeran, aja lawas, tan kawarna sireki, sang nata sampun kesah.
12. Tan kawarna mangke seri bupati, ridadalan, wus tekeng negara, sampun manjing ring jere rajya, Candra wati aketemu, akalihan sira alinggih, lawan Surya Kencana, sarwi nutur nutur, polah ira seri narendra, kaget perapti, sang amerepeki, sang dyah tumurun nambah.
13. Satingghal ira Rahaden Manteri, dadya angerangkul, aduh anak ing wang, den agung pangampurane, lawas bonten dadulu, tur jajaka anom apekik, rahaden manteri angucap, sarwa awot santun, sukur bagya hingsun bapa, mangke perapta, moga aswe ta kaaksi hingsun ngawula hakna.
14. Tan kocapa sira seri bupati, akarama, nitya asukan sukan, lan sagung ing bala kabeh, sang nata nutur nutur, kalawan sira seri parame swari, Surya Kencana nyawa, wus jajaka agung, ndi pameta dyah ayu ayu, rahaden manteri, den ibun ira lan sira raman ira.
15. Angelek mane rahaden manteri, dening angandika, nira sang nata kerase anujare, sang nata nulya mantuk, kalawan sira seri parame swari, sara ri salu kilian, tan kawarna ing dalu, rahaden Surya Kencana, wus aguling, ring yasa ngurdaanginggil, kinemit ing pawongan.
16. Mangke mapaning madya lateri, kawarnaha, rahaden anidera, ngarerga pagulinge, moga sang hyang asung tuduh, dadya ngipi, nyangga sasih, wayah tanggal ping sanga, dadya kanya ayu, wus kapanggih, kalawan rahaden manteri, saking kapandan teresnanira.
17. Rahaden manteri setanginya aguling, gagetun sira, ring ipenira, dadya moksah sarirane, Ratna Peraba kang ketung, kang kocapa seri nara pati, sampun sira petusan, ngulatana ratu, asuta isteri ayu menak, sakapengku, den ira seri nara pati, wonten satus nagara.
133 [ 132 ]18. Kang kocapa mangke kang para aji, akweh perapta, hangatur aken dyah, adulu dulur peraptane, mapan sampun katur, mari sira rahaden manteri, amungguh ing kebon wetan, irika apupul, saberan dina pinahyasan, paran putri, marek ing rahaden manteri, sahupacaranya.
19. Rahaden Manteri tang kahayun ninggali, parek ing dyah, liwat ing ayunya, saking wong dunya ayunya, nem desa katah ipun, pa nganggene tuhu angerawit, hana ngangge makuta, socanya abramurub, hana punggel mutyara, hana suhun, apadaka ratna adi, asa wit kusya raga.
20. Rahaden Manteri langleng aninggali, saking rasa, ning deryatan hana, tan liyan kang tuhu mangke, Ratna Peraba kang ketung sanalina anukseneng hati, nora katingghalan, wong adyah liyan iku, Surya Kecana, wus kesahing negara, nora wong angaweruhi, sowang lan parekan ira.
21. Agelis lampahe rahaden manteri, sampun liwat, sira ring negara, wus kedungkap alas rejeng, kadehan samar dulur, wus perapti ring pinggiring wukir, irika sira rahadyan, araryan alungguh, hanon kalangening wana hemboh raras, ring panjerahing sarwa sari, pinupuhing brahmara.
Pupuh Berahmara
1. Herem kang wong sanegara, ring Surya Wangsa perihatin, ring kesah raden Ino, nora hana hangaweruhi, liwat lara nara pati wadu, muang sira nara pati wadhu, kalawan manteri anom, sampun kederan negari, tan ketemu rahaden Surya Kencana.
2. Sakesah ira rahadyan, sampun malebet ing ukir, durganing wana linakon pawongan tan sah hangiringing, mantera nora kapanggih sang pangangkaning ngahuyung, araryan rahaden Ino aling gih sor ing katanggi, asesemu mangu sarwi ananurat citra.
3. Hingimbang dyah Ratna Peraba sampun sawaaring tulis, keraman ing gisi gisya angemoh, sampun sinimpen kang tukis denira rahaden manteri, ginawa siraangelangut, ndan
134 [ 133 ]sira rahadyan Ino wus liwat sira maring wukir, murang laku tiba ring tanah Selaka.
4. Wus perapta ring tepining rajya nora hana wong kahaksi, wong tunggal katemu reko, rahaden manteri hangeling haris lah takonana iki, kaka punta wong puniku, kon Punta nulya atakon paransangkane negari, sunya sampun kang tinakonan hangucap.
5. Marmani Negara sunya sang Perabu langkung perihatin, nora wimenga sang katong, satilar ira tuan dewi apan sukur ring widi, wonten wuwaya mangimur, rahaden dewi binoyongsedeng ira adus ing beji, mapan sampun binakta maring bangawan.
6. Heweh sira sang nata ing upaya tan kapanggih, ndan ling ira ki Punta asawur alon, lah hatur hakna kaki risira seri bupati, heman kataha den hingsun, amatyani wuwaya paran karsana sang haji, kang kinon malayua marek eng sang nata.
7. Sampun perapta ing kadatuan, sang perabu katemu alinggih, pap pedek iki atur alon, wonten datengan kapanggih, amejah satru sang perabu, paran karsane sang katong sang perabu angandika haris Ken Puniku undanga mareka ring wang.
8. Kang kinon agelis lumampahdatengan kari anganti, papedek iki angeling alon, Ki Gusti daweg marekang lumaris ri sri bupati wonten andika sang perabu, ndan sira rahaden Ino kekalih pareng lumaris, wus tumunduk papadek lumaku ing arsa.
9. Sampun marek ing sang nata sang perabu ngandika aris, wong paran sira anom anom, pawaraha kaki hingsun rahaden manteri hangeling haris, kawula iki pakulun, wong kutang yayah rena, kawula lali ring desi, ndan sang perabu aris angucap.
10. Aduh anak hingsun bapa, mulus sihanta sang warsih, amejaha satrun ingong, punika uwaya pati, yan sida den kaki
135 [ 134 ]sira olih anak hingsunnini Ratna Kombala, sun ajak sira amukti, ring negantunhangereh akna negara.
11. Ki Punta asawur sembah, homan dene patik nara pati, baliki ne nariki wong, amet pasuguh agelis, muah seri nara pati, wus kinen mangkya mumundut, tan kawarna polahnya, wong tan kurang tang sarwa bhukti, adan sampun, mangkat sira den mantrya.
12. Sampun rawuh ring watangan, kalawan seri nara pati, sang nata ngandikaalon, teteg tangeran den agelis, muni tangeran ateri, kagyat wong sakuwukuwu perapta abebelekan, manteri patih satrya adi, agarawalan, tumama ring watangan.
13. Sang nata haris angucap, patih mangkat den agelis, kalawan rahaden Ino, ngulatana uwayeki, ki patih sampun amit, bubar wong ajurujuru lawan patih mangku rat, tan kocapa ring margi, pan wus peraptate pining tukad dodokan.
14. Kalawan rahaden manterya, ki patih anuli angeling, ring sira rahaden Ino, punika ungguane singgih, ngaran Uwaya pati, rahaden manteri amuwus, Kaka punta adana, sira kinen sang angerihin, mubeng banyu, amapag satru sang nata.
15. Ki Punta haris angucap, ndah rahaden kerihin, kawula tumut tunreko, rahaden manteri hangeling haris, angantya kakang dimin, rahadyan angunus duhungmara ring tepining luwah, sampun malebu ring warisa, pawongan ira, mara ring wingkingan.
Pupuh Kawingking
1. Rahaden manteri tan kapegan, hangelem sira ri jeroning waris sampun liwat ing banyu agung, kapanggih tekeng marga, lyan tang desa kaaksi, ndan mwah winuwus, uwaya gumuruh perapta, sa tingghalira tuan manteri.
2. Raden manteri perayatna, inurubut dening uwaya sami, mangke pawongan ira wus rawuh, atulungi rahadyan, kang
136 [ 135 ]uwaya, mangke kerura arep anawut, tinujah rahaden manteri, rahadyan ales a tangkisa.
3. Rahaden manteri merenga anacah, akeh pejah kang uwaya angema si, sesaning pejah malayu, awarahing ratunya, kawula sajati, wonten manuseku, utusan ira sang nara nata, umejah sang uwaya pati.
4. Kawulane akeh pejah, apan kaliwat kasaktene ngangikik, kagyat Sang Uwaya perabu, umetu saking guha angerak, suwaryannya atri, socanya mawelu, kagiri giri polahnya, munggup dasinnya alungid.
5. Rahaden manteri pinapag, kaka kakan ira sama wedi, uwaya teka hangerebuti, binanting sira rahadyan, kasoran rahaden manteri iku, hinguntal sampun perapta, ring garba, rahadyan pan sira kari hurip.
6. Rahadyan manteri perayatna, hinuwus ususi uwaya pati, mangkin amekasi hurip uwaya pati, ngelur pejah ikang uwaya, rahaden manteri, mijil karya ngunus duhung, uwaya pati kocap, waluya atemahan dedari.
7. Surakanya haris mojar, agung hutang hingsun ring rahaden manteri, anyupati awak hingsun, hingsun wus weruh ring sira putra nara pati, Surya Wangsa iku, marman ira lungha angelemong, Ratna Peraba ingulati.
8. Pan ora ring ungguhan ira, hana malinggih ring gunung wilis, pan sira ingangken sunu, dening dahitya siluman, hanging hang wehi, asawat katemu, pakarya sira rahadyan, hingsun mantuka ri Swarga loka.
9. Dyah Ratna Kombala ika, gawanen maring sang amurbeng bhumi, tanah Salaka aran ipun, nahaling surakanya, meh sira amulih maring Swarga loka sampun, ucapa rahaden Ino, mara ri guha anulih.
10. Saperaptane rahadyan manteri, pinapag dening rahaden dewi, anungkemi pada sampun, sukur sihing Sang hyang. Suksema, perapta sira, singgih agung hutang hingsun, rahaden hangentas kawula, rahaden manteri hangeling aris.
11. Lah menenga sira tuan, sampun sira kadedawan ling, dyah
137 [ 136 ]ari gawana sira mantuk, marek ing seri Narendra, hingemban tuan dewi tumuli lumaku, tan kawarna lampah ira, perapta ring luhuring warih.
12. Pawongan ira tan kesah, araryanan sira ring tepining warih, rahaden dewi mapan sampun, tumurun saking embanan, bala karya manteri lan tumenggung, ki Patih arpa tuminghal, marek ing rahaden manteri.
13. Cengeng sakwehing wong mulat, kalangkung kasaktenen rahaden manteri, Ki Patih anuli amatur, ndan mantuk pangeran, gawanen Sang Putri rahaden tumantuk sampun, perapta heng nagantun, Sang Perabu kari ring yawi.
14. Saperaptane rahaden manteri, saduluran rahaden dewi, sang nata gipih tumurun pinekul anak ira, lan seri parame swari, atangis gumuruh, rahaden dewi karuna, amekul ta sira seri parameswari.
15. Tan kawarna polah ira, sampun mantuk, mara ring dalem puri, lawan sira sang abagus, sampun prapta ring pura, liwar sukaning wong sanegara angerungu saperaptane rahaden dewi, liwat sakti wong iki.
16. Sang nata alon angucap, sipi hutang hingsun ring rahaden. manteri, hingsun tan wiwaling wuwus, ambilana arin ira, sun hingajak sira hangadeg ratu, rahaden manteri angucap, sakarep sunira hingiring.
17. Agung sira hingampura, pan hingsun kesah mangke saking riki, wonten ta pawekas hingsun, antosa tigang candera, yan tan perapta, malih mareka katengsun, kangge hyun sira sang nata, rahaden manteri neher amit.
18. Hangelengser sira lumampah, lawan kaka-kakan ira ngiring, wus liwat sireng nagantun, perapta ri jeroning alas, kangelan, tuan manteri durgamaning hnu, sukatika pangkung ajero, sampun kahasa kawisti.
19. Rahaden manteri kocapan, asusupan, sira ring jeroning abdi, wonten kayu agung aluhur, geroda harani weraksa, irika, haling gih sor ing taru, wonten watu sumayana, irika sira rahaden manteri aguling.
138 [ 137 ]20. Kalawan kadeyan ira, kangelan peresama lelep aguling, muah sira sang abagus, hana malih kocapan, wonten heru, istri ring luhu kepuh katingghalan rahaden manteri, tumurun sira den agelis.
21. Sinambut sira rahadyan, pinalayoken, mangke rahaden manteri, ginawa ring luhur sampun, pinekul sira rahadyan, kagyat rahaden manteri, atangya apupunga katingghalan beru ika, gila araden manteri.
22. Kang beru wus pinere jaya, sampun pejah, mangke sampun tiba manyumpalik, kadean kena cinahur, kagyan atangis sira, katingghalan beru pejah atatu, tan katinggalan rahadyan kadehan sama anangis.
23. Rahadyan kari ring arga, kapyuhan tan, weruh pingrasaning hati, ndi awaning temurun, liwat agung kang keroda, maraseng tan sipi, asambat hyang luhur, kaget prapta dangdang petak, ring pungkur sira muni.
Pupuh Dangdang Gula
1. Hunini dangdang harum amanis, aja sira, pangeran wiyoga, kawula hingutus reke, hyang ratu agung anguastuanin kepuh puniki malaran dadi andap, dangdang ulya amantuk, moga andapa kayua kepuh ageng, angandika hyang adi lwih, dadya handap kang geroda.
2. Kawara mangke rahadyan manteri, sampun tumurun,
sira ring kayua, kadyan garjita hatinya, rahaden manteri tumunduk, apan wuwus adoh lampah ira, pan nora araryan, ring rahina dalu, lumampah ira amutwa, hangarsaha, perapti ring pancaking adri, rahaden manteri angungang.
3. Katinghalana mangke saking riki, lurah desa, suketning acala, pan adoh ika peranahe, rahaden manteri tumurun, angulati desa kaaksi, tan hana tininggalan, sinaputing limut, rahadyan ika lumampah, angetanang, sinuwut siluking wana aderi, asamun tegal tegal.
4. Lumampah sira mangke rahaden manteri, sukur sira, amanggih bangawan, adrasa hening toyane, rahaden malebet ase-
139 [ 138 ]ru, arsa sira nginuma warih, lawan kadyan ira, dedening sanghyang luhur, dadya prapta tang sakunya, manuk ageng, sinambut rahaden manteri, mabur binakteng taman.
5. Tucapa tamaning dahitya pati, hingideran, den ikang bangawan, kalangkung adoh tepine, manuk sakuniku, sampun perapting taman sek sari, irika sira rarya, rahaden pinundut, wonten watu kumelasa, mungguhing taman, binanting sira rahaden manteri, riwatu kumelasa.
6. Sampun pejah mangke rahaden manteri, kawarnaha, sakadeyanira, akusah ring siti kabeh, rahaden manteri kang ketung, ndi paran ira ngulati, dastane katinggalan, anuli jinumput, kalawan keris kaputran, mapan ical, sinambut sarwi anangis, ring te pining telaga.
7. Wonten watu sumayan anginggil, tepining luwah, sakadeyanira, irika perana ira reren, tan kesah saking watu, rahina wengi sira alinggih, citane palatra mapan sampun kuru, henengakna denira, kang kocapan, widya dari saking swarga acang kerama ring taman.
8. Gagar mayang lan ing gendera sari, nilotama, lawaning Supraba, lengleng pada nurun ana, muah ni tunjung biru, pitung sikilan dewi suci, tumurun saking kenderan, ring Udyana andus, sarwisira angamet sekar, harum harum, sumanasa, angerek jengadsarwa sarilan wilaga selaga.
9. Ameng ameng sira mangke warapsari, sukur sira, amanggih kunapa gumiwang giwang layone, sang nambutana santun, inusunganring bale gading, irika binerasihan sinuwukaning banyu, rinuruban sarwa sekar, harum harum, hing ayaping widyadari sarwa waspa rambahan.
10. Ni lotama wuwuse manis, harin ingsun, pakarya sira, hingsun mara ring peranahe, ratna peraba puniku, aminta kayu kastubadi, malar mene huripa, hangelan serepan sampun, perapta ring umah iraksasa siluman, Ratna Peraba wus kapanggih, wawu ta sira mijila.
11. Wawu kesah ring tendas i bontit, tilotama mangke katinggalan ratna bandalinge, kakandaka tengsun, nawe wus perap-
140 [ 139 ]ta pareng alinggih, nilotama hangucapa, aduh arin hingsun, mulus swecanta pangeran, ningsun minta, kayu kastaba suwadi, husadi wong pejah.
12. Heneng taman wonten ikang mayit, apakika, welas pan tuminghal rahadyan alon ujara, kawula mboten purun, yahurip raksasa pati, haran kayu kastuba, muah hana punika, punika ambilan kaka, lenga wangi, hana ring cucupa manik, haguripa sira wong wus pejah.
13. Nilotama arsa ananggapi, cupu ika liwat wiryan ira, hendah hendah warnane, sampun sira amit metu, sampun perapti taman sek sari, ring yasa tyang denta irika alungguh, ri sanding ira rahadyan, nilotama, angagem cucupa manik, rahaden manteri binuka.
14. Hingusapan mangke rahaden manteri, lenga harum, gandanya merik sumar, sarwi sinundang rahaden, sadaya pada ngerubung, hingukupan jebad kasturi, hergula sarwa rasa mala, gandanya amerik harum, hangelillir sira rahadyan, ngucap soca, temungkul semu tangis, lengleng sumareng tyang.
15. Rahaden manteri tanayu ninghali, saking rasa, ning derya tan hana, tan lyan kang tuhua mangke, Ratna Peraba kang ketung, kang den kisti hyang lateri, dyah ratna nilotama, tan kesah angerum rum, aduh harin hingsun tuan, sukur bagya mangke sira wus ahurip, moga tulusa hakna.
16. Mapan hingsun wus weruh ring kajatin, Surya wangsa adrwe putra, aja sira geng wirana, Surya kencana muwus, ampuranen kawula gusti wong nista ninda inda, liwat kawelas ahyun, benjang kawula pangeran, langkung suka, tumurun rahaden manteri, adusemara ring bejya.
17. Tan kawarna mangke rahaden manteri, kalawan dyah Ratna Nilotama, lengleng medanu ruwane miwah ni Tunjung Biru, Gagar Mayang Ni Gendra Sari, kalawaning Supraba, irika apupul, amuktya rumning taman, nora kesah, kalawan rahaden manteri sampun kapadan arsa.
18. Rahaden manteri kesah saking riki, ring udyana, amet kakani-
141 [ 140 ]ra kapanggih ika peranahe, alungguhing luhuring watu, nora kesah rahina wengi, ki Punta juga kesah angulati sangu, rahadyan mangke wus prapta, hanambuta, hingajak sira lumaris, mara ring jeroning taman.
19. Pirang dina sira rahaden manteri, ring udyana, sampun kawor arsa kalawan widyadarine, heneng akna iku, polih ira wus pilih asih, sura wanita mojar, karya mas hingsun, harin ta amit pangeran, sami mambur, sampun perapta ta sira maring Swargaloka, Ratna Peraba kocapan.
20. Mangke minta ring tendasing bontit, apti adus, mara maring taman, wus lepas ika lampahe, tan kawarna ring henu, pan wus prapting taman sek sari, anjujug maring bejya, sarwa ngura gelung, kaget rahaden manteri tuminghal, ayunira, muksah ring tungtunge liring, rahaden manteri murcita.
21. Ninuka dera rahaden manteri, punang citera, hingiling hilingan hingimba imba solahe, manis manis ing dulu, atunggalan ring rahaden dewi, ndan sira rahadyan, aptin ira nambut, rahaden dewi tuminghalana, agelis mantuk, manjing ring tendasing bontit, rahaden manteri tinuting untat.
22. Katinggalan mangke rahaden dewi, sampun manjing, sira rahaden manterya, anambut tendas bontite, rahadyan sigera malayu, sampun adoh sira lumaris, wiwah dahitya, siluman mangke sampun, pan nora katinggalan, rahaden dewya, kalawan tendasing bontit, anembang durmangala.
Pupuh Durma
1. Kang dahitya siluman gad gada, manjejelag, kadi mijil ageni, latua latuaning soca, angerak angagem pedang, katuutan rahadyan manteri, ring wanantara, rahadyan mangke mebali.
2. Kang dahitya siluman maka samya, anandeng sakeringan, prayatna rahaden manteri, anarik curiga, pinerang punang dahitya, siluman ales atangkis, pada legawa, rahadyan manahing agni.
142 [ 141 ]3. Katibanan kang dahitya samya, ageni juala, wus geseng dadi asti, tumuli anyelag, ring tengahing paperangan, raden dewi angeling aris, keweh kaka, umatya dahtya pati.
4. Kaping lima kang dahitya, wus ginesengan, muah sira ahurip, kewehan rahadyan manteri, ri pejahing dahitya, raden dewi angeling haris, keweh kaka, umatya dahitya.
5. Apan hurip ira kari heneng umah, kayu kastuba lwih, yan tan sirna ika, masa matya kaka, hingsun amit amandunga, taru kas tuba, rahaden manteri mingsinggih.
6. Sampun kesah rahadyan wus perapteng umah, taru kastuba iki, sampun winandungan, den i ratna praba, sampun geseng dadi asti, dadya ta sira, kangelan nuli alinggih.
7. Kang dahitya siluman kalangkung kerodanya, rahaden manteri i ngungsi, sarwa amerih cidera, atanding kapera wiraan, kahuyengan silih hokih, dahitya pinerang, geger
tugel apah kalih.
8. Tan kocapan sampun pejah punang dahitya, rahaden manteri ab balik, hangelengser lumampah, rahaden dewi kapanggih, hing yasa, kangen ring dahitya pati.
9. Satekane rahaden wus tininggalan, sang dyah tumurun aris, si nambut ingemban, mungguhing yasa danta, kadeyan sama ngiring tan kawarna heng lateri.
10. Rahaden manteri amangku dyah Raina Peraba, tan marya arih arih, dewa susuhunan, mulus sih ta mas nyawa, wawaragen ingsun singgih, aja alawas, hingsun karya ngemasin.
11. Nini mas nyawan hingsun, mulus den ira, welasi wong kasih asih, atilar negara, lungha ngaya desa, kang kesti ayang latri sira pangeran, haran ratna nelehi.
12. Yan ring supenapan tan lyan hingandika, jatenan hingsun rari aduh mirah ingwang, sampun gusti karuna, raden manteri areki Sang dyah atulak, tumungkul asemu tangis.
13. Sampun sira hangenripejah idahitya, hingsun kang ngentyani, ngawula sun dewa, anging sawur akna, sakecap sunede singgih, sang dyah matra, welas awarah satoraasih.
143 [ 142 ]14. Rahaden dewi haris denira angucap, kaseleh dening tangis, aduh kaka mantrya, yukti lwir panyumpena, haran ing sun kaka manteri, aja waraha, rahaden mangke masinggih.
15. Pirang wulan lamane ring maya pura, sampun sira awor asih. ring jeroning sayana, rahaden manteri mijila, pinarek soring kemuning, dening wong ira, ki Punta matur aris.
16. Kawulanya perapta maring paseraman, winarah hingsun singgih denira Sang Janggan, perabu tanah salaka, anak ira rahaden dewi, Ratna Komala, winarang reke agelis.
17. Putran ira sang ratu ring Wadu Negara, namanira tuan. manteri Surya praba sira, punika kang ingarsa, ring sira rahaden dewi rahadyan Surya Kencana anampeni.
18. Dadi kangan sira rahaden manteri, rengua werta sangaji, ring tanah Selaka, apti ira andona, ameraweng sri Bupati, mityeng wecana, suka ngemasi pati.
19. Tan kocapan sagundem ira rahadyan, sampun manjing ing puri, asemu sungkawa rahaden Ratna Peraba, anapa semu semita manis paran marmanta, teka asemu runtik.
20. Rahaden manteri aris denira angucap, marman hingsun dyah ari, arupa duh kita, Perabu tanah Selaka, adrwe putra sawiji, pinacang pacang maring Wadi Negara.
21. Mapan hingsun olih Dyah Ratna Komala, wonten janji sang aji, yan pejah uwaya, asungana anakira, hanging citan hingsun singgih, andoayuda, dosane tan titi.
22. Rahaden dewi haris denira hangucap, kawula anda hasinggih, lebokang cucupua, ewuh amara desa, manawa wonten tri gumi, rahadyan manterya, arsa sira misinggih.
23. Rahaden dewi animpen raja busana, mungguh i cucupa manik, sang dyah umanjinga, pan sampun sinimpen, denira rahaden manteri, mungguh ing muslat, kadeyan arsa angapi.
24. Apan Ki Punta angawa kayu kastuba, ndika rahaden manteri, sampun mangkat sira, perapta tengahing wana, ka-
144 [ 143 ]wernaha seri bupati, Gajah Payasan, adan mangkat sang aji.
25. Sampun sira sang nata angerengua warta, pejah raksasa pati, citane sang nata, sapa kang amatyana, sang perabu aserah pati hurip, ngawula hakna, angaturaken putri.
26. Riangkat ira perabu Gajah Payasan, sampun umungguing asti, manteri lan lulurah, satrya para tanda, saha sanjata umiring, tan warneng waha, perapta tengahing adri.
27. Wus kapendak rahaden manterya ring alas, prayatna rahaden manteri, gipih atakona, ki Punta lumampaha, sapa arana wong iki, ndi paranta, kadyamangkata ajirit.
28. Sinawuran hingsun wong Gajah Payasan, umiring seri bupati, mangkatngulatana, kang amejahi dahitya siluman, arsa sangaji, ngawula hakna, Ki Punta malayu agelis.
29. Angaturana weretaning wong tinanya, sampun tinatas sami, arsa sira rahadyan, kaget perapta sang nata, kating halan rahaden manteri, dadi mareka, sang nata ngandika haris.
30. Iki sapa katemu jeroning wana, rahaden manterya nawuri, ri weruhanta, bapa ingsun wong Surya wangsa, putran ira sri bupati, Gajah Kumuda, naman ira sang aji.
31. Mapan hingsun mapejah kang dahitya siluman, liwat arsa sang aji, hangerengua andika, rinangkul sira rahadyan, duh nyawan hingsun gusti, moga tulusa, ngawula hingsun singgih.
32. Ri weruhanta hana ta peratidnyan ingwang, sapa kang ame jahi raksasa siluman, hingsun ngawula hakena, pan liwat sekel ing hati, kawawe dahitya, marmane sor ajurit.
33. Hegar garjita Rahaden Surya Kencana, angerengua angandikan nara pati, haris sumawura, swica manira bapa, andikan ira sun iring, mapan manira, wong papa kawelas asih.
34. Lamun sira mulusa simapa sarira, padalan ingsun iki, betah si nakitan, mangke weruhanta bapa, hingsun marepang seri bupati, tanah Selaka, dosane tan astiti.
145 [ 144 ]35. Dadi sumawur prabu Gajah Payasan, kawulanda singgih, lamon mong konoha ron linaken hakna, pilih kasadyaning hati, dirata andaga, mongsi mertaning hati.
36. Tangeh yan polah ira sang nata, kalawan raden manteri teguhing mitra, sampun mangkat rahadyan, kalawan seri narapati, sabalan ira angerebegan ateri.
37. Meh kadungkap tepi siringing negara, tanah Selakaneki, araryan rahaden, mangke aguneman, kalawan seri nara pati, manteri satrya, makadi rakryana patih.
38. Aptin ingsun angere mekang sri narendra, nanging ayua gigisin wonten pretiwimba, nguni sang meganada, duk amrapeng indra yayi, kaperepekan, rimbit akweh tinolih.
39. Mangke sumawur Prabu Gajah Payasan, atut ndikantun manteri, alahing hyang Indera, denikang Meganada, wonten muah kang ginumpit, ring kamandakapunika den pilihin.
40. Kadi angguaning mong andon, ungguaning uwaya, mati mong tan paniyati, yen uwaya ndona, mara umahi wiagra, uwaya ngemasi pati, tan weruhing nayanya, apan tan weruhing desi.
41. Rahaden Manteri aris denira angucap, anut ndikan narapati, punta mereneyamangke mangkata, matura ring seri bupati, tanah Selaka, hingsun amraping benjang.
42. Aptin hingsun sira akona, jati risira ari bupati, ring tanah Selaka, darmayuda ginuguan, roro palane binukti, yena menga, pejah swarga pinanggih.
43. Paran karsan ira sri nara nata, ki Punta mangkat agelis, tan kawarna ing marga, perapti ing tanah Selaka, jumujug maring Sitinggil, ndan sri narendra, sedeng ira tinangkil.
44. Ring pengasteryan pepek para tanda, rakryan anjuru adi mante ring, makadi sanwija, kagen perapta ki Punta, marekang seri Nara nata, saha hatur sembah, hingsun patik haji.
146 [ 145 ]45. Dene ranak paka seri parameswari, nginen patik narapati, arsan ira rahadyan, hankana ring benjang, angamukeng seri bupati, marmane mangkat, Sang Perabu lali ring janji.
46. Raden dewi pinacang denira, kalawan rahaden manteri, ring Wanagara, paran karsa sang nata, teka anguahi budi, nora inengguan, sesananing nara pati.
47. Kanggek sang nata kapehana ring cita, swe sira tan pangeling, wekasan angucap ucap, punta ndi raden manterya, nora sun mapi lali, sinenggua ring wang, sira kon maring riki.
48. Hanono maha nini ratna komala, sinengguha raden manteri, wus mantuk ring raja warnan ira sanung waluya, raden manteri noro ana wiwal, hingsun hka dadyani.
49. Ki Punta angucap kalingane mangka dahat, murka seri nara pati tan warnandya ring benjang, bumi tanah Selaka, atemahan segara getih, gunung kunapa, denira raden manteri.
50. Sampun kesah ki Punta tan papamita, tan kawarna ring margi, ndan seri nara nata, akon nenteg tengeran, kaget wengi senegariperapta hewonan, saha tang suligi.
51. Wus hebekan kang wong ring jeroning pangastryan, tekeng pasar sehenti, hebek punang bala, wus seregep sagagawen, ki pun ta mwah warnani, perapta mareka, ring sira raden manteri.
52. Sampun tinatan andikan ira sang nata, ring sira raden manteri, ndan sira rahadyan, kalawan sira narendra, sampun sama mungguhing asti, sahupa cara, panganggene linuwih.
53. Wadweng Gajah Payasan embah tekanya, adulur dudulur prapti, manteri lan saterya, raden manteri angucap, sedeng mangkata puniki, kang bala sawa, lumakna akerihin.
54. Wus katungkap ring tepi siring ing negara, irika sira aju-
147 [ 146 ]rit akedakang ngelawan wadweang tanah Selaka, melayua maring negari, awarah werta, ring sira kehnapatih.
55. Kagyat ken maha patya lagi mareka, kawula tur singgih, nenggeh sampun rusak, kocapa minggir desa, rinemeking raden manteri, sekareng wetan punapa karsa aji.
56. Seri narendra aseru denira angucap, ah eh ko sang para manteri, pamangkata kita, nenggeh paminggir desa, sampun alah wus kalindih, lah papagana, adan mangke den agelis.
57. Paran manteri sampun adan sara, panganggone linuwih, sama nunggang kuda, bubar ing panangkilan, agya lampahnya lumaris, wus tekeng paran, tepi sampun kalindih.
58. Wadweng tanah Salaka mara ring arsa, humyang swaraning bedil lawan tetabuhan, gubar beri hasimban, sampun apagut ajurit, pada legawa, rame kang perang silih kokih.
59. Dadi kasoran wadweng tanah Selaka, ginerak dening ari, melayua sasaran, akeh tawanan berana, dawut payung tan panolih, tekeng negara, awuruhan ring margi.
60. Hegar garjita rahaden Surya Kencana, histin hingsun bapa aji aja araryana, lawan iki wus bubar, lah tuten gigisin, tekeng negara, sampun lumampah agelis.
61. Seri narendra kepuhan tuminggal, laruting bala ajerih, akontumandanga, patih tumenggung lan demang, lan panggung para aji, para satrya muah kuwu desa.
62. Seri narendra angerangsuk raja busana, sampun umungguh ring asti, wus kesahing raja, hingiring socara, lwir bubura kang peretiwi, keraciking watang, tetabuhan gumirik.
63. Sri narendra kari ring soring wandira, muah para adi manteri, mangkat lumuruga, patih tumenggung lan demang, wus apagut punang jurit, rame ingkang perang, akeh ngemasi pati.
64. Tan kocapan perang awocak ocakan, silih tindih tumindih,
148 [ 147 ]amepinedang, anuak tinuek, manah ia pinanahin, matang winatang, sing sor tan wurung mati.
65. Kawarnaha sang nata ring Surya wangsa, tekeng Wadhu Negari, wus angerengha werta, perabu tanah Selaka, rinemekeng sri bupati, Gajah Payasan, meh teke heng negari.
66. Gipih sang nata akon nembang tengeran, geger kang bala pati perapti, manteri lan satrya, makadi kena patya, lan angungsipara aji, tekeng pangasteryan, abelelek lumindih.
67. Seri narendra sampun angerangsuk busana, akampuh sutra rang di, kinulateng mas, tiningkah geganggongan, nanging lancingan geringsing, akeris kaputran, alundeyan mas adi.
68. Bek jinarwa jawa dening nawa ratna, aselut mirah adi, anting anting mimang ratna, lan widurya, tuhu perabu jayeng tulis, mijil sang nata, sopa cara alep aseri.
69. Seperaptaneng sang nata ring panangkilan, sampun sira alinggih umungguheng arsa, kasinom aheng uri.
Pupuh Sinom
1. Sang nata agagundeman, miwah kasendingin gati, tan kocap sira sang katong, muwah ring wadu nagari, mangke sira winarni, sang atengeran jayeng ayu, rahaden Surya Peraba, maman ira rahaden manteri, sampun ayas kalawan sira ibun ira.
2. Angangge kaperajuritan, kuda sampun den tindihin, kalawan rahaden Ino, tanah Selaka den ungsi, kuweh kang angiring, sesek-sesek saluan ikang hnu, kadi kusuma salastualep, kagiri giri, kaget rawuhnegareng tanah Selaka.
3. Jumujug sira pangasteryan, lan pagungin para manteri, tumurun rahadyan karo, alinggih sor ing katanggi, sampun akon atilik, endi pernah ira cucuh, kalawan seri narendra, kang kinon wus-wus mangkat agelis, ndan sang perabu, katemu sor ing wandira.
149 [ 148 ]4. Kawula matur pangeran, andika rahaden manteri, ri pangastryan rahaden Ino, punapa karsa kang aji, mawah tingkahing jurit, ndan kawula pukulun, sang nata ngandika alon, sampun luyu wong ajurit, anghantu, meh teka ring ananing wang.
5. Wus mangsul punang utusan, maturing rahaden manteri, hana nenggeh sira sang katong, hanganti soring waringin, kaperang sampun kalindi, raden manteri haris matur, hingsun amit pangeran angeton ana ajurit, sampun luyu, paperang sira sri narendra.
6. Lah pamangkata pangeran, adan mangke raden manteri,upacaraaderi tinon, tua lep angeresi hati, dewuh pisan duk perapti, rana anggan mapan sampun, aperang sira ringulon, wus atangkep ikang jurit, haneng pungkur, tinembangan Semarandana.
Pupuh Semarandana
1. Raman ikang perang kang silih keris, nora ketung kewehing pejah, atindih tekane, Sang nata Gajah Payasan, tumanding naring arsa, tanding ira agul agul, sing kaparag ira gepang.
2. Rahaden Wadhu Negari, amapag sira ring arsa, niti ikuda binarong, sampun sira arep arep, kang turangga sili sawut, midersira kalulingan.
3. Tan kocapa sang ajurit, ndan sang nata surya wangsa, mangke mangkata sang katong, kalawan sagunging bala, muwah paraadi manterya, sasikep sajurujuru, tatabuhan munya simbar.
4. Lawan pangerikiking kuda asti, awor kang kareciking astra, tambur muang beri gumuruh, awor kang kendang cina, sampun perapta sang nata, tepisiring ing negantun, araryan wetan ingrajya.
150 [ 149 ]5. Hana matur ring nara pati, punapa karsa sang nata, rayi paduka sang katong, nenggeh kapesan ayuda, muang rahaden manterya sang nata hangandika aseru, mangke adandan den henggal.
6. Mangke mangkat seri Bupati, kalawan sagunging nata, ring wetan sira angeluruga, sampun kederan kang lawan. Perabu Gajah Pasyasan, matura ring sang abagus, akeh lawan mangke perapta.
7. Muah sira seri bupati, Surya wangsa mangke angucap, angaduabala sang katong, umyang swaraning gamelan, gubar beri asimbar kang bala sampun lumaju, tur akeh lawan. mangke, tumandang tur maring arsa.
8. Sampun apagut ajurit, kalangkung ramen ikang perang, kang sawa luwir gunung, reko kadi segara ridira, rahadyan amerang anacah, mapan akweh sira antuk, satrya lan para nata.
9. Sang nata tiga semu werin werin, mangke enti balanira, pinejah ira den Ino, lan perabu Gajah Payasan, Ki Punta matur sembah, ndan kawula pakulun, hangurungang punang yuda.
10. Rama kawula tinolih, Ki putih punika nyawa, muah sira sanghuluna reko, rahadyan manteri angucap, akon sira ngurunga, hanti welasa sangang wulan, tembang untat dangdang gula.
Pupuh Dangdang Gendis
1. Tan kawarna mangke punang jurit, mangke wusan, Ki Punta pareka, ring Sang Perabu Surya Wangsa, sang nata kagyat andulu, heling ring Ki Punta wus perapti, muwah rakryana patya, Ki Punta den arangkul, aduh anak hingsun bapa, mangka perapta raden haneng endi, nora pareng lan sira.
2. Ki Punta samawur sarwa nangis, hangerangkul, padan ira sang nata, kawula kinen marangke; raden manteri puniku, kang linawan uni ajurit, marmanira rahadyan, yuda kang
151 [ 150 ]winangun, maring Perabu tanah Selaka, ndan sira sang ratu, adrwe anak sawiji, hingameting uwaya.
3. Wonten janjine seri nara pati, ring rahadyan, sapa umatyana, punika uwaya reke, hingangsungan tuan galuh, pan wus pejah uwaya pati, den ira rahadyan manteria, ndan sira sang Perabu, dadi pinacang kaputera, mapan sampun, kalawan rahadyan manteri, maring wadu negara.
4. Sang nara nata angandika haris, saha waspa, aja adadawan, apan titahing Sang hyang reke, mangke sira sang Perabu, mara maring rahaden manteri, Surya Kencana nama, wus ira katemu, kalawan rahaden manterya, tan kocapan, tanah Salaka sang haji, rahadyan Wadhu Negara.
5. Wus apanggih lawan rahaden manterya, tengahing paperangan, rahadyan tinangkisan, dening para aji kabeh, rahaden manteri amuwus, sampun sira karuna singgih, hapan dendaning hyang, lah meneng pakulun, kaka punta huripa, kang den watera, balan ira seri bupati, dening taru kastuban.
6. Ki Punta aweh usadi, rikunapa, sehagung ing bala kabeh, sang nata arsa andulu, kasaktene rahaden manterya, ndan sira para nata, sampun sama mantuk, ring panegara suang suang, sama muji, kasaktene rahaden manteri, Surya Kencana sira.
7. Kawarnahe sira ta seri bupati, Surya wangsa, kalawan rahadyan sang perabu langkung sukane, hana malih winuwus, perabu Gajah Payasan nenggih, hangaturaken dyah, putran sang ahulun, rorisanak ayu menak, mangke sang atengeran, gasalaga sang putri, ayu luwir citra molah.
Telas, puput sinurat dening Ida Bagus Oka, ring Gerya lod Pasar Intaran, duk ring dina, raditya Pon, Julungwangi, pangelong ping roras, sasih jyesta, rah tiga, tenggek ulu, isaka warsa siu domas ulung dasa sanga, Kesama hakena wirupaning aksara ring sang sundya maca kurang luwih kuwehan tubaapkawenang.
Om dirgha ayu raastu tata astu astu.
152 Iti Gaguritan Gajah Kumuda.
Drwe Fakultas Sastra Universitas Udayana
Denpasar.
Puput.
153
Karya ini berada pada domain publik di Indonesia karena dipublikasikan dan/atau didistribusikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, berdasarkan Pasal 43 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
Perbuatan yang tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta meliputi:
- Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan lambang negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli;
- Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh atau atas nama pemerintah, kecuali dinyatakan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan, pernyataan pada Ciptaan tersebut, atau ketika terhadap Ciptaan tersebut dilakukan Pengumuman, Pendistribusian, Komunikasi, dan/atau Penggandaan; ...
- Penggandaan, Pengumuman, dan/atau Pendistribusian Potret Presiden, Wakil Presiden, mantan Presiden, mantan Wakil Presiden, Pahlawan Nasional, pimpinan lembaga negara, pimpinan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian, dan/atau kepala daerah dengan memperhatikan martabat dan kewajaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.